Oleh Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
“Sebenarnya kamu punya potensi,
tapi kamu tidak percaya diri, kamu suka
jual mahal bahkan orang bilang kamu
sombong!!”, Kata teman saya yang
selalu kuingat dalam hidup saya. “Aku
sombong?!!”, ahh!! ya ampun apa yang aku sombongkan!, aku tak punya apa-apa?. Aku sadar, aku tak bisa apa-apa? Dan...akupun
bukan siapa-siapa. Sedih! dibilang sombong. Itu perenungan dan PR buat saya.
Mohon dimaafkan. Sungguh!! saya bukan orang sombong. Tak ada yg
kusombongkan. Semoga aku tidak terlihat seperti orang sombong. Kok bisa ya! Mungkin saya harus
lebih rajin senyum ya....
Itu kan!, Saya yang minderan
begini dibilang sombong. Kehidupan
memang aneh. Pribadi punya perasaan lain ternyata orang lain berpikir lain.
Aku sangat sadar sekali, aku tak punya
dan tak bisa. Apalagi aku orangnya tidak percaya diri. Tapi....aku
percaya, semua orang punya kelebihan dan
kekurangan. Tuhan memberi talenta kepada setiap kita. Karena sadar akan
kekurangan itu, maka aku harus banyak belajar!. #Dalamhiduppunperlusekolah. Tak ada kata terlambat. Tak perlu menjadi ‘Unicorn’. Jika kita ingin
maju berarti harus bersedia dan rela
belajar, terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya.
Ketika kerjamu tidak
dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan.
Ketika usahamu dinilai
tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan.
Ketika hatimu terluka
sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.
Ketika kamu lelah dan
kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu
merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan.
Ketika kamu harus
membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu
sedang belajar tentang kemurahan hati.
Tetap semangat!!. Tetap
sabar!! Tetap tersenyum. Karena kamu
sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.
Dahlan iskan
Pernah kuberpikir, betapa bahagianya kalau aku bisa buat
buku. Mimpi! Aku selalu kagum dengan orang-orang yang namanya ditulis di buku.
Dikoran. Dimajalah! Ahh!!, itu mimpi!!
Jangan mimpi terlalu tinggi, kalau ‘jatuh’ sakit sekali. Takuttt!!
Seiring berjalannya waktu aku
berkenalan dengan Ibu guru cantik, ibu Lilis sutikno. Pengurus AGUPENA PGRI NTT sekaligus penggiat literasi. Saya bergabung
dengan group beliau. Aduh ternyata orangnya baik sekali. Bahkan sampai curhat
segala hal. Belum lama kenal terasa
sudah kenal 100 tahun lamanya. Asyik! Bahkan saya merasa punya saudara
baru. Setelah itu kenallah dengan teman-teman yang lain. Ternyata semua
#penulisHebat , Ibu kanjeng, Kang Encon, Pak Rahmadi, Pak Sahat, pak Robert
Fahik, pak Irpan dan #parapakar yang
saya tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Teman seluruh Indonesia, dari
Sabang sampai Merauke. Kita seperti keluarga. Trimakasih untuk bimbingannya,
motivasinya, pengalamannya, dan
lain-lainnya. Jasamu tiada tara untukku.
Sedikit demi sedikit mimpi itu
mulai terjawab . Beberapa buku ber ISBN sudah terbit masih menunggu buku yang lain yang sementara berproses. Trimakasih, trimakasih banyak suamiku, anakku dan semua sahabatku....
Teman-temanku didunia maya, yang #jauhdimatatapidekatdihati. Berteman memang
indah. Bisa saling mengisi. Saling menginspirasi. Menambah ‘point’ dan ‘koin’. Biarlah karya bisa menjadi kenangan
anak cucu nanti dan tak akan habis di
telan waktu. Ayoo teman2, mari sisihkan waktu. Kita berkreasi. Kita sambut dan
kita jawab tuntutan pemerintah. Walau
sederhana, seperti saya yang tak berbakat dan hanya modal nekat. Hehe...
Inilah sekelumit ceritaku, ‘se’toi’ kata orang Waingapu, masih merayap
sebagai penulis ‘pemula’. Sedikit
pengalaman ‘seorang guru’ semoga bisa menginspirasi sahabat guru di kota
kecilku. Pengalaman benar-benar tak seberapa dibanding pada ‘pakar’ yang sudah jauh
berjalan. Untuk menuju ke suatu
tempat mulai selangkah demi selangkah, karena
kita tak bisa terbang. Semoga!
Hidup seperti kita naik sepeda,
terus bergerak dan mengayuh agar tak jatuh. Hidup juga seperti berlatih
menyetir mobil menguji nyali. Tak boleh takut mencoba. Terus belajar dan memberanikan diri. Kalau
rajin belajar dan mencoba akan bisa.
Bahkan mungkin akhirnya berani menyalib
yang ada didepannya.
Biarlah kita ikut andil sesuai dengan kemampuan kita,
untuk wewujudkan visi pendidikan Indonesia, yaitu Indonesia maju yang
berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Menciptakan pelajar Pancasila yang
bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.
Peserta didik yang berakhak mulia, bergotong royong dan berkebhinekaan global.
Kita tunjukkan karya dengan bukti
nyata. Mengukir mimpi menjadi fakta. Terus semangat sebelum Tuhan memanggil
kita. Salam literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar