Tema: Merdeka belajar di Alam Kemerdekaan.
Asosiasi Pegiat Literasi Nusantara (APLN)
Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Belajar memang tidak selalu mudah, tapi ini saatnya kita berinovasi, ini saatnya kita bereksperimen, mendengarkan hati nurani dan belajar dari COVID-19 agar kita jadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.
-Nadiem makarim -
Gara-gara pandemi covid-19 berimbas pada berbagai aspek kehidupan. Termasuk dunia pendidikan. Kini, semenjak pandemi melanda sekolah ‘ditutup’ sampai batas waktu yang tak tentu. Para Guru, siswa, bahkan orang tua harus siap ‘berubah’. Pembelajaran yang semula dengan tatap muka beralih ke dunia maya dan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan Pemerintah menerapkan sistem belajar dari rumah (BDR). Anak Merdeka belajar. Anak wajib belajar mandiri di rumah masing-masing!
Maksud merdeka menurut pak menteri adalah belajar untuk bebas berpikir, merdeka berpikir. Pak Nadiem memberi kesempatan belajar sebebas-bebasnya dan senyaman-nyamannya kepada peserta didik. Program BDR yang diluncurkan Kemdikbud yang sudah dilaksanakan dengan sistem Dalam Jaringan (Daring), Luar jaringan (Luring) atau bahkan kombinasi keduanya belum sepenuhnya efektif dilaksanakan. Hal ini adalah sebuah masalah. Faktanya masih banyak anak yang ‘tidak aktif’ belajar. Akan ada resiko ‘learning loss’. Hal ini diprediksi sejak adanya ‘penutupan’ sekolah. Bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia.
1. Peserta Didik yang berada di kota.
Yang di perkotaan akses internet lancar. Infrastrustur ada. Tingkat kesadaran berpendidikan anak dan orang tua terpenuhi. Tapi apa yang dilakukan sebenarnya oleh peserta didik? Teristimewa ini berlaku untuk para orang tua yang memiliki kesibukan di luar rumah. Para Orang tua tidak bisa mendampingi anaknya pada saat anaknya belajar di rumah. Anak-anak menghabiskan waktunya dengan gadget dan internet. Sehingga orang tua mengeluhkan kekhawatirannya terhadap anak-anak mereka ketika BDR.
Pada umumnya guru hanya memberikan tugasnya melalui WA, dengan mengirim materi pembelajaran dari You tube atau dari aplikasi lain yang membuat anak jenuh dan bosan. Hal ini juga karena adanya komunikasi ‘hanya’ satu arah. Anak merasa tidak ada bimbingan, tidak ada yang mengawasi apalagi perhatian. Dari pihak guru sendiri juga kurang bisa mengontrol secara langsung kemampuan dan kompetensi dari peserta didik. Hal ini anak jadi merasa ‘bebas’ melakukan apa saja setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.
Kadang merekapun ‘malas tahu’, entah tugas itu benar atau salah yang penting sudah mengirimkan jawabannya. Terbukti dari tugas-tugas yang saya berikan. Soal yang sederhanapun, sebagaian dari mereka menjawab sekenanya. Sebagian besar nilai jelek. Nilainya jauh di bawah KKM. Itu berarti mereka asal-asalan mengerjakan soal. Pada soalnya pilihan ganda setengah bagian yang tidak kerja. Jika soal yang diberikan esai kadang mereka jawab juga semaunya. Bahasa-bahasa program copas dari hasil searching ataupun browsing internet dituangkan mentah-mentah tanpa diedit atau ditelaah lebih dahulu. Khusus pada pelajaran matematika ada notasi, simbol-simbol bahasa program, misal seperti tanda “*”, “^”, “<”, “>”, “#” yang seharusnya tidak ditulis. Mereka langsung saja tulis. Ada yang ‘hanya’ absen saja tak pernah kirim tugas.
Ada pula para peserta didik jika merasakan ‘kesulitan’ tentang tugas yang diberikan guru mereka ‘abai’ tugas itu. Waktu ‘selebihnya’ dipakai untuk bermain game, you tube dan lainnya. Hingga besar kemungkinan anak jadi mengalami kecanduan gadget. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh orang tua. Seperti salah satu orang tua mengeluhkan anaknya karena sering minta uang untuk membeli quota, padahal quota yang dipakai untuk BDR hanya sedikit , selebihnya dipakai untuk main game. Ada juga yang siswa sampai rela menggunakan uang jajan mereka untuk membeli quota demi hobi barunya.
Padahal, banyak hasil penelitian menunjukkan kecenderungan bahwa jika anak ‘berlebihan’ bermain gadget atau internet dapat mengubah zat kimia otak. Akhirnya mempengaruhi kondisi psikologis, kesehatan dan mengganggu interaksi social. Dengan kondisi ini, anak cenderung mudah marah, stress, cemas berlebihan. Selain itu anak juga akan mengalami obesitas karena malas bergerak. Gangguan penglihatan dan sulit tidur. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan karena ‘pasti’ prestasi belajar mereka akan menurun.
