Kamis, 24 Juni 2021

Ayat-ayat cinta Seorang Guru

 Naskah Antologi
Tema :   Momen  Special Guru dan Siswa


Siapapun bisa menjadi Hebat.  Menjadi Guru  hebat  bukan datang dari langit, tetapi  dari proses yang ditempa di depan kelas. Mengajar juga bukan bakat,  tapi bisa  dipelajari.  Sebagai  guru  tentunya harus  mau dan rela  belajar, terus  belajar dan  berusaha mengikuti jaman yang  ada. Long life learning. 

Guru hebat bisa berperan sebagai  fasilitator, pembimbing  dan  menjadi kawan belajar  bagi peserta didiknya.  Punya jadwal yang  fleksibel,  selalu terbuka sesuai dengan kebutuhan, maksudnya  dimana saja, kapan saja  bisa  ditemui oleh siswanya  jika mereka  punya kesulitan atau masalah.  Guru hendaknya juga   bisa  menstransferkan ilmunya kepada peserta didiknya.  Bisa menjadi orang tua  dan juga bisa menjadi sahabat yang  setia, hingga bisa saja  tempatnya curhat peserta didik.

Sebagai seorang  guru saya harus  bisa refleksi diri. Sudah sampai di tingkat mana  saya sebagai guru pembelajar?  Bagaimana  jika  hingga saat aku sebagai guru yang  tidak mau belajar Informasi dan teknologi  (IT) ? Betapa  malunya aku? Peserta didik akan  memandangku dengan sebelah mata. 

Inilah  saatnya berbenah.  Saat berubah. Saat pandemi  anggap saja berkah. Tetap  belajar dan berkarya di tengah  wabah. Terus belajar menjadi  guru yang  dicintai , guru yang dirindukan siswa. Adakah  cinta guru kepada siswanya melebihi cintanya kepada anak kandungnya? Jadi saya sebagai guru harus bisa menumbuhkan  dan memelihara cinta tulus kepada siswaku di kelas. Seberapa  besar jumlah siswa di kelas, sebesar itu pula  cinta tulusku akan  kutumpahkan pada mereka semua. Ya, pada mereka semua. Kuanggap peserta didikkuku semua  manis-manis, pintar  dan rajin pula. 

Karena sebenarnya tak ada si bodoh,  si bandel  atau si nakal dan si malas. Yang ada adalah  mereka yang kebutuhannya belum terpenuhi. Setiap malam hari  aku berdoa untuk diri, keluarga dan tak lupa untuk  para siswaku. Terkhusus saat ini , dikala  wabah Virus  corona melanda dunia. Hingga  berdampak  juga untuk  pendidikan. Semoga semua selalu diberikan  kesehatan,  dijauhkan dari  ganasnya virus yang selalu mengitai semua kita. Tanpa pandang bulu. Usia, status sosial  bahkan  tenaga medispun termasuk sasarannya. Sedih sekaligus prihatin. 

Dulu....setahun yang  lalu saat pelajaran tatap muka, kita  bisa selalu bisa tebar pesona. Selalu bisa  senyum, saling sapa  saat bertemu siswa. Tapi Sekarang? Semua  jadi berubah,  pembelajaran juga  berbeda? Tentunya  momen spesial  dalam pembelajaran pasti  berbeda. Tapi ada. 

Peserta didik sekarang hanya di rumah saja. Belajar dirumah. Aktifitas dari rumah. Mereka  lebih leluasa  belajar,  bebas dan ‘merdeka’.  Jadwal pelajaran ada. Dalam kegiatan belajar mengajar kini dengan  BDR ( Belajar dari rumah). Belajar  dalam jaringan. Anak milenial  jaman sekarang sudah  banyak yang pintar tentang aplikasi pembelajaran  internet. Bahkan ada yang  lebih lihai dibanding gurunya. Tidak seperti gurunya yang kaum kolonial. Dulu belajar  komputer dari doc. wordstar, CW dan lotus, sudah  dianggap pintar. Guru Hebat. Sekarang ilmunya  sudah beda.  Semua serba plug  dan play. Bahkan ada istilah what you see is what yuo get ( Apa yang anda lihat adalah apa yang anda dapatkan). Kita para kolonial dipaksa belajar di era global. 

Saat pelajaran  matematika wajib,  jadwal di kelas XI IA 1 hari Senin jam pertama.  Jadwal mengajar mulai  jam 07.30 – 09.00 WITA. Aku pertemuan lewat zoom. Seolah-olah masuk dalam kelas senyum tulusku menebar ke semua siswa. Tak satupun  siswa  yang terlewatkan dari sorot  tulus dan jangkauan kasih sayangku. Action!!!...kubawa  duniaku ke dunia mereka.....dengan penuh semangat  mereka saling menyambut. Cukup 15  menit kita  saling bertatap muka. Menyampaikan pendahuluan , kegunaan materi. Jangan lupa selalu memotivasi dan  tersenyum manis di depan siswa. Rindu sudah  terbayar.   Kegiatan berikut ku kirimkan  viveo pembelajara tentang materi saat itu. Waktu 90 menit tak lama. Setelah anak-anak menyimak Video kita  aktifkan WA group  memberi kesempatan siswa  mengisi daftar hadir dan yang ingin bertanya. 

Untuk menjawab matematika tak mungkin tanpa menulis maka kusiapkan juga papan tulis di rumah untuk menjawab pertanyaan siswa. 15 menit  merangkum materi dilanjutkan dengan  tugas mengerjakan LKPD ( Lembar kerja peserta didik) untuk dikirim di Googleclassroom.  Begitu saja.  Cepat, Simpel , efektif, praktis dan menyenangkan. 

Tapi ada juga yang berkesan bagi saya. Beberapa anak tertentu  yang mereka tidak puas dengn pembelajaran online. Mereka datang ke rumah untuk bertanya yang kurang jelas. Saluuttt!. Saya bahagia sekali dengan anak yang  begitu.  Kesadaran belajarnya tinggi. Dia selalu ingin tahu.  Saya welcome yang penting   selalu ingat protokol kesehatan. Di rumah selalu  siap dan selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin bertanya tenang materi matematika SMA. Bahkan ada juga  dari sekolah lain yang datang bersama-sama mereka untuk tanya materi yang sama. 

Dengan tetap di materi  matematika tentang penilaian kognitif ( Ilmu pengetahuan). Matematika juga ada penilaian ketrampilan, saat ini  kubuat berbeda. Matematika bukan hanya berhitung saja, tapi perlu ketrampilan lain. Peserta didik  saya suruh membuat poster dengan tema “ Aku saat pandemi”. Dan menceritakan kegiatannya selama pandemi. Ternyata diluar dugaanku. Peserta didik jadi kreatif. Dari poster yang dibuat mereka bisa menunjukkan  kreatifitasnya. Anak banyak yang trampil.  Hasil dari coretan kertas terlihat kreatif dan indah. Selain itu ada yang  punya  ketrampilan baru Memasak, berkebun, membuat kue bahkan ada yang berjualan. 

Ada lagi yang special. Di tengah kejenuhan BDR  saya dan para murid  membuat video untuk bernyanyi bersama. Saya  sebagai guru membuat syair dan lagunya, Umbu Devid  sebagai pemain keyboardnya dan teman-teman lain yang menyanyikan secara bergantian. Hasil  divideokan. Videonya kita  posting di Fb dan youtube. Bagus deh, komentar positif bermunculan dari siswa sendiri dan dari para  orangtua siswa. Kenangan yang tak terlupakan.

Arman (bukan nama sebenarnya)  salah satu anak wali saya.  Dia dikenal anak dari keluarga berada. Ke sekolah dianrtar oleh supir pribadi. Anaknya  smart, pandai  dan penuh semangat. 5 bulan  terakhir dia berubah. Dia mendadak jadi pemalas dan cuek dengan tugas-tugas yang diberikan guru. Hampir semua guru yang mengajar mengeluhkan sikapnya kepada saya sebagai wali kelas. Saya jadi prihatin.  Kupanggil dia ke rumah, dengan  lama berbasa-basi sampai akhirnya saya masuk ke inti persoalan. Kupancing beberapa pertanyaan dengan ‘penuh  cinta’ sebagai seorang  ibu kepada anak kandungnya. Kenapa kau berubah? Akhirnya dia menangis dan berterus terang. Dia tumpahkan segala persoalan dan pergumulan hidupnya. Terharu,  sayapun jadi tenggelam dalam  cerita sedih yang ia sampaikan. Ayahnya masuk penjara karena narkoba. Dipenjara entah sampai kapan  selesainya. Mamanya jadi stress karenanya, sebagai anak pertama dia harus bisa  jadi contoh untuk ketiga adiknya. 

Singkat cerita, akhirnya dia semakin dekat dengan saya sebagai gurunya. Rajin datang, saya terus memotivasi, membantu sesuai yang kubisa. Kini dia merasa ‘berharga’.  Sakit hati karena terluka dan stress berangsung-angsur reda. Senyum  manisnya kembali  merekah, hati sudah merasa damai. Akhirnya gairah belajarnya  sudah kembali seperti semula. Intinya, semua hal  kalau beban  sudah tercurah pada orang lain yang dipercaya, yang berat menjadi ringan. Yang gelap akan   menjadi terang. 

Sinta, peserta didik saya pintar, cantik pula tapi karena salah pergaulan akhirnya hamil dengan Jefri adik kelasnya. Orang tua  sangat terpukul dan marah besar. Sinta  mau bunuh diri, tapi  saya dan guru BK terus menerus dengan penuh kesabaran, akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik. Walau akhirnya dia  harus keluar sekolah dan ikut ujian paket C.

Senang bisa menjadi  orang yang bermanfaat dan menginsipirasi. Sebagai seorang guru jika siswa suka dengan cara mengajar kita, mereka  akan merindukan kita. Kita melaksanakan on the  right track. ( belum sempurna tapi  sudah di jalur yang benar). Semua perlu proses. Tak ada kesempurnakan yang dimiliki  oleh manusia, hanya Tuhan saja yang memilikinya.

Apapun yang kita  lakukan dengan cinta yang tulus iklas pasti peserta didik juga akan  menerimanya dengan penuh cinta. Terbukti cinta mereka, saat ulang tahun guru  mereka memberi hadiah kepada gurunya. Saat mereka  mengadaan acara syukuran kelulusan, bukan  mengundang guru wali kelasnya  kok mengundang saya ‘aneh’ tapi nyata.   Itu  alah bukti  sebuah ‘kedekatan’. Cinta tulus mereka pada guru yang disayangi pastinya. Kebanggaan guru adalah jika siswa  selalu mengingat kita tentang kebaikan yang pernah kita buat untuk  mereka. Kedekatan hati  antara guru dan siswanya.

Dalam kegiatan belajar  tak perlu memberi tugas yang banyak. Nanti membebankan mereka. Cukuplah yang  sederhana. Yang penting mereka  bisa kerja dan enjoy dibuatnya. Merdeka belajar yang  dicanangkan pak  mentri  diharapkan dalam belajar anak merasa  nyaman dan bebas. Biarkan mereka  untuk  mandiri, berinovasi dan berkreasi. 

Supaya siswa tidak bosan saya, sebagai guru mencoba membuat metode belajar yang berbeda. Ibarat  seorang koki, kita harus  bisa menciptakan menu makanan yang berbeda walau yang  dimasak  bahannya sama. Tentunya ini diharapkan supaya  siswa semangat untuk  menyantap menu baru yang tersaji dengan  senang hati.  Pasti  sebagai buru akan bangga jika  menu yang    disajikan  laris manis dan dirindukan konsumennya. Hehe....itu harapan. Semoga.

Andai terdapat guru yang mempunyai ketulusan dan keiklasan tinggi, dialah guru yang hidup pada  zaman ini berdasarkan hidup diri Mahatma Gandhi. 

Andai ada guru yang mempunyai motivasi tinggi dan semangat bergairah, dialah wujud Sukarno presiden kita.

Andai ada guru yang sabar dengan penuh kasih sayang , dialah kesabaran yang membuncah dalam diri guru berjiwa Bunda Teresa. 


Tapi....sebagai guru harus rela melewati  padang yang luas, terjal dan tandus dengan  penuh cinta.  a Di situ juga terdapat bebatuan yang sering mengganjal perjalanan guru untuk mencapai  telaga kesegaran. Di dalam padangpun  terdapat  duri, walaupun kecil tapi kadang menyakitkan. Belum lagi  suasana saat melewati padang itu sangat panas  karena belum ada perlindungan yang pantas untuk guru agar tak kepanasan dalam gundah berkeringat

Namun.........seganas apapun  padang yang harus dilewati. Jika kita punya tekat kuat sekuat  matahari menyinari bumi, pasti ada jalan tak bisa ditempuh. Modalnya adalah niat dalam diri, tulus hati dan cinta  sejati. Jadilah  lilin yang  rela  mengorbankan diri  dan memberi diri  demi menerangi.  Salam untuk para guru yang seprofesi.  



#Waingapu , Rabu  23 Juni   2021
#Salam persahabatan
#Ingat 3 M, Menulis menulis dan Menulis
#5M Memakai masker, menjaga jarak, memcuci tangan dengan air yang mengalir, 
   menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas
#Semoga  Corana segera berlalu





 “Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Asli Magelang, Jawa Tengah. Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll. Buku Solo, “Mengungkap Rahasia”, “Bangga Jadi Seorang Penulis”,  Saat ini penulis tinggal   di  Jl Trikora  11 RT/RW: 010 / 003, Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...