Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Saat kami masih kecil dari SD hingga SMP saya lebih banyak tingal dengan nenek. Rumah Nenek ditengah, rumah pak De sebelah barat dan rumahku sebelah timur. 3 Rumah besar bergandengan masing-masing ada lorongnya.
Kami 4 bersaudara ( Eti, Rita, Edi, Rudi) dan pakde 5 bersaudara ( mbak Tun, mas Joko, Mas Yanto, mbak Mun dan Wawan).Para cucu yang 9 orang lebih suka tinggal bersama nenek daripada di rumah sendiri karena bapak dan ibu sibuk. Moment paling membahagiakan adalah saat bulan Ramadhan. Kami para cucu berlomba untuk puasa karena nenek selalu menjanjikan jika puasanya tak putus berarti nanti akan dapat hadiah ‘lebih’ istimewa.
Walaupun kami berempat agama katholik, saya dan adik-adik saya rajin puasa , apalagi kami termotivasi ‘hadiah’ spesial dari nenek. Kami hidup rukun saling menghargai dan saling menghormati. Di depan rumah kami mesjid besar. Segala kegiatan di mesjid kami tahu, Sebagai orang kristen saya tidak berani masuk, tapi kalau saat terawih dan ada ‘kue’ jaman dulu saya pasti dapat bagian. Bahagia sekali deh pokoknya. Sudah tradisi kami biasa berbagi tetangga/saudara kami yang kurang beruntung sekitar. Bukan nilainya tapi tanda cinta dan kebersaman yang utama. Bahagia sederhana, Saling menghargai, menghormati, rela berbagi iklas memberi. Kita bahagia, mereka suka cita. Sungguh hal yang paling mengesankan. Hingga lebaran tahun 2021 sekarang ini pun kebiasaan itu masih berlaku. Indahnya perbedaan.
Saat belajar mengaji saya suka nemani mbak Tun, mas Joko, mbak Mun...anak pakde belajar mengaji. Bahkan satu-dua kata juga saya tahu waktu itu. Karena saya selalu puasa rutin dan tak pernah bolong saya selalu dapat hadiah spesial dari nenek yaitu 2 sepatu jenggel, tas dan baju baru 2 stel. Yang pernah bolong hadiahnya hanya satu saja. Suatu kebanggaan yang luar biasa.
Lebaran tiba, itu adalah saat terindah dan paling membahagiakan hidup bagi saya kecil. Saatnya untuk ‘tebar pesona’ memakai baju baru dan sepatu baru. Idul Fitri identik serba baru. Hati dan pikiran yang baru juga tentunya karena habis puasa, dosa sudah ditebus dengan puasa 30 hari. Kami disiplin Silaturahmi di seluruh keluarga. Dalam 1 hari makan kita target 7 kali di luar rumah hahaha....sampai perut terasa kencang karena kekenyangan. Hal lain yang membahagiakan adalah dapat uang baru hasil dari ‘salam tempel’. Kita para cucu berlomba untuk mendapatkan uang dari para simbah, Pakde, Bu De, Pak Lik dan bu Lik. Perjuangan itu kita sampai rela jalan kaki beberapa kilometer ke tempat saudara yang jauh. Di Paremono, Jumbleng, Bojong, Kojor, Borobudur dan desa lain tempat keluarga tinggal.
Dengan hati antusias mulai ‘silaturahmi’ rumah pertama. Yaitu simbah Padmorejo. Istilahnya ‘Ujung’ ( bahasa jawa tengah : Red). Bersujud dipangkuan simbah memohon maaf atas kesalahan. Selanjutnya simbah memberi wejangan dan mendoakan agar kita tambah pinter sekolahnya, berbakti pada orang tua dan lain-lain. Saat yang membanggakan!.
Kami tertib maju satu persatu dari yang tertua dan yang terakhir yang termuda. Sambil menunggu giliran kami menikmati sajian ‘kue’ lebaran yang ‘nikmat’. Rengginan, Jipang, roti panggang, peyek dan lain lain. Ruang tamu penuh dengan tatanan toples berisi kue lezat. Tape ketan dibungkus daun, krasi’an, jenang dodol, kue lapis itu juga tak ketinggalan tersaji di meja. Minuman orson yang hanya ada saat lebaran saja, hehe...
Tak ada rasa malu. Kita lahap makan kue yang tersaji. Selesai bersalaman pasti langsung menuju belakang untuk menikmati sajian berikutnya. Khas!. Opor ayam lengkap dengan sambal goreng hati, ketupat, krupuk udang, telur rebus dibumbu yang warnanya coklat. Asyik deh pokoknya.
Peritiwa itu sunggah sangat kuingat sampai hari ini. Kini kita semua sudah tersebar. Aku di NTT. Adikku di Jakarta. Para cucu lain ada yang di Sumatra, Kalimantan. Tersebar di seluruh Indonesia mengikuti nasibnya sendiri-sendiri. Kata simbah kumpul tak kumpul yang penting makan. Hingga suatu hari ada kesempatan kita di Jakarta, sempat ketemu dan ber-reuni, cerita masa lalu menyenangkan sekali. Haha hihi huhu....sungguh indah di suasana yang semuanya sudah berbeda. Anak-anak dan cucu kita hanya melongo melihat oma-opanya cerita masa lalu.
Pembelajaran waktu itu masih terbawa hingga saat ini. Biar saya ke gereja tapi saat bulan puasa saya ikut puasa biar sendirian. Puasa sangat bermanfaat untuk pribadi. Memerangi hawa napsu, menyehatkan , melatih kesabaran dan lain lain.
Peristiwa itu tinggal kenangan. Idul fitri sekarang sudah berbeda. Apalagi saat pandemi melanda. Rumah dipasang spanduk. Ditutup dan tidak menerima tamu.Kita Video Call saja. Dari jakarta, Jogya, Muntilan, NTT tersambung bicara jadi seru.
Ini adalah sejarah dalam hidup kita. Dua tahun sudah. Semoga pandemi segera berlalu.
- SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1 syawal 1442
- MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Waingapu, 13 Mei 2021


Wah ... Toleransinya sungguh luar biasa 👍🏻👍🏻👍🏻 baca kisah saat masih kecil, seru sekali ya ... Ternyata benar, anak-anak akan selalu mengingat banyak hal 😊 buktinya meski telah puluhan tahun berlalu, kisah ini masih bisa dituangkan dengan manis dalam bentuk tulisan.
BalasHapusTerima kasih sudah berbagi 😊🙏🏻