.

Writing for Wellness – 62

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Bullying telah menjadi persoalan serius bagi anak-anak dan remaja di seluruh dunia. Anak-anak dan remaja yang menjadi korban bullying, kerap mengalami berbagai masalah serius dalam kehidupannya. Permasalahan tersebut meliputi kesehatan fisik, sosial, emosial, akademik, dan mental.

Korban bullying, berpotensi mengalami beberapa gangguan berikut. Pertama, korban bullying biasanya mengalami gangguan berupa depresi dan kecemasan. Hal ini karena meningkatnya perasaan sedih dan kesepian pada diri korban, yang merasa tersisih dari lingklungan. Selain itu, perlakuan bullying yang diterimanya bisa mengubah pola tidur, makan, hilangnya minat pada aktivitas yang biasa mereka nikmati.

Kedua, gangguan kesehatan. Sering menerima perlakuan kasar, atau ucapan yang tidak menyenangkan, membuat korban tidak berminat untuk melakukan berbagai aktivitas normal, termasuk makan, minum dan tidur. Hal itu membuat korban bullying mendapatkan gangguan kesehatan yang parah.

Ketiga, gangguan prestasi akademik. Biasanya korban bullying mengalami penurunan nilai akademik. Hal ini karena bullying  membuat korban tidak mampu fokus belajar. Terlebih jika pelaku bullying berada di sekolah yang sama, akan membuat korban sering bolos karena takut bertemu pelaku.

Studi yang dilakukan oleh Rizqi dan Inayati (2019) menemukan, bullying yang sering terjadi terhadap remaja adalah bullying verbal dan fisik. Remaja yang menjadi korban bullying disebabkan karena perilaku korban yang menonjol dari teman-teman yang lain, dan korban memiliki nilai akademik yang kurang.

Studi yang dilakukan oleh Rizqi dan Inayati (2019) menemukan, bullying yang sering terjadi terhadap remaja adalah bullying verbal dan fisik. Remaja yang menjadi korban bullying disebabkan karena perilaku korban yang menonjol dari teman-teman yang lain, dan korban memiliki nilai akademik yang kurang.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ela Zain Zakiyah dan tim (2018) menunjukkan bahwa bullying mempengaruhi tugas perkembangan remaja. Namun terdapat faktor yang dapat menghambat dampak tersebut, yaitu dukungan sosial dan strategi coping. Untuk itu, Zakiyah merekomendasikan perlunya program anti-bullying yang melibatkan kerja sama antara guru, orang tua, dan siswa dalam menciptakan lingkungan yang suportif sehingga korban merasa nyaman untuk mencari bantuan kepada lingkungannya.

Mengatasi Kecemasan Bullying dengan Menulis Ekspresif

Tahun 2019 lalu, mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar workshop dengan tema Heal Note, Write Your Feeling. Melalui workshop ini, dikenalkan salah satu metode untuk keluar dari depresi atau keterpurukan, yaitu melalui menulis ekspresif.

Salah seorang narasumber dalam workshop tersebut adalah Bagas Ali Prasetyo (19 tahun), mahasiswa Sosiologi UNS. Bagas menceritakan bahwa dirinya memiliki pengalaman pahit di masa lalu. Ia sering mengalami bullying semasa SMP dan SMA akibat hobinya yang berbeda dengan teman laki-laki seusianya. Bullying yang kerap diterima, sempat membuat Bagas terpuruk.

Bagas menceritakan bahwa dirinya memiliki pengalaman pahit di masa lalu. Ia sering mengalami bullying semasa SMP dan SMA akibat hobinya yang berbeda dengan teman laki-laki seusianya. Bullying yang kerap diterima, sempat membuat Bagas terpuruk.

Namun Bagas bisa keluar dari keterpurukan itu melalui tulisan. Menuliskan kecemasan, kegelisahan  serta kesedihan, membuat Bagas bisa mendapatkan ketenangan. Menulis telah membuat dirinya berhasil menyalurkan emosi negatif akibat bullying. Saat ini, Bagas telah menerbitkan dua buku karya mandiri.

Laelatus Syifa, seorang psikolog di UNS menyatakan, seseorang yang menuliskan apa yang dirasakan akan mampu membuatnya lebih baik secara fisik dan kognisi. Depresi membuat seseorang rentan terserang sakit. Dengan menyalurkan sumber kesedihan melalui tulisan, dirinya akan menjadi lebih nyaman. Tekanan yang menghimpit dirinya bisa disalurkan sehingga tidak lagi menekan.

Dziaul Haq, salah seorang peserta workshop, berbagi pengalaman masa lalu yang membuatnya sedih. Ia mengatakan, nilai kesedihan yang dialaminya adalah 10, atau sangat sedih. Ia mengaku mengalami kondisi yang sangat terpuruk, yang ia gambarkan sebagai “titik terendah dalam hidup”. Setelah menulis ekspresif, ia mulai merasa lega.

Menulis Ekspresif Terbukti Efektif Meredakan Kecemasan Korban Bullying

Pengakuan Bagas maupun Dziaul Haq tersebut, sesuai dengan hasil penelitian Susanti Niman dan tim (2019). Niman mengamati, tindakan bullying menimbulkan kecemasan dan merendahkan harga diri korban. Remaja SMA yang menjadi korban bullying, menjadi takut, cemas dan dampaknya malas pergi sekolah.

Niman dan tim meneliti pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap tingkat kecemasan remaja korban bullying. Kecemasan pada remaja, merupakan respons emosional yang ditandai dengan munculnya rasa takut, tegang dan gelisah. Menulis ekspresif adalah metode menulis untuk mengungkapkan pengalaman emosional.

Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Teknik sampel menggunakan total sampling sebanyak 20 korban bullying yang menderita kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan, terapi menulis ekspresif bisa menurunkan tingkat kecemasan pada remaja korban bullying.

Penelitian serupa telah dilakukan Galih Mahendra Wekoadi dan tim (2018). Mereka melakukan survei untuk mengetahui efektifitas writing therapy terhadap penurunan cemas pada remaja korban bullying. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan Quasi Experimental Design dengan metode Non Equivalent Control Grup Design pre-test post-test. Responden dalam penelitian ini sebanyak 40 remaja SMA.

Intervensi menggunakan expressive writing therapy dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan selama 4 pekan. Setiap pertemuan membutuhkan waktu 35 menit yang terbagi atas 4 sesi.  Hasil penelitian menunjukan bahwa writing therapy efektif dalam menurunkan kecemasan remaja korban bullying.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan hidup.

Bahan Bacaan

Ahmad Naufal Dzulfaroh, Menulis Ekspresif, Cara Ampuh Keluar dari Depresi dan Cegah Bunuh Dirihttps://www.kompas.com, 13 Oktober 2019

Ela Zain Zakiyah dkk, Dampak Bullying Pada Tugas Perkembangan Remaja Korban Bullying, Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 1 No 3 th 2018, DOI : https://doi.org/10.24198/focus.v1i3.20502, diakses dari http://jurnal.unpad.ac.id/

Galih Mahendra Wekoadi dkk, Writing Therapy Terhadap Penurunan Cemas Pada Remaja Korban Bullying, Jurnal Riset Kesehatan Vol 7 No 1 th 2018, DOI: https://doi.org/10.31983/jrk.v7i1.3232, diakses dari http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id

Hanifatur Rizqi, Hosnu Inayati, Dampak Psikologis Bullying Pada Remaja, Jurnal Kesehatan Vol 9 N0 1 th 2019, DOI: https://doi.org/10.24929/fik.v9i1.694, diakses dari https://ejournalwiraraja.com/

StopBullying, Effects of Bullyinghttps://www.stopbullying.gov, 21 Juli 2020

Susanti Niman dkk, Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Tingkat Kecemasan Remaja Korban Bullying, Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 7 No 2, Agustus 2019