Pentigraf 2
Suatu hari aku diundang ke suatu
acara 7 hari. Doa untuk Arwah Pak Umbu Nggiku di kampung sebelah. Habis doa,
kami santap
malam bersama. Menu malam itu
sungguh lezat. Aku pun menikmati seperti halnya para tamu yang lain. Saat
itu ada ikan bakar saus tiram makanan kesukaanku. Tak kusia-siakan
kesempatan itu. Aku menikmati hidangan itu dengan lahapnya. Acara selesai. Akupun pulang. Aku bersama asna anak perempuan kelas
5 SD yang biasa menemani kalau aku
pergi. Ahh!!, ternyata sudah jam 22.00. Nyaliku ciut. Asli!, aku penakut pulang. Aduh!, gimana
ini. Para tamu sudah
mulai berpamitan pulang. Satu-persatu
mereka meninggalkan rumah duka itu. Serasa suasana rumah duka itu ngeri, gelap, lampu jalanpun
tak ada. Belum lagi ada pohon beringin rimbun besar sekali di pinggir jalan. Bulu
kudukku merinding saat menatap pohon itu. Tetangga berjauhan
pula. Rasa takutku mulai menjadi-jadi.
Di depan Asna aku pura-pura pemberani. “Masak orang tua penakut?”, batinku.
Segera ku stater motorku, walau bulu kuduk masih dalam keadaan merinding. Nekat!,
ku gas supaya lebih kencang. Doa kudasarkan terus disepanjang jalan. Ada satu tempat lagi
yg kutakuti. Aku harus melewati kuburan
umum. Bisa mati berdiri ini aku. Kusuruh Asna pegang erat pinggulku,...eh
tiba-tiba tercium seberbak bunga sedap malam. Jantungku mau terlepas! Dengan
tangan dingin dan gemetaran aku terus melaju menuju rumah. Legalah, kini aku
sudah sampai rumah. Kusuruh Asna segera tidur. Akupun langsung ke kamar mandi
cuci tangan , kaki dan sikat gigi.Aku segera tidur. Dalam hitungan menit akupun
tertidur dengan lelap.
Aku dikejutkan ketika mendengar suara perempuan tertawa cekikian tepat
ditelingapu. Kaget dan aku langsung mencari sumber suara. Aku tercengang
melihat bayangan hitam di depan kelambu tempat tidur. Bayangan Misterius.
Kepala tanpa wajah. Berdiri tegak satu meter didepanku. Kuberanikan diri dan
kutatap antara percaya atau tidak. Sekujur tubuhku dingin mendadak, bulu kudu merinding tak
karuan. Jantungkupun berdetak kencang
sekali.Kugosok-gosok kedua mataku. Aku molotot mencoba melihat bayangan itu. Bayangan
itu terus ada, aku paksakan teriak, tapi
tak bisa bunyi....mau lompat kakiku terasa terkancing. Keesokan harinya aku
bangun dan teringat bayangan misterius itu. Aku jadi berpikir. Jangan sampai
karena aku makan lahap di rumah duka tadi
malam.Akhirnya Arwah umbu Nggiku datang kepadaku. Aku diam dan cepat-cepat
pergi mandi. Semoga pengalaman ini tidak terulang lagi.
Eti, Wgp. 14 Maret 2021 jam 23.20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar