.

Writing for Wellness – 69

Oleh : Cahyadi Takariawan

“This is the journey of surviving through poetry”  –Rupi Kaur

.

Rupi Kaur menuliskan kalimat tersebut pada sampul belakang buku antologi puisi “Milk and Honey”. Buku itu menceritakan perjalanan dalam melewati kekerasan seksual, menemukan cinta, patah hati dan pemulihan diri. Ternyata, menulis puisi, menulis buku, adalah bagian dari strategi coping.

Bagaimanakah sebuah kejadian traumatis bisa dihadapi oleh manusia? Pada dasarnya, Allah tidak memberikan beban kepada manusia, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Seluruh ujian dan kesulitan yang dialami manusia, semua berada dalam kesanggupannya untuk menanggung. Maka Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk keluar dari setiap masalah yang dialami. 

Strategi coping merupakan serangkaian usaha yang dilakukan seseorang untuk mengendalikan, menoleransi, atau mengurangi situasi yang memicu stres. Terdapat dua jenis strategi coping. Pertama, coping secara aktif dengan cara menyelesaikan masalah yang muncul. Kedua, coping yang terfokus pada pengurangan dampak emosional yang muncul akibat situasi pemicu stres tersebut (PijarPsikologi, 2018).

Menulis Ekspresif Sebagai Strategi Coping

Menulis ekspresif adalah kegiatan menuliskan semua pemikiran dan perasaan paling mendalam yang muncul ketika mengalami stres atau kejadian yang tidak menyenangkan. Dalam menulis ekspresif, tidak ada keharusan untuk memperhatikan ejaan, tata bahasa, atau tanda baca. Menulis ekspresif berusaha menggambarkan semua aspek yang hadir saat pemicu stres terjadi (PijarPsikologi, 2018).

Kegiatan menulis, terutama menulis ekspresif sebagai salah satu strategi coping bukanlah hal baru. Kaitan menulis ekspresif dengan kesehatan mental dan fisik, pertama kali ditemukan oleh James Pennebaker pada 1980. Saat itu, Pennebaker menyadari bahwa orang-orang yang mengalami trauma masa lalu dan merahasiakan trauma tersebut akan cenderung lebih banyak mengalami masalah kesehatan (PijarPsikologi, 2018).

Pennebaker kemudian berteori bahwa keputusan untuk merahasiakan pemikiran, emosi, dan perilaku yang sangat kuat, justru dapat menjadi pemicu stres. Dalam jangka panjang, ketika individu mengalami stres kecil sekalipun, fungsi imun dan kesehatan fisiknya akan terpengaruhi pemicu stres yang terpendam tersebut. Bermula dari pemikiran itu akhirnya paradigma menulis ekspresif lahir.

Sampai saat ini menulis ekspresif dipercaya dapat meringankan berbagai gejala gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental. Beberapa contohnya adalah mengurangi gejala depresi, mengurangi gejala penyakit yang muncul setelah patah hati, dan membantu penyesuaian kembali setelah patah hati. Bahkan menulis ekspresif juga dapat membantu berbagai aspek hidup lainnya seperti menjaga stabilitas hubungan atau membantu mendapatkan pekerjaan baru (PijarPsikologi, 2018).

Menulis Ekspresif dengan Perspektif Orang Ketiga

Efektivitas menulis ekspresif ditentukan oleh banyak hal, salah satunya adalah dalam penggunaan kata ganti. Dunnack dan Park (2009) meyakini, penggunaan kata ganti dalam proses menulis ekspresif merupakan salah satu variabel penting. Penelitian Dunnack dan Park menyimpulkan, kata ganti orang pertama (“saya” atau “aku”) dalam intervensi menulis ekspresif, dapat memfasilitasi upaya untuk memproses peristiwa traumatis.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Savitri (2020) membuktikan pengaruh dari teknik menulis naratif dengan menjaraki-diri lebih mampu mengurangi depresi dibandingkan dengan peserta dalam kelompok menulis ekspresif. Menjaraki-diri adalah proses mengambil jarak, dengan meletakkan diri dalam perspektif pengamat. Bukan dalam perspektif orang pertama (aku / saya) sebagai pelaku.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Andersson dan Conley (2013) menggunakan perspektif orang ketiga dalam tulisan ekspresif. Partisipan yang menulis ekspresif tentang peristiwa kehidupan traumatis menggunakan perspektif orang ketiga-tunggal, mampu memulihkan peristiwa traumatis.

Hasil penelitian Andersson dan Conley menunjukkan, tulisan ekspresif menggunakan pendekatan orang ketiga, menghasilkan manfaat yang dirasakan lebih besar dan positif, serta efek jangka panjang. Partisipan juga lebih sedikit hari cuti aktivitas karena sakit. Artinya, jumlah hari sakit menjadi menurun. Tingkat kesehatan mereka membaik.

Andersson dan Conley meyakini, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tulisan ekspresif orang ketiga merupakan teknik yang sangat cocok untuk memulihkan diri dari peristiwa kehidupan yang traumatis atau sangat menegangkan.

Dengan demikian, dalam menulis ekspresif ataupun menulis naratif, menggunakan perspektif orang pertama (aku / saya), perspektif pengamat (menjaraki – diri), ataupun perspektif orang ketiga, sama-sama memiliki efek untuk meredakan kecemasan, stres atau memulihkan dari kondisi traumatis. Ketiga perspektif telah diuji dalam penelitian ilmiah dengan partisipan yang beragam.

Saya tidak mempertentangkan tiga penelitian tersebut. Saya mendamaikan ketiganya. Manfaat menulis memang hebat. Selamat menulis.

Bahan Bacaan

Eric S. Dunnack, Crystal L. Park, The Effect of an Expressive Writing Intervention on Pronouns: The Surprising Case of Ihttps://doi.org/10.1080/15325020902925084, 5 November 2009, https://www.tandfonline.com

Matthew A. Andersson, Colleen S. Conley, Optimizing the Perceived Benefits and Health Outcomes of Writing about Traumatic Life Events, Januari 2013, http://lucimpactlab.weebly.com

PijarPsikologi, Menulis Ekspresif: Cara Mudah Lepas dari Stres, 24 April 2018, https://pijarpsikologi.org