Jumat, 14 Mei 2021

Idul Fitri Yang Indah

 

Oleh : Ledwina Eti Wuryani


Saat kami masih kecil dari SD  hingga SMP saya lebih banyak tingal dengan nenek.  Rumah Nenek ditengah,   rumah pak De sebelah barat dan rumahku sebelah timur. 3 Rumah besar bergandengan masing-masing ada lorongnya.

Kami 4 bersaudara ( Eti, Rita, Edi, Rudi) dan pakde 5 bersaudara ( mbak Tun, mas Joko, Mas Yanto, mbak Mun dan Wawan).Para cucu yang 9 orang lebih suka tinggal bersama nenek daripada di rumah sendiri karena bapak dan ibu sibuk. Moment paling membahagiakan adalah  saat bulan Ramadhan. Kami para cucu berlomba untuk puasa karena nenek selalu menjanjikan jika puasanya tak putus berarti nanti  akan  dapat hadiah ‘lebih’ istimewa. 

Walaupun kami berempat  agama  katholik, saya dan adik-adik saya  rajin puasa , apalagi kami  termotivasi ‘hadiah’ spesial dari nenek. Kami hidup rukun saling menghargai dan  saling menghormati.  Di depan rumah kami  mesjid besar.  Segala kegiatan  di mesjid  kami tahu, Sebagai  orang kristen saya tidak berani  masuk, tapi kalau saat terawih dan ada ‘kue’ jaman dulu saya pasti dapat  bagian. Bahagia sekali deh pokoknya. Sudah tradisi  kami  biasa berbagi tetangga/saudara kami yang kurang beruntung sekitar. Bukan nilainya tapi tanda cinta dan kebersaman yang utama. Bahagia sederhana, Saling menghargai, menghormati, rela berbagi iklas memberi. Kita bahagia, mereka  suka cita. Sungguh hal yang paling mengesankan. Hingga  lebaran tahun 2021 sekarang ini  pun  kebiasaan itu masih  berlaku. Indahnya perbedaan.

Saat belajar mengaji saya suka nemani mbak Tun, mas Joko, mbak Mun...anak pakde belajar mengaji. Bahkan satu-dua kata juga saya tahu waktu itu. Karena saya selalu puasa  rutin dan tak pernah  bolong  saya  selalu dapat hadiah spesial dari nenek yaitu   2 sepatu jenggel, tas dan baju baru 2 stel.  Yang pernah bolong hadiahnya hanya satu saja. Suatu kebanggaan yang luar biasa. 

Lebaran tiba, itu adalah saat terindah dan paling membahagiakan hidup bagi saya kecil. Saatnya untuk ‘tebar pesona’ memakai baju baru dan sepatu baru. Idul Fitri identik serba baru. Hati dan pikiran yang baru juga tentunya karena habis puasa, dosa sudah ditebus dengan puasa 30 hari. Kami disiplin Silaturahmi di seluruh keluarga. Dalam 1 hari  makan kita target  7 kali di luar rumah hahaha....sampai perut terasa kencang karena kekenyangan. Hal lain yang membahagiakan adalah dapat uang baru hasil dari ‘salam tempel’. Kita para  cucu berlomba untuk mendapatkan  uang dari para simbah, Pakde, Bu De, Pak Lik dan  bu Lik. Perjuangan itu kita sampai rela jalan kaki beberapa kilometer ke tempat saudara yang jauh. Di Paremono, Jumbleng, Bojong, Kojor, Borobudur dan desa lain tempat keluarga tinggal. 

Dengan hati antusias mulai ‘silaturahmi’  rumah pertama.  Yaitu simbah Padmorejo. Istilahnya ‘Ujung’ ( bahasa jawa tengah : Red). Bersujud dipangkuan simbah  memohon maaf atas kesalahan. Selanjutnya simbah memberi wejangan dan mendoakan agar kita tambah pinter sekolahnya, berbakti pada orang tua dan lain-lain. Saat yang membanggakan!. 

Kami tertib maju satu persatu  dari yang tertua dan yang terakhir yang termuda. Sambil menunggu giliran  kami menikmati sajian ‘kue’ lebaran  yang ‘nikmat’. Rengginan, Jipang,  roti panggang,  peyek dan lain lain. Ruang  tamu penuh dengan tatanan toples berisi kue lezat. Tape ketan dibungkus daun,  krasi’an, jenang dodol, kue lapis itu juga tak ketinggalan tersaji di meja. Minuman orson yang  hanya ada saat lebaran saja, hehe...

Tak ada rasa  malu. Kita lahap  makan kue yang tersaji. Selesai  bersalaman pasti langsung menuju belakang  untuk menikmati sajian berikutnya. Khas!. Opor ayam lengkap dengan sambal goreng hati, ketupat, krupuk udang, telur rebus dibumbu yang warnanya coklat. Asyik deh pokoknya. 

Peritiwa itu sunggah sangat kuingat sampai hari ini. Kini kita semua sudah tersebar. Aku di NTT. Adikku di Jakarta. Para cucu lain ada yang di Sumatra, Kalimantan. Tersebar di seluruh  Indonesia  mengikuti nasibnya sendiri-sendiri. Kata simbah kumpul tak kumpul yang penting makan. Hingga suatu hari  ada kesempatan kita di Jakarta, sempat ketemu dan ber-reuni, cerita masa lalu menyenangkan sekali. Haha hihi huhu....sungguh indah di suasana yang semuanya  sudah berbeda. Anak-anak dan cucu kita hanya melongo melihat  oma-opanya cerita masa lalu.

Pembelajaran waktu itu masih terbawa hingga saat ini. Biar saya ke gereja tapi saat  bulan puasa saya  ikut puasa biar sendirian. Puasa  sangat bermanfaat untuk pribadi. Memerangi  hawa napsu, menyehatkan , melatih kesabaran dan lain lain. 

Peristiwa itu tinggal kenangan. Idul fitri sekarang sudah berbeda.  Apalagi saat pandemi melanda. Rumah dipasang spanduk.  Ditutup  dan tidak menerima tamu.Kita Video Call saja. Dari jakarta, Jogya, Muntilan, NTT tersambung bicara jadi seru.

Ini adalah sejarah  dalam hidup kita. Dua tahun sudah. Semoga  pandemi segera berlalu.

  1. SELAMAT HARI RAYA  IDUL FITRI, 1 syawal 1442
  • MOHON MAAF  LAHIR DAN BATIN 


Waingapu, 13 Mei 2021






Semoga kita selalu tingal dalam 'kasih' Tuhan. Supaya  semakin bisa menjadi berkat dalam  kehidupan kita dari ha-hal yang kecil  untuk cinta yang besar. Semoga Orang-orang , saudara-saudara yang kita doakan, yang sakit, menderita, berkekurangan, usaha, pekerjaan, karya pelayanan selalu dilindungi, diberkati dan dibimbing oleh Tuhan yang maha Kuasa. Amin 





1 komentar:

  1. Wah ... Toleransinya sungguh luar biasa 👍🏻👍🏻👍🏻 baca kisah saat masih kecil, seru sekali ya ... Ternyata benar, anak-anak akan selalu mengingat banyak hal 😊 buktinya meski telah puluhan tahun berlalu, kisah ini masih bisa dituangkan dengan manis dalam bentuk tulisan.

    Terima kasih sudah berbagi 😊🙏🏻

    BalasHapus

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...