Writing for Wellness – 96
Oleh : Cahyadi Takariawan
“In short, an author must employ a variety of techniques within appropriate contexts to substitute for the non-verbal behaviours that would express her emotions physically. This substitution constitutes a ‘virtual expression’ just in case it empowers readers to vividly imagine the production of these behaviours” – Trip Glazer, 2017
.
Richard Wollheim menyatakan bahwa mengekspresikan emosi melalui penuturan lisan, terkait dengan bagaimana emosi itu diucapkan dan tidak semata-mata berdasarkan konten yang dikatakan. Akan tetapi, apakah kita tidak dapat mengungkapkan emosi secara tertulis, disebabkan teks tulisan tidak bisa mengungkapkan bagaimana emosi itu diucapkan? Nada suara, gestur , raut wajah, tak terlihat dalam tulisan.
Trip Glazer (2017) justru berpendapat bahwa tesis Wollheim di atas telah memberikan petunjuk baru tentang bagaimana penulis dapat mengekspresikan emosi dalam bentuk tulisan. Seorang penulis harus menggunakan berbagai teknik dalam konteks yang sesuai untuk menggantikan perilaku non-verbal yang akan mengekspresikan emosinya secara fisik. Substitusi ini menjadi ‘ekspresi virtual’ yang bisa memberdayakan pembaca untuk membayangkan secara jelas produksi perilaku ini.
Ludwig Wittgenstein menulis, “Kita melihat emosi. Kita tidak melihat kerutan wajah dan membuat kesimpulan bahwa dia merasakan kegembiraan, kesedihan, kebosanan. Kita segera mendeskripsikan wajah sebagai sedih, berseri-seri, bosan, bahkan ketika kita tidak dapat memberikan deskripsi lain. Duka, bisa dikatakan, dan dipersonifikasikan di wajah”.
Wittgenstein menyadari bahwa ekspresi emosional adalah sesuatu yang sangat kompleks. Kita mengekspresikan emosi dalam komunikasi tatap muka dengan mengubah wajah, dengan mengubah suara, dan dengan memberi isyarat dengan tubuh. Dengan cara yang memungkinkan orang lain melihat dan mendengar emosi kita. Pengenalan emosi pada akhirnya merupakan bentuk pengenalan pola. Kita mengenali wajah sebagai wajah bahagia atau sedih dengan cara mengenali wajah sebagai milik teman lama (Glazer, 2017).
Ekspresi, seperti tulisan yang bagus, adalah teknik showing, bukan telling. Jika kita mengekspresikan emosi dalam komunikasi tatap muka dengan menunjukkan apa yang kita rasakan melalui wajah, suara, dan melalui gerak tubuh, maka untuk mengekspresikan emosi secara tertulis harus menggunakan cara showing — dan tidak hanya telling. Dalam komunikasi tertulis, seakan wajah kita terikat di belakang punggung (Glazer, 2017).
Untuk menunjukkan emosi dalam tulisan, kita harus menemukan cara yang tepat. Seakan pembaca bisa membayangkan, melihat dan mendengar kata-kata yang tertulis. Dengan demikian memungkinkan pembaca untuk membayangkan emosi yang dipersonifikasikan di wajah dan suara –melalui tulisan. Glazer menyebut ekspresi tertulis dari emosi sebagai ‘ekspresi virtual’, karena melalui tulisan, fisik kita hadir secara virtual, untuk pembaca.
Efektif Manakah Ekspresi Tertulis dan Ucapan?
Pada dasarnya, untuk mengungkapkan pengalaman emosional, orang dapat berbicara atau menulis. Severine Balon dan Bernard Rime (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan konten antara berbagi emosi secara sosial (melalui lisan) dan tulisan ekspresif.
Dalam studi pertama, 92 peserta berbicara dengan eksperimen atau menulis sendiri tentang pengalaman emosional. Dalam studi kedua, setelah menonton film yang memicu emosi, 112 peserta diminta untuk mengungkapkan emosi mereka dengan menulis, berbicara sendiri dengan perekam, berbicara dengan rekan yang tidak dikenal, atau berbicara dengan seseorang yang dekat dengan mereka.
Analisis leksikal terkomputerisasi dilakukan pada semua materi yang dikumpulkan dengan fokus utama pada proses afektif dan kognitif serta pada indeks gaya naratif seperti kata ganti orang. Secara konsisten, hasil menunjukkan proporsi kata emosi yang lebih tinggi dalam tulisan daripada dalam kondisi lisan. Penggunaan kata ganti pribadi, nada emosi, dan proporsi kata kognitif juga tampak bervariasi bergantung pada mode pengungkapan dan jenis target naratif.
Melalui tulisan, seseorang bisa mengekspresikan emosi yang lebih leluasa dibandingkan dengan melalui lisan. Pada saat menulis ekspresif, seseorang tidak perlu takut atau khawatir bahwa hal-hal buruk yang ingin disembunyikan, diketahui oleh orang lain. Dengan demikian seseorang lebih ekspresif dan lebih leluasa mengungkapkan kondisi emosi melalui tulisan.
Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Severine Balon, Bernard Rime, Lexical Profile of Emotional Disclosure in Socially Shared Versus Written Narratives, https://doi.org/10.1177/0261927X15603425, 1 September 2015, https://journals.sagepub.com
Trip Glazer, How to Express Your Emotions in Writing, 27 November 2017, https://blogs.lse.ac.uk
Trip Glazer, On the Virtual Expression of Emotion in Writing, The British Journal of Aesthetics, Volume 57, April 2017, https://doi.org/10.1093/aesthj/ayw092. diakses dari https://academic.oup.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar