Minggu, 23 Mei 2021

Hidup itu Titipan

Hidup itu seperti naik sepeda, terus mengayuh agar tak jatuh

Cukup 4 menit  membaca perenungan hidup, bagus sekali

Suatu saat saya  buka WA di HP. Sebuah ceramah. Nama beliau tak tertulis. Isinya bagus  sekali. Saya tertarik maka saya simak dan saya tulis kembali . Untuk refleksi pribadi. Perenungan hidup.

Karier  seseorang  tidak selalu di atas. Kadang diatas   suatu ketika  di bawah. Seperti roda yang berputar, tidak terus diatas. Selalu berproses.

Begitupun harta didunia ini hanyalah titipan yang harus kita jaga. Harta juga  bisa bertambah banyak, suatu saat akan juga  turun saat ada kerugian. Naik lagi. Turun lagi.

Kita menyadari bahwa hidup ini juga hanya  titipan.  Kita  tidak perlu gelisah menghadapi  perubahan. Pasangan  hidup saudara/anak/teman kita  juga titipan.  Ketika mereka   sakit  atau meninggalkan dunia artinya titipannya  sudah  diambil yang empunya.

Sama dengan  kita sejak kita dititipi  suatu pekerjaan misal jadi ASN, pegawai bank atau lainnya jika suatu saat kita  pensiun, tidak lagi jadi pegawai atau di PHK kita harus iklas. Kita harus rela.

Karier, rejeki, pasangan hidup, anak itu semua diluar diri kita.  Ada juga yang menenpel pada diri kita. Yaitu telinga, mata , indra, tenaga, kesehatan.  Suatu saat semuanya akan lepas  sedikit demi sedikit. Semua akan berkurang sedikit demi sedikit. Sesuai dengan timbunan jasa yang pernah kita  lakukan sebelumnya.

Wajah  cantik, suara merdu dan segala macam yang membuat kita jadi  hebat  itu semua  diberikan  oleh karma baik. Tetapi kalau karma baik  yang mendukung itu  sudah lenyap  maka tidak ada  lagi punya wajah  cantik/tampan, tidak ada lagi suara merdu, tidak ada lagi kedudukan yang luar biasa.  semuanya akan lepas  satu per satu.  Pada saatnya  nanti  bukan  hanya telinga  yang berkurang pendengarannya, bukan hanya tenaga yang berkurang kekuatannya, bukan hanya  kulit yang berkurang kekenyalannya, tetapi sesungguhnya hidup dan  tubuhpun harus kita lepaskan.

Kehidupan ini tidak pasti. Kehidupan ini tidak kekal.  Suatu saat tubuh yang sehat dan kuat  harus  terlepas dari diri kita. Kita harus meninggalkan kehidupan ini. Meninggalkan orang yang kita  cintai, meninggalkan orang yang kita sayangi, meninggalkan orang yang kita benci.   Siapapun juga, apapun harta yang kita punya. Tidak ada yang  mampu menolak perpisahan kita dengan segalanya.

Kalau kita  menolak  atau tetap tidak mau terima atau  tidak percaya  bahwa  karma yang mendukung sudah habis yang ada adalah penderitaan, kita menjadi stress, kita menjadi  gelisah karena kita  harus berpisah dengan yang kita  cintai . Karena Sesungguhnya  semua  itu  “hanya titipan’. Termasuk diri kita sendiri. Salam. Trimaksih untuk inspirasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...