Rabu, 09 Juni 2021

Learning Loss Masa Pandemi

 Tema: Merdeka belajar di Alam Kemerdekaan.
Asosiasi Pegiat Literasi Nusantara (APLN)

Oleh : Ledwina Eti Wuryani

Belajar  memang tidak selalu mudah, tapi ini saatnya kita berinovasi, ini saatnya kita  bereksperimen, mendengarkan hati nurani dan belajar dari COVID-19  agar kita  jadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.

-Nadiem makarim -

Gara-gara pandemi covid-19 berimbas pada berbagai aspek kehidupan.  Termasuk dunia pendidikan. Kini, semenjak pandemi  melanda  sekolah ‘ditutup’ sampai batas waktu yang tak tentu. Para Guru, siswa, bahkan orang tua harus  siap ‘berubah’. Pembelajaran yang semula dengan tatap muka beralih ke dunia maya  dan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan Pemerintah menerapkan sistem belajar dari rumah (BDR). Anak Merdeka belajar. Anak wajib belajar mandiri di rumah masing-masing!

Maksud merdeka  menurut  pak menteri  adalah   belajar untuk bebas berpikir, merdeka berpikir. Pak Nadiem memberi kesempatan  belajar sebebas-bebasnya  dan senyaman-nyamannya kepada peserta didik. Program BDR yang diluncurkan Kemdikbud yang sudah dilaksanakan dengan sistem Dalam Jaringan (Daring), Luar jaringan (Luring) atau bahkan kombinasi keduanya belum sepenuhnya efektif dilaksanakan. Hal ini adalah sebuah masalah. Faktanya masih banyak anak yang ‘tidak aktif’ belajar. Akan ada resiko ‘learning loss’.  Hal ini diprediksi  sejak adanya ‘penutupan’ sekolah. Bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. 

1. Peserta Didik yang berada di kota.

Yang  di perkotaan akses internet lancar. Infrastrustur ada.  Tingkat kesadaran  berpendidikan  anak dan orang tua terpenuhi. Tapi apa yang dilakukan  sebenarnya oleh peserta didik?  Teristimewa  ini  berlaku  untuk para orang tua yang  memiliki kesibukan di luar rumah.  Para Orang tua tidak bisa mendampingi anaknya  pada saat anaknya belajar di rumah. Anak-anak menghabiskan waktunya  dengan gadget dan internet.  Sehingga orang tua  mengeluhkan  kekhawatirannya terhadap anak-anak  mereka ketika BDR. 

Pada umumnya guru  hanya memberikan tugasnya melalui WA, dengan  mengirim materi pembelajaran dari You tube atau dari aplikasi lain yang membuat anak  jenuh dan bosan. Hal ini juga   karena  adanya komunikasi  ‘hanya’ satu arah. Anak merasa tidak ada bimbingan, tidak ada yang mengawasi apalagi perhatian. Dari pihak guru sendiri  juga kurang bisa mengontrol secara langsung kemampuan dan kompetensi dari peserta didik.  Hal ini anak jadi merasa  ‘bebas’ melakukan apa saja setelah  selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.

 Kadang merekapun ‘malas tahu’, entah tugas itu benar atau salah yang penting  sudah mengirimkan jawabannya. Terbukti dari tugas-tugas yang saya berikan. Soal yang sederhanapun, sebagaian dari mereka menjawab sekenanya. Sebagian besar nilai  jelek.  Nilainya jauh di bawah KKM. Itu berarti mereka asal-asalan mengerjakan soal.  Pada soalnya pilihan ganda setengah bagian yang tidak kerja. Jika soal yang diberikan esai kadang  mereka jawab juga semaunya. Bahasa-bahasa program copas dari hasil  searching ataupun  browsing  internet dituangkan mentah-mentah tanpa diedit atau ditelaah lebih dahulu. Khusus pada pelajaran matematika ada  notasi, simbol-simbol bahasa program, misal seperti tanda  “*”, “^”, “<”, “>”, “#”  yang seharusnya tidak ditulis. Mereka langsung saja tulis. Ada yang ‘hanya’ absen saja tak pernah kirim tugas.

Ada pula para peserta didik jika merasakan ‘kesulitan’ tentang tugas yang diberikan guru mereka  ‘abai’  tugas itu.  Waktu ‘selebihnya’  dipakai  untuk bermain game, you tube dan lainnya.  Hingga besar kemungkinan anak jadi mengalami  kecanduan gadget. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan  oleh orang tua. Seperti salah satu orang tua mengeluhkan anaknya karena  sering minta uang untuk membeli quota,  padahal quota yang dipakai untuk BDR hanya sedikit , selebihnya dipakai untuk main game. Ada juga yang  siswa sampai rela menggunakan uang jajan mereka  untuk membeli quota demi hobi barunya.

Padahal, banyak hasil penelitian  menunjukkan kecenderungan bahwa jika anak ‘berlebihan’  bermain gadget atau internet  dapat mengubah zat kimia otak.   Akhirnya  mempengaruhi  kondisi psikologis, kesehatan dan mengganggu interaksi social. Dengan kondisi ini, anak  cenderung mudah marah, stress, cemas berlebihan. Selain itu anak juga akan mengalami obesitas  karena malas bergerak.  Gangguan penglihatan dan sulit tidur. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan karena ‘pasti’ prestasi belajar mereka akan menurun.

2. Peserta Didik yang berada luar kota di kota ( di kampung).

Nah sekarang, yang  berpotensi mengalami Loss learning juga akan terjadi  bagi anak yang jangkauan internetnya susah. Infrastruktur tidak ada. Tinggal di kampung. Anak  yang tidak memiliki perangkat digital seperti HP Android, Lap top, pulsa paket internet serta anak-anak yang sekolah di daerah tertinggal atau pedalaman yang minim akses internet. Sebagaian dari anak-anak mengartikan bahwa tidak adanya tatap muka, peran sekolah bisa dikatakan ‘tidak ada’ dalam pembelajaran. Mereka benar-benar loss kontak. 

Jika ada jaringan,  karena  keterbatasan infrastruktur tetap menjadi masalah untuk siswa. Misal ketiadaannya kuota, tidak ada perangkat elektronik bahkan listrik. Orang tua juga memiliki dampak hingga terjadinya learning loss. Jika orang tuanya tingkat pendidikan rendah. Mereka tidak akan memotivasi anaknya untuk belajar. Bahkan mungkin justru  menganggap  daring itu pembelajaran yang mengada-ada. Karena tidak sekolah  seolah-olah  mereka merasa libur yang panjang. 

Peran Orang tua di rumah

Mengedepankan  pendidikan karakter yang bisa membuat siswa  memiliki motivasi  belajar dari dalam dirirnya  sendiri. Selama PJJ orang tua sangat  berperan dalam  mendampingi  anaknya dalam  karakter. Hal ini perlu  kita lakukan sebagai alternatif solusi agar learning loss tidak berdampak buruk. Jika guru tidak bisa  maksimal memberikan pelajaran, peran orang tua menanamkan  pendidikan karakter  sejak usia dini. Ini adalah  kunci penting  pemecahan  learning loss yang mungkin terjadi  pada siswa di masa  krisis seperti sekarang ini. Orang tua perlu  membuat aturan yang tegas dan jelas terhadap anak dalam penggunaan internet. Orang tua harus menerapkan disiplin  ketat pada anak. Gadget hanya boleh  diberikan saat  melakukan pembelajaran daring. Kalau bisa......orang tua membantu mencari referensi jika  perlu berkomunikasi dengan guru jika ada masalah terhadap anaknya. Ada cek dan ricek  atau komunikasi timbal balik.

Peran Guru

Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat penting. Hal ini bisa kita jelaskan dengan analogi guru sebagai seorang tukang masak (Chef).Seorang chef  harus bisa meramu resep masakan sehingga bisa menghasilkan masakan yang lezat rasanya. Jika rasanya nikmat, orang yang memakannya pasti akan ketagihan, ingin makan lagi setelah mencicipinya. Chef pun akan merasa senang dan semangat untuk membuat resep-resep lain yang berbeda.

Begitu halnya guru, jika guru mampu meramu pembelajaran daring dengan baik. Guru akan merasa senang dan tak sabar untuk memulai pembelajarannya. Sementara siswa akan menantikan pembelajaran dengan rasa penuh penasaran. Penasaran akan hal baru apa yang akan dilakukan gurunya di pembelajaran. Jika tidak seperti ini, pembelajaran daring bisa menjadi sangat membosankan. Apalagi tanpa adanya kreativitas dari guru dalam menyampaikan pembelajarannya. Sejatinya guru harus mampu menuangkan ide-ide kreatif dan inovatifnya menjadi sebuah proses pembelajaran yang baik sehingga siswa tertarik dan akan tetap semangat mengikuti pembelajaran daring.

Meminimalisir Resiko Loss learning.

Berdasarkan laporan penelitian-penelitian tersebut resiko learning loss memang sangat besar terjadi di masa pandemi. Namun, hal ini tidak seharusnya membuat kita berpangku tangan dan berdiam diri. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini, apalagi dengan kemajuan era teknologi digital seperti saat ini. Bagi yang tinggal di perkotaan atau di daerah yang relatif lebih mapan, learning loss bisa saja diminimalisir dengan membuat program pembelajaran dalam jaringan (daring) yang lebih maksimal, efisien dan efektif. Penggunaan berbagai macam platform pendidikan online bisa menjadi alternatif jalan yang sangat membantu pembelajaran siswa di masa pandemi sehingga siswa tidak terlalu tertinggal dalam belajar. Guru kreatif, siswa aktif orang tua komunikatif. Semoga!


Mari kita niatkan hati untuk terus belajar  dari pandemi bagi guru, siswa bahkan orang tua, mengikuti Era global, pembelajaran milenial untuk berpikir sukses. Berpikir Positif. Dan Berpikir jadi pemenang. Demi masa depan generasi kita. Salam Edukasi!.


Waingapu, 8 Juni 2021


Profil Penulis

 “Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Saat ini penulis masih tercata  sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll. Buku Solo, Kumpulan Cerpen ‘Mengungkap Rahasia’ Sekarang ini saya tingggal  di  Jl Trikora No. 11 RT/RW: 010 / 003, Kel.Hambala, Kec.Waingapu, Kab Sumba Timur.Prop. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.











                                                                                                


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...