Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Hiduplah keluarga kecil yang bahagia. Mereka diberkati. Pengantin baru. Pasangan yang serasi. Suami ganteng dan cantik jelita istrinya. Mereka begitu kompak dan saling pengertian.
Keduanya adalah guru honor SD di sebuah kampung
kecil, Laipori, kabupaten Sumba Timur
Sebagai Pasutri (pasangan suami istri) baru, harapan
pertama adalah punya momongan. Doa selalu didaraskan setiap hari.
Akhirnya Tuhan menjawab doa-doa mereka. Setelah cek di sebuah puskemas, ternyata benar,
istri tercinta ‘positip’ hamil.
Betapa bahagianya mereka . Tak henti-hentinya mereka bersyukur kepada yang telah memberi
kehidupan.
Hari-hari dijalani seperti biasa. Rutinitaspun sebagai guru
dilaksanakan dengan penuh semangat. Cek kehamilan tak pernah mereka lupakan. Rajin dua minggu sekali ia periksa di puskesmas dekat rumah kosnya. Kini hamil sudah 8 bulan. Baju baby sederhana sudah disiapkan . Hasil menyisihkan gaji honor yang tak seberapa. USG
juga sudah dilakukan, Eh! Anak yang dikandungnya seorang ‘perempuan’. Apapun
baby itu ‘titipan’ Tuhan . Entah
laki-laki ataupun perempuan. Harus tetap disayang dengan sepenuh hati.
Saat- saat yang dinanti
tibalah sudah, perut ibu guru Nisa
sudah mulai kencang. Pertanda mau melahirkan. Pak Deni tak pikir panjang segera mengantar sang istri tercinta ke rumah sakit
di Kota Waingapu. Naik Angkutan pedesaan, yakni bis Kayu. ( Truk yang
dimodifikasi, ada tempat duduknya :Red).
Jarak tempuh dari kampung bisa sekitar 40
menit lamanya. Sampai di rumah sakit ibu
Nisa
segera di bawa ke ruang bersalin.
Di Ruang Dahlia. Secepat kilat
para perawat membantu persalinan Ibu
Nisa. Pak Deni harap-harap cemas. Gelisah, takut, senang, sedih, terharu, @#$^&=+// pokoknya
campur aduk bergejolak dihatinya.
Duduk tak tenang, berdiri
tak aman, pikiran gelisah, putar-putar tak berhenti menuggu istrinya di ruang bersalin. Tak lama
kemudian...... teriak keras nyaring
bunyi bayipun terdengar. Degup
jantung, sesak didada terasa. Pak Deni tak sabar menunggu bidan memanggilnya masuk
ruangan. Dengan pikiran yang penuh kecemasan,......riiitttt, akhirnya pintu ruangan
terbuka. Legalah hati Pak Deni,...”pasti suara anakku!”: Harapnya dalam
hati penuh ceria. Ibu Bidan keluar membawa seorang jabang
bayi mungil seberat 3 kg yang begitu cantik.
Ohh Tuhan, ...
trimakasih anakku telah lahir.
Trimakasih berulang-ulang diucapkannya dari mulut Pak Deni. Ia mencoba menggendong putri mungilnya yang baru lahir. Terlihat
komat kamit dari mulut Pak Deni, mungkin
dia berdoa. Buru-buru dia masuk ke
ruangan untuk mencium istri dan memeluknya.
Tiba-tiba.....!! betapa kagetnya dia!. Nafas
terasa sesak!!. Jantung seolah
berhenti berdegup!. Sekujur badannya
mendadak lemas, tenaga tak ada ketika
melihat istri tercintanya.....ditutup dengan selimut dari ujung kaki hingga
ujung rambutnya.
Kenapa istri saya ibu!!, kenapa!! Kenapa ditutup
sekujur tubuhnya!!. Teriak keras Pak Deni! Dia goncang-goncangkan tubuh ibu bidan kepala dengan penuh tangis dan emosi. Mereka ber-4 bidan dan perawat yang menangani tertunduk. Dan ibu kepala berusaha menjelaskan yang sebenarnya
terjadi. Sang Istri punya riwayat sakit
berat yang tak pernah diceritakan kepada suaminya. Badan Ibu Nisa sangat lemah,
HBnya 3 dan pendarahan hebat
waktu melahirkan......akhirnya tak tertolong. Golongan darah AB, sulit
didapatnya, sudah cari bantuan di segala penjuru tak ada
juga yang menyumbangkan. Semua panik
waktu itu . Pak Deni sudah mengerti,
Cuma tak membayangkan sebegitu ‘fatal’ nya. Pak Deni pun sudah berusaha mencari kesana-kemari, memuat lewat FB, IG, WA group teman-temannya untuk minta bantuannya tapi Nihil.
Air mata Deni, mangalir deras di pipinya. Duduk terpaku. Mata terlihat Hampa. Airmata
terus membanjiri pipinya. Hati bagai
tersayat sembilu. Dokter dan para perawat mencoba menghiburnya. Menepuk-nepuk punggungnya “ Sabar ya pak...sabar
ya.....” , kata salah satu perawat senior sambil
merangkul pak Deni. Doakan agar mendapatkan tempat disorga. Kita berdoa
untuknya. Tak kuasa Deni menahan tangisnya. Dicium erat sang
buah hati dalam kesedihannya.
Pelan-pelan
dibukanya selubung isri tercintanya. Air
mata terus membasahi pipinya. Ditatapnya
muka istrinya dengan ‘penuh cinta’. Wajah istri yang terlihat senyum tapi pucat pasi. Ibu perawat mengambil alih gendong baby dari
tangan Pak Deni. Dipeluknya dengan erat
sang Istri yang sudah tak bernyawa.
Teman-teman berdatangan. Mereka orang-orang rantauan yang
sudah jadi saudara . Semua keluarganya
ada di jawa. Dengan upacara sederhana akhirnya Istri dikuburkan di TPU kampungnya.
Tuhaannn.....kenapa ini
bisa terjadi pada istriku. Tuhan memberi
ujian terlalu berat. Tuhan...kuatkan aku dan tabahkankah aku....Badannya Pak
Deni terlalu lemah, ia bahkan tak kuasa menahan sesak di dada. Istri yang teramat sangat ia cintai kini telah tiada.
Bagaimanapun ia harus
rela. Harus rela. Ia akan terus
berdoa mengiringi langkah istri
tercinta. Dia dipanggil pulang oleh Bapanya.
Istrinya Sudah disiapkan tempat terindah di Sorga. Angin sepoi-sepoi
mengiringi langkah untuk pulang ke alam
kebahagiaan, itu menurut keyakinan mereka.
Penguburanpun selesai,
kini Pak Deni ‘hanya’ bersama sang ‘baby’. Dia merawatnya dengan sepenuh hati. Mama mantu yang selalu setia menjaga dengan penuh kasih
sayang. Seiring berjalannya waktu Nesya,
sang Baby kini sudah berumur 4 tahun.
Penglihatannya terganggu. Mungkin pengaruh
dari riwayat sakit mamanya. Nesya
tak bisa melihat indahnya dunia nyata. Hal Itu tidak pernah mengurangi kasih sayang
bapaknya kepada putri semata wayangnya.
Hari terus berganti. Nesya
pun tumbuh layaknya seorang gadis remaja. Ia manja. Mereka begitu akrab dengan seluruh anggota keluarganya. Semua saling
menyayangi. Saling menghormati. Mereka hidup dengan penuh kesederhanaan. Nesya
juga belajar di Sekolah Luar biasa dan dia
bisa membaca, menari dan menyanyi
seperti mendiang mamanya.
Hidup sederhana saling
menyayangi. Hal ini membuat Nesya tambah sayang kepada ayahnya. Kini Nesya
sudah SMP. Dia anak yang rajin. Anak yang tekun dan sopan.
Wajahnya cantik dan begitu ramah.
Diapun tak pernah menyesali
kehidupannya.
Suatu saat di rumah
ada arisan. Tamu pun lumayan banyak. Bisa sekitar 20-an orang.
Teman-teman dari neneknya. Sifat orang itu berbeda-beda. Salah satu dari tamu itu berkata :’Ooooo...ini
to putrinya pak Deni yang buta..!!.
Dengar ibu itu, Nesya tak kuasa menahan
tangis. Tangis pun pecah seketika. Deni
juga sementara ada di situ.
Dipeluknya sangat erat putri tercintanya. Ibu Renggo itu tidak merasa bersalah. Dia Nyinyir saja di depan para tamu yang lainnya. Dia memang orang yang
arogan dan tak punya perasaan. Setan masih lebih baik dari hati bu Renggo. Manusia itu selalu saja datang. Dia selalu bawa
bahasa-bahasa yang bikin sakit hati
Nesya. Sepertinya Ibu janda itu suka sama pak Deni.Tapi bertepuk sebelah
tangan. Sering datang ke rumah. Ingin mengambil hati bapaknya kok tidak bisa
mengambil hati anaknya. Ini memang manusia paling ‘aneh’!. Nesya selalu merasa ‘terganggu’ kalau ibu itu datang.
