Minggu, 22 Agustus 2021

JADI MANDIRI BERKAT IBUKU

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

Saat kugembira , engkau memelukku. saat aku sedih , engkau menghiburku. Saat kusendiri , hanya engkau  saja yang menemani. Disaat aku sakit,  engkau  dengan penuh kasih sayang merawatku. Betapa besarnya  cinta dan kasih sayangmu padaku. Betapa  luasnya  samudra  hatimu. Semoga  aku  bisa membalas cintamu. Dari hati yang tulus kudoakan selalu ibuku......

 



Tepat tanggal 17 Agustus 1945  ibuku  dilahirkan. Nenek dan kakekku memberikan nama padanya  Caecilia  Sutari.  Saat  aku  menorehkan  tulisan ini,  tepat tanggal  17 Agustus 2021 , hari  Kemerdekaan  Indonesia.  Ada  kebanggaan  tersendiri.  Seorang  ibu  lahir  bersamaan dengan  hari  jadinya  Ibu pertiwi. Selain dirayakan  secara pribadi bersama  keluarga,  orang-orang seluruh Indonesia  juga  sedang bergembira  ria  menyambut kemerdekaan Indonesia tercinta.

Aku adalah anak pertama  dari 4  bersaudara. 1 adikku  perempuan (Rita) dan 2 laki-laki ( Edi dan Rudi) . Masa kecilku  begitu bahagia. Hidup kami  saling  mencinta dan saling mengasihi antara aku dan adik-adikku. Ibuku  begitu  perhatian padaku. Saat aku SD aku sekolah di kampung yang jaraknya dari  rumah sekitar 4 km. Kami  berempat  jalan kaki menuju SD yang sama.

            Bapak  seorang guru yang gigih. Mengajar dengan motor bututnya. Motor L2S kesayangan yang selalu setia menemani bapak mengajar. Hingga motorpun ikut bekerja dengan peluh dan air mata. Motor itu meneteskan olinya tanda capek, tapi tak bisa berbuat banyak. Kadang  untuk beli oli juga masih tunggu gajian yang  sebulan sekali. Tapi tetap harus semangat demi pengabdian  sebagai abdi negara. Berjuang untuk masa depan anak bangsa. Tentunya agar kelak mereka hidup lebih baik bapakku.

 Saat itu adalah jamannya pak Umar Bakri. Semoga masih ingat.  Pagi-pagi  berbekal nasi dari rumah untuk makan siang di sekolah. Karena Bapak  mengajar di beberapa sekolah. Dia kadang sampai  sore demi mencukupkan kebutuhan keluarga.     Ibu adalah seorang  ibu rumah tangga, yang setia melayani bapak, aku dan tiga orang adikku. Disamping ibu memasak, mencukupkan  dan melayani makan  dan minumku, ibu adalah seorang petani.  Kerja sawah tak kenal lelah.  Pagi  buta beliau bangun memasak untuk kami semua. Setelah kami berangkat  ke sekolah ibu  kerja sawah. Sawah ditanami padi dan  sayuran. Hasil sawah untuk  kehidupan harian kami dan yang  lain dijual untuk ditukar  kebutuhan, seperti sabun, minyak tanah atau kebutuhan sembako.

            Dengan  setia  dia mengerjakan  rutinnya di sawah. Ibu  tak pernah mengeluh.  Ibu selalu  senyum. Aku  tahu  susahnya kala  itu. Yang aku  tahu ibu  selalu mencukupkan  kebutuhanku. Dari menyiapkan  makanan sampai  kebutuhan sekolahku.  Aku ingat ibu juga  suka mengajariku  saat aku  mendapat PR dari guruku. Ibu juga membagi jadwal kerja harian untuk kami. Masing-masing kami punya tugas. Cuci piring, menyapu lantai, cuci pakaian dan lain-lain. Kami saling membantu jadi pekerjaan banyak terasa ringan.

            Berkat ibu, aku dan adikku sering jadi  contoh  bagi teman-temanku.  Bapak ibu guru  sayang  dengan kami. Menjadi  peringkat kelas sudah menjadi langgganan saat aku dan adikku masih SD.   Di sekolah  kami  ingin  membanggakan orang tuaku. Hinga kini aku masih ingat para guru SD-ku. Pak Dawud, pak Yatno dan Rismantoro. Guru Wanita  ibu  Suryani. Yang jelas  ketika aku pulang  mudik dan setiap hari raya para gurupun tak pernah  lupa pada kami. Itu yang membuat aku bangga  dan bahagia dulu hingga kini.

            Semasa SMP  saya harus jalan kaki sejauh 7 km setiap hari. Menyusuri pematang  sawah dan  menyeberang 2 sungai besar.  Ada berkat karena  selalu jalan kaki dan berlari  setiap hari jika ke sekolah, kami  akhirnya jadi pelari. Pernah jadi juara lari mewakili sekolah sampai karesidenan.  Setiap jalan, sepatu dipegang bukan dipakai  supaya awet  agar tak cepat rusak. Setelah dekat sekolah baru dipakai, hehe…. Harapanku supaya ibu  tidak  sering beli sepatu . Dua tahun berlalu. Karena kasihan, akhirnya  ibu memintaku untuk kos hingga lulus SMP.

 Ibu tak pernah pelit  mengeluarkan uang untuk aku  dan adikku. Ibu selalu mendidik kami mandiri. Tak boleh cengeng, harus  rajin dan tekun. Kami selalu dicukupkan, walaupun  hidup kami sederhana.   Tentunya uang dari bapak dan dari hasil kerja ibu di sawah harus dicukup-cukupkan. Sungguh  terimakasih  dan bangga punya orang tua yang baik dan sayang  pada kami.

Cerita yang selalu kuingat. Saat musim memetik lombok hasil sawah, kami yang  memetiknya, begitupun hasil sayur mayur. Kami  menjanjakan  hasil sawah ke tetangga atau ke pasar.  Kami  senang menjajakan  hasil sawah  karena akan dapat upah dari ibu. Betapa senangnya. Uang bisa untuk membeli sesuatu , misal tas baru atau sepatu baru. Yang namanya  barang baru  adalah sesuatu yang membanggakan saat itu.

Masuk  SMA pun tak tanggung-tanggung kami disuruh  memilih sekolah yang  paling jauh.  Kata  mereka (bapak dan Ibu) sudah bercita-cita sejak mereka (Bapak dan ibuku) pacaran, hehe… Sekolah di Jogyakarta. Kota pelajar. Rumah kami Jawa Tengah dan kami SMA di  kota propinsi yang berbeda, DIY (Daerah Istimewa Jogyakarta). Sekolah Tarakanita, yang kata orang adalah  sekolah favorit saat itu. Aku dan adikku perempuan sekolah di situ. Semua siswanya  perempuan. Kami tinggal di asrama. Sedang adikku laki di SMA De Britto, sekolah yang semua siswanya  laki-laki. Adikku bungsu saja yang mau sekolah di tempat yang berbeda tapi di kota yang sama.

Prinsip orang tua, biar mereka yang kerja cari uang. Anak-anak tugasnya belajar. Benar saja kami berempat tinggal dikota besar, Ibu hanya mengirimkan uang  untuk kami. Sesekali  ibu  ke Jogya menengok kami sambil  membawa hasil bumi. Jahe, lombok atau yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, saya  dan adik-adikku harus kuliah. Yang jelas  biaya di Jogya berempat akan semakin besar, Sementara bapak yang nota bene hanya seorang guru waktu itu  tak akan mencukupkan kebutuhan  sekolah kami.

Ibupun  ber-ide. Orang tua  menyewakan kami sebuah rumah tinggal.  Rumah itu kami sulap menjadi sebuah  warung makan. Ibu memfasilitasi  semuanyanya. Dari  perabot dan kebutuhan lainnya. Kami dilatih untuk mandiri. Kami harus  bisa  kuliah dari hasil keringat sendiri.  Kami berempat menyusun rencana  membuat warung makan. Rumah kontrakan itu  persis di depan  pintu  gerbang SMA De Britto , tempat adikku nomor 3 sekolah.

Rencanapun bukan isapan jempol. Kami buktikan bahwa kami bisa mandiri. Seorang asisten rumah tangga,  yu Tinuk dengan setia yang menjadi tukang masak. Ditambah mbak Sri, tetangga kampung yang juga menemani kami.  Kami siap jualan menu makanan sehari hari dan menu makanan  favorit anak SMA De britto. Soto, bakso dan nasi campur. Tak ketinggalan, es teh dan es jeruk. Menu selera rakyat  yang murah meriah. Penjualnyapun anak sekolah. Yang beli juga anak kuliah dan  anak sekolah. Klop!.

Kami menikmati  kuliah sambil  berjualan. Ibu bapak tetap di kampung dengan aktivitas mereka. Kami yang kelola dan mengatur semuanya. Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar. Kita selalu berbagi kerja. Berbagi jaga dan mengatur  jadwal untuk semua kegiatan sekolah dan di warung.  Kami tak ingin  mengecewakan orang tua. Kami  harus  bisa lulus kuliah semua dengan hasil kerja kita.  

Dengan bertekat , nekat semua kendala dan masalah  kami atasi sendiri. Ibu seminggu sekali  datang ke Jogya dan membawa hasil kebutuhan, seperti lombok atau sayuran. Itu yang membuat warung selalu hidup. Syukurlah semua selalu berjalan lancar.  Jadi orang  tak boleh malas. Kerja keras dan usaha tak akan mengkhianati hasil. Saya sebagai anak pertama  harus bisa jadi contoh untuk adik-adikku. Waktu harus dimanfaatkan  efektif dan profesional. Waktu adalah uang. Jadi kami harus berlatih menghargai waktu. Ada 24 jam sehari. Waktu untuk  kuliah, Ada waktu untuk belajar. Ada juga waktu untuk bekerja, belanja dan kegiatan lainnya.

Karena sudah pernah tinggal di asrama  saat SMA, kita  sudah banyak  belajar cara mengatur waktu. Pengalaman itu kita terapkan saat kita  sudah keluar. Pagi  jam 02.00 dini hari kami  belanja ke pasar. Itu adalah  produk yang pertama,  maksudnya  di pasar  jam pertama adalah  untuk para pelanggan, artinya pasokan produk dari  pabriknya. Misal tempe harga  jam 02.00 dengan  harga jam 07.00  pasti akan berbeda, Jadi kita berusaha  belanja harus  pagi-pagi buta supaya  dapat harga paling  murah.  Jika kita bangun lambat  kita akan dapat harga lebih  mahal

Orang tua selalu bilang dan  menasehati kita. Kita harus  bangun pagi, jika kita suka bangun siang  rejekinya sudah dipatok ayam. Kurenungkan kata-kata itu,  benar juga. Dengan jumlah uang yang sama, kalau kita  belanja siang tidak akan dapat  selengkap kalau  kita belanja  pagi. Begitu pula,  jika suka  buka warung lebih pagi dari warung-warung  tetangga. Alhasil  ada saja orang yang  pagi-pagi masuk warung  minta sarapan. Rejeki tidak akan salah alamat. Dalam doa dan keyakinan berkat selalu datang dari Tuhan.

Akhirnya kami berempat  begitu menikmati dengan pekerjaan kami. Saat  jam istirahat kami sudah menyiapkan  30-an  porsi soto dan  bakso. Nanti anak-anak jam istirahat  sudah menyerbu  warung kita. Asyik deh saat itu.  Begitulah hari-hari kami lalui dengan suka cita. Kami  punya semboyan  pembeli adalah raja. Dia  datang  mengantarkan uang untuk kita. Jadi, hormatilah. Kita harus  rajin  senyum agar yang datang hari ini,  besoknya  akan datang lagi.

Walau kami ‘hanya’  sebuah warung sederhana tetapi akhirnya bisa mengantarkan kami semua lulus kuliah. Saya guru  dari IKIP ( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Sanata Dharma.. 2 Adikku di UGM jurusan Tekhik Instrumentasi dan Sipil. Yang bungsu di Atmajaya jurusan sipil juga.

Orang yang mau  berjuang , Tuhan pasti  akan memberi jalan. Usaha  dan kerja keras  pasti akan membuahkan hasil. Mimpi  itu penting, dengan bermimpi kita  akan berusaha   mengejar mimpi itu. Menjadi  hidup lebih bersemangat.  Pantang menyerah dan  tak mudah  putus asa. Semua orang sukses adalah pemimpi besar. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi di masa  depan. Idealis dalam setiap pengharapan. Mereka  bekerja  penuh semangat  menuju visi yang jauh ke depan.

Hidup adalah  perjuangan. Hidup juga  tantangan yang harus diatasi. Hidup tak  boleh  mengeluh dan tak boleh hanya berpangku tangan.  Hidup  harus selalu optimus. Trimakasih bapak, terimakah ibu sudah melatih kami untuk jadi orang yang bertanggung jawab dan  mandiri. Tidak cengeng dan pantang penyerah.

Kini setelah semua  lulus kuliah, warung kita kembalikan kepada yang punya. Kami ucapkan berlimpah-limpah terima kasih untuk  jasanya. Kami  akan melanjutkan  ziarah  hidup berikutnya. Suamiku adalah  teman kuliah tapi jurusan  berbeda yang  dulu setia langganan makan nasi di warungku. Begitupu  adikku no 2, Mas Wachid Hamidi  mahasiswa  UPN jurusan tambang yang selalu setia langganan makan di warung bersama kawan-kawannya. Dulu  mas Wachid sudah kerja dan sekolah tambah jadi  mereka ada gaji, merekalah yang selalu setia  makan pagi, siang sore. Meraka pahlawan kami, karena  selalu  makan di warung. Jika makan  pasti mengajak kawan-kawannya. Teman-teman dekatnya jadi langganan setia di warung kami. Akhirnya.... kini  jadi suami  adikku. hehe…

Lagi-lagi adik nomor 3 , dia pacaran dengan teman CLC  antar kampus kini jadi Istrinya. Lucunya, teman-teman adikku yang satu ini, jika ketemu  kawan seangkatan SMA dipanggil dengan ‘Edy soto’, gegara dulu  jualan soto  hihi....Mereka semua kenal lewat  warung kita. Yang  seru lagi, mbak Sri yang membantu masak, akhirnya  nikah dengan kakak sepupuku. Kini kami  sudah punya  kehidupan yang  berbeda-beda.  Adikku 3  di Jakarta. Aku  ikut suami di NTT. Puji Tuhan, semua  punya kehidupan yang layak dan tak merepotkan lagi orang tua. Kini giliran kami  membahagiakan orang tua yang dulu sudah banyak berkorban untuk anak-anaknya.

Selesailah sudah ceritaku. Cerita masa lalu. Cerita yang tak akan  hilang ditelan waktu. Semua kita pasti  punya  cerita, punya pengalaman yang menarik. Goresan pena ini suatu saat anak cucu kita pasti membaca. Ia akan tertawa, dia akan mengenal  sepak terjang orang tua atau omanya. Suka, duka,nestapa dan derita  untuk dapat meraih mimpinya.

Semoga cerita bisa menginspirasi. Minimal keluarga sendiri akan tahu setelah membacanya.  Semoga mereka juga menjadi orang yang mandiri, orang yang tak mudah mengeluh untuk  mengejar cita-cita.

Berakit-rakit  dahulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit  dahulu, bersenang-senang  kemudian. Begitulah  kehidupan. Beruntung yang mereka  lahir langsung kaya karena orang tuanya orang berada dan berlimpah harta. Nah  kalau seperti saya,  hidup enak-enak  mau jadi apa? Baik kalau  kita punya pasangan anak orang kaya, kita  bisa ‘numpang’ jadi kaya. Itu baik. Namun kalau kita  bukan orang kaya  tapi tak  mau berusaha, mau enak-enak…..siapkan  diri kelak akan sengsara.

Kesuksesan itu diperoleh oleh orang yang menyiapkan dari awal.  Orang yang  rajin dan  tekun punya  masa depan. Orang malas dan tak mau kerja itu  yang akan  punya masa lalu alias terbelakang.  “Jika kau tak  mampu menahan lelahnya  belajar, maka  kamu harus mau menahan perihnya  kebodohan. -Imam Safii-.

Trimakasih ibu…trimaksih bapak  untuk  pembelajaran mandiri yang telah  engkau tanamkan pada kami. Aku akan  selalu mengingat jasamu disetiap nafas hidupku. Kan kukenang engkau  dalam  sanubariku, Salam paling  manis  untukmu ibu. Selamat Ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu dan dilimpahi rejeki yang cukup.

Merdeka!!

 

Waingapu, 17 Agustus 2021

 

 

 

Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, Asli Magelang Jawa Tengah  yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu.  Saya Lulusan Pendidikan guru IKIP Sanata Dharma kala itu, tahun 1989.  Seorang ibu dengan 2 putra ( Marcel dan Anto), ibu rumah tangga dari suami Drs Adi Ch. Muhu, korwas Sumba Timur sekaligus  jadi guru matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Sudah  banyak artikel  ditulis oleh penulis dan tembus di berbagai media masa  ,lokal ada juga yang  propinsi NTT.  Sudah belasan buku solo dan  Antologi sejak  ada  wabah Pandemi corona Maret 2020. Tulisan antologi ada cerpen, puisi,  story telling, Cerita tentang Belajar dari rumah ( PJJ)  dan lain-lain.  Penulis bisa dihubungi melalui email ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...