.
Writing for Wellness – 4
Oleh : Cahyadi Takariawan
“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018
.
Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.
Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.
Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari
Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.
Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.
Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.
Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.
Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.
Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Melakukan Journaling
Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.
Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.
Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.
Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.
Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/
Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018
MENULIS HAL POSITIF UNTUK KESEHATAN MENTAL
.
Writing for Wellness – 4
Oleh : Cahyadi Takariawan
“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018
.
Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.
Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.
Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari
Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.
Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.
Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.
Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.
Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.
Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Melakukan Journaling
Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.
Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.
Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.
Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.
Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/
Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018
MENULIS HAL POSITIF UNTUK KESEHATAN MENTAL
.
Writing for Wellness – 4
Oleh : Cahyadi Takariawan
“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018
.
Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.
Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.
Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari
Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.
Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.
Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.
Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.
Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.
Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Melakukan Journaling
Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.
Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.
Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.
Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.
Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/
Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar