Kamis, 22 April 2021

INDAHNYA BERBAGI

  #IndahnyaBerbagi

Oleh Ledwina Eti Wuryani

Bangun pagi keluar rumah, betapa kagetnya umbu Behar  melihat  semua kebun sudah penuh lumpur. Pohon –pohon  depan rumah sudah  rubuh rata tanah. Seng depan rumah terbang,  suasana rumah porak-poranda.  Jam 02.00 – 03.30 WITA, 5 April 2021  dini hari ada  serangan dan amukan  angin kencang , hujan beserta badai serentak  di lokasi rumah. Hujan super deras dari kemarin tak  kunjung henti. Petir menyambar disertai kilat yg begitu mengerikan. Lampu pelita padam suasana  gelap gulita. Angin kencang, badai dahsyat  menerjang atap seng hingga terpental jauh. Suasana ngeri mencekam. Terlihat  sang istri yang sementara hamil besar ketakutan dengan melihat  ambu kecil yang  menangis histeris menghadapi suasana saat itu. Mereka berpegangan  tiang bambu lapuk  di rumah itu  demi menyelamatkan diri  agar tak terbawa angin. Inikah rasanya kiamat mau menjemput kita?

Badan lemas. Pikiran buntu. Dapur sudah  hilang dibawa  terbang oleh sang  angin yang disertai badai Seroja tadi malam. Bertiga mereka terpaku duduk tercenung  merenungi nasib. Menyadari rasanya hidup  sendiri di tengah sabana lereng perbukitan yang tak ada tetangga. Wangga Lamerip. Ada tetangga tapi saling berjauhan. Sedih ingin menangis. Hati teriris-iris. Saat itu bertiga hanya melongo, galau dengan pandangan kosong. Linglung layaknya  otak buntu. Tak berdaya  melihat  keberadaan sekitar yang berantakan. 

Dengan sedikit manja istrinya merengek minta dibelikan ikan. Mungkin bayi yang di dalam perutnya yang memintanya. Dengan sedih , akhirnya umbu Behar  menyetujuinya, dirabanya  saku celana. Untung masih ada tersisa uang Rp 25 ribu  hasil jualan kangkung  hasil kebun kemarin. Demi sang istri tercinta dan calon sang buah  hati dengan sigap dia berjalan kaki menuju pasar inpres yang kira-kira berjarak 3 km dari rumahnya. 

Sampailah ia di pasar. Umbu Behar teringat uang hanya segitu, dapur beserta isinya sudah dibawa lari angin. Beras yang sisa  sekilo ikut serta  tertumpah di lumpur dampak hujan deras yang mengguyur keras tadi malam. Umbu Behar diam membisu  dan tiba-tiba  dia melihat wanita berjalan didepannya, turun dari mobilnya.Sendirian pula.  Wanita memakai perhiasan lengkap  seperti kalung, giwang, gelang dan cincin  permata di jarinya. Pasti wanita kaya, pikirnya. Wanita itu memegang dompet yang mewah warna emas sedang menelpon seseorang. Umbu Behar memandang tajam wanita itu. Otak  mulai berpikir jahat mau merampas  perhiasan dan dompet wanita itu. Umbu behar lagi mengatur strategi cara  merampas.  Umbu behar berdiri, siap melakukan aksinya. 

Belum kesampaian untuk merampas perhiasan wanita itu, seseorang menepuk bahu umbu Behar dan memberikan paket sembako gratis berisi beras, gula dan kebutuhan pokok lainnya. “Puji Tuhan” Umbu Behar mencium paket sembako itu. Dia segera pulang dan  akan segera memberikan  sembako  itu ke istrinya. Senyuman istri umbu Behar membuat duka hancurnya rumah dan terbangnya dapur sirna. #YaTuhan  # indahnyaberbagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...