.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I think I was born to write” – Ida Pollock, 2013
.
Banyak orang yang mengalami disorientasi di masa tua. Itu karena mereka ‘tidak dewasa’, namun semata menua. Maya Angelou menyatakan, “Most people don’t grow up. Most people age. They find parking spaces, honor their credit cards, get married, have children, and call that maturity. What that is, is aging.”
Menurut Angelou, kebanyakan orang tidak tumbuh dewasa. Mereka hanya menua. Ketika mereka mampu menemukan tempat parkir, bisa menggunakan kartu kredit, menikah, punya anak, itu disebut sebagai kedewasaan. Padahal, itu adalah penuaan.
Kedewasaan salah satunya ditunjukkan dengan produktivitas. Maka orang dewasa akan selalu menjaga produktivitas di sepanjang rentang usia mereka. Sampai mereka benar-benar telah ‘usang’ dimana sudah tidak mampu lagi untuk produktif.
Dunia tulis menulis, membuat kita bisa selalu produktif sampai akhir hayat. Budayawan Kuntowijoyo, di saat mengalami sakit yang membuat tubuhnya lemah, tetap bisa menulis dengan bantuan anaknya. Sampai akhir hayat, pak Kunto tetap berkarya dan menghasilkan buku.
Tetap Produktif di Usia Tua
Jika ada orang tua yang terus menerus berkarya, menghasilkan buku, salah satunya adalah Ida Pollock (1908 – 2013). Terlepas dari isi tulisan yang mungkin saja tidak cocok untuk masyarakat Indonesia yang religius, namun kita bisa belajar tentang produktivitas dan semangat berkarya darinya.
Ida Pollock adalah penulis novel roman yang produktif. Ia pertama kali menulis kisah thriller “The Hills of Raven’s Haunt” pada usia 14 tahun. Artinya, sejak remaja ia telah berkarya dan menghasilkan buku thriller.
Hingga usia tua, ia terus berkarya. Bahkan menjelang akhir hidupnya, ia melaunching novel ke 124, berjudul The Runaway. Usianya sudah 105 tahun saat launching buku tersebut pada bulan Mei 2013. Ia meninggal dunia pada bulan Desember 2013.
Uniknya, Ida senang menggunakan beragam nama pena. Hanya ada beberapa novel saja yang menggunakan nama asli. Di antara nama pena yang pernah digunakan antara lain Joan Allen, Susan Barrie, Pamela Kent, Averil Ives, Rose Burghley, Mary Whistler, Anita Charles, Barbara Rowan, Jane Beaufort, dan Marguerite Bell.
Ida mampu menulis satu novel tebal dalam waktu enam pekan saja. Bahkan 40 buku –dari 124 bukunya—ditulis dalam waktu lima tahun saja. Suaminya, Kolonel Hugh Pollock, terlebih dahulu meninggal pada tahun 1971. Kolonel Pollock adalah seorang editor.
“Sepertinya aku dilahirkan untuk menulis”, ujar Ida Pollock. Jika dilihat buku pertama dihasilkan saat dirinya berusia 14, dan buku terakhir saat dirinya berusia 105 tahun, artinya ia telah menulis lebih dari kurun 90 tahun.
Pembiasaan Sejak Kecil
Kebiasaan menulis itu ia dapatkan sejak kecil, karena pembiasaan yang diberikan ibunya. “Ibuku menaruh mesin ketik di ruang makan, dan dia bilang, ini dia,” ujar Ida. Kebiasaan sang ibu menyediakan mesin ketik di ruang makan, serta menyodorkan kepada dirinya, membuat Ida tertantang.
Saat ia menulis buku perdana di usia 14, saat itu adalah tahun 1922. Belum berkembang komputer canggih. Yang ada baru mesin ketik jadul yang bekerja secara manual. Dengan keterbatasan fasilitas, ia mampu menghasilkan karya.
Ia terus berkarya, dan melewati berbagai masa. Ia berpindah dari mesin ketik jadul, menuju komputer. Kemudian ia menjumpai masa kejayaan laptop, dan akhirnya gadget dan internet. Ia hidup di berbagai masa, dan tetap berkarya. Buku-buku yang ditulis, menjadi saksi produktivitasnya.
Perhatikan bagaimana sang ibu membiasakan dan menyemangati dirinya untuk menulis sejak masih kecil. Rupanya ini habit yang terus terbawa sampai dewasa, bahkan sampai usia senja. Menjelang wafatnya, masih menulis novel dan dilaunching pada tahun yang sama dengan kematiannya, 2013.
Tidak berlebihan jika Ida Pollock menyatakan, dirinya terlahir untuk menulis. Born to write. Bagaimana dengan kita? Sejarah yang akan membuktikannya.
Bahan Bacaan
Mark E. Williams, Aging and Productivity, www.psychologytoday.com, 10 Juni 2019
Richard Smith, World’s Oldest Romantic Novelist Ida Pollock Releases 124th Book
Tidak ada komentar:
Posting Komentar