Antologi Bersama Bu
Kanjeng
07 April 2021
Ledwina Eti Wuryani , Waingapu NTT
1.
Awal Mula Suka Menulis
Waktu itu
saya begitu terkagum-kagum dengan nama orang yang tertulis di berbagai media.
Pasti orang hebat. Pasti orang pintar. Terkesan intelek. Saya berpikir pasti saya bangga kalau namanya bisa terpampang di koran he he ..., kebetulan suami saya suka nulis. Bahkan suami pernah juara menulis sewaktu masih mahasiswa sampai dapat
hadiah sejumlah uang. Waktu itu
masih pacaran, setiap dapat uang
pasti saya ditraktir. Asyik
juga pikirku.
Tanpa sepengetahuan
siapa pun iseng saya
nulis. Kalau omong suami seandainya
tulisan tidak terbit kan malu, jangan sampai saya kena olok. Tulisan pertama saat ada lomba olimpiade
sains SMA tingkat kabupaten tahun 2009. Saat itu
terjadi ketidakpuasan tentang kejuaraan. Nah saat itu saya buat opini dengan judul “Siapa pun bisa dari juara”. Naskah saya
ketik rapi, 600 karakter, saya kirim ke
koran Media rakyat saat itu. Koran lokal kabupaten. Eh, ternyata langsung terbit tanpa edit.
Bahagia, bangga campur aduk. Senang
sekali pokoknya, nama dan foto saya
terpampang jelas di koran itu. Saya
kirim lagi di Sumba Pos, terbit lagi. Di Sumba Pembaharuan muncul juga. Saya jadi kenal baik dengan pimpinan redaksinya, sebuah kebanggan juga
bagi saya.
Dari situ
akhirnya saya sedikit dikenal, peserta didik yang suka baca, teman-teman luar
sekolah dan ada beberapa orang yang saya tidak kenal, mereka kenal saya. Ketemu di
warung bakso atau di toko, misalnya
orang tegur saya, Ibu Eti ya, katanya. Haa..kenapa kenal saya, saya lihat
fotonya ibu di koran.
Kepala
sekolah saya waktu itu, Bapak Drs Yeheskiel Rebo (alm) sering memuji saya dan
sering dijadikan contoh supaya teman-teman meniru saya untuk rajin menulis. Antara bangga dan GR sedikit. Ah, tak penting yang terpenting saya sudah bisa membuktikan bahwa ternyata
menulis itu tidak sesulit yang saya
bayangkan dulu. “Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua
orang” (Pramoedya Ananta Toer). Jadi, saya pribadi merasa
bangga karena saya adalah ‘salah satu’ yang ‘berani’ menulis.
Akhirnya saya
berpikir, ternyata menulis itu mudah.
Tulisanku yang masih pemula saja begitu
dihargai. Diakui dan diterbitkan. Saat itu saya rajin kirim naskah, tapi karena beban tugas mengajar dan adanya tugas tambahan semakin banyak dan padat akhirnya fakum juga. Macet.
Bulan Maret 2020
corona datang. Sekolah tutup.
Pembelajaran BDR (Belajar dari Rumah). Pembelajaran dari jarak jauh ( PJJ).
Saat itu guru ada waktu lebih banyak karena di rumah saja.
Saya jadi rajin buka HP, selain ber-WA juga
main FB. Dulu saya sebelum PJJ
jarang main hp, tidak aktif juga di
medsos, nama Fb punya tapi tidak aktif. IG
juga ada tapi tidak pernah buka.
Saat buka Facebook
ada tawaran pelatihan KMO ( Kelas
Menulis OnLine) saya ikut. Ada tawaran
masuk grup menulis bunda Lilis, Menulis
Buku Inspirasi ( MBI) saya ikut. Ayo dipinang,
mari bergabung membuat buku ber-ISBN pasti terbit dari Ibu kanjeng, ikut juga. Asyik! Termotivasi karena selain
dapat sertifikat juga dapat pengalaman baru. Banyak teman pula, para penulis
hebat seluruh Indonesia. Para anggota grup begitu baik. Begitu familier, bahkan serasa bagai mendapatkan
saudara. Walau belum pernah lihat sosoknya sama sekali, tapi seperti sudah
kenal 100 tahun yang lalu. Nah, dari situ akhirnya bisa tambah wawasan,
pengetahuan, dan pengalaman yang sangat berharga..
Akhirnya
cinta lama bersemi kembali. Yang dulu menulis sudah terkubur dalam kini jadi
tumbuh lagi. Walau sudah tidak muda lagi, akhirnya saya berfikir untuk kenangan
anak cucu kelak jika saya sudah tiada. Jika suatu saat mereka baca buku saya. Oh, ternyata oma itu dulu penulis! He he. Biar Jasat terkubur tetapi tulisan bisa
selalu dikenang disepanjang masa.
2.
Awal Mula Tahu dan Akhirnya
Memutuskan Ikut Group Om Jay.
Saya
tergabung dalam kelas WAG Menulis Buku bersama Bunda Lilis (Dra Lilis Herpianti
Sutikno, SH). Di situ ada brosur yang muncul.
Kubaca. Hati seperti terhipnotis,
langsung klik link pendaftaran. Sebenarnya saya sudah terdaftar di gelombang
17, tapi karena belum bisa membagi waktu
jadi tidak aktif. Di awal bulan April 2021 ada lagi brosur yang masuk di WAG
MBI, tak pikir panjang akhirnya saya
langsung mendaftarkan diri. Resmi
saya peserta Belajar Menulis bersama Om
Jay di gelombang 18. Saya chat bu Aam, untuk salam kenal. Nara
Sumber pertama bulan April bunda Lilis, Ibu Kanjeng, Om Jay, dan pertemuan ke-4 yang saya ikut Nara
Sumbernya Bu Rita Wati, S.Kom. dari Bali. Sekarang sementara membuat resume pertemuan ke-4.
Sumba Timur,
tempat tinggal saya adalah salah satu
sasaran amukan bencana banjir dan Badai Seroja Siklon 2021. Suasana mencekan dari tanggal 4 – 7 April, hujan tak pernah berhenti selama 4 hari, lebih
5000 rumah warga terendam banjir, jembatan utama patah, bendungan jebol parah. Rumah saya terselamatkan karena
ada di ketinggian. Puji Tuhan! Beberapa saudara
mengungsi di rumah. Dampak dari itu
listrik padam selama 4 hari. Sinyal
hilang. Saat saya menulis artikel ini listrik
belum menyala. Ditemani temaran lilin dan sinar center baterai. Semua adalah
cobaan. Pengalaman berharga. Kami harus selalu berpikir positif. Musibah
ini terjadi supaya para pribadi refleksi. Termasuk saya. Trima kasih Tuhan, kami masih diselamatkan
dan masih diberikan nafas kehidupan. Badai telah berlalu. Kini saya membuka lembaran baru.
Masih
semangat! Semoga setelah tergabung bersama om Jay membuat saya lebih
rajin menulis. Bisa mendapat ‘Mahkota’ sebagai penulis. Sebuah Buku
hasil dari resume selama kegiatan belajar menulis. Buku yang terbit akan
menemukan takdirnya. Mengukir mimpi menjadi penulis. Semoga.
3.
Kesan Pertama tentang Blog dan
Manfaat Setelah Menggunakan Blog
Secara
pribadi sungguh saya pribadi ‘minder’ dengan
teman-teman sesama peserta belajar menulis. Mereka semua sudah ‘hebat’.
Sementara saya sendiri belum menguasai. Masih
harus belajar lebih banyak. Resume yang
sudah saya buat ada 4, belum bisa terkirim kendala jaringan yang tidak ada akibat bencana. Sabar.
Saya jadi menghibur diri, nanti akan indah pada waktunya. Jadi orang harus optimis,
berfikir logis, percaya diri, dan pasti akan
ada solusi. Padahal jika boleh jujur, asli, saya orangnya ‘tak pernah percaya diri’
maka tak pernah maju. Hatinya mau
belajar, belajar dan terus belajar. Jadi ulama (usia lanjut masih aktif), kata
ibu Kanjeng. Mengikuti semangat beliau
walau tidak muda lagi tapi tak boleh kalah dengan yang muda. Trima kasih ibu Kanjeng untuk motivasinya.
Kesan pertama
tentang blok, ternyata asyik. Menyenangkan.Dengan adanya blog bisa menjadi ‘bank tulisan’. Selama ini
tulisan seolah terhambur di file, My Dokument, di data D atau flashdisk.
Berisiko. Bisa
hilang kalau komputer rusak. Di flashdisk juga relatif
kurang aman. Tapi di blog, seolah tersimpan di langit luas yang super
aman. Belum tulisan-tulisan bisa dipisahkan sesuai dengan label yang berbeda.
Jadi jika kita perlu tinggal ambil yang
sesuai dengan label yang kita mau. Contoh
saya ada tulisan berbagai macam: pusisi, perenungan, cerpen, resume dan
lain-lain. Masing-masing dimasukkan di rumahnya. Nah, nanti kalau kita perlu tinggal ambil
sesuai dengan yang kita butuhkan.
Manfaat
setelah menggunakan blog. Dengan Blog tulisan lebih rapi. Lebih teratur karena
sudah terperinci. Penampilan lebih keren, indah, dan menarik. Up to date. Berbagai tulisan, baik dalam
bentuk pengetahuan, cerita, dan pengalaman sehingga orang lain yang mencari suatu topik
tertentu dapat menemukan tulisan kita. Memperluas dan membangun jaringan dapat
dilakukan dalam dunia blogger. Media
promosi dan sarana menjual produk. Media aktualisasi diri karena seorang blogger akan belajar untuk mengembangkan dan
mengekspor lebih jauh serta berbagi
pengetahuan. Antarpenulis bisa saling berbagi pengetahuan, bisa share
karya kita kepada dunia.
4.
Hal yang Paling Diingat dari Materi
Ibu Kanjeng
Pernyataan Ibu kanjeng: Kalau mau
jadi penulis itu sering-seringlah berteman dengan penulis. Menulislah setiap
hari agar segala kemalasan dan kemandegan dalam menulis akan hilang. Jika kita banyak menulis membuat tulisan kita
lebih berkualitas. Menulis itu bagaikan merancang atau mendisain baju. Setiap
penulis itu memiliki warna tulisan yang berbeda. Tentunya harus
rajin berlatih agar memilki warna
tulisan sendiri. Aku dengar. Aku melihat. Aku ingat. Aku melakukan . Aku Pasti Bisa!.
“Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG, nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi,
SPd. Asli orang Magelang,
Jawa Tengah. Selain
ibu rumah tangga saya masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri
2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah
Bertaut Aksara, Kidung
Rindu, Refleksi,
dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll. Buku Solo, Kumpulan Cerpen
Mengungkap Rahasia Sekarang ini saya tingggal
di Jl Trikora RT/RW: 010 / 003,
Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam menggapai
cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap
usaha, Tuhan pasti memberikan
keberhasilan dalam kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar