.

Writing for Wellness – 63

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Between stimulus and response, there is a space. In that space lies our freedom, and our power to choose our response. In our response lies our growth and our happiness” ~ Viktor Frankl

.

Nyeri panggul adalah nyeri yang muncul di panggul atau bagian terbawah dari perut. Nyeri yang dialami dapat terasa tumpul atau tajam, dan bisa muncul pada momen-momen tertentu, seperti ketika buang air kecil dan berhubungan seksual (Lisa Fayed, 2020).

Laman Alodokter menyatakan, nyeri panggul pada wanita dapat menjadi tanda adanya gangguan pada organ reproduksi. Meski demikian, nyeri panggul juga dapat dirasakan oleh pria. Nyeri panggul secara umum dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain adalah infeksi saluran kemih, peradangan pada usus, hingga hernia.

Nyeri panggul terbagi menjadi dua jenis, yakni nyeri panggul akut dan kronis. Nyeri panggul akut merupakan kondisi di mana nyeri pada panggul muncul secara tiba-tiba. Sedangkan nyeri panggul kronis adalah nyeri pada panggul yang berlangsung lama hingga lebih dari enam bulan.

Penyebab nyeri panggul pada tiap orang bisa berbeda-beda. Pada nyeri panggul kronis, kondisi yang dapat menyebabkannya, antara lain endometriosis, hernia, kerusakan atau terhimpitnya saraf panggul, dan adenomyosis.

Masing-masing penyebab nyeri panggul juga dapat menimbulkan gejala tambahan lain sesuai dengan penyebabnya. Misalnya, apabila nyeri panggul disebabkan oleh radang usus, maka gejala tambahan yang bisa dialami pasien berupa demam, lemas, atau diare.

Menulis Ekspresif untuk Wanita dengan Nyeri Panggul

Sudah sangat banyak studi terkait efektivitas menulis ekspresi dalam memperbaiki kesehatan mental maupun fisik. Menulis ekspresif terbukti efektif untuk meredakan kecemasa, stres atau depresi, dan membuat suasana jiwa yang positif. Ini sangat bermanfaat pada pasien dengan keluhan yang disertai kesemasan.

Sally A. Norman dan tim (2004) melakukan penelitian terhadap wanita yang mengalami nyeri panggul, dengan melakukan intervensi menulis ekspresif. Intervensi ini tidak langsung mengobati nyeri panggul, namun menurunkan kecemasan atau stres yang diakibatkan oleh nyeri panggul. Partisipan terdiri dari wanita yang mengalami nyeri panggul, dibagi menjadi kelompok menulis ekspresif dan kelompok kontrol.

Hasil studi Norman menguatkan studi yang dilakukan oleh banyak kalangan ahli sebelumnya. Norman dan tim menemukan, menulis ekspresif menghasilkan peringkat intensitas nyeri yang secara signifikan lebih rendah pada saat tindak lanjut. Hasil evaluasi pasca intervensi didapatkan, mereka yang menulis ekspresif mengalami penurunan nyeri panggul.

Norman dan tim (2004) menemukan, menulis ekspresif menghasilkan peringkat intensitas nyeri yang secara signifikan lebih rendah pada saat tindak lanjut. Hasil evaluasi pasca intervensi didapatkan, mereka yang menulis ekspresif mengalami penurunan nyeri panggul.

Kate Evans dan Lesley Glover (2012) telah membahas menulis kreatif secara kelompok, yang dikembangkan untuk wanita dengan nyeri panggul kronis. Para peneliti membahas pengalaman mereka tentang bagaimana tulisan kreatif berpengaruh terhadap orang-orang yang menderita gejala nyeri yang tidak dapat dijelaskan secara medis.

Tuliskan Perasaan Spesifik Anda

Intervensi menulis ekpresif untuk penyembuhan telah dilakukan oleh David Hansom terhadap banyak pasien. Hansom  telah memandu serangkaian upaya intervensi terhadap penderita nyeri panggul maupun nyeri karena penyakit fisik lainnya. Dalam proses menulis ekspresif, Hansom menyarankan, agar pasien menuliskan pemikiran atau perasaan yang spesifik.

Menurut Hansom, tulisan ekspresif tidak harus masuk akal, logis atau enak dibaca. isi tuilisan bisa positif atau negatif, rasional atau irasional atau apapun. Setelah menulis, segera hancurkan tulisan tersebut. Dengan demikian, pasien bisa menulis dengan penuh kebebasan, tanpa takut diketahui isinya oleh orang lain.

Hansom mengingatkan, agar pasien tidak menganalisis pikiran-pikiran yang tengah dituliskan. Jika menganalisa pikiran atau perasaan yang dituliskan, maka perhatian pasien akan selalu tertuju pada pikiran atau perasaan tersebut. Dampaknya, tidak bisa segera menghilangkan rasa sakitnya.

Proses menulis ekspresif sebagai terapi dilakukan sekali atau dua kali sehari selama 15-30 menit per sesi. Ia memandu pasien agar menulis dalam format bebas (free writing) selama beberapa minggu. Dampaknya positif, pasien mulai mendapatkan pelepasan dari kecemasan.

“Di antara stimulus dan respons, ada ruang. Di ruang itulah terletak kebebasan kita, dan kekuatan kita untuk memilih tanggapan. Dalam tanggapan kita terletak pertumbuhan dan kebahagiaan” ~ Viktor Frankl

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Alodokter, Nyeri Panggulhttps://www.alodokter.com, 6 Desember 2018

David Hansom, Expressive Writinghttps://backincontrol.com

Kate Evans, Lesley Glover, Finding the unexpected: An account of a writing group for women with chronic pelvic painhttps://doi.org/10.1080/08893675.2012.680724, 14 Mei 2012, https://www.tandfonline.com/