.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Usia tidak menghalangi seseorang untuk menulis. Usia sangat tua, bisa menulis. Usia sangat muda, bisa menulis. Yang tidak menulis, bukan karena mereka terlalu muda atau karena mereka terlalu tua. Namun karena mereka beralasan.

Amat sangat banyak daftar alasan yang disampaikan orang, untuk memaklumi dan membenarkan dirinya yang tak pernah menulis. Saya sudah terlalu tua, saya sangat sibuk, saya tidak punya waktu, anak saya masih kecil, saya kerja penuh waktu, dan lain sebagainya. Ini adalah daftar alasan untuk tidak menulis.

Jika Anda merasa tua, saya yakin belum setua Ida Pollock. Di usia 105 tahun, Pollock melaunching buku ke 124 berjudul The Runaway. Anda juga belum setua Toyo Shibata yang menulis buku di usia 98 tahun, dan bukunya menjadi best seller saat ia berusia hampir 100 tahun.

Jika Anda merasa muda, mungkin masih kalah muda dibanding Hazimah. Pada usia 9 tahun, gadis muda belia ini melaunching buku perdana. Pada usia 11 tahun, ia melaunching buku kedua. Semangat berkarya yang luar biasa.

Ada lagi gadis usia muda belia yang melahirkan karya. Abhijita Gupta adalah gadis sangat muda belia yang bisa menulis dan menerbitkan buku. Ia mulai rajin menulis sejak usia 5 tahun. Pada usia 7 tahun, ia melaunching buku berjudul ‘Happiness All Around’, yang merupakan buku antologi cerpen dan puisi.

abhijita gupta

Penulis Buku Termuda di Dunia

Gadis cilik dari Ghaziabad India ini dinobatkan sebagai penulis termuda di dunia versi International Book of Records. Ia juga dianugerahi gelar ‘Grandmaster of Writing’ oleh Asia Book of Records, karena kepiawaian menulis puisi dan cerita.

Abhijita Gupta adalah cucu dari penyair Hindi modern, Maithilisharan Gupt dan Santkavi Shri Siyaramsharan Gupt. Ternyata darah sastra sang kakek menjadi salah satu spirit bagi Abhijita untuk berkarya. Ayah dan ibunya sangat mendukung kegiatan menulis. Lingkungan keluarga yang mendukung, membuat Abhijita lebih terpacu dalam menerbitkan buku.

Ayah dan ibu Abhijita dengan bangga menyatakan, “Buku Abhijita akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menginspirasi anak-anak seusianya.” Tentu saja penghargaan terhadap Abhijita adalah kebanggaan yang luar biasa bagi kedua orangtua.

Dari mana Abhijita Gupta mendapatkan inspirasi menulis? Saat ditanya media, ia menjawab, “Lingkungan sekitar dan bahkan hal-hal kecil menginspirasi saya. Saya menulis tentang hal-hal positif, dari apa yang saya dengar, lihat, atau rasakan.”

Pandemi Covid-19 adalah hal yang negatif karena menghambat aktivitas manusia. Namun Abhijita justru menganggap pandemi adalah kesempatan yang bermanfaat karena bisa digunakan untuk menulis. Saat ini Abhijita menulis buku tentang pandemi dan pengaruhnya terhadap anak-anak di seluruh dunia.

Beberapa judul puisi Abhijita antara lain Mother Earth, Let’s Try, Study is my Best Buddy, dan Precious Friendship. Ia menulis dengan inspirasi hal-hal yang ada di sekitarnya. Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa untuk ukuran anak seusianya.

Agar Bisa Menulis Buku

Berapapun usia Anda, bisa menulis buku. Syaratnya hanya satu, jangan beralasan. Jika Anda tidak beralasan, pasti akan bisa menghasilkan karya tulis. Namun jika Anda beralasan, seumur hidup Anda tidak akan bisa menulis buku.

Jangan menganggap bahwa menulis buku itu sulit. Karena pada dasarnya semua bisa Anda tulis menjadi buku. Seperti yang disampaikan Abhijita Gupta, “Saya menulis tentang hal-hal positif, dari apa yang saya dengar, lihat, atau rasakan”.

Sederhana, bukan? Berbagai hal yang Abda dengar, Anda lihat dan Anda rasakan, bisa menjadi tulisan. Bisa Anda bukukan.

Jadi, alasan apa lagi yang hendak Anda sampaikan untuk tidak pernah menulis buku? Berhentilah membuat alasan.

Bahan Bacaan