Tidak
lama lagi AKM dilaksanakan. Mas Mentri sudah
mengumumkan kurikulum baru. Bahkan Jadwal AKM pun sudah ada. Pemangku
kepentingan tinggal siap melaksanakan.
Berbicara
tentang pendidikan tak akan pernah habis. Setiap ganti menteri ya ganti kurikulumnya. Jujur ..., hehe kadang
saya pusing , pening dan bahkan stres.
Tapi mau bagaimana lagi? Mau
tidak mau. Siap tidak siap. Harus bisa!! Semangaaat!!
Sebagai murid (SD), siswa (SMP), peserta didik SMA)
dan guru, ‘tidak’ mungkin mengelak
segala tantangan dan tuntutan dari proses dinamika pendidikan. Kita harus
hadapi dengan optimis. Suatu saat
kita akan memetik buah-buah kebaikan untuk hidup kita dan masa depan generasi bangsa kita. “Pendidikan itu berakar pahit
tapi berbuah manis”, Aristoteles.
Tahukah anda
AKM? AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan
oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan partisipasi
positif pada masyarakat.
Sedangkan
tujuan AKM untuk mendapatkan informasi mengetahui capaian siswa
terhadap ‘kompetensi’ yang diharapkan. Dan menghasilkan ‘informasi ‘
yang memicu perbaikan kualitas belajar mengajar.
AKM
mengukur #literasi membaca dan #numerasi sebagai hasil belajar kognitif.
Yang mengikuti asesmen adalah peserta
didik. #Surveykarakter mengukur sikap,
kebiasaan, nilai (values) sebagai hasil belajar non kognitif. Yang
mengikuti survey adalah peserta didik
dan guru. #Surveylingkunganbelajar, mengukur kualitas pembelajaran dan iklim
sekolah yang menunjang pembelajaran. Yang mengikuti survey adalah kepala satuan pendidikan.
Asesmen Nasional akan di gelar pada pekan pertama
bulan Maret 2021 untuk kelas 11 (SMA dan
SMK) , pekan ketiga bulan Maret
2021 untuk kelas 8 SMP/MTS. Bulan
Agustus 2021 kelas 5 SD dan MI.
Sebagai Pembanding:
#UjianNasional
Pelaksanaan Ujian Nasional di akhir jenjang.
Kelas 6 SD dan MI ,kelas 9 SMP/MTs dan SMA kelas 12. Guru ‘tidak’ memiliki waktu lagi untuk melakukan perbaikan kualitas siswa
karena harus ke jemjang selanjutnya.
UN/US menguji beberapa mata pelajaran , Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika dll. Cenderung menguji penghafalan. Bagaimana
siswa menguasai materi? Siswa hanya menguasai konten dan menghafal. Dunia saat ini tidak membutuhkan
penghafal. Dengan UN efek stress terlalu tinggi, siswa harus menghafal rumus .
Bukan hanya siswa yang stres tapi guru
dan orangtua juga stres. Ada juga kecurangan demi mengejar nilai. Nilai UN menjadi tolok ukur keberhasilan
siswa.
#AKM
Sasaran kelas 5 SD dan MI kelas 11 SMP dan MTs dan 12 SMA/MA dan SMK.
Di sini dimaksudkan guru ‘ada’ waktu untuk
memperbaiki karena di tengah jenjang. Selama setahun
kesempatan siswa memperbaiki penilaian. Hasil AKM
dilaporkan dalam empat kelompok,
yaitu :Perlu intervensi khusus, Dasar,Cakap dan mahir.
Pertama, penilaian kompetensi #literasi
membaca. Teks informasi : teks yang bertujuan untuk memberikan fakta data dan informasi dan teks
fiksi teks yang bertujuan untuk memberikan pengalaman mendapatkan
hiburan, menikmati cerita dan
melakukan perenungan kepada pembaca. Kemampuan untuk memahami, menggunakan,
mengevaluasi dan mereflesikan. Dari membaca
level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi serta evaluasi dan refleksi.
Kedua, penilaian #numerasi: bilangan, pengukuran dan geometri,
data dan ketidakpastian, aljabar. Kemampuan
berpikir menggunakan konsep,
prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Memahami fakta, prosedur
serta alat matematika. Siswa mampu menerapkan
konsep matematika dalam situasi nyata yang bersifat rutin dan yang dialami
sehari-hari.
Soal AKM menguji #penalaran . Efek stress rendah. Soal
AKM #tidakmonoton. Berikut ini merupakan 5 bentuk soal untuk AKM: pilihan ganda
( satu jawaban), pilihan ganda kompleks (bisa memilih beberapa jawaban),
menjodohkan, Isian singkat dan Uraian.
Setelah melihat beberapa perbedaan
semoga kita tertarik dengan terobosan mas mentri Nadim Makarin. Semoga
para guru dapat cepat beradaptasi dengan
AKM ini. Sehingga memudahkan pula proses adaptasi para siswanya. Selamat datang AKM. Siswa, guru dan
Orang tua pasti Bisa!
Mari kita bersama belajar
mandiri demi kemajuan pendidikan peserta didik kita. Tak
ada kata terlambat bagi kita yang punya niat untuk mengubah sesuatu
yang lebih baik khususnya pendidikan. Obat itu terasa pahit tapi diminum untuk
menyehatkan.
Bukan saja peserta didik yang belajar,
tetapi guru juga wajib terus belajar. ”Long
life Education”. Salam Literasi!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar