.

Writing for Wellness – 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Semua akan berkurang bila kau bagi dengan orang lain, kecuali kebahagiaan. Dia justru akan bertambah saat engkau berbagi dengan orang lain” –Mukhtar Asy-Syinqiti

.

Mengapa Anda senang memposting kuliner ke medsos? Mengapa Anda senang share foto saat sedang makan-makan enak? Mengapa di instagram dan facebook banyak bertebaran foto-foto wisuda, kuliner, wisata, traveling?

Saat seorang pecinta durian mendapatkan durian istimewa, sebelum menyantap, ia akan memotret dan mengunggah ke grup chatting. Seorang pecinta kopi, saat menemukan kopi eksotik, akan memotret dan mengunggah ke medsos sebelum menikmatinya.

Seorang traveler, ketika mengunjungi tempat wisata nan indah memesona, akan segera memotret, dan menyebarkan keindahan itu ke teman-temannya. Para pendaki gunung, setiba di puncak Everest, pertama kali adalah mencari spot foto. Setelah itu segera menyebar foto seru pendakian itu ke medsos.

Seorang mahasiswa, di hari wisuda, banyak mengabadikan kebahagiaan lulus kuliah. Foto-foto wisuda segera disebar di grup keluarga dan teman-teman. Diunggah pula di media sosial mereka.

Ternyata, kenikmatan kuliner, makin terasa nikmat saat Anda membaginya. Keseruan perjalanan, makin seru saat Anda membaginya. Kehebohan suasana, semakin heboh saat Anda membaginya. Kebahagiaan wisuda, makin kuat rasanya saat Anda membaginya.

Menuliskan Kebahagiaan

Menulis terbukti secara akademik bisa menjadi sarana pelepasan beban. Menulis sebagai sarana katarsis. Menulis juga menjadi sarana pelepasan ruminasi. Dengan menulis, beban telah dituliskan. Rasanya menjadi lega.

Ternyata, menulis kebahagiaan akan berdampak menambah kebahagiaan. Itulah sebabnya, berbagai kebahagiaan saat ngopi, kuliner, wisata, traveling dan lain sebagainya, akan semakin bertambah saat kita menuliskan suasananya.

Studi yang dilakukan oleh Burton dan King (2004) mengembangkan expressive writing dengan menuliskan peristiwa positif yang membahagiakan. Para peserta percobaan diminta menuliskan hal-hal positif yang dijumpai dalam kehidupan. Mereka menulis 20 menit setiap hari, selama tiga hari berturut-turut. Setiap hari, hasil tulisan mereka dievaluasi.

Burton dan King menemukan, bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa yang membahagiakan, dapat meningkatkan kebahagiaan hati. Membuat suasana hati yang positif, bahkan setelah tiga bulan berlalu. Ini bisa menjelaskan, bahwa kebahagiaan akan membentuk lingkaran.

Sebuah kebahagiaan, ditulis dan diposting, akan melahirkan kebahagiaan baru. Kebahagiaan baru ini memicu kita untuk memperoleh kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Demikian seterusnya.

Seperti yang diungkapkan Muhammad Mukhtar Asy-Syinqiti (dalam Abu Bassam, 2016), “Semua akan berkurang bila kau bagi dengan orang lain, kecuali kebahagiaan. Dia justru akan bertambah saat engkau berbagi dengan orang lain”.

Menulis Kesyukuran

Expressive writing bisa bermacam-macam bentuknya. Anda bisa menuliskan ungkapan syukur yang tulus atas sebuah peristiwa atau memontum yang terjadi dalam kehidupan. Menuliskan rasa syukur, bisa membuat suasana hati Anda semakin baik dan semakin positif. Ini akan memengaruhi kualitas kegiatan yang Anda lakukan sepanjang hari.

Anda bisa menuliskan kesyukuran atas hal-hal sederhana, seperti “Saya bersyukur merasakan sinar matahari yang menyehatan pagi ini.” Anda telah bersyukur atas hangat dan cerahnya sinar matahari. Anda merasakan kecerahan dan kehangatan, sesuatu yang patut Anda syukuri.

Bagi Anda yang beragama Islam, teori ini sangat bersesuaian dengan makna ayat, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7).

Menurut Yoni Cohen, menuliskan kesyukuran membuat jiwa Anda semakin positif, semakin menghargai diri sendiri, tidur semakin nyenyak, menambah kebahagiaan, serta mengurangi stres. Tulis saja kesyukuran Anda, agar semakin bersinar hidup Anda.

Selamat berkarya.

Bahan Bacaan