2. Peserta Didik yang berada luar kota di kota ( di kampung).
Nah sekarang, yang berpotensi mengalami Loss learning juga akan terjadi bagi anak yang jangkauan internetnya susah. Infrastruktur tidak ada. Tinggal di kampung. Anak yang tidak memiliki perangkat digital seperti HP Android, Lap top, pulsa paket internet serta anak-anak yang sekolah di daerah tertinggal atau pedalaman yang minim akses internet. Sebagaian dari anak-anak mengartikan bahwa tidak adanya tatap muka, peran sekolah bisa dikatakan ‘tidak ada’ dalam pembelajaran. Mereka benar-benar loss kontak.
Jika ada jaringan, karena keterbatasan infrastruktur tetap menjadi masalah untuk siswa. Misal ketiadaannya kuota, tidak ada perangkat elektronik bahkan listrik. Orang tua juga memiliki dampak hingga terjadinya learning loss. Jika orang tuanya tingkat pendidikan rendah. Mereka tidak akan memotivasi anaknya untuk belajar. Bahkan mungkin justru menganggap daring itu pembelajaran yang mengada-ada. Karena tidak sekolah seolah-olah mereka merasa libur yang panjang.
Peran Orang tua di rumah
Mengedepankan pendidikan karakter yang bisa membuat siswa memiliki motivasi belajar dari dalam dirirnya sendiri. Selama PJJ orang tua sangat berperan dalam mendampingi anaknya dalam karakter. Hal ini perlu kita lakukan sebagai alternatif solusi agar learning loss tidak berdampak buruk. Jika guru tidak bisa maksimal memberikan pelajaran, peran orang tua menanamkan pendidikan karakter sejak usia dini. Ini adalah kunci penting pemecahan learning loss yang mungkin terjadi pada siswa di masa krisis seperti sekarang ini. Orang tua perlu membuat aturan yang tegas dan jelas terhadap anak dalam penggunaan internet. Orang tua harus menerapkan disiplin ketat pada anak. Gadget hanya boleh diberikan saat melakukan pembelajaran daring. Kalau bisa......orang tua membantu mencari referensi jika perlu berkomunikasi dengan guru jika ada masalah terhadap anaknya. Ada cek dan ricek atau komunikasi timbal balik.
Peran Guru
Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat penting. Hal ini bisa kita jelaskan dengan analogi guru sebagai seorang tukang masak (Chef).Seorang chef harus bisa meramu resep masakan sehingga bisa menghasilkan masakan yang lezat rasanya. Jika rasanya nikmat, orang yang memakannya pasti akan ketagihan, ingin makan lagi setelah mencicipinya. Chef pun akan merasa senang dan semangat untuk membuat resep-resep lain yang berbeda.
Begitu halnya guru, jika guru mampu meramu pembelajaran daring dengan baik. Guru akan merasa senang dan tak sabar untuk memulai pembelajarannya. Sementara siswa akan menantikan pembelajaran dengan rasa penuh penasaran. Penasaran akan hal baru apa yang akan dilakukan gurunya di pembelajaran. Jika tidak seperti ini, pembelajaran daring bisa menjadi sangat membosankan. Apalagi tanpa adanya kreativitas dari guru dalam menyampaikan pembelajarannya. Sejatinya guru harus mampu menuangkan ide-ide kreatif dan inovatifnya menjadi sebuah proses pembelajaran yang baik sehingga siswa tertarik dan akan tetap semangat mengikuti pembelajaran daring.
Meminimalisir Resiko Loss learning.
Berdasarkan laporan penelitian-penelitian tersebut resiko learning loss memang sangat besar terjadi di masa pandemi. Namun, hal ini tidak seharusnya membuat kita berpangku tangan dan berdiam diri. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini, apalagi dengan kemajuan era teknologi digital seperti saat ini. Bagi yang tinggal di perkotaan atau di daerah yang relatif lebih mapan, learning loss bisa saja diminimalisir dengan membuat program pembelajaran dalam jaringan (daring) yang lebih maksimal, efisien dan efektif. Penggunaan berbagai macam platform pendidikan online bisa menjadi alternatif jalan yang sangat membantu pembelajaran siswa di masa pandemi sehingga siswa tidak terlalu tertinggal dalam belajar. Guru kreatif, siswa aktif orang tua komunikatif. Semoga!
Mari kita niatkan hati untuk terus belajar dari pandemi bagi guru, siswa bahkan orang tua, mengikuti Era global, pembelajaran milenial untuk berpikir sukses. Berpikir Positif. Dan Berpikir jadi pemenang. Demi masa depan generasi kita. Salam Edukasi!.
Waingapu, 8 Juni 2021
Profil Penulis
“Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG, nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Saat ini penulis masih tercata sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll. Buku Solo, Kumpulan Cerpen ‘Mengungkap Rahasia’ Sekarang ini saya tingggal di Jl Trikora No. 11 RT/RW: 010 / 003, Kel.Hambala, Kec.Waingapu, Kab Sumba Timur.Prop. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Alamat blog: etiastiwi66.blogspot.com. No HP / WA 085 230 708 285 Motto: Semangat dalam menggapai cita-cita , tersenyum dalam setiap perjuangan, berdoa dalam setiap usaha, Tuhan pasti memberikan keberhasilan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar