Minggu, 14 Maret 2021

Makan di rumah Duka

 

Pentigraf 2

Suatu hari aku diundang  ke suatu acara 7 hari. Doa  untuk Arwah  Pak Umbu Nggiku di kampung sebelah. Habis doa, kami   santap  malam bersama. Menu  malam itu sungguh lezat. Aku pun menikmati   seperti halnya para tamu yang lain. Saat itu  ada ikan bakar saus  tiram makanan kesukaanku. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Aku menikmati hidangan itu dengan lahapnya. Acara  selesai. Akupun  pulang. Aku bersama asna anak perempuan kelas 5 SD yang biasa menemani  kalau aku pergi.  Ahh!!, ternyata  sudah jam 22.00. Nyaliku  ciut. Asli!, aku penakut pulang.  Aduh!, gimana  ini.  Para tamu  sudah  mulai berpamitan pulang. Satu-persatu  mereka meninggalkan rumah duka itu. Serasa suasana  rumah duka itu ngeri, gelap, lampu jalanpun tak ada. Belum lagi ada  pohon beringin  rimbun besar sekali di pinggir jalan.  Bulu  kudukku  merinding  saat menatap pohon itu. Tetangga berjauhan pula. Rasa takutku mulai menjadi-jadi.

 

Di depan Asna aku pura-pura pemberani. “Masak orang tua penakut?”, batinku. Segera ku stater motorku, walau bulu kuduk masih dalam keadaan merinding. Nekat!, ku gas supaya lebih kencang. Doa kudasarkan  terus disepanjang jalan. Ada satu tempat lagi yg kutakuti. Aku harus melewati  kuburan umum. Bisa mati berdiri ini aku. Kusuruh Asna pegang erat pinggulku,...eh tiba-tiba tercium seberbak bunga sedap malam. Jantungku mau terlepas! Dengan tangan dingin dan gemetaran aku terus melaju menuju rumah. Legalah, kini aku sudah sampai rumah. Kusuruh Asna segera tidur. Akupun langsung ke kamar mandi cuci tangan , kaki dan sikat gigi.Aku segera tidur. Dalam hitungan menit akupun tertidur dengan lelap.

 

Aku dikejutkan ketika mendengar suara perempuan tertawa cekikian tepat ditelingapu. Kaget dan aku langsung mencari sumber suara. Aku tercengang melihat bayangan hitam di depan kelambu tempat tidur. Bayangan Misterius. Kepala tanpa wajah. Berdiri tegak satu meter didepanku. Kuberanikan diri dan kutatap antara percaya atau tidak. Sekujur tubuhku  dingin mendadak, bulu kudu merinding tak karuan. Jantungkupun  berdetak kencang sekali.Kugosok-gosok kedua mataku. Aku molotot mencoba melihat bayangan itu. Bayangan itu terus ada, aku paksakan teriak,  tapi tak bisa bunyi....mau lompat kakiku terasa terkancing. Keesokan harinya aku bangun dan teringat bayangan misterius itu. Aku jadi berpikir. Jangan sampai karena aku makan lahap  di rumah duka tadi malam.Akhirnya Arwah umbu Nggiku datang kepadaku. Aku diam dan cepat-cepat pergi mandi. Semoga pengalaman ini tidak terulang lagi.

 

Eti, Wgp. 14 Maret 2021 jam 23.20

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...