MEMBUAT TULISAN YANG BAGUS DAN BERKUALITAS – 4
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Menulis adalah sebuah proses. Sampai bisa membuat tulisan yang bagus dan berkualitas, bukanlah peristiwa instan. Butuh ketekunan dan konsistensi dalam belajar dan berlatih. Memerlukan waktu dan kedisiplinan.
Menurut saya, tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.
Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin pertama dan kedua, yaitu M – mudah dipahami, serta U – unik dan orisinal. Berikutnya saya sampaikan poin ketiga, yaitu L – logis.
Ketiga, Logis
Tulisan disebut bagus dan berkualitas apabila logis atau nalar. Seliar-liarnya Anda berfantasi atau berkhayal saat menulis cerita fiksi, Anda tetap harus bisa menjelaskan secara logis.
Dalam menulis cerpen atau novel, Anda harus membangun nalar yang bisa diterima oleh pembaca. Dengan penjelasan yang logis, hal-hal yang semula dianggap tidak masuk akal, menjadi diterima akal.
Demikian pula dalam karya tulis nonfiksi, Anda harus menjaga agar keseluruhan isi tulisan dari awal hingga akhir bernilai logis dan bisa diterima akal sehat. Karya nonfiksi harus bisa dipertanggungjawabkan secara akademik, karena berada dalam ranah yang nyata atau benar-benar terjadi.
Kepandaian penulis untuk memberikan argumen, bisa membuat sesuatu hal yang semula tampak mustahil, menjadi hal yang bisa diterima secara logika. Misalnya, dalam dunia sains dan teknologi.
Saat seseorang mengajukan konsep ‘teknologi komunikasi yang tidak perlu menulis dan bicara’. Cukup dengan membatin saja, orang lain sudah bisa mengerti maksud kita. Bisa jadi, sebagian masyarakat akan mengatakan hal itu sebagai tidak logis. Namun ketika mampu dijelaskan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan, akan bisa diterima sebagai sesuatu yang logis.
Tidak Emosional
Salah satu lawan dari logis adalah emosional. Tulisan yang emosional –berbeda dengan tulisan yang mengaduk-aduk emosi. Tulisan emosional itu cenderung tidak logis. Cenderung menabrak nalar akal sehat.
Si penulis mengemukakan kemarahan, kebencian, kegalauan, dengan bahasa dan kalimat yang vulgar bahkan kasar. Kalaupun si penulis berada pada pihak yang benar, tulisan yang bernada emosional itu tidak bisa memunculkan rasa simpatik. Justru pembaca akan apatis, karena menganggap si penulis terlalu emosional.
Lontaran kemarahan yang ditulis dan dipublikasikan, bisa menyeret penulis ke ranah hukum. Dengan suasana sangat emosi karena merasa dizalimi, seseorang menulis caci maki kepada pimpinan dan perusahaan yang telah mem-PHK dirinya. Ketika tulisan itu diunggah ke media, bisa menyeret si penulis ke meja hukum karena tuduhan pencemaran baik.
Kejadian serupa sudah banyak terjadi. Lyra Virna, salah satu artis nasional, pernah dilaporkan oleh pemilik agen travel ke kepolisian, karena tulisan yang cenderung emosional. Kejadian berawal saat Lyra Virna melakukan ibadah umrah bersama Ada Tour.
Ia mengeluhkan pelayanan dari pihak travel yang membuat para jamaah terkatung-katung. Keluhan tersebut ia tulis di akun instagram pribadi. Manajemen Ada Tour melaporkan Lyra ke Polda Metro Jaya atas dugaan pencemaran nama baik
Logika Bahasa
Nilai logis dari tulisan, tidak selalu identik dengan logika formal dalam struktur berpikir manusia. Logika matematika adalah contoh logika formal yang konsisten. Dari dulu sampai kapanpun, 2 ditambah 2 hasilnya 4. Dari dulu, 4 dikalikan 4 hasilnya 16. Ini contoh logika formal yang konsisten.
Namun, bahasa memiliki logika yang khusus. Samsudin Berlian (2016) menyatakan, “Logika bahasa mengandalkan intuisi, tidak konsisten. Kalau rasanya benar, ya, benarlah. Kalau dirasakan artinya harus itu bukan ini, ya, itulah. Begitulah bahasa dari dahulu sampai sekarang”.
“Logika bahasa mengandalkan intuisi, tidak konsisten. Kalau rasanya benar, ya, benarlah. Kalau dirasakan artinya harus itu bukan ini, ya, itulah. Begitulah bahasa dari dahulu sampai sekarang” – Samsudin Berlian (2016)
Saya suka penjelasan ini. Logika bahasa mengandalkan intuisi, bukan konsistensi. Artinya, jangan terlalu takut bahwa secara tata bahasa tulisan Anda tidak sesuai dengan kaidah formal berbahasa. Bahwa Anda harus menulis dengan tata bahasa yang konsisten. Menulis itu, bukan soal konsistensi tata bahasa.
Bahasa itu sangat kuat unsur intuisi. Maka yang lebih penting adalah, isi tulisan Anda tersusun dengan sistematis dan logis. Bisa dimengerti oleh pembaca. Tidak membingungkan pembaca.
Oke, sudah paham kan makna logis? Anda suka berkomentar ‘masuk akal’ ketika usai membaca sebuah tulisan atau mendengar sebuah penuturan. Anda biasa berkomentar ‘logis’ setelah membaca novel atau artikel.
Selamat menulis dengan logis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar