Selasa, 02 Februari 2021

AYAHKU BERHATI MALAIKAT

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd



Hiduplah  keluarga kecil yang bahagia. Mereka  diberkati. Pengantin  baru. Pasangan yang serasi. Suami  ganteng dan cantik jelita istrinya.  Mereka begitu kompak dan saling pengertian. Keduanya adalah  guru honor SD di sebuah kampung kecil, Laipori, kabupaten Sumba Timur

Sebagai  Pasutri (pasangan suami istri) baru, harapan pertama adalah punya  momongan. Doa  selalu didaraskan setiap  hari.  Akhirnya Tuhan menjawab doa-doa mereka. Setelah  cek di sebuah puskemas, ternyata  benar,  istri  tercinta ‘positip’ hamil. Betapa bahagianya mereka . Tak henti-hentinya mereka  bersyukur kepada yang telah memberi kehidupan.

Hari-hari  dijalani seperti biasa. Rutinitaspun  sebagai guru  dilaksanakan dengan penuh semangat. Cek  kehamilan tak pernah mereka lupakan.  Rajin dua minggu sekali ia  periksa di puskesmas  dekat rumah kosnya.  Kini hamil sudah 8 bulan.  Baju baby  sederhana sudah  disiapkan . Hasil menyisihkan  gaji honor yang tak seberapa.  USG  juga sudah dilakukan, Eh! Anak yang dikandungnya seorang ‘perempuan’.  Apapun  baby  itu ‘titipan’ Tuhan . Entah laki-laki ataupun perempuan. Harus tetap disayang dengan sepenuh hati.

Saat- saat yang dinanti tibalah sudah,  perut ibu guru  Nisa  sudah mulai kencang.  Pertanda  mau melahirkan. Pak Deni  tak pikir panjang segera  mengantar sang istri tercinta ke rumah sakit di Kota Waingapu. Naik Angkutan pedesaan, yakni bis Kayu. ( Truk yang dimodifikasi,  ada tempat duduknya :Red). Jarak tempuh dari  kampung bisa sekitar 40 menit lamanya. Sampai di rumah  sakit ibu  Nisa  segera di  bawa ke ruang bersalin. Di Ruang  Dahlia. Secepat  kilat  para perawat  membantu persalinan Ibu Nisa. Pak Deni  harap-harap cemas.  Gelisah, takut, senang,  sedih, terharu, @#$^&=+//  pokoknya  campur aduk bergejolak dihatinya.

Duduk tak tenang, berdiri tak aman, pikiran gelisah, putar-putar tak berhenti  menuggu istrinya di ruang bersalin. Tak lama kemudian...... teriak keras nyaring  bunyi  bayipun terdengar. Degup jantung, sesak didada  terasa. Pak Deni  tak sabar menunggu bidan memanggilnya masuk ruangan. Dengan  pikiran yang penuh  kecemasan,......riiitttt, akhirnya pintu  ruangan  terbuka. Legalah  hati  Pak Deni,...”pasti  suara anakku!”: Harapnya  dalam  hati penuh ceria.  Ibu Bidan  keluar membawa seorang  jabang  bayi  mungil  seberat 3 kg yang begitu cantik.

Ohh Tuhan, ... trimakasih  anakku telah lahir. Trimakasih berulang-ulang diucapkannya dari mulut Pak  Deni. Ia mencoba menggendong  putri mungilnya yang baru lahir. Terlihat komat kamit dari  mulut Pak Deni, mungkin dia berdoa. Buru-buru dia  masuk ke ruangan untuk mencium istri dan  memeluknya. Tiba-tiba.....!! betapa kagetnya dia!. Nafas  terasa sesak!!. Jantung  seolah berhenti berdegup!.  Sekujur badannya mendadak lemas, tenaga  tak ada ketika melihat istri tercintanya.....ditutup dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung  rambutnya.

Kenapa  istri saya ibu!!, kenapa!! Kenapa ditutup sekujur tubuhnya!!. Teriak keras Pak Deni!  Dia goncang-goncangkan tubuh ibu bidan kepala  dengan penuh tangis dan emosi. Mereka  ber-4 bidan dan perawat yang menangani  tertunduk. Dan ibu  kepala berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sang Istri punya  riwayat sakit berat yang tak pernah diceritakan kepada suaminya. Badan Ibu Nisa  sangat lemah,  HBnya 3 dan  pendarahan hebat waktu melahirkan......akhirnya tak tertolong. Golongan darah AB, sulit didapatnya, sudah cari bantuan di segala penjuru tak  ada  juga yang  menyumbangkan. Semua panik waktu itu . Pak Deni  sudah mengerti, Cuma  tak membayangkan  sebegitu ‘fatal’ nya. Pak Deni pun   sudah berusaha mencari  kesana-kemari, memuat lewat FB, IG, WA  group teman-temannya untuk minta bantuannya tapi  Nihil.

Air mata Deni,  mangalir deras di pipinya.  Duduk terpaku. Mata terlihat Hampa. Airmata terus  membanjiri pipinya. Hati bagai tersayat sembilu. Dokter dan para perawat mencoba menghiburnya.  Menepuk-nepuk punggungnya “ Sabar ya pak...sabar ya.....” , kata salah satu  perawat  senior sambil  merangkul pak Deni. Doakan agar mendapatkan tempat disorga. Kita berdoa untuknya.  Tak kuasa  Deni menahan tangisnya. Dicium erat sang buah  hati dalam kesedihannya.

Pelan-pelan dibukanya  selubung isri tercintanya. Air mata terus  membasahi pipinya. Ditatapnya muka istrinya dengan ‘penuh cinta’. Wajah istri yang terlihat senyum  tapi pucat pasi.  Ibu perawat mengambil alih gendong baby dari tangan Pak  Deni. Dipeluknya dengan  erat  sang Istri yang sudah tak bernyawa.

Teman-teman  berdatangan. Mereka orang-orang rantauan yang sudah  jadi saudara . Semua keluarganya ada di jawa. Dengan upacara  sederhana akhirnya  Istri dikuburkan di TPU  kampungnya.

Tuhaannn.....kenapa ini bisa terjadi pada istriku.  Tuhan memberi ujian terlalu berat. Tuhan...kuatkan aku dan tabahkankah aku....Badannya Pak Deni  terlalu lemah,  ia bahkan tak kuasa menahan  sesak di dada.  Istri yang teramat sangat ia  cintai kini telah tiada.

Bagaimanapun ia harus rela. Harus rela. Ia akan terus  berdoa  mengiringi langkah istri tercinta.  Dia dipanggil pulang oleh Bapanya. Istrinya Sudah  disiapkan tempat  terindah di Sorga. Angin sepoi-sepoi mengiringi langkah  untuk pulang ke alam kebahagiaan, itu menurut keyakinan mereka.

Penguburanpun selesai, kini Pak Deni  ‘hanya’ bersama  sang ‘baby’. Dia merawatnya dengan sepenuh hati.  Mama mantu yang  selalu setia menjaga dengan penuh kasih sayang. Seiring berjalannya  waktu Nesya, sang Baby kini sudah  berumur 4 tahun. Penglihatannya terganggu.  Mungkin  pengaruh  dari  riwayat sakit mamanya. Nesya tak bisa melihat indahnya dunia nyata. Hal  Itu tidak pernah mengurangi  kasih sayang  bapaknya kepada putri semata wayangnya.

Hari terus berganti. Nesya pun tumbuh layaknya seorang gadis remaja. Ia manja.  Mereka begitu akrab dengan  seluruh anggota keluarganya. Semua saling menyayangi. Saling menghormati. Mereka hidup dengan penuh kesederhanaan. Nesya juga  belajar di Sekolah Luar biasa dan dia bisa  membaca, menari dan menyanyi seperti  mendiang mamanya.

Hidup sederhana saling menyayangi. Hal ini  membuat  Nesya tambah sayang kepada ayahnya. Kini Nesya sudah SMP. Dia anak yang rajin. Anak yang tekun dan  sopan.  Wajahnya cantik dan  begitu ramah. Diapun tak pernah  menyesali kehidupannya.

Suatu  saat di rumah  ada arisan. Tamu pun lumayan banyak. Bisa sekitar  20-an orang.  Teman-teman dari neneknya. Sifat orang itu berbeda-beda. Salah  satu dari tamu itu berkata :’Ooooo...ini to  putrinya pak Deni yang buta..!!. Dengar ibu itu, Nesya tak kuasa  menahan tangis.  Tangis pun pecah seketika.  Deni  juga sementara ada di situ.  Dipeluknya sangat erat putri tercintanya. Ibu Renggo itu  tidak merasa bersalah.  Dia Nyinyir saja di depan  para tamu yang lainnya. Dia memang orang yang arogan dan tak punya perasaan. Setan masih lebih baik dari  hati bu Renggo. Manusia  itu selalu saja datang. Dia selalu bawa bahasa-bahasa  yang bikin sakit hati Nesya. Sepertinya Ibu janda itu suka sama pak Deni.Tapi bertepuk sebelah tangan. Sering datang ke rumah. Ingin mengambil hati bapaknya kok tidak bisa mengambil hati anaknya. Ini memang manusia paling ‘aneh’!. Nesya  selalu merasa ‘terganggu’ kalau  ibu itu datang.

Bu Lusi selalu menasehati  bu Renggo, tapi  karena memang orangnya ‘jelek’. Yach, tetap tak berubah. Mungkin dia merasa bangga kalau bisa menyakiti orang. Ada kepuasan batin pada dirinya barangkali.  Boro-boro minta maaf. Dasar!! Perempuan itu  memang punya mulut ’tidak baik’. Perasaannya pun ‘bebal’. Semoga  dia diampuni dosanya.

Suatu saat bu renggo datang di rumah lagi. Keluarga  Nisa tidak ada yang senang , tapi  dia kok tidak ‘tahu diri’. Setiap melihat  bu Renggo hati Nisa mulai memuncak bencinya.  Nesya  jadi anak yang pemurung. Dia sering  menyendiri.  Terlihat  air mata  selalu ada  saat neneknya memanggillnya. Pak Deni  pun merasa terpukul.  Kenapa anakku disakiti. “Nesya tak pernah salah pada bu Renggo. Cinta bertepuk sebelah tangan. Bu Renggo cinta mati pada pak Pak Deni, sedikitpun pak Deni tak menanggapinya.

Pak Deni larut dalam kesedihan yang dialami  Nesya. Apa yang   harus saya lakukan untuk membahagiakan  putri tercintanya???. Apa ya Tuhan???, “Tunjukkan  padaku agar aku bisa membahagiakan  anakku. Apapun itu” : doa  pak Deni yang selalu didaraskan setiap hari. Akhirnya.......dalam  pikiran Bp Nesia , ia akan  memberikan  ‘mata’nya kepada  putri  tercintanya. Tekat pun semakin bulat, ia akan  memberikan biji matanya kepada putrinya. Pernah ia lihat  dan ia baca  orang bisa mendonorkan matanya untuk orang lain.

Berkat  tekat yang sudah bulat dan semangat Bapak Deni  memeriksakannya ke dokter mata. Ia  melaporkan  keinginannya. Ia menyampaikan curahan hatinya. Dokter rumah  sakit pun mengabulkan  permohonannya. Berapapun biayanya akan ditanggungnya, bahkan jika  harus menjual  harta ataupun tanah yang ia punya.  Tekat bulat demi anak yang disayanginya

Dengan bahasa-bahasa yang bijaksana Bp Neysa  mengajak Nesya ke rumah sakit. Ia banyak cerita tentang  donor mata. Singkat cerita. Akhirnya Ia mengajak putrinya ke Rumah sakit  untuk memeriksa matanya dan operasi supaya bisa melihat.

Nesya pun begitu semangat.  Akhirnya operasi  selesai. Betapa bahagianya. Kini  Nesyia telah melihat terangnya dunia. Bahagianya tak  terkira.  Dunia terasa indah. Berulang-ulang  ia mengucapkan terimakasih  kepada  dokter.  Ia akan terus bersyukur kepada  bapakNya. 

Saat  terbuka matanya sang  ayah  tidak mendampinginya.  Nesya akan segera  menemui  ayahnya  dan akan bersujud dihadapannya. Dia akan  menceritakan  kebahagiaannya.

Dengan penuh semangat  Nesya  minta kepada dokter untuk  mengantarkan  dimana keberadaan ayahnya. Dokter pun menggandeng Nesya menuju ke tempat ayahnya berada.  Hati Nesya berbunga-bunga ,  rasa suka cita  terlihat di wajahnya  yang cantik dan mungil. Diketuklah pintu  ruangan tempat ayahnya berada........: ‘Silahkan masuk!”: ada jawaban dari dalam. Mata Nesya masih berbinar-binar. Tapi.... tiba-tiba ,  betapa jagetnya dia.  Melihat  ayahnya  meraba-raba...tempat  dudukmnya  untuk dia  duduk di  pingginr tempat tidurnya. Terlihat  kini ayahnya tak bisa melihat lagi, ternyata kedua matanya sekarang sudah dipindahkan ke  Nesya.  Tuhan!!, suara histeris Nesya sambil memeluk Ayah tercinta.

Kesediihan tak akan menyelesaikan masalah. Dengan penuh  bijaksana sang ayah selalu memberikan pengertian kepada Nesyia. Lama kelamaan akhirnya  Nesya  bisa mengerti maksud ayahnya. Begitu besar cinta ayah kepadanya.  Dia sangat merasakan  kasih sayang itu. Beruntunglah Nesya punya ayah yang  berhati  malaikat.

            Hari pun terus berjalan. Ayah dan anakpun semakin  melengkapi, saling melayani kerena saling membutuhkan.  Pak Deni keluar dari guru, kini  dia buka kios  dengan modal  jual motor butut yang ia punya. Anehnya, Bapak Nisa bisa saja  melayani para pembeli. Bisa saja kalau ada orang yang masuk sampai ada yang  curi gula-gula di toples dia bisa tahu. Filing orang buta memang luar bisa. Nenek Nesyapun selalu mendampingi  pekerjaan Ayahnya.

Di benak Nesya  hanya  berpikir  apa yang ‘harus’ aku lakukan untuk  ayahku. Bagaimanapun aku harus bisa membalas  budi  ayahku. Dia  selalu berdoa. Berdoa untuk minta petunjukkNya. Berpuasa  selalu ia lakukan demi cita-citanya.

Dia yakin Tuhan akan memberikan jawaban. Ia akan   belajar  lebih rajin. Berdoa jangan lah alpa. Benar!. Nesya ingin bisa membanggakan keluarga khususnya sang ayah yang sangat dicintainya.

            Tugas  rutin Nesya belajar. Kadang  dia membantu  menjaga Kios  di sela-sela waktu belajarnya. Nisa sekarang sudah kelas  3 SMA.  Bu Karti, tata usaha sekolah memberitahukan ada tes Seleksi Bidik Misi untuk masuk perguruan tingggi Negeri. Waktu pun tak di sis-siakan oleh Nesya.  Dengan bersungguh-sunggah ia mengikuti  Seleksi itu. Dia memilih kedokteran mata. Ia tak ingin ada orang di rumah tahu, temasuk ayah tercinta.  Dia belajar bersungguh sungguh. Dia akan berusaha sesuai kemampuannya.  Dia selalu ingat akan nasehat gurunya waktu SMA. Iq itu 1% dan kerja kerja yang 99%. Jadi tekun  belajar dan kerja keras adalah senjata Nesya  untuk  bisa mewujutkan cita-citanya.  Kerja keras pula  akan mengalahkan orang berbakat, ketika  orang berbakat  tidak mau bekerja keras.

            Semangat dalam menggapai cita-cita, tersenyum dalam setia perjuangan, berdoa dalam setia usaha,  itu merupakan kunci  keberhasilan. Kata  bijak itu dituliskan di pintu  ruang belajarnya, agar  setiap hari bisa melihat, mengingat dan  melaksanakannya.

            Hari terus berjalan maju. Semangat pun tak pernah kendor. Hari-hari diisi dengan  aktivitas yang positif. Berkat ketekunan dan kegigihannya  banyak pula teman Nesya yang  selalu  minta belajar bersama. Rata-rata teman Nesya orang berada, fasilitas  lengkap. Dia pun di unutungkan dari para teman yang  bekersama sama dengan Nesya. Karena kebaikan Nesya dan kejujuran tentang  kehidupannya. Banyak pula teman Nesya yang menawarkan kebaikannya. Berteman memang indah, biasa  saling mengisi. Biasa pula saling berbagi.

Pengumumn hasil seleksi tiba.  Ternyata Nesya satu-satunya yang lulus tes. Nesya mendapat beasiswa  “Bidik Misi” kedokteran di Universitas ternama di kota. Beasiswa itu ditujukan kepada siswa  berprestasi  tapi orang tuanya tidak mampu. Seleksi dari ratusan orang  ternyata Nesya yang lulus. Rejeki memang  tak pernah salah alamat. Sepanjang  kita  memohon kepadaNya dengan sungguh-sungguh dibarengi dengan usaha, Tuhan akan mengabulkannya.  Belas kasihan dan pertolongan  Tuhan  akan indah pada waktunya. Cita-cita Nesya  meangambil jurusan  kedokteran Mata.

            Lima tahun Nesya kuliah di Kota besar. Kini Nesya sudah lulus dokter tepat pada waktunya. Cita-cita Nesya Cuma ‘satu ‘. Ingin  cari  donor mata supaya  ayah tercinta bisa melihat kembali. Cita-cita itu disampaikan pula kepada  teman-teman  Nesya yang semuanya adalah dokter. Ini PR buat mereka. Kemajuan semakin pesat. Pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Pasti tak lama lagi ayah Nesya akan bisa melihat lagi.

            Keluarga Nesya pun semakin bertambah ketika Nesya punya suami juga seorang  dokter yang berpengalaman. Orang yang taat disayang Tuhan. Mujizat  selalu ada  bagi orang yang rendah hati dan takut akan Tuhan. Kini  Ayah Neysa kembali  bisa melihat. Keluarga semakin  bahagia dan  keluarga  selalu mengandalkan Tuhan di setiap kehidupannya. Hidup ini singkat.  Alangkah bahagianya  jika  hidup ini kita isi dengan hal-hal yang positif. Rela berbagi iklas memberi. Syukur-syukur  bisa menjadi berkat untuk sesama kita.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...