#IndahnyaBerbagi
Oleh Ledwina Eti Wuryani
Bangun pagi keluar rumah, betapa kagetnya umbu Behar melihat semua kebun sudah penuh lumpur. Pohon –pohon depan rumah sudah rubuh rata tanah. Seng depan rumah terbang, suasana rumah porak-poranda. Jam 02.00 – 03.30 WITA, 5 April 2021 dini hari ada serangan dan amukan angin kencang , hujan beserta badai serentak di lokasi rumah. Hujan super deras dari kemarin tak kunjung henti. Petir menyambar disertai kilat yg begitu mengerikan. Lampu pelita padam suasana gelap gulita. Angin kencang, badai dahsyat menerjang atap seng hingga terpental jauh. Suasana ngeri mencekam. Terlihat sang istri yang sementara hamil besar ketakutan dengan melihat ambu kecil yang menangis histeris menghadapi suasana saat itu. Mereka berpegangan tiang bambu lapuk di rumah itu demi menyelamatkan diri agar tak terbawa angin. Inikah rasanya kiamat mau menjemput kita?
Badan lemas. Pikiran buntu. Dapur sudah hilang dibawa terbang oleh sang angin yang disertai badai Seroja tadi malam. Bertiga mereka terpaku duduk tercenung merenungi nasib. Menyadari rasanya hidup sendiri di tengah sabana lereng perbukitan yang tak ada tetangga. Wangga Lamerip. Ada tetangga tapi saling berjauhan. Sedih ingin menangis. Hati teriris-iris. Saat itu bertiga hanya melongo, galau dengan pandangan kosong. Linglung layaknya otak buntu. Tak berdaya melihat keberadaan sekitar yang berantakan.
Dengan sedikit manja istrinya merengek minta dibelikan ikan. Mungkin bayi yang di dalam perutnya yang memintanya. Dengan sedih , akhirnya umbu Behar menyetujuinya, dirabanya saku celana. Untung masih ada tersisa uang Rp 25 ribu hasil jualan kangkung hasil kebun kemarin. Demi sang istri tercinta dan calon sang buah hati dengan sigap dia berjalan kaki menuju pasar inpres yang kira-kira berjarak 3 km dari rumahnya.
Sampailah ia di pasar. Umbu Behar teringat uang hanya segitu, dapur beserta isinya sudah dibawa lari angin. Beras yang sisa sekilo ikut serta tertumpah di lumpur dampak hujan deras yang mengguyur keras tadi malam. Umbu Behar diam membisu dan tiba-tiba dia melihat wanita berjalan didepannya, turun dari mobilnya.Sendirian pula. Wanita memakai perhiasan lengkap seperti kalung, giwang, gelang dan cincin permata di jarinya. Pasti wanita kaya, pikirnya. Wanita itu memegang dompet yang mewah warna emas sedang menelpon seseorang. Umbu Behar memandang tajam wanita itu. Otak mulai berpikir jahat mau merampas perhiasan dan dompet wanita itu. Umbu behar lagi mengatur strategi cara merampas. Umbu behar berdiri, siap melakukan aksinya.
Belum kesampaian untuk merampas perhiasan wanita itu, seseorang menepuk bahu umbu Behar dan memberikan paket sembako gratis berisi beras, gula dan kebutuhan pokok lainnya. “Puji Tuhan” Umbu Behar mencium paket sembako itu. Dia segera pulang dan akan segera memberikan sembako itu ke istrinya. Senyuman istri umbu Behar membuat duka hancurnya rumah dan terbangnya dapur sirna. #YaTuhan # indahnyaberbagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar