.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Eighty percent of the time writers stop writing is because of three lies they tell themselves” –Paul Angone

.

Paul Angone, penulis best seller “101 Secrets For Your Twenties” dan beberapa buku lainnya menyatakan, 80 % penulis berhenti menulis karena tiga kebohongan yang mereka katakan pada diri sendiri. Maka, mengetahui tiga jenis kebohongan ini, akan membantu Anda mencegah desakan untuk berhenti menulis.

No matter how successful someone is, we’ve all faced experience with temptation to stop doing whatever we set out to do –Paul Angone

Angone menyatakan, tidak peduli seberapa sukses seseorang, mereka semua pernah menghadapi godaan untuk berhenti melakukan aktivitas yang telah mereka jalani selama ini. Termasuk dalam aktivitas menulis. Ia berusaha untuk mempertanyakan kepada diri sendiri, mengapa muncul desakan untuk berhenti menulis?

Knowing what these lies are will help you notice them creeping into your writing process, which is the first step to preventing them from convincing you to quit writing –Paul Angone

Desakan ini, menurut Angone, muncul dari “the liar” –para pembohong. Kapan pun Anda mulai melakukan tindakan penting, terutama saat Anda mengalami kesulitan menuliskan kata-kata, “para pembohong” akan menggoda dan menghentikan Anda. Setiap saat, mereka berusaha meyakinkan Anda untuk berhenti menulis. “Jangan lanjutkan, berhenti saja. Tak ada gunanya”, kata para pembohong.

Whenever you move towards doing important work, and especially when you’re being vulnerable through your words, the Liar is going to try and stop you. Every time –Paul Angone.

Pada sebagian besar waktu, ketiga kebohongan ini akan terus menerus berusaha menghentikan Anda dari menulis. Jika mereka berhasil, berarti telah mencegah Anda menjadi penulis yang sukses.  Berikut adalah tiga kebohongan yang dihembuskna para pembohong, yang perlu Anda kenali agar dapat terhindar dari berhenti menulis.

1. Menulis Itu Harus Sempurna

Kebohongan pertama yang membuat orang berhenti menulis, adalah pernyataan menulis harus sempurna. Padahal, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Maka menuntut sempurna adalah mustahil.

Banyak musisi legendaris dunia, “ditemukan” oleh produser dengan cara yang uni. Sam Phillips menemukan bakat para musisi hebat, seperti Elvis Presley dan Johnny Cash, tidak melalui penelusuran kesempurnaannya. Baginya, kesempurnaan telah memenjarakan manusia.

“Perfect? That’s the devil. They should strike the damn thing out of the language of the human race” —Sam Phillips.

“Sempurna itu hantu”, ujar Sam Phillips. “Mereka harus mengeluarkan sempurna itu dari bahasa umat manusia,” lanjutnya. Phillips tidak mencari musisi berkelas yang tampak seperti orang lain, yang hebat. Dia mencari ‘bahan’ yang mentah dan asli –sesuatu yang sulit didapat jika seseorang berusaha untuk tampil sempurna.

Dalam menulis, banyak orang berharap menghasilkan karya yang sempurna. Mereka sedih dan gelisah saat mendapati karya tulis mereka jauh dari yang diharapkan. “Mengapa tulisanku tidak seperti Tere Liye? Mengapa tidak sebagus tulisan Dewi Lestari?” Maka mereka berhenti menulis.

It’s at the exact moment we feel like giving up that we need to keep writing. It’s in those moments we can’t let lies like perfectionism stop use from finishing our books –Paul Angone

Ketika godaan untuk berhenti itu datang, saat itulah kita harus terus menulis. Jika terus menulis, kita akan bisa mencapai titik puncak kemampuan. Kita bisa benar-benar menulis mahakarya, apabila teruis menerus menulis. Melawan ajakan untuk berhenti menulis.

Tepat pada titik di mana Anda merasa ingin menyerah itulah, Anda harus terus menulis. Jangan biarkan para pembohong membisikkan kebohongan tentang kesempurnaan tulisan. Anda hanya perlu menjadi diri sendiri, apa adanya, namun konsisten menulis.

Jika Anda terus menerus terobsesi untuk mencapai kesempurnaan karya tulis, maka itu adalah cara yang sempurna untuk tidak pernah menciptakan karya tulis apapun. Tinggalkan obsesi untuk sempurna, dan fokuslah untuk menulis, menyelesaikan karya.

2. Aku Gagal

Kebohongan kedua yang membuat banyak orang berhenti menulis adalah ungkapan “aku gagal”. Angone memberikan comtoh tentang Bob Ross, seorang instruktur seni.

Ross merasa telah menjadi instruktur seni yang gagal selama bertahun-tahun. Dia merasa begitu bangkrut sehingga melakukan penghematan dalam sangat banyak hal –termasuk dalam anggaran memotong rambut. Rasa gagal telah menggodanya untuk berhenti menjadi instruktur.

Dalam aktivitas menulis, seseorang cepat merasa gagal saat naskah yang dikirim ke koran dan majalah tidak ada yang dimuat. Seorang penulis yang naskahnya ditolak oleh penerbit mayor, merasa sebagai penulis yang gagal. Ia merasa tidak berharga, dan akhirnya menggoda untuk berhenti menulis.

“The master magician is the least magical person in the room. What we see as magic is someone’s years and years of painstakingly perfecting their craft. The magician is probably just the hardest-working person in the room and has excelled the best at learning through failure to perfect a craft that looks flawless” –Paul Angone

Paul Angone memberikan ilustrasi tentang pesulap. “Pesulap ahli adalah orang yang paling tidak memiliki sihir di ruangan itu. Apa yang kita lihat sebagai keajaiban saat melihat pertunjukan sulap adalah hasil bertahun-tahun seseorang berusaha memperbaiki keahliannya. Pesulap hanyalah orang yang bekerja paling keras di ruangan itu dan telah menjadi yang terbaik dalam belajar melalui kegagalan untuk menyajikan pertunjukan yang terlihat sempurna”.

“I spent about eight years of re-writing and re-editing just to get the grand privilege of being re-rejected again and again” –Paul Angone

Sebagai seorang penulis, godaan “saya gagal” cepat muncul saat postingan di media sosial mendapat kritikan pembaca. Terkadang, rasa gagal muncul saat postingan di media sosial tidak mendapatkan signal “like” dari netizen. Postingan tampak seperti diabaikan dan dicuekin, tak ada yang merespon.

Pada kenyataannya, banyak penulis terkenal yang mengalami penolakan demi penolakan. Naskah JK. Rowling ditolak beberapa penerbit, sebelum akhirnya meledak menjadi buku best seller dunia. Angone menyatakan, “Saya menghabiskan waktu sekitar delapan tahun untuk menulis ulang dan mengedit ulang, hanya untuk ditolak berulang kali”.

What I didn’t realize when this lie got in my way was that failure wasn’t ruining my story. Failure was helping me write it –Paul Angone

Sering kali, para penulis tidak menyadari bahwa sebenarnya kegagalan itu tidak merusak tulisan mereka. Kegagalan justri bisa membantu mereka untuk menuliskannya. Setiap ada penolakan, justru semakin menantang untuk menjadi lebih baik.

3. Aku Harus Berhenti Sekarang

Kebohongan ketiga yang dihembuskan para pembohong adalah ungkapan “aku harus berhenti sekarang”. Di saat merasakan gagal, dan menemukan bahwa hasil tulisannya jauh dari sempurna, ungkapan kebohiongan ketiga ini berdengung sangat kuat.

“Sudahlah, berhenti saja. Kamu memang tidak bakat menjadi penulis. Kamu bisa melakukan aktivitas lainnya”, ujar para pembohong itu.

I know that what I am writing about what is important. I know, deep down, that people out there are going to need my books—even if I can’t convince a publisher in that exact moment –Paul Angone

Angone mengaku, sudah sering merasa begitu dekat untuk menyerah begitu saja, dan melakukan pekerjaan lain yang lebih “normal”. Namun ada pertanyaan yang membuat saya terus menulis. “Who will I not be able to help if I give up now?”

“Jika saya berhenti menulis sekarang, siapakah yang tidak bisa saya bantu?” Ini adalah pertanyaan yang menggelisahkan Angone. Ia meyakini bahwa buku yang ia tulis adalah informasi yang penting. Ada banyak orang di luar sana akan memerlukan informasi di buku tersebut. Untuk itu ia tetap menulis, meski naskahnya ditolak oleh penerbit.

Because people need our stories.That’s what keeps me going and gives me chills. That’s my reason for not quitting. And I bet it will keep you going, too –Paul Angone

Kini Angone menjumpai banyak orang yang memberikan testimoni bahwa bukunya telah mengubah hidup mereka. Di titik itu ia bersyukur bahwa ia telah berjuang menyelesaikan bukunya. Ia bersyukur bisa menyelesaikan semua buku dan menerbitkannya.

Angone meyakini, ada banyak orang membutuhkan cerita kita. Keyakinan seperti itulah yang membuat ia terus menulis dengan semangat. Keyakinan itu yang menjadi alasan kuat untuk tidak berhenti menulis.

Five years from now, someone might be standing on a ledge and your work might be the exact truth they need. They need you to persevere. They need you to shut the mouth of the Liar that’s trying to stop you from writing –Paul Angone

Lima tahun dari sekarang, seseorang mungkin berdiri di tepian jurang. Tulisan Anda mungkin benar-benar jawaban yang ia butuhkan. Ingatlah selalu, ada orang-orang yang membutuhkan Anda untuk bertahan. Mereka membutuhkan Anda untuk melawan para pembohong yang berusaha menghentikan Anda dari menulis.

Bahan Bacaan