.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“I once wrote a story idea in the steam on my bathroom mirror post-shower in the hopes that I wouldn’t forget” – Zulie Rane
.
Suatu ketika Anda tengah naik motor atau mengendarai mobil, kemudian Anda melihat sebuah kejadian yang menyentuh hati Anda. Langsung terpikir Anda akan menuliskan peristiwa itu.
Namun begitu tiba di tujuan, Anda langsung sibuk dengan berbagai macam hal sehingga akhirnya Anda lupa untuk menulis. Ide itupun terlupakan dan tidak pernah Anda tuliskan. Kejadian seperti itu sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mengatasi lupa dalam menuliskan ide?
Berhenti Sejenak untuk Mencatat
Ketika sedang mengendarai motor atau mobil, sering melintas suatu ide. Saat muncul ide seperti itu, segera berhenti sejenak. Cari tempat parkir yang nyaman, untuk menuliskan garis besar ide tersebut.
Ketika tengah asyik olah raga, mendadak muncul ide segar. Berhentilah sejenak dari olah raga. Dua menit saja, untuk menulis ide yang melintas tersebut. Agar tidak hilang.
Di tengah Anda konsentrasi bekerja, tiba-tiba melintas ide untuk ditulis. Berhentilah sejenak, dua menit saja, untuk menuliskan ide tersebut. Nanti jika jam kantor selesai, tambahlah bekerja dua menit sebagai ganti dari waktu yang Anda gunakan untuk menulis ide tadi.
Jika Anda bepergian bersama teman atau keluarga, sementara Anda bertugas mengendarai mobil, maka Anda bisa meminta tolong kepada salah seorang teman untuk menuliskan ide di gadget Anda.
Menyiapkan Alat Mencatat
Melupakan ide yang melintas sesaat, sangat sering dialami oleh banyak penulis. Untuk itu, hendaknya secara sadar berusaha mengatasinya dengan menyiapkan peralatan tulis. Anda bisa menyediakan alat tulis di dekat tempat beraktivitas, atau membawa selalu alat tulis kemanapun ia berada.
Misalnya di dekat tempat mencuci, jika tak membawa gadget untuk mencatat, bisa disediakan buku dan bulpen untuk mencatat. Begitu muncul ide, dia bisa berhenti sejenak dari aktivitas untuk mencatat ide, setelah itu baru meneruskan mencuci lagi.
Budayawan Kuntowijoyo terbiasa membawa kertas ‘notes’ kecil kemanapun beliau pergi. Tiap ada ide langsung dicatat di notes tersebut. Seorang penulis bahkan selalu menyiapkan kertas bulpen di kamar mandi, di dekat shower. Karena ia sering menemukan ide menulis saat kepalanya terguyur air shower ketika mandi pagi.
“My best ideas never come to me while I’m waiting for them. They always come to me completely unannounced, normally when I have absolutely no way of writing them down or remembering them” – Zulie Rane
Zulie Rane, seorang bloger, menyatakan, “Ide-ide terbaik saya tidak datang di saat saya menunggu kemunculannya. Ide-ide itu datang begitu saja, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Biasanya dalam kondisi ketika saya tidak memiliki kesempatan untuk menuliskan atau mengingatnya”.
“Saat saya sedang berolahraga, atau menjelang tidur, atau memotong sayuran, saya berharap akan bisa mengingat ide cemerlang yang datang, di saat saya memiliki kesempatan untuk menuliskannya nanti”, lanjut Rane.
Bahkan Rane membuat pengakuan yang unik. “Saya pernah menulis ide cerita di atas uap di cermin kamar mandi, setelah mandi, dengan harapan ide itu tidak saya lupakan”. Sedemikian cepat ide itu menghilang, sebagaimana cepat ide itu datang. Maka Rane berusaha mencatat –dengan cara apapun.
“I can only hope, as I’m mid-workout, or about to fall asleep, or chopping vegetables, that I’ll remember my brilliant idea when I have a chance to scribble it down later” – Zulie Rane
Siapkan “Pena Siap Pakai”
Kita bisa belajar dari Ibnu Nafis (1213 – 1288, Damaskus) dalam semangat menulis. Beliau adalah tokoh kedokteran muslim yang sangat banyak menghasilkan teori kesehatan yang ditulis dalam banyak kitab.
Sebelum Ibnu Nafis mulai menulis, beliau selalu menyiapkan pena siap pakai sebanyak mungkin. Ketika mulai menulis, ia menghadapkan wajahnya ke tembok, lalu ia curahkan semua pikirannya dengan pena ke atas kertas. Bila pena-nya masih lancip, tulisannya sangat cepat. Sampai pena-pena beliau tumpul, saking banyaknya menulis.
Teknik yang beliau lakukan adalah —menyiapkan pena siap pakai sebanyak mungkin. Pada waktu itu belum ada komputer, laptop dan gadget. Jadi beliau harus menyiapkan sangat banyak pena untuk menulis.
Intinya, bawalah alat tulis —apapun bentuknya, sesuai dengan kebiasaan Anda masing-masing— kemanapun Anda pergi, dan segera tuliskan ide yang melintas di alat tulis tersebut. Jika Anda terbiasa menulis dengan gadget, buatlah satu folder yang isinya “Kumpulan Ide Tulisan”.
Yang Anda tulis saat itu hanyalah ide besarnya, adapun penjabarannya bisa Anda tulis di lain kesempatan saat memiliki waktu luang. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mendokumentasikan ide-ide yang terlintas dalam pikiran, agar tidak hilang. Terkadang ide melintas begitu saja, dan cepat hilang saat tidak dituliskan.
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar