.

Writing for Wellness – 72

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing can be the perfect tool for a bit of self-discovery” – Janine Ripper, 2019

.

Adakah orang yang ‘hilang’? Tidak mengenali diri sendiri? Tentu saja ada. Banyak faktor yang membuat seseorang bisa kehilangan pengenalan atas dirinya sendiri, dengan intensitas yang sangat beragam. Ada yang kehilangan pengenalan secara total, seperti yang kita lihat dalam film ‘Who Am I’ yang diperankan oleh Jacky Chan. Juga film Bourney Identity yang diperankan oleh Matt Damon.

Orang-orang yang terlibat penyalahgunaan zat-zat adiktif, atau mereka yang mengalami kecanduan obat dalam tingkat parah, bisa kehilangan jati diri. Kehilangan arah dalam kehidupan. Mereka ini harus diarahkan untuk menemukan kembali jati diri mereka. Mencari makna kehidupan yang hilang, menemukan arah dalam kehidupan.

Janine Ripper (2019) menyatakan, menulis dan refleksi diri adalah dua hal yang berjalan beriringan, sehingga bisa saling membantu namun juga bisa saling menghalangi satu sama lain. Menulis bisa menjadi alat yang tepat untuk penemuan jati diri. Namun jika Anda mengidap mental block sebagai penulis, akan menghalangi proses penemuan diri ini.

Selanjutnya, Ripper menyusun 105 petunjuk cara menulis, untuk upaya refleksi diri dan penemuan diri. Misalnya, Ripper meminta Anda untuk menuliskan “Kapan Anda merasa paling bahagia dengan kulit Anda?” Atau, Anda bisa menuliskan sepuluh hal yang membuat Anda tersenyum. Anda juga bisa menuliskan lima hal yang Anda paling syukuri dalam minggu ini.

“Writing is more than having an idea. It’s also about the process” – Janine Ripper, 2019

Menulis bukan sekedar memiliki ide. Ini juga tentang prosesnya. Ripper memberikan beberapa tips menulis sederhana yang bisa Anda lakukan untuk penemuan diri. Misalnya, Ripper menyarankan agar kita tidak banyak berpikir. Tapi langsung menulis.

“Tulis saja. Cara terbaik untuk menulis adalah dengan mulai menulis. Biarkan saja pikiran Anda mengalir dan tangan Anda bergerak di atas kertas atau laptop. Tuliskan apa pun yang terlintas dalam pikiran Anda”, ujar Ripper.

Selajutnya, Ripper menyarankan agar Anda menyingkirkan berbagai macam gangguang yang membuat Anda tidak menulis. Misalnya gadget. “Singkirkan gangguan. Simpan gadget Anda dan nikmati kedamaian dan ketenangan. Berkurangnya gangguan memungkinkan Anda untuk fokus menulis”.

“Just write. The best way to start writing is to do just that” – Janine Ripper, 2019

Anjuran Ripper ini sejalan dengan teori menulis ekspresif yang telah dikembangkan Pennebaker dan para ahli lainnya. Pada dasarnya, menulis ekspresif bukan tentang tata bahasa atau kaidah tentang menyusun ejaan serta kalimat. Menulis ekspresif lebih kepada upaya mengekspresikan perasaan, pikiran, pengalaman, kejadian, dalam bentuk tulisan.

Menulis Ekspresif – Kolaboratif untuk Penemuan Diri

Selain menulis secara individual atau personal, proses menulis ekspresif juga bisa dilakukan dalam bentuk kolaboratif. Yaitu menulis secara berkelompok melibatkan beberapa orang. Dengan cara kolaboratif, orang-orang yang memiliki persoalan serupa, akan bisa memberikan penguatan satu dengan yang lain.

Leighann Justice Davidson (2019) melakukan penelitian untuk mengeksplorasi pengalaman peserta setelah mengikuti lokakarya penulisan ekspresif pemulihan kolaboratif (collaborative recovery expressive writing / CREW). Intervensi menulis ekspresif dilakukan terhadap pasien yang berada dalam masa pengobatan jangka panjang dari penyalahgunaan zat (substance use disorders / SUD).

Lokakarya tersebut menggunakan model menulis ekspresif yang dikembangkan James W. Pennebaker. Namun dengan mengadaptasi teknik tersebut dengan membuat lingkungan bagi para peserta dalam berbagi kisah mereka.

Studi dilakukan di perusahaan PT Recovery Point West Virginia, dimulai dengan mengeksplorasi sepuluh wanita. Para peserta diminta berbagi suasana emosi mereka menggunakan teknik penulisan kolaboratif, sebagai bagian dari proses pemulihan, penemuan jati diri dan sekaligus penyembuhan.

“This adaptation of a wellestablished expressive writing technique illustrates how the power of writing can also help illuminate the emotional healing necessary during recovery” – Leighann J. Davidson (2019)

Setelah mengikuti kegiatan CREW, dilanjutkan dengan sesi kelompok dan diskusi. Dalam diskusi kelompk ini, digali pemahaman yang lebih detail dari pengalaman peserta selama mengikuti lokakarya CREW. Juga diamati berbagai faktor berharga lain yang bermanfaat bagi pemulihan SUD.

Hasil observasi dan wawancara diinterpretasikan menggunakan literatur akademik yang fokus pada teori sosial, serta perilaku kognitif yang berpusat pada orang. Beberapa tema muncul dari data seperti berbagi emosi, kebebasan untuk berbagi, kepercayaan, kenyamanan, keterhubungan, interaksi sosial yang positif dan penemuan diri.

Model khusus tulisan ekspresif ini memperkenalkan peluang baru yang dapat meningkatkan pengobatan SUD melalui pemulihan kolaboratif. Dengan proses kolaborasi, memungkinkan peserta untuk berinteraksi dalam kelompok. Ini memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mendapatkan daya dukung pemulihan, sekaligus memberikan umpan balik untuk motivasi.

Adaptasi dari teknik menulis ekspresif yang sudah mapan ini menggambarkan kemampuan kekuatan menulis ekspresif dalam membantu proses penyembuhan emosional yang diperlukan pasien selama pemulihan. Menuangkan pemikiran dan perasaan, dalam suasana kolaborasi dengan orang lain, memberikan penguatan satu dengan yang lain.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Janine Ripper, 105 Writing Prompts for Self-Reflection and Self-Discovery, 19 November 2019, https://reflectionsfromaredhead.com/

Leighann Justice Davidson, From Darkness to Light: an Exploration of Self-Discovery and Healing Through Collaborative Recovery Expressive Writing, 2019, https://mds.marshall.edu/etd/1240

  3 kali dilihat