.
Writing for Wellness – 27
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
“The quieter you become, the more you are able to hear” –Rumi
.
Hiruk pikuk kehidupan zaman cyber, telah menimbulkan kebisingan jiwa yang luar biasa. Manusia modern mudah mengalami kelelahan, cepat diserang ketuaan. Terlalu banyak ‘tab jiwa’ yang terbuka.
Dunia digital membuat kita mudah terpapar, membuat kita mudah teracuni oleh informasi. Terlalu banyak informasi bertebaran dan berseliweran setiap hari. Otak kita lelah, dijejali berbagai informasi –yang tak semuanya penting. Tak semuanya kita perlukan.
Matthew Stibbe (2010) menyatakan, “Noise makes you tired. Just as shouting over loud music in a bar strains your voice, your brain has to work harder to filter out unwanted information”.
Kebisingan membuat Anda lelah. Menurut Stibbe, ini sama seperti berteriak untuk mengatasi suara musik yang keras. Kebisingan informasi membuat otak Anda harus bekerja lebih keras untuk menyaring informasi yang tidak diinginkan. Bahkan dalam batas tertentu, menimbulkan persoalan mental dan fisik.
Teknologi akan tetap eksis, tetapi selalu berubah dan berkembang. Setiap kali teknologi baru hadir, akan ada sisi kebaikan yang bisa dimanfaatkan. Di saat yang sama, juga berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan fisik dan mental.
Menjadi terlalu terhubung dengan internet, dapat menyebabkan masalah psikologis seperti distraksi, narsisme, ekspektasi kepuasan instan, dan bahkan depresi. Selain memengaruhi kesehatan mental, teknologi juga dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik (Muhammad Muneeb, 2019).
“Technology is here to stay, but it’s always morphing and expanding. Being overly connected can cause psychological issues such as distraction, narcissism, expectation of instant gratification, and even depression” –Muhammad Muneeb, 2019
Studi yang dilakukan Ariel Shensa dan tim (2019) menemukan, kebisingan media sosial juga bisa memengaruhi kesehatan mental manusia. Di zaman medsos, mendadak banyak orang terserang kecemasan yang berlebihan. Hanya untuk hal-hal remeh temeh –seperti fenomena like, share dan comment.
“If you’re thinking and worrying excessively about what you’ve written or who has or hasn’t liked or commented on your post, this can lead to anxiety” – Ariel Shensa, 2019
Writing Closes Out Your “Mental Tabs”
Kesibukan digital yang mendera manusia modern setiap saat, bisa diibarakan seperti sebuah komputer atau laptop yang sedang bekerja. Saat Anda membuka banyak tab di layar monitor, maka kesibukan laptop Anda menjadi berlebihan. Demikian pula dalam jiwa Anda.
Menurut Gregory Ciotti (2014), menulis membuat Anda menutup tab mental atau tab jiwa dalam diri Anda. Menulis bisa menjadi semacam ritual relaksasi atau meditasi, yang mengasingkan diri kita dari berbagai kebisingan digital. Kita hanya fokus pada aktivitas menulis, pada satuan waktu tertentu.
“Terkadang saya merasa otak saya memiliki terlalu banyak tab yang terbuka sekaligus. Ini sering kali merupakan hasil dari mencoba secara mental menyulap terlalu banyak pikiran pada saat yang bersamaan”, ujar Ciotti.
“Writing allows abstract information to cross over into the tangible world. It frees up mental bandwidth, and will stop your Google Chrome brain from crashing due to tab overload” – Gregory Ciotti, 2014
Ciotti menyatakan, menulis mampu mengolah berbagai informasi ‘maya’ untuk diajak menjadi tindakan nyata. Ini akan mengosongkan ‘bandwidth mental’ Anda, dan akan menghentikan ‘otak Chrome’ Anda agar tidak lelet karena tab kelebihan beban. Menuliskan ide-ide penting yang semula hanya berada dalam pemikiran, akan mereduksi stres.
Mengelola Berbagai Tab
Sangat banyak tab otak dan tab mental kita terbuka setiap saat. Ini harus dikelola, agar tidak menjadi masalah bagi kesehatan mental dan fisik kita. Terlalu banyak tab yang terbuka, membuat kebisingan yang terus menerus. Apabila Anda berada dalam kebisingan pemikiran dan perasaan terus menerus, Anda akan dibuat cepat merasakan kelelahan.
Tutup berbagai tab yang terbuka dan tidak bermakna. Jangan biarkan otak Anda memikirkan terlalu banyak hal abstrak tanpa mengolahnya menjadi lebih kongkret. Caranya, segera tuliskan ide-ide yang memenuhi pikiran dan jiwa Anda, sebelum ide itu menghilang. Ini akan menutup semua tab, dan Anda akan menikmati relaksasi dalam bentuk menulis.
Mitch Hedberg menyatakan, “Saya menulis cerita humor untuk sumber penghasilan. Saya duduk di hotel pada malam hari, memikirkan sesuatu yang lucu, lalu saya pergi mengambil pena dan menuliskannya. Atau jika penanya terlalu jauh, saya harus meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang saya pikirkan itu tidak lucu”.
“I write jokes for a living, I sit at my hotel at night, I think of something that’s funny, then I go get a pen and I write it down. Or if the pen is too far away, I have to convince myself that what I thought of ain’t funny” –Mitch Hedberg
Ungkapan kocak Hedberg di atas menggambarkan betapa cepat ide abstrak itu menghilang dari tab otak manusia. Jika tidak segera menuliskannya, berbagai lintasan pemikiran cenderung hanya akan menjadi gangguan dalam kesehatan mental Anda.
Menulis membuat Anda merasakan ketenangan. Berbagai pemikiran yang berseliweran melintasi di berbagai tab yang terbuka, berhasil Anda tutup untuk sementara. Anda bisa menikmati rehat yang bercorak kontemplatif. Kini Anda fokus pada menuliskan ide dan topik tertentu. Tab yang lain akan tertutup. Ini mengurangi kebisingan dalam pemikiran dan mental Anda.
Menulis membuat Anda bisa merasakan ketenangan. Di saat yang sama, menghasilkan produktivitas pemikiran. Gregory Ciotti menyarankan, dimulai dari awal yang sederhana, menulis tentang topik tertentu untuk beberapa waktu membuat Anda mampu membangun pemikiran yang lebih matang. Sekaligus mampu memanfaatkan hal yang telah Anda tulis untuk mengembangkan gagasan dalam skala yang lebih besar.
“From humble beginnings, writing around a certain topic for some time will allow you to build off of older thoughts, utilizing what you’ve already written down to develop ideas on a grander scale” – Gregory Ciotti, 2014
Selamat menulis, selamat menikmati kesunyian yang produktif.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar