.

Writing for Wellness – 21

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When we reflect on positive experiences, it may be worthwhile to think about what we’ve given to others, not only what we’ve received” –ScienceDaily, 2012

.

Menulis memiliki kemanfaatan yang amat sangat luas. Bukan hanya dalam konteks kesehatan mental dan kesehatan fisik, namun juga memberikan manfaat untuk membangun sikap hidup positif. Salah satunya, menulis dapat meningkatkan rasa syukur (gratitude) dalam kehidupan manusia.

Sebagai insan beriman, kita semua meyakini pemberian Allah dan karuniaNya yang tiada terhingga dalam keseharian kita. Syukur adalah kewajiban sebagai hamba yang mengakui dan merasakan banyak nikmat Allah dalam kehidupan. Meskipun kita tidak akan dapat menghitung semua nikmat Allah, namun harus selalu mensyukuri dengan sepenuh hati.

Semua kebaikan yang kita dapatkan, semua rezeki yang kita nikmati, semua kebahagiaan yang kita reguk, adalah karunia dan pemberianNya. Mengingat nikmat dan karunia tersebut, merupakan aktivitas yang meningkatkan rasa syukur. Apalagi ketika nikmat dan karunia tersebut dituliskan, akan semakin terasa kesyukuran kita.

Menulis Meningkatkan Rasa Syukur

Gregory Ciotti (2014) mengutip hasil sebuah studi, bahwa orang yang merefleksikan hal-hal baik dalam hidup mereka dalam bentuk tulisan, menjadi lebih positif dan termotivasi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Studi tersebut menunjukkan, menulis tentang hal-hal baik dalam hidup kita, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan sikap hidup. Menuliskan berbagai kebaikan, membuat kita benar-benar mengingat, merasakan dan menghayati kebaikan tersebut. Wajar jika membuat pelakunya bisa memiliki jiwa yang mudah bersyukur.

Misalnya menulis, “Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan menikmati kehidupan di hari ini. Aku bisa bangun pagi, beribadah, merasakan kesegaran oksigen, merasakan hangatnya sinar matahari. Luar biasa indahnya hidup ini”. Contoh tulisan yang berisi refleksi kebaikan yang dirasakan.

Contoh lainnya, “Alhamdulillah aku memiliki keluarga yang baik. Dengan keluarga yang baik ini, aku merasa berarti. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menikmati roti dan teh panas bersama keluarga, betapa nikmatnya”. Tulisan seperti ini, membangkitkan kesadaran yang penuh untuk selalu bersyukur.

Maka biasakan menulis hal-hal baik dan positif yang dirasakan sebagai karunia Tuhan dalam kehidupan. Dengan menuliskan, akan semakin terasa nikmat dan karunia tersebut dalam hidup kita. Nikmat dan karunia terasa semakin jelas dan nyata, dengan menuliskannya.

Penelitian lain menunjukkan hal serupa, bahwa mengingat dan mencatat kebaikan yang kita miliki, membuat kita lebih bahagia dan memotivasi untuk berbuat kebaikan berikutnya. Studi tersebut dilaporkan dalam Psychological Science (2012), yang menunjukkan bahwa mengingat apa yang telah kita berikan kepada orang lain, membuat kita menjadi lebih senang membantu orang lain.

Memberi Lebih Menguatkan Syukur

Sebuah studi dilakukan oleh Adam Grant dan Jane Dutton. Mereka mengamati dampak menulis ekspresif terhadap perilaku prososial. Grant dan Dutton menemukan, ketika seseorang merenungkan kebaikan yang telah diterima dari orang lain, tidak memotivasi untuk memberi. Para partisipan yang diminta menuliskan bantuan kebaikan yang pernah mereka terima dari orang lain, tidak membuat mereka tergerak untuk memberi.

Namun ketika partisipan diminta merefleksikan bantuan kebaikan yang telah diberikan kepada orang lain, justru mampu memperkuat identitas dirinya sebagai individu yang peduli, sehingga memotivasi untuk memberikan kebaikan lagi. Ternyata, memberi memiliki pengaruh yang lebih mendatangkan kebahagiaan dan kesyukuran.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa menulis ekspresif berisi refleksi diri tentang memberi, dapat menjadi sarana yang ampuh untuk memotivasi perbuatan baik berikutnya. Partisipan yang menuliskan hal-hal baik yang ia berikan kepada orang lain, membuat dirinya termotivasi untuk mudah membantu dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini memberikan penjelasan, bahwa memberi bantuan jauh lebih baik daripada menerima bantuan. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima.

Kebahagiaan dan kesyukuran yang lebih bisa didapatkan dari aktivitas memberi dan berkontribusi. Maka menulis ekspresif tentang kontribusi kebaikan yang pernah diberikan, memberikan dampak positif bagi pelakunya.

Selamat menulis, selamat bersyukur.