Oleh
: Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Saat kugembira , engkau memelukku. saat aku sedih , engkau
menghiburku. Saat kusendiri , hanya engkau saja yang
menemani. Disaat aku sakit, engkau dengan penuh kasih sayang merawatku. Betapa
besarnya cinta dan kasih sayangmu
padaku. Betapa luasnya samudra
hatimu. Semoga aku bisa membalas cintamu. Dari hati yang tulus kudoakan selalu
ibuku......
Aku adalah anak
pertama dari 4 bersaudara. 1 adikku perempuan (Rita) dan 2 laki-laki ( Edi dan
Rudi) . Masa kecilku begitu bahagia.
Hidup kami saling mencinta dan saling mengasihi antara aku dan
adik-adikku. Ibuku begitu perhatian padaku. Saat aku SD aku sekolah di
kampung yang jaraknya dari rumah sekitar
4 km. Kami berempat jalan kaki menuju SD yang sama.
Bapak seorang guru yang gigih. Mengajar dengan motor
bututnya. Motor L2S kesayangan yang selalu setia menemani bapak mengajar. Hingga
motorpun ikut bekerja dengan peluh dan air mata. Motor itu meneteskan olinya
tanda capek, tapi tak bisa berbuat banyak. Kadang untuk beli oli juga masih tunggu gajian
yang sebulan sekali. Tapi tetap harus
semangat demi pengabdian sebagai abdi
negara. Berjuang untuk masa depan anak bangsa. Tentunya agar kelak mereka hidup
lebih baik bapakku.
Saat itu adalah jamannya pak Umar Bakri. Semoga masih ingat. Pagi-pagi
berbekal nasi dari rumah untuk makan siang di sekolah. Karena Bapak mengajar di beberapa sekolah. Dia kadang
sampai sore demi mencukupkan kebutuhan
keluarga. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga, yang setia melayani bapak,
aku dan tiga orang adikku. Disamping ibu memasak, mencukupkan dan melayani makan dan minumku, ibu adalah seorang petani. Kerja sawah tak kenal lelah. Pagi
buta beliau bangun memasak untuk kami semua. Setelah kami berangkat ke sekolah ibu kerja sawah. Sawah ditanami
padi dan sayuran. Hasil sawah untuk
kehidupan harian kami dan yang
lain dijual untuk ditukar kebutuhan,
seperti sabun, minyak tanah atau kebutuhan sembako.
Dengan setia
dia mengerjakan rutinnya di
sawah. Ibu tak pernah mengeluh. Ibu selalu
senyum. Aku tahu susahnya kala
itu. Yang aku tahu ibu selalu mencukupkan kebutuhanku. Dari menyiapkan makanan sampai kebutuhan sekolahku. Aku ingat ibu juga suka mengajariku saat aku
mendapat PR dari guruku. Ibu
juga membagi jadwal kerja harian untuk kami. Masing-masing kami punya tugas.
Cuci piring, menyapu lantai, cuci pakaian dan lain-lain. Kami saling membantu
jadi pekerjaan banyak terasa ringan.
Berkat
ibu, aku dan adikku sering jadi contoh
bagi teman-temanku. Bapak ibu guru
sayang dengan kami. Menjadi peringkat kelas sudah menjadi langgganan saat aku dan adikku masih SD. Di sekolah
kami ingin membanggakan orang tuaku. Hinga kini aku masih ingat para guru SD-ku.
Pak Dawud, pak Yatno dan Rismantoro. Guru Wanita ibu Suryani.
Yang jelas ketika aku pulang mudik dan setiap hari raya para gurupun tak
pernah lupa pada kami. Itu yang membuat
aku bangga dan bahagia dulu hingga kini.
Semasa SMP saya
harus jalan kaki sejauh 7 km setiap hari. Menyusuri pematang sawah dan
menyeberang 2 sungai besar. Ada
berkat karena selalu jalan kaki dan
berlari setiap hari jika ke sekolah, kami akhirnya jadi pelari. Pernah jadi juara lari
mewakili sekolah sampai karesidenan. Setiap
jalan, sepatu dipegang bukan dipakai supaya awet agar tak cepat rusak. Setelah dekat sekolah
baru dipakai, hehe…. Harapanku supaya ibu
tidak sering beli sepatu . Dua tahun berlalu. Karena kasihan, akhirnya ibu memintaku untuk kos hingga lulus SMP.
Ibu tak pernah pelit mengeluarkan uang untuk aku dan adikku. Ibu selalu mendidik kami mandiri. Tak boleh cengeng, harus
rajin dan tekun. Kami selalu dicukupkan,
walaupun hidup kami sederhana. Tentunya uang dari bapak dan dari hasil kerja
ibu di sawah harus dicukup-cukupkan.
Sungguh terimakasih dan bangga punya
orang tua yang baik dan sayang pada
kami.
Cerita yang
selalu kuingat. Saat musim memetik
lombok hasil sawah,
kami yang memetiknya, begitupun hasil
sayur mayur. Kami menjanjakan
hasil sawah ke tetangga atau ke pasar. Kami senang menjajakan hasil sawah karena akan dapat upah dari ibu. Betapa
senangnya. Uang bisa untuk membeli sesuatu , misal tas baru atau sepatu baru.
Yang namanya barang baru adalah sesuatu yang membanggakan saat itu.
Masuk SMA pun tak tanggung-tanggung kami disuruh memilih sekolah yang paling jauh.
Kata mereka (bapak dan Ibu) sudah
bercita-cita sejak mereka (Bapak dan ibuku)
pacaran, hehe… Sekolah di Jogyakarta. Kota pelajar. Rumah kami Jawa Tengah dan
kami SMA di kota propinsi yang berbeda,
DIY (Daerah Istimewa Jogyakarta). Sekolah Tarakanita, yang kata orang
adalah sekolah favorit saat itu. Aku dan
adikku perempuan sekolah di situ. Semua siswanya perempuan. Kami tinggal di asrama. Sedang
adikku laki di SMA De Britto,
sekolah yang semua siswanya laki-laki.
Adikku bungsu saja yang
mau sekolah di tempat
yang berbeda tapi di kota yang sama.
Prinsip orang
tua, biar mereka yang kerja cari uang. Anak-anak tugasnya belajar. Benar saja
kami berempat tinggal dikota
besar, Ibu hanya
mengirimkan uang untuk kami.
Sesekali ibu ke Jogya menengok kami sambil membawa hasil bumi. Jahe, lombok atau yang
lainnya.
Seiring
berjalannya waktu, saya dan adik-adikku
harus kuliah. Yang jelas biaya di Jogya
berempat akan semakin besar, Sementara bapak yang nota bene hanya seorang guru waktu itu tak akan mencukupkan kebutuhan sekolah kami.
Ibupun ber-ide.
Orang tua menyewakan kami sebuah rumah
tinggal. Rumah itu kami sulap menjadi
sebuah warung makan. Ibu
memfasilitasi semuanyanya. Dari perabot dan kebutuhan lainnya. Kami dilatih
untuk mandiri. Kami harus bisa kuliah dari hasil keringat sendiri. Kami berempat menyusun rencana membuat warung
makan. Rumah
kontrakan itu persis di depan pintu gerbang SMA De Britto , tempat adikku nomor 3
sekolah.
Rencanapun bukan
isapan jempol. Kami buktikan bahwa kami bisa mandiri. Seorang asisten rumah tangga, yu Tinuk dengan setia yang menjadi tukang masak.
Ditambah mbak Sri, tetangga kampung yang juga menemani kami. Kami siap jualan menu makanan sehari hari dan
menu makanan favorit anak SMA De britto.
Soto, bakso dan nasi campur.
Tak ketinggalan,
es teh dan es jeruk. Menu selera rakyat
yang murah meriah. Penjualnyapun anak sekolah. Yang beli juga anak
kuliah dan anak sekolah. Klop!.
Kami
menikmati kuliah sambil berjualan. Ibu bapak tetap di kampung dengan aktivitas mereka. Kami
yang kelola dan mengatur semuanya. Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar.
Kita selalu berbagi
kerja. Berbagi jaga dan mengatur jadwal
untuk semua kegiatan sekolah dan di warung.
Kami tak ingin mengecewakan orang
tua. Kami harus bisa lulus kuliah semua dengan hasil kerja kita.
Dengan bertekat
, nekat semua kendala dan masalah kami
atasi sendiri. Ibu seminggu sekali datang ke Jogya dan membawa hasil kebutuhan,
seperti lombok atau sayuran. Itu yang membuat warung selalu hidup. Syukurlah
semua selalu berjalan lancar. Jadi orang
tak boleh malas. Kerja keras dan usaha tak akan mengkhianati hasil. Saya
sebagai anak pertama harus bisa jadi
contoh untuk adik-adikku.
Waktu harus dimanfaatkan efektif dan
profesional. Waktu adalah uang. Jadi kami harus berlatih menghargai waktu. Ada 24 jam sehari. Waktu
untuk kuliah, Ada
waktu untuk belajar. Ada juga waktu untuk bekerja, belanja dan kegiatan
lainnya.
Karena sudah
pernah tinggal di asrama saat SMA, kita sudah
banyak belajar cara mengatur waktu. Pengalaman itu kita terapkan saat
kita sudah keluar. Pagi jam 02.00 dini hari kami belanja
ke pasar. Itu adalah produk yang
pertama, maksudnya di pasar
jam pertama adalah untuk para pelanggan, artinya pasokan produk
dari pabriknya. Misal tempe harga jam 02.00 dengan
harga jam 07.00 pasti akan
berbeda, Jadi kita berusaha belanja harus pagi-pagi buta
supaya dapat harga paling murah. Jika kita bangun lambat kita akan dapat harga lebih mahal
Orang tua selalu bilang dan menasehati kita. Kita harus bangun pagi, jika kita suka bangun siang rejekinya sudah dipatok ayam. Kurenungkan kata-kata itu, benar juga. Dengan jumlah uang yang sama,
kalau kita belanja siang tidak akan dapat selengkap kalau kita belanja
pagi. Begitu pula, jika suka buka warung lebih pagi dari warung-warung tetangga. Alhasil ada saja orang yang pagi-pagi
masuk warung
minta sarapan. Rejeki tidak akan
salah alamat. Dalam doa dan keyakinan berkat selalu datang dari Tuhan.
Akhirnya kami berempat begitu menikmati dengan pekerjaan kami. Saat jam istirahat kami sudah menyiapkan 30-an
porsi soto dan bakso. Nanti
anak-anak jam istirahat sudah menyerbu warung kita. Asyik deh saat itu. Begitulah hari-hari kami lalui dengan suka cita. Kami punya semboyan pembeli adalah
raja. Dia datang mengantarkan uang untuk kita. Jadi,
hormatilah. Kita harus rajin
senyum agar yang datang hari ini, besoknya
akan datang lagi.
Walau kami
‘hanya’ sebuah warung sederhana tetapi akhirnya bisa
mengantarkan kami semua lulus kuliah. Saya guru
dari IKIP ( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Sanata Dharma.. 2
Adikku di UGM jurusan Tekhik Instrumentasi dan Sipil. Yang bungsu di Atmajaya jurusan sipil juga.
Orang yang mau berjuang , Tuhan pasti akan memberi jalan. Usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Mimpi itu penting, dengan bermimpi kita akan berusaha mengejar mimpi itu. Menjadi hidup lebih
bersemangat.
Pantang menyerah dan tak mudah putus asa. Semua
orang sukses adalah pemimpi besar. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi di
masa depan. Idealis dalam setiap
pengharapan. Mereka bekerja penuh semangat menuju visi yang jauh ke depan.
Hidup adalah perjuangan. Hidup juga tantangan yang harus diatasi. Hidup tak boleh
mengeluh dan tak boleh hanya berpangku tangan. Hidup harus
selalu optimus. Trimakasih bapak, terimakah ibu sudah melatih kami untuk jadi orang
yang bertanggung jawab dan mandiri. Tidak cengeng dan pantang penyerah.
Kini setelah
semua lulus kuliah, warung kita
kembalikan kepada
yang punya. Kami ucapkan berlimpah-limpah terima kasih untuk jasanya. Kami
akan melanjutkan ziarah hidup berikutnya. Suamiku adalah teman kuliah tapi jurusan berbeda yang
dulu setia langganan makan nasi di warungku. Begitupu adikku no 2, Mas Wachid Hamidi mahasiswa
UPN jurusan tambang yang selalu setia langganan makan di warung bersama
kawan-kawannya. Dulu mas Wachid sudah kerja dan
sekolah tambah jadi mereka ada gaji,
merekalah yang selalu setia makan pagi, siang sore. Meraka pahlawan kami, karena selalu
makan di warung. Jika makan pasti mengajak kawan-kawannya. Teman-teman dekatnya jadi langganan setia di
warung kami. Akhirnya....
kini jadi suami adikku. hehe…
Lagi-lagi adik
nomor 3 , dia pacaran dengan teman CLC antar
kampus kini jadi
Istrinya. Lucunya, teman-teman adikku
yang satu ini, jika ketemu kawan
seangkatan SMA dipanggil dengan ‘Edy soto’, gegara dulu jualan soto
hihi....Mereka semua kenal lewat
warung kita. Yang seru lagi, mbak Sri yang membantu masak,
akhirnya nikah dengan kakak sepupuku.
Kini kami sudah punya kehidupan yang berbeda-beda.
Adikku 3 di Jakarta. Aku ikut
suami di NTT. Puji Tuhan, semua punya kehidupan yang layak dan tak merepotkan
lagi orang tua. Kini giliran kami
membahagiakan orang tua yang dulu sudah banyak berkorban untuk
anak-anaknya.
Selesailah sudah
ceritaku. Cerita masa lalu.
Cerita yang tak akan hilang ditelan waktu. Semua kita
pasti punya cerita, punya pengalaman yang menarik.
Goresan pena ini suatu saat anak cucu kita pasti membaca. Ia akan tertawa, dia akan
mengenal sepak terjang orang tua atau omanya. Suka, duka,nestapa dan
derita untuk dapat meraih mimpinya.
Semoga cerita
bisa menginspirasi. Minimal keluarga sendiri akan tahu setelah membacanya. Semoga mereka juga menjadi orang yang mandiri,
orang yang tak mudah mengeluh untuk
mengejar cita-cita.
Berakit-rakit dahulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah kehidupan. Beruntung yang mereka lahir langsung kaya karena orang tuanya orang
berada dan berlimpah harta.
Nah kalau seperti saya, hidup enak-enak mau jadi apa? Baik kalau kita punya pasangan anak orang kaya,
kita bisa ‘numpang’ jadi kaya. Itu baik.
Namun kalau kita bukan orang kaya tapi tak
mau berusaha, mau enak-enak…..siapkan
diri kelak akan sengsara.
Kesuksesan itu diperoleh oleh orang yang menyiapkan
dari awal. Orang yang rajin dan
tekun punya masa depan. Orang malas dan tak mau
kerja itu yang akan
punya masa lalu alias terbelakang. “Jika kau tak
mampu menahan
lelahnya belajar, maka kamu harus mau menahan perihnya kebodohan. -Imam Safii-.
Trimakasih ibu…trimaksih bapak untuk
pembelajaran mandiri yang telah
engkau tanamkan pada kami. Aku akan selalu mengingat
jasamu disetiap nafas hidupku. Kan kukenang engkau
dalam sanubariku, Salam paling manis untukmu ibu. Selamat Ulang tahun, semoga
panjang umur, sehat selalu dan dilimpahi rejeki yang cukup.
Merdeka!!
Waingapu,
17 Agustus 2021
Salam ...Saya, Ledwina Eti Wuryani, Asli Magelang Jawa Tengah yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu. Saya Lulusan Pendidikan guru IKIP Sanata Dharma kala itu, tahun 1989. Seorang ibu dengan 2 putra ( Marcel dan Anto), ibu rumah tangga dari suami Drs Adi Ch. Muhu, korwas Sumba Timur sekaligus jadi guru matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Sudah banyak artikel ditulis oleh penulis dan tembus di berbagai media masa ,lokal ada juga yang propinsi NTT. Sudah belasan buku solo dan Antologi sejak ada wabah Pandemi corona Maret 2020. Tulisan antologi ada cerpen, puisi, story telling, Cerita tentang Belajar dari rumah ( PJJ) dan lain-lain. Penulis bisa dihubungi melalui email ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog etiastiwi66.blogspot.com HP WA 085 230 708 285

Tidak ada komentar:
Posting Komentar