.

Writing for Wellness – 23

Oleh : Cahyadi Takariawan

“While reliving traumatic events may initially feel agonizing, writing down our worst experiences can also offer a way to cope with some of life’s horrors” – Angela Matthews (2019)  

.

Ketika mengalami peristiwa kedukaan, pada umumnya manusia akan melewati lima tahapan. Ini teori tua yang dikemukakan oleh Kubler-Ross, namun sampai hari ini masih dianggap relevan. Seberapa lama manusia berada dalam tiap tahapan, tergantung pada sangat banyak faktor.

Berbagai studi menunjukkan, manusia yang tengah mengalami kedukaan, bisa dipercepat proses melewati tahap demi tahap, dengan aktivitas menulis. Banyak studi menunjukkan, menuliskan kedukaan memberikan pengaruh positif bagi manusia. Mereka akan bisa mendapatkan kedamaian dan ketenteraman, karena telah melepas beban yang menghimpit.

Mengenang kembali peristiwa traumatis yang pernah terjadi di masa lalu, awalnya terasa menyiksa. Namun dengan menuliskan pengalaman suram tersebut, ternyata mampu mengatasi kengerian dalam hidup. Studi dilakukan Angela Matthews (2019) tentang seorang ibu yang tengah berduka karena kehilangan anak tercinta. Ia menemukan, menulis mampu menghadirkan kedamaian.

Writing Through Grief

Angela meyakini, menuliskan perasaan kedukaan, mampu mengungkapkan pemahaman dan membuat penerimaan yang lebih baik. Dengan menuliskan pemikiran dan perasaan kedukaan, membuat seseorang bisa berdamai dengan kedukaan tersebut. Berbagai masalah kompleks dan menyakitkan, seperti kematian, kesedihan, dan kehilangan, bisa diatasi dengan terapi menulis.

Angela merekomendasikan strategi serupa untuk orang-orang yang mengalami persoalan rumit dalam kehidupannya. Rekomendasi serupa telah dilakukan oleh situs Modern Loss. Situs ini mengajak pembaca untuk menuliskan pengalaman kesedihan, kedukaan dan kehilangan, dalam rubrik Writing Through Grief.

Melalui rubrik ini, pembaca diajak berdamai dengan kedukaan yang dihadapi. Ternyata menuliskan kedukaan mampu mereduksi perasaan sedih. Salah seorang kontributor situs tersebut memberikan kesaksian.

“Writing through my grief has helped me transition from the person I was when I first faced that blank page to the one I am now. Writing provided me with clarity and some inner peace. I know I will continue to be sideswiped with conflicting feelings, but the pain isn’t as sharp. Now, when I look up into the sky, I’m relieved to see Orion, the Pleiades, or Cassiopeia, comforted by all of my memories of Rob, the whole complex mix of them” – Debbie Leaman (2019)

Debbie Leaman (2019) menuliskan kedukaan yang dialami melalui situs tersebut. Ia menyatakan, “Menuliskan kesedihan telah membantu saya beralih dari diri saya saat pertama kali menghadapi kedukaan itu, menjadi diri saya yang sekarang. Menulis memberi saya kejelasan dan kedamaian batin. Saya sadar akan terus diganggu oleh perasaan yang saling bertentangan, tetapi rasa sakitnya tidak lagi menyiksa. Sekarang, ketika saya melihat ke langit, saya bisa merasa lega….”

You don’t have to be a great writer, or get published. But writing may help you to sort out your thoughts and to express your emotions.

Anda tidak harus menjadi penulis yang hebat. Tulisan Anda juga tidak harus dipublikasikan. Akan tetapi, menulis dapat membantu Anda memilah pikiran dan mengekspresikan perasaan. Anda bisa menulis puisi atau cerita pendek, atau hanya diary tentang perasaan Anda. Ini bisa menjadi terapi. Setelah beberapa pekan menulis, Anda dapat melihat kemajuan yang terjadi.

Rekomendasi Harvard Medical School

Menuliskan kedukaan merupakan salah satu metode terapi yang direkomendasikan oleh Harvard Medical School. Mereka meyakini, menuliskan kedukaan adalah terapi yang efektif untuk membantu meringankan beban bagi orang-orang yang mengalami kedukaan.

Truly let go. Write down how you feel and why you feel that way. You’re writing for yourself, not others. Don’t worry about grammar or sentence structure” –Harvard Medical School, 2016.

Meskipun menulis tentang kedukaan dan kehilangan dapat memicu emosi yang kuat – seperti menangis atau merasa sangat kesal – namun menulis menjadi aktivitas yang berharga dan bermakna. Harvard Medical School menyatakan, telah banyak orang melaporkan merasa lebih baik setelah menuliskan kedukaan.

Caranya sederhana. Berpikirlah bebas merdeka dalam menuliskan kedukaan. Benar-benar lepaskan semua kesedihan Anda. Tuliskan bagaimana perasaan Anda dan mengapa bisa merasa seperti itu. Anda menulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Maka jangan khawatir tentang tata bahasa atau struktur kalimat.

Saran dari Harvard Medical School, cobalah menulis selama 15 hingga 30 menit setiap hari, dalam kurun tiga hingga empat hari, atau sepekan. Anda juga dapat menulis 15 sampai 30 menit sepekan sekali, selama satu bulan. Sebuah penelitian menemukan bahwa menulis ekspresif memiliki efek yang lebih kuat jika dilakukan selama beberapa hari. Bukan hanya sekali atau dua kali.

Kedukaan Anda akan semakin berkurang. Tidak lagi menjadi beban yang menekan kehidupan Anda. Maka Anda akan merasakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan.

Selamat menulis, selamat menikmati kedamaian.

Bahan Bacaan