.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Menulis Spontan
Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.
Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.
Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.
Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.
Menulis Terencana
Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.
Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.
Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.
Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.
Menghadirkan Feel Tulisan
Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.
Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.
Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.
Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.
Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.
TULISAN, ANTARA SPONTAN DAN PERENCANAAN
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Menulis Spontan
Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.
Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.
Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.
Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.
Menulis Terencana
Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.
Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.
Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.
Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.
Menghadirkan Feel Tulisan
Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.
Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.
Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.
Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.
Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.
TULISAN, ANTARA SPONTAN DAN PERENCANAAN
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Menulis Spontan
Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.
Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.
Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.
Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.
Menulis Terencana
Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.
Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.
Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.
Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.
Menghadirkan Feel Tulisan
Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.
Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.
Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.
Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.
Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar