.

Writing for Wellness – 68

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pada saat mengalami peristiwa traumatik, individu cenderung melakukan refleksi diri. Refleksi diri didefinisikan sebagai kapasitas kognitif individu untuk mengobservasi pengalaman diri berdasarkan perspektif dirinya sendiri dan juga perspektif orang lain (Fakultas Psikologi UI, 2019).

Metode refleksi diri yang dianggap adaptif diantaranya adalah dengan cara menulis. Ini bisa dilakukan dengan proses menulis ekspresif maupun menulis naratif. Menulis sebagai salah satu metode untuk melakukan refleksi diri dan terapi sudah dikemukakan banyak ahli, diantaranya James Pennebaker.

Menulis ekspresif adalah menulis dengan cara mengekspresikan pemikiran dan perasaan terdalam tentang peristiwa negatif yang pernah dialaminya. Umumnya praktik ini menggunakan kata ganti persona pertama (aku, saya).

Dari sisi kognitif, menulis dianggap membantu seseorang untuk menstrukturkan pikiran, mengatur diri dan emosinya dengan cara mengenali kembali emosi yang muncul, merefleksikan kembali persoalan dengan menemukan sebab-akibat dari pengalaman yang dihadapi (insight), mendorong untuk menemukan makna di balik peristiwa yang dialaminya.

Hanya saja, yang sering terjadi adalah seseorang menjadi larut dalam peristiwa yang dialaminya. Karena benar-benar menulis tentang aku atau saya sebagai pelaku, atau sebagai penderita. Seseorang larut dalam kesedihan yang lebih mendalam, karena ia tidak berjarak dalam membuat tulisan.

Perhatikan kalimat berikut ini:

“Aku sangat kecewa dengan perlakuan suamiku. Ia benar-benar tidak menghargai aku. Setiap hari aku mengalami kesakitan akibat tindakan dan perkataannya yang selalu menyakitkan. Ia lelaki yang sangat sombong dan egois. Tidak mengerti cara menghargai istri. Semua pengorbananku selama ini, sia-sia saja. Menyesal aku telah berkenalan dan menikah dengannya”.

“Aku” dalam kalimat di atas, benar-benar diri penulis. Ia larut dalam kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan ketidakberdayaan. Satu sisi, tulisan ekspresif seperti di atas bisa menjadi katarsis. Bisa menjadi pelepasan ruminasi. Seseorang menjadi lega dan tenang setelah menuliskan kesedihannya.

Menulis dengan Menjaraki-Diri

Menulis untuk refleksi diri memiliki mekanisme adaptif yang berbeda-beda, diantaranya adalah dengan mekanisme menjaraki-diri. Yang dimaksud dengan menjaraki-diri adalah berjarak secara mental dari peristiwa negatif yang diingat kembali. Mekanisme menjaraki-diri dalam teori Jarak Psikologis, termasuk dalam dimensi hipotetikal yang lebih bersifat abstraksi dibandingkan faktual, yakni kemampuan manusia untuk berjarak dari situasi sekarang dan saat ini (Fakultas Psikologi UI, 2019).

Kemampuan ini yang memfasilitasi manusia untuk melakukan evaluasi apa yang terjadi pada masa-lalu, dan merencanakan masa depan. Menulis sebagai salah satu metode refleksi diri, menggunakan perantara bahasa untuk dapat dimengerti baik oleh diri maupun orang lain, didalam mekanisme berbahasa, salah satunya adalah penggunaan perspektif dan kata ganti persona.

Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa penggunaan perspektif dan kata ganti persona pada saat melakukan refleksi diri menentukan adaptif atau tidaknya proses tersebut. Jika mekanisme menjaraki-diri yang menggunakan perspektif dan kata-ganti persona saat menulis dianggap memfasilitasi refleksi diri adaptif, apakah variasi penggunaan keduanya memiliki pengaruh adaptif yang berbeda-beda?

Ditemukan terdapat perbedaan pengaruh variasi jarak psikologis pada penggunaan kata ganti personal dan perspektif dalam menulis naratif. Temuan ini secara strategis memberikan tambahan pada teori Jarak Psikologis dan konsep menjaraki-diri. Jika individu menggunakan kata-ganti persona pertama perspektif pengamat, individu dapat mengobservasi dirinya dengan perspektif dirinya sendiri tanpa mencemaskan perspektif orang lain (Artie Ahmad, 2019).

Savitri memunculkan refleksi diri adaptif dengan menulis menggunakan konsep menjaraki-diri.  Dengan mengaktivasi perspektif  pengamat yang menunjukkan proses menjaraki-diri. Penulis tidak benar-benar sedang menjadi obyek penderita, namun meletakkan diri dalam perpektif pengamat.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

“Aku melihat diriku yang tumbuh menjadi kuat setelah peristiwa itu terjadi. Semua luka dan rasa sakit yang dulu aku lihat begitu berpengaruh terhadap kehidupanku, perlahan mulai menghilang. Aku menyaksikan hal baru tumbuh dalam diriku. Sesuatu yang dulu tidak aku miliki sebelum kekerasan demi kekerasan terjadi pada diriku”.

Hasil penelitian ini menguatkan temuan sebelumnya yaitu menggunakan perspektif pengamat atau menggunakan kata ganti persona nama diri (non pertama) dengan cara menulis memberikan efek menjaraki-diri yang adaptif.

Menulis naratif adalah salah satu bentuk pertolongan pertama secara psikologis yang dapat dilakukan secara mandiri oleh individu saat mengalami problematika yang membutuhkan pengelolaan emosi. Terapi menulis naratif bisa dilakukan saat individu sangat emosional dan tidak dapat mengatasi serta mengelola emosi tersebut dengan baik (Artie Ahmad, 2019).

“Dalam hal ini, evaluasi dan kritik yang berlebihan terhadap diri yang memiliki konsekuensi meningkatkan emosi negatif terhadap diri, tidak terjadi disebabkan munculnya jarak psikologis yang memungkinkan individu untuk tidak egosentrik,” ujar Savitri.

Hasil penelitian ini membantu individu untuk memberikan pertolongan psikologis pertama pada dirinya sendiri untuk dapat menstrukturkan pikirannya, mengelola emosinya, memberikan makna pada peristiwa negatif yang dialaminya, dengan cara menulis dengan mekanisme menjaraki-diri.

Mengurangi Depresi dengan Menjaraki-Diri

Penelitian yang dilakukan oleh Savitri (2020) ingin membuktikan pengaruh dari teknik penulisan menggunakan nama-diri, sebagai intervensi untuk mengurangi tingkat depresi. Subjek adalah dewasa awal memiliki tingkat depresi sedang.

Dua intervensi dilakukan yaitu penulisan ekspresif dan narasi menjaraki-diri (self-distancing). Kedua intervensi ini masih memiliki celah penelitian, yakni bukti-bukti riset yang masih beragam, mempertentangkan efektifitas penggunakan kata ganti persona atau nama-diri dalam menurunkan depresi.

Total peserta adalah 5 orang. Dua orang diberi intervensi penulisan ekspresif dan tiga orang diberi intervensi penulisan naratif menjaraki-diri. Metode eksperimental desain kasus tunggal dan analisis konten kuantitatif digunakan. Proses intervensi menggunakan desain A-B-A, di mana ada 3 fase, yaitu pra-intervensi, intervensi dan tindak lanjut yang dilakukan masing-masing fase 1minggu berturut-turut. BDI-II sebagai baseline untuk mengukur tingkat depresi partisipan dengan skor antara 0 – 63.

Hasil penelitian menujukkan tingkat depresi 3 partisipan yang menulis narasi dengan menjaraki-diri terus menurun, 2 peserta yang menulis ekspresif menunjukkan hasil BDI-II yang tidak konsisten. Validasi antar rater menggunakan Kappa Cohen menunjukkan angka 0,759 – 0,844 berarti sangat baik.

Analisis isi menunjukkan bahwa partisipan yang menulis naratif dengan menjaraki-diri relatif mengurangi penggunaan kalimat yang menunjukkan depresi dibandingkan dengan peserta dalam kelompok menulis ekspresif.

Savitri dan tim (2019) juga telah melakukan penelitian untuk menggambarkan proses refleksi diri adaptif ketika merespon peristiwa retaknya keluarga dengan cara menulis narasi dengan kata ganti personal satu (perspektif pelaku) dan menulis narasi dengan kata ganti personal nama-diri (perspektif pengamat).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi menulis dengan bahasa yang berjarak menggunakan perspektif pengamat, jika dibandingkan dengan instruksi menulis dengan menggunakan perspektif pelaku, pada level tertentu dapat membantu proses refleksi diri adaptif dengan mekanisme yang berbeda.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Artie Ahmad, Intan Savitri Raih Gelar Doktor Psikologi UI Lewat “Terapi Menulis Naratif”, 27 Desember 2019, https://satupena.id

Fakultas Psikologi UI, Pengaruh Jarak Psikologi dalam Menulis Naratif terhadap Refleksi Diri Adaptif, 14 Desember 2019, https://psikologi.ui.ac.id/

Setiawati Intan Savitri, Menulis Naratif dengan Menjaraki-Diri Mampu Menurunkan Gejala Depresi, April 2020, https://www.researchgate.net/

Setiawati Intan Savitri dkk, Refleksi Diri Melewati Peristiwa Retaknya Keluarga dalam Penulisan Naratif: Studi Analisis Isi, Jurnal Psikologi Sosial DOI: 10.7454/jps.2019.15 2019, Vol. 17, No. 02, 112-124

.