Bu Lusi selalu menasehati
bu Renggo, tapi karena memang orangnya ‘jelek’. Yach, tetap
tak berubah. Mungkin dia merasa bangga kalau bisa menyakiti orang. Ada kepuasan
batin pada dirinya barangkali. Boro-boro
minta maaf. Dasar!! Perempuan itu memang
punya mulut ’tidak baik’. Perasaannya pun ‘bebal’. Semoga dia diampuni dosanya.
Suatu saat bu renggo
datang di rumah lagi. Keluarga Nisa tidak
ada yang senang , tapi dia kok tidak
‘tahu diri’. Setiap melihat bu Renggo
hati Nisa mulai memuncak bencinya. Nesya jadi anak yang pemurung. Dia sering menyendiri.
Terlihat air mata selalu ada
saat neneknya memanggillnya. Pak Deni
pun merasa terpukul. Kenapa
anakku disakiti. “Nesya tak pernah salah pada bu Renggo. Cinta bertepuk sebelah
tangan. Bu Renggo cinta mati pada pak Pak Deni, sedikitpun pak Deni tak
menanggapinya.
Pak Deni larut dalam kesedihan
yang dialami Nesya. Apa yang harus saya lakukan untuk membahagiakan putri tercintanya???. Apa ya Tuhan???,
“Tunjukkan padaku agar aku bisa
membahagiakan anakku. Apapun itu” :
doa pak Deni yang selalu didaraskan
setiap hari. Akhirnya.......dalam pikiran
Bp Nesia , ia akan memberikan ‘mata’nya kepada putri
tercintanya. Tekat pun semakin bulat, ia akan memberikan biji matanya kepada putrinya.
Pernah ia lihat dan ia baca orang bisa mendonorkan matanya untuk orang
lain.
Berkat tekat yang sudah bulat dan semangat Bapak
Deni memeriksakannya ke dokter mata.
Ia melaporkan keinginannya. Ia menyampaikan curahan
hatinya. Dokter rumah sakit pun
mengabulkan permohonannya. Berapapun biayanya
akan ditanggungnya, bahkan jika harus
menjual harta ataupun tanah yang ia
punya. Tekat bulat demi anak yang disayanginya
Dengan bahasa-bahasa yang
bijaksana Bp Neysa mengajak Nesya ke
rumah sakit. Ia banyak cerita tentang
donor mata. Singkat cerita. Akhirnya Ia mengajak putrinya ke Rumah sakit
untuk memeriksa matanya dan operasi
supaya bisa melihat.
Nesya pun begitu
semangat. Akhirnya operasi selesai. Betapa bahagianya. Kini Nesyia telah melihat terangnya dunia. Bahagianya
tak terkira. Dunia terasa indah. Berulang-ulang ia mengucapkan terimakasih kepada
dokter. Ia akan terus bersyukur
kepada bapakNya.
Saat terbuka matanya sang ayah tidak mendampinginya. Nesya akan segera menemui
ayahnya dan akan bersujud
dihadapannya. Dia akan menceritakan kebahagiaannya.
Dengan penuh semangat Nesya
minta kepada dokter untuk
mengantarkan dimana keberadaan
ayahnya. Dokter pun menggandeng Nesya menuju ke tempat ayahnya berada. Hati Nesya berbunga-bunga , rasa suka cita terlihat di wajahnya yang cantik dan mungil. Diketuklah pintu ruangan tempat ayahnya berada........:
‘Silahkan masuk!”: ada jawaban dari dalam. Mata Nesya masih berbinar-binar.
Tapi.... tiba-tiba , betapa jagetnya
dia. Melihat ayahnya
meraba-raba...tempat
dudukmnya untuk dia duduk di
pingginr tempat tidurnya. Terlihat
kini ayahnya tak bisa melihat lagi, ternyata kedua matanya sekarang
sudah dipindahkan ke Nesya. Tuhan!!, suara histeris Nesya sambil memeluk
Ayah tercinta.
Kesediihan tak akan menyelesaikan
masalah. Dengan penuh bijaksana sang
ayah selalu memberikan pengertian kepada Nesyia. Lama kelamaan akhirnya Nesya
bisa mengerti maksud ayahnya. Begitu besar cinta ayah kepadanya. Dia sangat merasakan kasih sayang itu. Beruntunglah Nesya punya
ayah yang berhati malaikat.
Hari
pun terus berjalan. Ayah dan anakpun semakin
melengkapi, saling melayani kerena saling membutuhkan. Pak Deni keluar dari guru, kini dia buka kios
dengan modal jual motor butut
yang ia punya. Anehnya, Bapak Nisa bisa saja
melayani para pembeli. Bisa saja kalau ada orang yang masuk sampai ada
yang curi gula-gula di toples dia bisa
tahu. Filing orang buta memang luar bisa. Nenek Nesyapun selalu
mendampingi pekerjaan Ayahnya.
Di benak Nesya hanya
berpikir apa yang ‘harus’ aku
lakukan untuk ayahku. Bagaimanapun aku harus
bisa membalas budi ayahku. Dia
selalu berdoa. Berdoa untuk minta petunjukkNya. Berpuasa selalu ia lakukan demi cita-citanya.
Dia yakin Tuhan akan
memberikan jawaban. Ia akan belajar lebih rajin. Berdoa jangan lah alpa. Benar!. Nesya
ingin bisa membanggakan keluarga khususnya sang ayah yang sangat dicintainya.
Tugas rutin Nesya belajar. Kadang dia membantu
menjaga Kios di sela-sela waktu
belajarnya. Nisa sekarang sudah kelas 3
SMA. Bu Karti, tata usaha sekolah
memberitahukan ada tes Seleksi Bidik Misi untuk masuk perguruan tingggi Negeri.
Waktu pun tak di sis-siakan oleh Nesya.
Dengan bersungguh-sunggah ia mengikuti
Seleksi itu. Dia memilih kedokteran mata. Ia tak ingin ada orang di
rumah tahu, temasuk ayah tercinta. Dia
belajar bersungguh sungguh. Dia akan berusaha sesuai kemampuannya. Dia selalu ingat akan nasehat gurunya waktu
SMA. Iq itu 1% dan kerja kerja yang 99%. Jadi tekun belajar dan kerja keras adalah senjata
Nesya untuk bisa mewujutkan cita-citanya. Kerja keras pula akan mengalahkan orang berbakat, ketika orang berbakat tidak mau bekerja keras.
Semangat
dalam menggapai cita-cita, tersenyum dalam setia perjuangan, berdoa dalam setia
usaha, itu merupakan kunci keberhasilan. Kata bijak itu dituliskan di pintu ruang belajarnya, agar setiap hari bisa melihat, mengingat dan melaksanakannya.
Hari
terus berjalan maju. Semangat pun tak pernah kendor. Hari-hari diisi
dengan aktivitas yang positif. Berkat
ketekunan dan kegigihannya banyak pula
teman Nesya yang selalu minta belajar bersama. Rata-rata teman Nesya
orang berada, fasilitas lengkap. Dia pun
di unutungkan dari para teman yang
bekersama sama dengan Nesya. Karena kebaikan Nesya dan kejujuran
tentang kehidupannya. Banyak pula teman
Nesya yang menawarkan kebaikannya. Berteman memang indah, biasa saling mengisi. Biasa pula saling berbagi.
Pengumumn hasil seleksi
tiba. Ternyata Nesya satu-satunya yang
lulus tes. Nesya mendapat beasiswa “Bidik
Misi” kedokteran di Universitas ternama di kota. Beasiswa itu ditujukan kepada
siswa berprestasi tapi orang tuanya tidak mampu. Seleksi dari
ratusan orang ternyata Nesya yang lulus.
Rejeki memang tak pernah salah alamat. Sepanjang kita memohon
kepadaNya dengan sungguh-sungguh dibarengi dengan usaha, Tuhan akan
mengabulkannya. Belas kasihan dan
pertolongan Tuhan akan indah pada waktunya. Cita-cita Nesya meangambil jurusan kedokteran Mata.
Lima
tahun Nesya kuliah di Kota besar. Kini Nesya sudah lulus dokter tepat pada
waktunya. Cita-cita Nesya Cuma ‘satu ‘. Ingin
cari donor mata supaya ayah tercinta bisa melihat kembali. Cita-cita
itu disampaikan pula kepada teman-teman Nesya yang semuanya adalah dokter. Ini PR buat
mereka. Kemajuan semakin pesat. Pengetahuan dan teknologi semakin canggih.
Pasti tak lama lagi ayah Nesya akan bisa melihat lagi.
Keluarga
Nesya pun semakin bertambah ketika Nesya punya suami juga seorang dokter yang berpengalaman. Orang yang taat
disayang Tuhan. Mujizat selalu ada bagi orang yang rendah hati dan takut akan
Tuhan. Kini Ayah Neysa kembali bisa melihat. Keluarga semakin bahagia dan
keluarga selalu mengandalkan Tuhan
di setiap kehidupannya. Hidup ini singkat.
Alangkah bahagianya jika hidup ini kita isi dengan hal-hal yang
positif. Rela berbagi iklas memberi. Syukur-syukur bisa menjadi berkat untuk sesama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar