.
Writing for Wellness – 66
Oleh : Cahyadi Takariawan
Indonesia dikenal dengan religiusitas warga bangsanya. Dengan keyakinan agama masing-masing, masyarakat Indonesia terbiasa berperilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Bukan saja dalam menjalankan ritual ibadah rutin sesuai agama masing-masing, namun religiusitas juga tercermin dari sikap dan pandangan dalam kehidupan.
Misalnya sikap dan pandangan dalam menghadapi situasi yang tidak dikehendaki, seperti sakit, bencana, musibah, kehilangan, kedukaan dan lain sebagainya. Ajaran agama telah memberikan fondasi yang kuat bagi penganutnya dalam menghadapi semua kondisi. Berbagai kondisi dalam kehidupan, bisa disikapi dengan positif karena memiliki jiwa yang religius.
Misalnya, ketika mendapatkan ujian berupa kekayaan, mereka akan pandai bersyukur. Sebaliknya, ketika mendapat ujian berupa kemiskinan, mereka akan mampu bersabar. Sebagaimana ketika mendapat ujian berupa kelapangan, mereka akan bersyukur. Saat diuji dengan kesempitan, mereka akan bersabar. Inilah sikap religius yang membuat manusia bisa menjalani kehidupan dengan tenang dan damai.
Pernyataan tersebut bukan hanya keyakinan subyektif. Namun telah dibuktikan dengan berbagai penelitian lapangan terkait pengaruh religiusitas seseorang dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Secara umum didapatkan bukti akademik, bahwa semakin baik religiusitas seseorang, semakin pandai dalam menghadapi permasalahan kehidupan.
Salah satu penelitian, telah dilakukan oleh Nurmahani (2017). Ia meneliti pengalaman yang disadari oleh responden dalam proses koping religius beserta pengaruh dari koping religius tersebut. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi terhadap tiga orang wanita yang didiagnosis kanker payudara.
Pendekatan Religius dalam Menghadapi Cobaan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koping religius memiliki peran penting bagi responden dalam menghadapi kanker payudara ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Proses koping religius dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 fase yaitu koping religius pada fase gejala, fase diagnosis, fase pengobatan dan pada fase pemaknaan terhadap sakit.
Koping religius yang banyak muncul pada fase diagnosis sampai fase pengobatan adalah berdoa dan beribadah dengan sholat tahajud dan berdzikir. Sedangkan pada fase pemaknaan terhadap sakit yaitu sakit adalah memahami dan menerima ujian dari Allah. Pengaruh yang dirasakan dengan melakukan koping religius yaitu ketenangan, kelegaan, kepuasan, kenikmatan dalam beribadah, terkontrol emosi dan pikiran, serta merasa dipermudah dalam berbagai hal.
Penilitian serupa dilakukan oleh Safangatun (2014) dari UIN Walisongo Semarang. Ia melakukan penilitian tentang pengaruh religiusitas terhadap kesabaran. Penelitian tersebut menemukan adanya pengaruh yang signifikan antara religiusitas terhadap kesabaran dalam menghadapi cobaan. Pada contoh kasus ini, cobaan berupa anak yang sakit. Semakin religius seseorang, semakin sabar menghadapi cobaan berupa anak yang sakit.
Penilitian serupa dilakukan oleh Utama dan Surya (2019) dengan partisipan masyarakat Bali. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa religiusitas memiliki pengaruh (negatif) secara signifikan terhadap stres kerja. Artinya, semakin tinggi tingkat religiusitas yang dimiliki oleh karyawan di tempat kerja maka semakin rendah stres kerja dirasakan oleh karyawan dalam organisasinya.
Menulis Ekspresif dalam Perspektif Religius
Sebagaimana telah lama diketahui, menulis ekspresif memiliki kemanfaatan yang sangat luas dalam menciptakan kesehatan mental dan fisik. Bagi masyarakat Indonesia, akan sangat optimal apabila dipadukan dengan pendekatan religius. Dengan demikian, intervensi tidak hanya dalam konteks menulis ekspresif, namun dengan muatan serta pendekatan religius.
Yung Y. Chen, Ph. D (2005) merekomendasikan untuk mengadaptasi prosedur menulis ekspresif konvensional dengan cara yang mendorong individu untuk mengambil perspektif religius, sehingga menambah efek pada pengurangan kesusahan.
Studi terkait menulis ekspresif dengan pendekatan religius, telah dilakukan oleh Yung Y. Chen, Ph. D (2005). Ia mengamati pasien dengan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD). Partisipan dibagi dalam dua kelompok, menulis konvensional dan menulis ekspresif berbasis religiusitas.
Chen menemukan, menulis konvensional lebih efektif dalam mengurangi gejala PTSD untuk partisipan yang memiliki trauma rendah, dibandingkan mereka yang memiliki trauma lebih tinggi. Sedangkan pengaruh tulisan religius pada gejala PTSD tidak dipengaruhi oleh tingkat keparahan trauma. Artinya, intervensi menulis ekspresif berbasis religius memberikan pengaruh, baik dalam trauma yang rendah maupun tinggi.
Selain itu, studi Chen menemukan wanita mendapat lebih banyak mendapat manfaat dari tulisan religius daripada pria terkait pengurangan gejala PTSD. Chen merekomendasikan untuk mengadaptasi prosedur menulis ekspresif konvensional dengan cara yang mendorong individu untuk mengambil perspektif religius, sehingga menambah efek pada pengurangan kesusahan.
Yung Y. Chen, Ph. D (2005) mendukung penelitian lebih lanjut tentang pengintegrasian agama ke dalam intervensi trauma, terutama untuk individu yang terpapar peristiwa traumatis tinggi.
Menurut Chen, temuan ini mendukung penelitian lebih lanjut tentang pengintegrasian agama ke dalam intervensi trauma, terutama untuk individu yang terpapar peristiwa traumatis tinggi.
Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan spiritual.
Bahan Bacaan
I Kadek Andika Budi Utama, Ida Bagus Ketut Surya, Pengaruh Religiusitas, Adversity Qoutient dan Lingkungan Kerja Nonfisik Terhadap Stres Kerja, E-Jurnal Manajemen, Vol. 8, No. 5, 2019, DOI: https://doi.org/10.24843/EJMUNUD.2019.v08.i05.p20 3138
Puji Safangatun, Pengaruh Religiusitas Terhadap Kesabaran, 2014, UIN Walisongo Semarang, http://eprints.walisongo.ac.id
Yung Y Chen, Written Emotional Expression and Religion: Effects on PTSD Symptoms, https://doi.org/10.2190/2X0U-0CTB-Y877-5DRQ,1 September 2005, diakses dari https://journals.sagepub.com
Zahra Devina Nurmahani, Proses Koping Religius Pada Wanita Dengan Kanker Payudara, Jurnal Psikologika Vol 22 No 1 th 2017, https://journal.uii.ac.id
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar