Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Pernahkan disaat tidur anda bermimpi indah dan ketika bangun jadi kecewa, karena ternyata kejadian indah itu hanya sebuah ilusi semata? Jawannya pasti ada. Setiap orang pasti punya cerita yang berbeda. Di bawah Ini jawaban dalam ziarah hidupku.
Mungkin kisahku ini biasa saja. Bukan hal yang fantastis. Namun aku selalu yakin bahwa setiap perjalanan kehidupan manusia selalu ada hikmah yang bisa diambil. Sekelumit perjuangan meraih mimpiku untuk menjadi orang yang bermartabat, bermanfaat, smart dan penuh semangat.
Aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Bapak seorang guru jamannya pak Umar Bakri sekitar tahun 1963 pensiun tahun 2000 dan ibu dirumah saja. Ada sebidang tanah untuk tanam sayur sekedar menambah income keluarga. Jaman itu gaji bapak masih sedikit dan harus bisa mencukupkan hidup dan sekaligus menyekolahkan kami.
Sebagai seorang guru bapak punya mimpi anaknya semua berhasil. Berharap anaknya sekolah ditempat yang bapak inginkan sejak bapak masih pemuda dulu. Kami tinggal di kampung, Gejayan, kelurahan Gondowangi, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Masih termasuk daerah lereng gunung Merapi di Jawa Tengah. Setelah kami lulus SMP cita-cita bapak semua anaknya harus bisa sekolah Jogyakarta. Jogya adalah Kota pelajar yang tentunya sekolah di situ harus kos. Sebagai anak pertama saya yang lulus duluan. Sekolah tujuan adalah SMA Tarakanita Stella Duce. Sekolah swasta yang sangat terkenal saat itu. Sekolah yang notabene mayoritas China. Seluruh siswa yang berjumlah sekitar 1000-an orang perempuan semua. sebagai anak pribumi asli kampung dengan modal gaji sebagai guru memang harus punya nyali dan mental yang kuat.
Dengan modal nekat Bapak mendaftarkan saya disitu, puji Tuhan akhirnya saya diterima. Sebenarnya saya sudah diterima di sekolah negeri, tapi karena keinginan bapak, sebagai anak perempauan saya tidak ingin mengecewakan Bapak. Akhirnya saya menuruti saja apa kata bapak. SMA Stella Duce juga disiapkan Asrama. Lulus jadi siswa baru berarti harus asrama. Bapak berharap saya bisa sekolah baik-baik jika tinggal di asrama.
Asrama disediakan 2 tempat, yaitu Asrama Panti Rapih dan asrama Supadi. Karena peminat asrama banyak, saya sedikit lambat mendaftar. Akhirnya saya tidak dapat tempat di asrama. Bapak sedih. Sayapun turut prihatin, seolah cita-cita bapak kandas. Akhirnya bapak berpikir keras bagaimana caranya supaya saya bisa tinggal di asrama.
Kami tanya ibu Har, beliau adalah ibu asrama Jl. Supadi. Asrama dekat sekolah, Suster kepala adalah Sr Bernadia. Beliau Dekan Teknik Kimia Universitas Atmajaya. Suasana asrama begitu asri, indah, sepi dan serasa nyaman. Penghuni asrama kelihatan begitu tertib, anak-anaknya manis-manis dan terlihat ramah, sopan dan berkarakter. “Pasti ini karena ajaran dan pendampingan orang-orang terdidik”, batinku.
Jarak Rumah kami ke Jogya sekitar 40 km. Selama penerimaan siswa baru sampai tes masuk dengan setia bapak mengantar, menemani dan menunggu saya, dilaju pulang pergi. Awal sebuah perjuangan mewujudkan mimpi, supaya saya bisa sekolah di sekolah favorit yang dimimpikan bapak. Saya sudah resmi jadi siswa Stella Duce. Perjuangan berikutnya harus bisa tinggal di asrama.
Bapak orangnya gigih. Apapun yang diharapkan harus terwujud. Benar!, pagi-pagi hari berikut kami start dari rumah menuju Jogya dengan naik motor kesayangan. Motor honda L2S tua yang selalu setia menemani kami kemana saja. Dengan jalan kecepatan tinggi Sekitar 33 menit kami sudah sampai di Jogya. Kami langsung menuju asrama untuk menemui ibu asrama. Harapan kami semoga ada yang batal tinggal di asrama atau mengundurkan diri. Itu kami lakukan terus selama 3 hari berturut-turut pp alias pulang pergi.
Setelah ketuk pintu, Ibu Asrama menemui kami. Bapak memberanikan diri untuk bertemu dengan Suster kepala lagi. Asrama di situ sangat ketat. Semua kegiatan diatur dengan jam , jam bertamu, jam belajar, jam ibadah dan lain-lain. Jadwal tertulis jelas di kamar tamu. Karena saat itu belum jam tamu, Kami tahu diri akhirnya kami pamit dulu untuk tunggu di luar sampai waktu jam bertamu tiba.
Sambil menunggu jam bertamu pukul 16.00 WIB, kami cari makan di penjual kaki 5 di depan asrama. Karena lapar Kami pesan 2 piring nasi rames. Murah meriah. Nikmat rasanya jajan dipinggir jalan, kami tak berani makan di Mirota bakery takut mahal bayarnya.
Bu Har memberitahu kalau Suster orangnya sibuk jadi pulangnya tidak pernah pasti. Dengan tekat bulat kami akan tetap menunggu dan terus menunggu sampai bertemu dengan Suster. Setelah jam 16.00 kami datang lagi ke asrama. Kami ketuk pintu ada seorang Siswa Stece ( Stella Duce) penghuni asrama membukakan pintu. Bapak bertanya, “Apakah Suster ada? . “Ada“ , jawab anak asrama. Sebelum memanggilkan suster dia mempersilahkan kami duduk. Saya membayangkan begitu bangganya kalau saya bisa tinggal di asrama itu. Batinku. Chiee...mimpi dulu.
Tak berapa lama Suster Bernadia keluar. Beliau ramah sekali. Dengan senyum dan tatapan yang adem beliau menyapa kami. Nyesss... rasa hati ini. Harap-cemas, harap cemas akan jawaban suster, karena sebenarnya bu Har Sudah 3 kali 3 hari kasih tahu kalau asrama susteran sudah penuh. Daya tampung asrama hanya 60 orang dan sudah pas!.
Ternyata benar, Jawaban suster sama. Sedih, kecewa, rasa hati kami. Terasa sesak di dada ingin menangis rasanya. Akhirnya kamipun pulang dengan langkah gontai. Disepanjang perjalanan bapak menceritakan kekecewaannya. Saya juga ikut sedih. Daertah Istimewa Yogyakarta, kota provinsi, kota besar dengan segala bingar- bingarnya kehidupan. Jika saya kos, saya yang notabene anak kampung, lugu, kuper. Bapak tak tega saya kos diluaran yang tak jelas. Bapak takut saya kena pengaruh /hal negatif. Selain itu betapa repotnya nanti harus bayar kos, biaya makan, bayar transpot dll dst.
Berpikir jika tinggal diasrama hanya tinggal ‘belajar’ semuanya sudah difasilitasi. Letaknya dekat sekolah pula. Makan sudah disediakan. Hidup teratur, dibimbing, didampingi. Yach pokoknya semua mendukung deh. Semalam suntuk bapak tak bisa tidur, saya pun kecewa luar biasa. Akhirnya pagi berikutnya kami pergi lagi ke Jogya. Kami menyelesaiakan administrasi di sekolah menyerahkan berkas-berkas dan kelengkapan pendaftaran. Menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi hingaa jam 11.00 WIB. Jam bertamu di asrama jam 16.00. Tak mungkinlah kami pulang ke Muntilan yang jaraknya 40 km. Kami menunggu dengan penuh setia di depan asrama, sambil sesekali ngobrol dengan penjual es doger di situ, dengan tukang sol sepatu atau dengan orang-orang yang jualan di pinggir-pinggir jalan.
