.

Writing for Wellness – 5 

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing has deep therapeutic advantages. Writing is also a good exercise for the brain to stimulate the brain cells and to improve memory — Kathy Mitchell (2018)

.

Beberapa orang peserta majelis taklim, sangat rajin membuat catatan setiap kali mengikuti kajian. Saya terkagum dengan semangat seorang nenek yang selalu duduk di barisan paling depan setiap mengikuti majelis taklim, dengan membawa buku dan pulpen. Ia sangat banyak menulis setiap materi yang disajikan, hingga buku catatannya sangat banyak.

Apa yang ia dapatkan dari mencatat? Rupanya, ia menjadi mudah mengingat poin-poin penting dari setiap materi di majelis taklim. Dengan demikian, lebih mudah baginya untuk menyampaikan isi kajian itu kepada orang lain. Inilah salah satu manfaat membuat catatan.

Saya sangat merasakan perbedaan, antara membuat tulisan dengan tidak membuat tulisan. Saat saya diminta menyampaikan sebuah materi dalam forum seminar, saya akan membuat tulisan terlebih dahulu. Misalnya, ketika diminta menyampaikan materi tentang toxic parents, saya buat tulisan terlebih dahulu.

Menulis materi tentang toxic parents, membuat saya harus belajar. Saya mulai dengan mencari rujukan, mencari bahan. Setelah membaca banyak rujukan tentang toxic parents, saya buat point-poin kesimpulan. Berikutnya, saya membuat kerangka tulisan, lalu membuat tulisan yang saya posting di blog Ruang Keluarga atau Kompasiana.

Setelah menulis, saya kembali membuat poin-poin yang akan saya  sampaikan di forum seminar nanti. Saat di forum, saya merasa sangat siap, dan bisa menyampaikan dengan lancar. Saya mengingat poin-poin penting dari materi tersebut. Inilah salah satu keuntungan menulis.

Menulis Meningkatkan Daya Ingat

Kathy Mitchell (2018) menyatakan, manfaat menulis sangat besar dalam kehidupan manusia, namun sayangnya sering diremehkan. Menurut Kathy, menulis memiliki dampak terapeutik yang luas. Menulis juga merupakan latihan otak yang baik untuk merangsang sel-sel otak dan meningkatkan daya ingat.

Mengutip Bridget Murray dari American Psychological Association, Kathy mengingatkan bagaimana para psikolog telah menggunakan metode menulis untuk merawat ribuan pasien yang mengalami kecemasan, depresi, dan trauma. Kathy mengajak kita semua menulis secara teratur untuk membuat hari esok yang lebih baik.

Studi yang dilakukan Burton dan King (2004) memberikan penjelasan tentang fenomena tersebut. Burton dan King menemukan fakta bahwa semakin banyak otak menghabiskan energi untuk memikirkan stres, akan semakin sedikit energi yang tersisa untuk membentuk daya ingat dan menjalankan fungsi kognitif lainnya.

Para peserta dalam penelitian ini diminta untuk menulis ekspresif yang diyakini dapat menurunkan level stres. Hasilnya sangat positif, daya ingat mereka meningkat, begitu juga dengan fungsi kecerdasan lainnya. Terbukti secara akademis, bahwa menulis berkorelasi dengan peningkatan daya ingat.

Bukan hanya pada orang ‘normal’. Web Headaway memuat hasil pengamatan terhadap pasian cedera otak. Pada pasien cedera otak, menulis kreatif menjadi salah satu model terapi. Menulis kreatif diyakini memiliki sejumlah manfaat kognitif bagi pasien cedera otak.

Menulis bukan hanya membantu meningkatkan kemampuan kognitif pasien cedera otak, namun juga membantu selama proses rehabilitasi. Proses menulis membantu pasien cedera otak untuk berlatih konsentrasi dengan cara fokus pada alur cerita.

Mengingat Hal-Hal Penting

Dustin Wax menjelaskan, otak manusia dibagi menjadi beberapa wilayah yang memproses berbagai jenis informasi. Ada bagian yang memproses informasi visual, informasi pendengaran, emosi, komunikasi verbal, dan sebagainya. Meskipun wilayah yang berbeda ini saling berkomunikasi, namun masing-masing memiliki prosesnya sendiri itu harus diselesaikan.

Saat kita mendengarkan kuliah atau ceramah, bagian otak yang menangani pendengaran dan bahasa menjadi terlibat aktif. Ini meneruskan beberapa informasi ke dalam ingatan kita, tetapi tidak membeda-bedakan dalam cara melakukannya. Jadi, informasi yang penting, diperlakukan secara sama dengan yang lainnya.

Namun ketika mencatat, sesuatu yang lain telah terjadi. Saat mencatat, kita membuat hubungan spasial antara berbagai bagian informasi yang kita rekam. Tugas spasial ditangani oleh bagian lain dari otak, dan tindakan menghubungkan informasi verbal dengan hubungan spasial, tampaknya menyaring informasi yang kurang relevan atau kurang penting.

Dalam satu tes terhadap mahasiswa psikologi, mereka yang tidak membuat catatan, mengingat jumlah poin yang sama dengan yang membuat catatan. Artinya, sekadar mencatat, tidak menambah jumlah poin yang mereka ingat. Kedua kelompok mahasiswa mengingat sekitar 40% informasi yang dibahas dalam kuliah.

Akan tetapi mahasiswa yang membuat catatan, mampu mengingat lebih banyak poin-poin penting dari materi kuliah. Sementara itu, mahasiswa yang tidak mencatat, lebih mengingat poin acak saja –bukan poin-poin kunci yang penting.

Tes ini memberi petunjuk, bahwa ketika menulis, kita telah melakukan pengaturan informasi yang kita terima. Proses itulah yang membantu memperbaiki ide di benak kita, yang mengarah pada daya ingat yang lebih besar di kemudian hari.

Menuliskan sesuatu telah berfungsi sebagai ‘latihan kecil’ untuk melakukan sesuatu tersebut. Ketika seseorang menulis ‘bermain-main di pantai’ –misalnya, otak berpikir benar-benar melakukannya. Dengan demikian otak dilatih untuk mengingat hal-hal yang ditulis tersebut, seakan-akan nyata bagi dirinya. Itu sebabnya, daya ingat semakin baik.

Selamat menulis.

Bahan Bacaan