.

Writing for Wellness – 98

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Optimisme merupakan harapan positif tentang kehidupan, yang secara efektif membantu individu dalam mencapai masa depan yang diinginkan. Optimisme adalah proses kognitif  dan pilihan perilaku seseorang ketika dihadapkan pada situasi stres. Scheier dan Carver (1985) berpendapat bahwa setiap manusia berbeda satu sama lain dalam memahami dunia. Optimisme merupakan salah satu jalan manusia dalam memahami dunia. 

Scheier dan Carver juga mengungkapkan bahwa terdapat kecenderungan seseorang yang memiliki optimisme yang tinggi cenderung memiliki harga diri dan sikap internal yang lebih baik. Scheier dan Carver meyatkini, optimisme diyakini akan berfungsi sebagai faktor protektif bagi seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup. Optimisme dipercaya mampu membawa individu kepada kehidupan yang lebih baik.  

Scheier dan Carver (1985) meyatkini, optimisme diyakini akan berfungsi sebagai faktor protektif bagi seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup. Optimisme dipercaya mampu membawa individu kepada kehidupan yang lebih baik.

Martin Seligman menjelaskan bahwa optimisme adalah cara seseorang dalam memandang peristiwa dalam kehidupan. Hal tersebut berhubungan dengan gaya seseorang dalam menjelaskan sebuah peristiwa, dalam hal ini disebut explanatory style. Melalui explanatory style, seseorang akan terhindar dari ketidakberdayaan, sehingga akan terbentuk sikap optimis.

Menurut Seligman, ada tiga jenis explanatory style, yaitu permanence, pervasiveness dan  personalization.  Permanence (hal yang menetap)  menggambarkan bagaimana seseorang melihat peristiwa dengan cara pandang yang sementara (temporary) atau menetap (permanence). Orang-orang yang pesimis selalu melihat peristiwa buruk sebagai sesuatu yang menetap dan mereka cenderung menggunakan kata-kata “selalu” dan “tidak pernah.” Sebaliknya, mereka yang optimis melihat hal buruk hanyalah sesuatu yang sementara. 

Pervasiveness (hal yang mudah menyebar) berkaitan dengan ruang lingkup dari peristiwa  tersebut, yang meliputi universal (menyeluruh) dan spesifik (khusus). Orang yang optimis bila dihadapkan pada kejadian buruk akan membuat penjelasan yang  spesifik dari kejadian itu. Menurut mereka bahwa hal buruk terjadi diakibatkan oleh sebab-sebab  khusus dan tidak akan meluas kepada hal-hal yang lain. 

Orang pesimis menganggap satu kegagalan sebagai sesuatu yang universal. Seakan jika gagal dalam satu hal, akan gagal pula dalam segala hal. Mereka tidak bisa membatasi wilayah kegagalan, dan memandang kejadian buruk sebagai hal yang membuat buruk segala sesuatu.

Personalization (berhubungan dengan pribadi)   berkaitan dengan  sumber dari penyebab kejadian, baik internal dan eksternal. Ketika mengalami hal yang buruk, orang yang pesimis akan menganggap bahwa  hal itu terjadi karena faktor dari dalam dirinya. Bahwa kegagalan adalah hal yang selalu melekat dalam dirinya (internal). Orang optimis cenderung melihat kejadian buruk sebagai sesuatu yang eksternal, yang bisa diatasi karena tidak melekat dalam diri.

Thompson & Gaudreau (2008) menganggap optimisme sabagai sikap pendukung dalam mendorong motivasi untuk mencapai hal-hal yang positif di bidang pendidikan. Optimisme berkorelasi positif dengan proses menyelesaikan masalah, dan berkorelasi negatif dengan pengabaian. Keyakinan diri yang positif berakar pada optimisme. Optimisme dapat digambarkan pada siswa yang memiliki harapan yang positif dalam kegiatan pendidikannya dan berusaha mengejar tujuan pribadi yang dianggapnya berharga serta bermakna. 

Menulis Ekspresif untuk Meningkatkan Optimisme

Soliday dkk (2005) melakukan penelitian terkait efek dari intervensi menulis ekspresif terhadap gejala somatik pada remaja, kesusahan, dan fungsi psikologis positif. Partisipan adalah 106 siswa kelas delapan yang secara acak ditugaskan untuk menulis tentang topik emosional atau netral selama tiga hari berturut-turut.

Kepada para partisipan dilakukan pengukuran gejala somatik, kunjungan medis, kesusahan, dan fungsi positif pada awal, pasca intervensi. Studi menunjukkan bahwa skor optimisme meningkat, skor pengaruh negatif menurun, dan kata-kata pengaruh positif dalam tulisan siswa meningkat. Menulis ekspresif terbukti bisa menjadi intervensi hemat biaya untuk mengatasi masalah emosional remaja.

“Expressive writing shows promise as a cost-efficient intervention to address the emotional concerns of young adolescents” – Soliday, at al 2005

Menulis tentang peristiwa traumatis, stres atau emosional telah terbukti memberikan peningkatan kesehatan fisik dan psikologis. Wells et al (2018) melakukan penelitian untuk mengetahui dampak tulisan ekspresif terhadap sense of purpose, optimisme, resiliensi dan kualitas hidup.

Studi melibatkan 153 partisipan ditugaskan secara acak melakukan proses menulis ekspresif, serta tulisan terait rasa syukur (gratitude journal). Penelitian menemukan bahwa partisipan yang menulis ucapan syukur dan ekspresif; kesehatan fisik, ketahanan, dan optimisme meningkat. Hasil studi menunjukkan bahwa tulisan ekspresif bermanfaat bagi orang dewasa untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.

“Results of the post survey found that for those in gratitude and expressive writing; physical health, resilience, and optimism improved” — Wells et al (2018)

Dua penelitian di atas menunjukkan bahwa menulis ekspresif mampu memberikan kemanfaatan berupa peningkatan sikap optimistik dalam menjalani kehidupan, baik pada remaja maupun pada orang dewasa. Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Amanda Thompson & Patick Gaudreau, From Optimism and Pessimism to Coping: The Mediating Role of Academic Motivation, International Journal of Stress Management, 2008 https://doi.org/10.1037/a0012941, diakses dari https://psycnet.apa.org

Elizabeth Soliday, John Garofalo, Debra Rogers, Expressive Writing Intervention for Adolescents’ Somatic Symptoms and Mood, DOI: 10.1207/s15374424jccp3304_14, Januari 2005, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

IndoPositive, 4 Manfaat Optimisme dalam Kehidupan Kita Sehari-hari, September 2019, http://www.indopositive.org/

T. Wells, L. Albright et al, Expressive Writing : Improving Optimism, Purpose, and Resiliense Writing and Gratitude, DOI:10.1093/geroni/igy023.900, November 2018, diakses dari https://www.researchgate.net