Senin, 01 Februari 2021

Mengukir Mimpi Jadi Penulis

 

Oleh  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

“Sebenarnya kamu punya potensi, tapi kamu tidak percaya diri,  kamu suka jual mahal bahkan  orang bilang kamu sombong!!”,  Kata teman saya yang selalu  kuingat dalam hidup saya. “Aku sombong?!!”,  ahh!! ya ampun  apa yang  aku sombongkan!,  aku tak punya apa-apa?.  Aku  sadar, aku tak bisa apa-apa? Dan...akupun bukan siapa-siapa. Sedih! dibilang sombong. Itu perenungan dan PR buat saya.

Mohon dimaafkan. Sungguh!!  saya bukan orang sombong. Tak ada yg kusombongkan. Semoga aku tidak terlihat seperti orang  sombong. Kok bisa ya! Mungkin saya harus lebih rajin senyum ya....

Itu kan!, Saya yang minderan begini dibilang sombong.  Kehidupan memang aneh. Pribadi punya perasaan lain ternyata  orang lain berpikir lain.

Aku  sangat sadar sekali, aku  tak punya  dan tak bisa. Apalagi aku orangnya tidak percaya diri. Tapi....aku percaya, semua orang punya  kelebihan dan kekurangan. Tuhan memberi talenta kepada setiap kita. Karena sadar akan kekurangan itu, maka aku harus banyak belajar!. #Dalamhiduppunperlusekolah.  Tak ada kata terlambat. Tak perlu menjadi ‘Unicorn’. Jika kita ingin maju berarti  harus bersedia dan rela belajar, terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan.

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan.

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan.

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati.

Tetap semangat!!. Tetap sabar!!  Tetap tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.

Dahlan iskan

Pernah kuberpikir, betapa bahagianya kalau aku bisa buat buku. Mimpi! Aku selalu kagum dengan orang-orang yang namanya ditulis di buku. Dikoran. Dimajalah!  Ahh!!, itu mimpi!! Jangan mimpi terlalu tinggi, kalau ‘jatuh’ sakit sekali. Takuttt!!

Seiring berjalannya waktu aku berkenalan dengan Ibu guru cantik, ibu Lilis sutikno. Pengurus AGUPENA  PGRI NTT  sekaligus penggiat literasi. Saya bergabung dengan group beliau. Aduh ternyata orangnya baik sekali. Bahkan sampai curhat segala hal. Belum lama kenal terasa  sudah kenal 100 tahun lamanya. Asyik! Bahkan saya merasa punya saudara baru. Setelah itu kenallah dengan teman-teman yang lain. Ternyata semua #penulisHebat , Ibu kanjeng, Kang Encon, Pak Rahmadi, Pak Sahat, pak Robert Fahik, pak Irpan   dan #parapakar yang saya tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Teman seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kita seperti keluarga. Trimakasih untuk bimbingannya, motivasinya, pengalamannya,  dan lain-lainnya. Jasamu tiada tara untukku.

Sedikit demi sedikit mimpi itu mulai terjawab . Beberapa buku ber ISBN sudah terbit masih menunggu  buku yang lain yang sementara  berproses. Trimakasih, trimakasih  banyak suamiku, anakku dan semua sahabatku.... Teman-temanku didunia maya, yang #jauhdimatatapidekatdihati. Berteman memang indah. Bisa saling mengisi. Saling menginspirasi. Menambah ‘point’ dan  ‘koin’. Biarlah karya bisa menjadi kenangan anak cucu nanti dan tak akan  habis di telan waktu. Ayoo teman2, mari sisihkan waktu. Kita berkreasi. Kita sambut dan kita jawab tuntutan pemerintah.  Walau sederhana, seperti saya yang tak berbakat dan hanya modal nekat.  Hehe...

Inilah  sekelumit ceritaku,  ‘se’toi’ kata orang Waingapu, masih merayap sebagai penulis ‘pemula’.  Sedikit pengalaman ‘seorang guru’ semoga bisa menginspirasi sahabat guru di kota kecilku. Pengalaman benar-benar tak seberapa dibanding  pada ‘pakar’ yang sudah  jauh  berjalan. Untuk  menuju ke suatu tempat  mulai selangkah demi selangkah, karena kita tak bisa terbang. Semoga!

Hidup seperti kita naik sepeda, terus bergerak dan mengayuh agar tak jatuh. Hidup juga seperti berlatih menyetir mobil menguji nyali. Tak boleh takut mencoba. Terus  belajar dan memberanikan diri. Kalau rajin  belajar dan mencoba akan bisa. Bahkan mungkin  akhirnya berani menyalib yang ada didepannya.

Biarlah kita  ikut andil sesuai dengan kemampuan kita, untuk wewujudkan visi pendidikan Indonesia, yaitu Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Menciptakan pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Peserta didik yang berakhak mulia, bergotong royong dan berkebhinekaan global.

Kita tunjukkan karya dengan bukti nyata. Mengukir mimpi menjadi fakta. Terus semangat sebelum Tuhan memanggil kita. Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...