.

Writing for Wellness – 12

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Memaafkan dan permaafan (forgiveness) bukan hal yang sederhana untuk dilakukan. Terlebih pada seseorang yang sudah merasa mendapatkan luka hati terlalu dalam. Namun selalu ada solusi untuk semua masalah yang dihadapi manusia. Menulis ekspresif terbukti membantu proses memaafkan.

Penelitian para ahli menunjukkan bahwa dengan menuliskan pengalaman traumatis tentang luka di hati yang detail, mampu membantu untuk munculnya permaafan. Misalnya menuliskan emosi apa yang dialami dari peristiwa tersebut, sesakit apa rasanya, apa yang menghalangi untuk memaafkan orang menyakitinya, dan lain sebagainya.

Michael E. McCullough (2006) melakukan studi manfaat menulis terkait permaafan. Sejumlah 304 partisipan diberi tugas menulis, dengan beberapa pilihan. Didapatkan hasil, kelompok partisipan yang menulis dengan harapan mendapatkan manfaat, menjadi lebih pemaaf terhadap pelanggar mereka dibandingkan dengan partisipan lainnya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pencarian manfaat dalam menulis, bisa membantu orang memaafkan pelanggaran interpersonal (baca : kesalahan orang lain) melalui intervensi terstruktur.

Sebuah studi dilakukan oleh Neul Ha dan tim (2017), untuk menguji efek terapeutik dari terapi menulis permaafan pada korban pelecehan seksual. Partisipan berasal dari Korea Selatan yang pernah mengalami pelecehan seksual. Mereka diminta menulis tentang permaafan selama 30 menit.

Hasilnya, menulis permaafan memberikan penurunan yang signifikan pada rasa malu dan depresi, dan memberikan peningkatan pertumbuhan pascatrauma.

Beberapa ahli menyarankan menulis surat permaafan, yang bisa ditujukan kepada diri sendiri maupun orang lain. Leslie Anglesey menyatakan, menulis surat permaafan membantu Anda memaafkan diri sendiri maupun orang lain. Demikian pula Scott Colby menyarankan agar Anda menulis surat permaafan jika ingin mudah memaafkan.

Menuliskan hal-hal yang menyakitkan ternyata mampu membantu seseorang menyembuhkan luka yang dirasakan sekaligus memudahkan membuka hati untuk memaafkan kejadian yang terjadi maupun pelaku yang ada di kejadian tersebut.

Mengapa Sulit Memaafkan?

Para ahli –sebagaimana dikutip Scott Colby, menyatakan forgiveness adalah “conscious, deliberate decision to release feelings of vengeance or vengeance toward a person or group who has harmed you, regardless of whether they actually deserve your forgiveness.” 

Permaafan adalah keputusan yang disengaja untuk melepaskan perasaan dendam atau pembalasan terhadap orang atau kelompok yang telah menyakiti Anda, terlepas dari apakah mereka benar-benar pantas mendapatkan permaafan”.

Banyak orang yang sulit untuk memaafkan. Mereka beranggapan, bahwa jika tidak memaafkan orang yang bertindak merugikan, akan menjadi hukuman bagi orang tersebut. Tidak memaafkan dianggap sebagai bentuk hukuman atas perbuatan orang lain. Tidak memaafkan dianggap sebagai bentuk balas dendam.

Padahal ternyata tidak demikian. Sikap tidak memaafkan justru menyakiti diri sendiri. Berbagai studi psikologi positif menunjukkan bahwa sikap memaafkan memberikan dampak positif pada berbagai aspek.

Di antara manfaat permaafan adalah mengurangi depresi atau tekanan, memulihkan cara berpikir positif, pemulihan hubungan interpersonal, mengurangi kecemasan, menguatkan spiritualitas, menaikkan harga diri, memberikan harapan yang lebih besar, kapasitas yang lebih besar untuk manajemen konflik dan kemampuan untuk menemukan kelegaan (Beata Souders, 2020).

Bagaimana Menulis untuk Permaafan?

Tidak perlu pusing dalam memulai menulis luka hati Anda. Ini bukan tentang stuktur kalimat, tata bahasa, tanda baca, ejaan dan lain sebagainya. Ini adalah hal menuangkan perasaan ke dalam tulisan.

Seperti ungkapan Gabriel Garcia Marquez, penulis buku One Hundred Years of Solitude, ”What matters in life is not what happens to you but what you remember and how you remember it”. Ini adalah bab mengelola ingatan, agar tidak menyakitkan atau menimbulkan ketidaknyamanan.

Mari L. McCarthy menyarankan beberapa bentuk latihan menulis untuk membantu hadirnya forgiveness pada diri Anda.

  1. Tuliskan konflik yang mengganggu Anda. Siapa orang yang menyakiti Anda? Apa yang dilakukan orang itu pada diri Anda? Emosi apa yang Anda rasakan?
  2. Bayangkan apa yang akan terjadi seandainya sakit hati yang Anda rasakan ini menghilang secara tiba-tiba. Bagaimana perasaan Anda jika hal itu terjadi? Anda akan melakukan tindakan apa? Bisakah hal itu mengubah Anda?
  3. Tuliskan hal-hal yang menghalangi Anda untuk memaafkan orang lain.
  4. Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan darinya sebelum memaafkan, seperti pengakuan, permintaan maaf, atau tindakan perbaikan? Bisakah Anda tetap memaafkan meskipun Anda tidak mendapatkan hal tersebut?
  5. Tuliskan tipe orang yang Anda inginkan dalam hubungan Anda. Apakah Anda ingin bermurah hati, baik hati, dan pemaaf? Apakah Anda ingin menyimpan dendam? Bagaimana Anda bisa menjadi diri yang paling kuat saat berada pada situasi paling sulit?

Mudah bukan? Dari menulis sederhana –yang berfungsi katarsis—seperti ini, akan membuat Anda lebih mudah untuk memaafkan. Endapkan semua tulisan itu, jangan dipublikasikan. Suatu saat, ketika Anda sudah merasa nyaman, bisa membuka kembali dokumen-dokumen bersejarah yang berserakan itu. Mungkin akan bisa diolah menjadi novel.

Selamat menulis, selamat menikmati permaafan.

Bahan Bacaan