Tak terasa tibalah waktunya bertamu. Dengan modal tak tahu malu dan tak tahu diri kami ketuk pintu asrama. Bu Har yang membukakan pintu itu.....”Eh! bapak lagi”. Iya ibu...maaf, ingin sekali lagi ketemu Suster kepala, kata bapak memohon dengan penuh belas kasihan. Bu Har pun mempersilahkan kami duduk menunggu kedatangan suster. Sekitar 1 jam kami menunggu suster. Akhirnya penantian pun tak sia-sia. Suster dengan becak masuk halaman asrama. Kemudian beliau masuk. Sambil nyengir kami berdiri dan memberikan hormat kepada Suster.” Eh bapak lagi” sapa Suster pada kami.
Tunggu ya, saya masuk dulu, “sapa suster kepada kami”. “Baik Suster, trimakasih”, jawab bapak. Sambil menunggu suster, doa dalam hati kudaraskan semoga saya bisa tinggal di asrama ini. Sekitar 15 menit kami menunggu suster, akhirnya beliaupun muncul. Bapak adalah sorang guru PPKN dan budi pekerti yang mengajarkan tata krama di sekolah. Saya akui bapak pinter menghiba, memohon belas kasihan, semoga kali ini bisa berhasil. Terbukti kemarin waktu wawancara tentang uang gedung di sekolah teman-teman lain bayar selangit, kami dapat super murah, berkat kelihaian ‘bahasa’ bapak saya hanya bayar 50 ribu setara gaji bapak 1 bulan waktu itu. Itupun dicicil sampai 5 kali selama 5 bulan.
Singkat cerita dengan berbagai cerita fakta dan nasib saya dan lain-lain. Antara lain yang bapak sampaikan kepada suster kepala. “Suster saya ingin sekali anak saya sekolah disini sejak saya masih bujang dulu. Saya bermimpi anak saya sekolah di SMA dan di asrama ini. Biar tidur di kolong tempat tidur yang penting anak saya bisa masuk asrama ini. Semoga Suster berkenan memberi tempat. “Saya tidak akan keluar dari rumah ini sebelum suster mengijinkan anak saya tinggal disini”, suara bapak memohon dan setengah mengancam.
Sebenarnya suster juga sudah menunggu semoga ada yang mengundurkan diri , tetapi ternyata tidak ada!. Suster terlihat berfikir keras. Suasana sunyi, sepi bagai kuburan..hanya detak bunyi jam dinding saja yang nyaring terdengar. Bapak.....ini jika anak bapak mau. Sebenarnya ada satu tempat tidur yang kosong, tempat tidur itu tingkat, sementara hanya mbak Menuk yang tidur di bawah. Kami ada 5 orang asisten rumah tangga, ada 6 tempat tidur jadi 1 itu tidak ada tuannya, kasurnya memang ada. Kalau mau...ini kalau Eti mau, bisa tidur di situ.
Nyesss...ternyata doaku terjawab. Trimakasih Tuhan. Bapak dan Suster nawarkan itu padaku. Tanpa pikir panjang akupun mengiyakan. Aku sangat senang. Bapak jadi lega dan berterimakasih berluang-lulang kepada suster.
Benarlah kini saya bisa tinggal di asrama, tak penting saya tinggal bersama dengan pak Yem, mbak Menuk, mbak Mimin...mereka asisten rumah tangga. Justru aku merasa bersyukur. Aku jadi di sayang mereka. Susterpun sayang jadinya. Aku tetap belajar dengan baik. Justru aku di asrama dapat tugas setiap hari memberi makan kucing kesayangan suster yang banyak sekali. Mereka diberi nama semua. Mince, Tince Lince,...yah pokoknya mereka semua punya nama. Lucu. Setiap Suster punya makanan enak dari luar negeri saya selalu dapat bagian.
Tak heran kalau akhirnya saya di asrama jadi gendut. Padahal saya orangnya pendek hanya 150 cm tingginya. Ini berkat makan terjamin kue setiap hari bisa ambil sendiri di dapur. Yang lebih membahagiakan hati, ternyata suster melarang kami membayar asrama. Alias gratis. Memamg! Rejeki tak pernah salah alamat. Saya Selalu berdoa, bersyukur atas nikmat Tuhan. Tuhan akan selalu memberikan kemudahan dan Kenikmatan. Tuhan selalu memberikan harapan pada orang yang tidak mudah menyerah. Tuhan bisa memberikan Mujizat pada yang percaya dan tidak meninggalkan mereka dan berjalan bersamanya. Doa itu seperti kebun. Jika terus dipeliara maka doa akan berbuah
Ajaran itu yang bapak selalu berikan untuk pegangan hidup. Kini saya sudah nyaman tinggal di asrama, tahun berikutnya adikku menyusul tinggal bersama. Nah karena adikku bersama teman-teman di kamar depan, adikku membayar sesuai tarif asrama. Tahun berikut Suster memberi peluang kepadaku aku pilih tinggal di depan atau tetap tinggal bersama mbak Yem di belakang. Dengan mantap aku milih tinggal di belakang saja. Aku sudah biasa bantu-bantu mbak-mbak untuk kerja di dapur.
Selama 3 tahun saya di asrama gratis dan setelah aku lulus SMA suster masih memintaku untuk tinggal di asrama menjadi pendamping anak – anak asrama. Duh senangnya aku. Setiap mbak-mbak dapat hadiah sayapun pasti dapat bagiannya, seperti tas, baju baru dan lain-lain. Selain kuliah dan menjadi pendamping anak-anak diasrama saya masih boleh memberi les di luar. Masih ingat anak les saya bernama Ananto dan 2 Adiknya yang les prifat dengan saya dari kelas 1 SMP sampai lulus SMA. Lumayan juga dapat uang bulanan dari keluarga mereka, bisa meringankan beban orang tuaku.
Sebenarnya saya masih senang tinggal di asrama, suster juga masih mengharapkan aku tetap tinggal. Tapi Rencana jadi berubah setelah adikku no 2 lulus SMA kedua adikku lagi harus sekolah di jogya juga. Kami berempat tidaklah mampu orangtuaku menyewa kos ditempat yang berbeda-beda.
Akhirnya kami rapat keluarga. Bapak menyarankan aku keluar dari asrama. Bapak sewa sebuah rumah. Rumah itu kita sulap menjadi warung makan sederhana. Kita lengkapi, meja, kursi,etalasi dan semuanya. Kesimpulannya Bapak dan ibu melatih kami untuk hidup mandiri. Sekolah sambil berjualan.
Kami bersaudara nama saya Eti Wuryani. Eli Wuryandari adikku nomor dua, Edi Wuryanto adik laki-laki nomor 3 dan disusul Rudi Wurdiayanto si bungsu. Saat mulai sewa rumah saya ambil keguruan ikatan dinas jurusan matematika di Sanata Dharma Jogyakarta dan adikku Eli kuliah di UGM jurusan Elektornika dan Instrumentasi ( ELIN) kedua adikku laki-laki masih SMA. Benar-benar kami hidup mandiri, kuliah sampil buka warung. Menu yang kami jual adalah Nasi campur, Soto ,bakso dan segala Es ( Es teh, es campur , dll). Warung kami di depan SMA-nya adikku no 3 . SMA De Britto, Sekolah yang menurut kami sekolah favorit dan bergengsi dari saat itu sampai sekarang. Biaya sekolah lumayan mahal bagi ukuran kami.
Dengan tertatih-tatih, penuh derita , letih dan lelah kami tak ingin mengecewakan harapan orang tua. Bapak tetap sebagai PNS, untuk mencukupkan kebutuhan kami. Perjuangan bapak selain mengajar di sekolah Utama SPG Van lith beliau juga mengajar di SMA Pendowo dan STM Pangudi Luhur. Ibu selain kerja sawah juga sambil merias pengantin . Maklum perias pengantin kala itu belum se-ekskekutif sekarang, tapi lumayan untuk menambah income keluarga.
Hari terus berjalan, kami pun tetap semangat menjalankan usaha kecil itu dengan dibantu Yu Tinuk dan mbak Sri yang jadi tukang masak. Setiap jam 01.00 dini hari kami sudah belanja ke pasar mengejar harga murah . Jika belanja sudah lewat jam 02.00 WIB harga sudah dari orang ke-2 begitu seterusnya. Semakin siang, harga barang semakin mahal. Keluarga besar kami yang orang jawa tulen punya falsafah, bangun harus pagi, jika kita tak bangun pagi rejeki akan hilang dipatok ayam yang sudah bangun duluan.
Malam terlalu larut. Ngantuk ini tak tertahankan. Aku menahan kantukku sekuat tenaga karena saya harus ujian besok. Saya merasa belum siap. Materi yang kupelajari banyak dan saya belum terlalu paham. Kuambil satu ember air kurendam kakiku agar aku bisa tetap melek. Kalau dituruti maunya diri ini berlari menghampiri bantal yang ada di tempat tidur lalu merebahkan tubuh, melepaskan rasa penat yang sudah kutahan dari sore. Aku harus kuat, tetap semangat!, niatkan hati. Biarpun ada ujian tugas rutin tak boleh alpa. Tak boleh juga mengeluh. Kita tetap harus komitmen dengan jadwal yang sudah diatur.
Jam 06.00 sudah ada pelanggan yang sarapan. Setiap jam istiraht para siswa dari SMA sudah menyerbu soto dan bakso kami. Jadi sebelum jam 10.00 kami sudah racik sekitar 30 mangkok soto dan bakso, beberapa gelas Es. Jadi kita sepakat bersama adik-adik atur jadwal untuk menjaga warung. Jadwal kita tempel di pintu kamar supaya semua kami bisa saling bertanggung jawab.
Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Bulan selalu berjalan maju. Tahun pun berganti. Hingga akhirnya tak terasa semua kami berempat lulus kuliah 2 adik saya alumni UGM dan yang bungsu Atmajaya jurasan Teknik Sipil. Ketiga Adikku kerja di jakarta. Mereka semua sudah berkeluarga dan bersyukur sudah bisa hidup mapan.
Tahun 2009 bapak meninggaal, akhirnya Adik bungsu yang sudah kerja di Waskita Karta Jakarta harus rela mengundurkan diri karena harus menjaga ibu yang sendirian. Saya yang kuliah guru dan ikatan dinas setelah lulus ditempatkan di Timor-timur. Karena Timtim merdeka Akhirnya kami ikut mudik di tanah kelahiran Suami. Saat ini kami masih tercatat sebagai guru di SMA negeri 2 Waingapau, Sumba Timur NTT.
Demikianlah perjuangan hidupku aku adik-adikku. Pendidikan mempunyai akar yang pahit tapi buahnya manis. Hidup itu seperti naik sepeda terus mengayuh agar tak jatuh. Tak ada keberhasila tanpa usaha dan kerja keras. Jangan mengeluh tapi teruslah berusaha. Terus belajar untuk menggapai harapan. Good Fighter never show the pain. Petarung yang kuat tidak pernah menunjukkan pesakitan.
Sukses adalah hak Anda tetapi bekerja keras, selalu belajar, dan tidak pernah menyerah adalah kewajiban kita manusia.
Salam Literasi!
Waingapu, 7 Juni 2021.
“Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG, nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April 1966. Sekarang ini masih tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll ( 12 buah) . Buku Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia” Penulis tingggal di Jl Trikora RT/RW: 010 / 003 Keluarahan Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT.alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. No HP / WA 085 230 708 285.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar