.

Writing for Wellness – 67

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis ekspresif merupakan kegiatan menulis tentang pikiran dan emosi terkait peristiwa atau kejadian tertentu dalam kehidupan. Nixon dan Kling (dalam : Puspitasari, 2019) menguji terapi menulis ekspresif pada 10 orang yang pernah mengalami kejadian traumatis, menemukan bahwa terapi menulis ekspresif yang berorientasi masa depan secara signifikan menurunkan gangguan stres pasca trauma, dan simtom-simtom depresi, serta trauma yang tak teratasi.

Penelitian Hapsari (dalam : Puspitasari 2019) tentang pengaruh menulis ekspresif pada 10 wanita yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga menunjukkan hasil bahwa menulis ekspresif dapat menurunkan simtom-simtom stres pasca trauma. Menulis ekspresif disebut sebagai intervensi yang menjanjikan untuk meredakan trauma, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis maupun fisik seseorang.

Dalam kegiatan menulis ekspresif, seseorang akan mampu melepaskan pikiran dan perasaan negatif terkait peristiwa traumatik. Namun pengungkapan pikiran dan emosi yang mengganggu tersebut juga dapat berakibat negative pada seseorang, oleh karena itulah intervensi menulis ekspresif ini harus disesuaikan dengan kebutuhan psikososial seseorang (Puspitasari dkk, 2019)

Menulis ekspresif adalah penulisan mengenai pengungkapan diri mengenai pikiran dan emosi mengenai peristiwa yang menjadi masalah besar bagi seseorang maupun peristiwa traumatik. Menulis ekspresif juga merupakan pembukaan diri seseorang secara emosional mengenai perasaan dan pikirannya terhadap satu peristiwa yang menimbulkan tekanan melalui tulisan.

Menulis ekspresif diyakini merupakan sebuah teknik yang mendorong seseorang untuk mengekpresikan perasaan mereka dengan menuliskan perasaan dan peristiwa traumatik tersebut dalam konteks bahasa tulisan.

Penggunaan Kata Ganti “Aku” dalam Menulis Ekspresif

Berbagai penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa tulisan ekspresif tentang peristiwa traumatis bisa memberikan peningkatan kesehatan mental. Salah satu penjelasannya adalah bahwa menulis memungkinkan seseorang melepaskan trauma yang menekan tersebut.

Efektivitas menulis ekspresif ditentukan oleh banyak hal, salah satunya adalah dalam penggunaan kata ganti. Dunnack dan Park (2009) meyakini, penggunaan kata ganti dalam proses menulis ekspresif merupakan salah satu variabel penting. Mereka melakukan penelitian terkait penggunaan kata ganti orang pertama tunggal, yaitu “aku” atau “saya”, dalam intervensi menulis ekspresif.

“Results from the present study indicated that use of the pronoun I was initially related to poor adjustment, but increased use of “I” by the final journal entry was linked to several aspects of better psychological adjustment. “I” may indicate self-focus, which may facilitate efforts at processing traumatic events” – Dunnack dan Park (2009)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata ganti dalam tulisan peserta berkorelasi dengan perbaikan kondisi kesehatan mereka. Penggunaan kata ganti “aku” pada sesi awal memberikan penyesuaian yang buruk, tetapi peningkatan penggunaan “aku” pada sesi terakhir, memberikan beberapa aspek penyesuaian psikologis yang lebih baik.

Dunnack dan Park menyatakan, kata saya “saya” atau “aku” dalam intervensi menulis ekspresif menunjukkan fokus pada diri sendiri, yang dapat memfasilitasi upaya untuk memproses peristiwa traumatis. Hal ini bisa menjadi salah satu metode yang bisa direkomendasikan untuk mengurangi tekanan akibat kejadian traumatis.

Fokus Pada “Aku”

Dalam melakukan proses pelepasan beban, fokus pada “aku” akan membuat diri merasa lebih baik, demikian hasil studi Dunnack dan Park. Satu sisi, “aku” menjadi elegan karena berfokus pada evaluasi diri –bukan fokus menyalahkan orang lain. Di sisi yang lain, pendekatan “aku” akan mampu mengeksplorasi kondisi diri.

Bandingkan dua jenis tulisan ekspresif berikut ini. Yang pertama berfokus kepada “dia”, dan kedua berfokus pada “aku”.

“Dia adalah perempuan jahat. Dari dulu dia selalu mengejek dan mencela aku. Dia perempuan yang tidak disukai oleh banyak teman-teman kerjaku. Kelakuannya sangat menjengkelkan, bahkan sangat menjijikkan. Dia tak ubahnya racun dalam kehidupan di tempat kerjaku”.

“Aku sangat sedih dan kecewa dengan perlakuan temanku itu. Aku tidak memahami mengapa ia tega berlaku keji terhadap aku. Rasanya aku tidak pernah menyakitinya, sedikitpun. Namun mengapa aku harus mendapatkan perlakuan yang sangat menyakitkan seperti ini? Aku masih tidak bisa memahami.”

Dalam penelitian Dunnack dan Park, pemakaian kata ganti aku terbukti lebih efektif dalam proses pelepasan beban atau situasi trauma. Kata ganti “aku” lebih mengarah kepada proses evaluatif, sedangkan kata ganti “dia” lebih banyak melepaskan tuduhan kepada pihak lain.

Namun, dalam penelitian lain –yang akan saya ulas dalam postingan berikutnya—kata ganti orang ketiga dalam menulis ekspresif juga memiliki pengaruh positif dalam proses pelepasan trauma. Tunggu postingan selanjutnya, untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh menyeluruh terhadap pemakaian kata ganti.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Eric S. Dunnack, Crystal L. Park, The Effect of an Expressive Writing Intervention on Pronouns: The Surprising Case of Ihttps://doi.org/10.1080/15325020902925084, 5 November 2009, https://www.tandfonline.com

Dwi Nikmah Puspitasari dkk, The Development of Expressive Writing Module to Improve Post-Traumatic Growth in Disaster Victims, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, (2019), https://doi.org/10.1515/9783110679977-022, diakses dari https://content.sciendo.com/

.

Ilustrasi : https://claritychi.com/