Senin, 08 Maret 2021
MENULIS MENINGKATKAN FUNGSI KEKEBALAN PASIEN HIV
.
7 Maret 2021
Writing for Wellness – 64
Oleh : Cahyadi Takariawan
“The healing power of expressive writing can restore your body, mind, and spirit” – Julia Cameron
.
Masyarakat dunia selama lebih dari setahun ini tengah mengalami peristiwa yang luar biasa. Selama masa pandemi, banyak orang mengalami pengalaman stres dan pergolakan emosional yang tinggi. Ketidakpastian yang muncul dari pandemi, memicu stres pada banyak kalangan masyarakat dunia. Ditambah lagi dengan krisis sosial dan ekonomi di masa pandemi.
Bagi mereka yang tengah mengidap suatu penyakit tertentu, masa pandemi memberikan tekanan yang lebih berat. Mereka harus menghadapi resiko yang berlipat dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang sehat. Diperlukan upaya untuk meredakan stres sehingga bisa menghadapi kehidupan secara lebih nyaman.
“During this pandemic some people see opportunities for the change needed and others – many – are going through times of high stress and emotional upheaval. Expressive writing has shown to be a simple and effective way to deal with these challenges and the problematic feelings they may bring up” – Frederique Morris.
Menulis Ekspresif untuk Meningkatkan Kekebalan (Imunitas)
Menulis ekspresif telah terbukti menjadi cara yang sederhana dan efektif untuk menghadapi tantangan ini dan perasaan bermasalah yang mungkin dimunculkan. Sebagaimana dinyatakan Julia Cameron, “Kekuatan penyembuhan dari tulisan ekspresif dapat memulihkan tubuh, pikiran, dan jiwa Anda”.
Menggunakan tulisan ekspresif untuk memberikan makna atas pengalaman atau kejadian, bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Peristiwa yang membuat stres atau perubahan besar dalam hidup, bisa membuat seseorang gelisah, tidak fokus, sulit tidur, tidak konsentrasi dalam pekerjaan, dan kurang terhubung dengan orang lain.
“Research suggests that completing this expressive writing exercise can increase happiness, reduce symptoms of depression and anxiety, strengthen the immune system, and improve work and school performance. These benefits have been shown to persist for months” – Frederique Morris.
Dengan menulis, seseorang dapat menjadi pelaku aktif dari kisah hidupnya sendiri. Sebagai hasilnya, kita diberdayakan untuk menghadapi tantangan. Dr Pennebaker menyarankan dokter dan pasien untuk menunggu setidaknya satu atau dua bulan setelah kejadian traumatis sebelum mencoba teknik ini.
Frederique Morris menyatakan, penelitian menunjukkan bahwa menyelesaikan sesi menulis ekspresif dapat meningkatkan kebahagiaan, mengurangi gejala depresi dan kecemasan, memperkuat sistem kekebalan, serta meningkatkan prestasi kerja dan sekolah. Manfaat seperti ini terbukti mampu bertahan selama berbulan-bulan.
“Research studies have involved standard writing tasks and have shown a good range of physiological and behavioural benefits. Example findings include improvements in health and well-being and enhanced levels of host defences in immune system functioning. Other notable findings include reduced severity of symptoms in arthritis and asthma sufferers” – Geoff Lowe (2006)
Geoff Lowe (2006) menyatakan, studi tentang menulis ekspresif telah menunjukkan berbagai manfaat fisiologis dan perilaku yang baik. Contoh temuan termasuk peningkatan kesehatan dan kesejahteraan dan peningkatan tingkat pertahanan tubuh dalam fungsi sistem kekebalan. Temuan penting lainnya termasuk berkurangnya keparahan gejala pada penderita arthritis dan asma.
James W. Pennebaker dan tim (1988) melakukan penelitian yang melibatkan 50 mahasiswa sehat. Mereka diminta menulis tentang pengalaman traumatis atau topik umum selama 4 hari berturut-turut. Dari pengamatan terhadap dua ukuran –fungsi sistem kekebalan seluler dan kunjungan ke pusat kesehatan—menunjukkan bahwa menuliskan pengalaman traumatis memberikan manfaat positif secara fisik.
Menulis Ekspresif untuk Meningkatkan Kekebalan Penderita HIV
Salah satu menfaat menulis ekspresif, terkait dengan peningkatan imunitas pada pasien HIV. Sebuah studi dilakukan Petrie, Pennebaker dan tim (2004), dengan melibatkan 37 pasien terinfeksi HIV. Partisipan diminta menulis dalam waktu 4 hari, selama 30 menit per hari. Jumlah limfosit CD4 + dan viral load HIV diukur pada awal intervensi, dan pada 2 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan setelah menulis ekspresif.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan penulisan emosional pada kelompok pasien lain. Berdasarkan laporan diri tentang nilai menulis dan temuan laboratorium awal, menunjukkan bahwa tulisan ekspresif – emosional memberikan manfaat bagi pasien dengan infeksi HIV.
“Based on the self-reports of the value of writing and the preliminary laboratory findings, the results suggest that emotional writing may provide benefit for patients with HIV infection”.
Penelitian yang dilakukan oleh James Pennebaker dari University of Texas di Austin, dan Joshua Smyth dari Syracuse University menunjukkan bahwa menulis tentang emosi dan stres dapat meningkatkan fungsi kekebalan pada pasien dengan penyakit seperti HIV / AIDS, asma, dan artritis.
“Research conducted by Dr James Pennebaker of the University of Texas at Austin, and Dr Joshua Smyth of Syracuse University suggests that writing about emotions and stress can boost immune functioning in patients with such illnesses like HIV/AIDS, asthma and arthritis” – Frederique Morris
Dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menulis tentang topik umum, partisipan yang menulis tentang pengalaman traumatis selama empat hari berturut-turut melaporkan kebahagiaan yang lebih besar tiga bulan kemudian. Mereka juga lebih sehat, terbukti dari frekuensi mengunjungi dokter yang lebih sedikit dari biasanya selama periode enam minggu setelah intervensi menulis.
Studi serupa dilakukan oleh Inna D. Rivkin dan tim (2006). Rivkin dan tim melakukan penelitian melibatkan 79 perempuan dan laki-laki yang mengalami HIV-positif. Partisipan yang menulis ekspresif dengan memasukkan peningkatan wawasan / sebab akibat dan kata-kata sosial dalam tulisan mereka, memiliki fungsi kekebalan yang lebih baik dan melaporkan lebih banyak perubahan positif saat tindak lanjut.
Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.
Bahan Bacaan
Keith J. Petrie, James W. Pennebaker dkk, Effect of Written Emotional Expression on Immune Function in Patients With Human Immunodeficiency Virus Infection: A Randomized Trial, https://doi.org/10.1097/01.psy.0000116782.49850.d3, Psychosomatic Medicine, 2004, https://psycnet.apa.org/
Frederique Morris, Writing May Strengthen Your Immune System, https://www.morriswellness.com.au/
Geoff Lowe, Health-Related Effects of Creative and Expressive Writing, Health Education, v106 n1 p60-70 2006, https://eric.ed.gov/
James W. Pennebaker dkk, Disclosure of Traumas and Immune Function: Health Implications for Psychotherapy, DOI: 10.1037//0022-006X.56.2.239, Mei 1988, https://www.researchgate.net/
Inna D. Rivkin dkk, The Effects of Expressive Writing on Adjustment to HIV, DOI: 10.1007/s10461-005-9051-9, Februari 2006, https://www.researchgate.net/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan
RUANGMENULIS 4 SEPTEMBER 2022 3 MIN READ Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...
-
27 Agustus 2020 . Oleh : Cahyadi Takariawan . Martin Seligman dalam buku Authentic Happiness menyatakan bahwa kebahagiaan autentik berasal...
-
Oleh : Ledwina Eti Wuryani, SPd Dalam tradisi Sumba, istilah dalam bahasa adat “Pingi ai papunggu matawai pataku, arti harfiahnya ad...
-
8 Desember 2020 Serial Self Editing – 3 Oleh : Cahyadi Takariawan . Mengedit adalah upaya untuk menjadikan tulisan kita menjadi layak dan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar