Akhirilah
setiap hari dengan pikiran yang positif. Tidak peduli seberapa beratnya harimu, besok adalah
kesempatan baru yang membuat segalanya
lebih baik.
Pertengahan
juni hingga tanggal 11 juli 2021 adalah
kenaikan kelas TK,SD,SMP dan SLTA untuk
seluruh Indonesia. Para guru dan murid
libur sekolah. Sudah 3 tahun lebih
saya tidak mudik. Orang tua sisa ibu
saja. Bapak sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Hati begitu rindu untuk
makan sayur masakan ibu. Rindu
sawahku, rindu gudeg makanan kesukaanku.
Hati ini begitu merindu
untuk sekedar napak tilas
masa kecilku dulu.
Masa
indah tinggal di kampung halaman bersama
orang tua, dan adik-adiku. Duluuu....bercanda, saling mengganggu. Rindu
untuk ke tempat kubur para leluhur yang kuyakini dari doa untuk mereka akan membawa berkah bagiku dan keluargaku.
Untuk
menghemat biaya, aku rencana naik kapal Egon bersama Marcel anakku yang
pertama. Hati sudah berbunga-bunga membayangkan
rumah kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh orang tuaku. Aku tinggal dirantau sudah lebih dari 30 tahun.
Sebagai guru surat ijin sudah
kulayangkan kepada atasanku.
Dengan penuh suka cita siap
melaju esok hari dengan kapal laut.
Syarat sudah terpenuhi, yaitu bukti vaksin 1 dan 2 sudah punya dan bukti PCR sudah siap.
Tas
dan pembawaan sudah siap, bekal untuk makan
di kapal pun sudah dimasak. Perjalanan untuk 2 hari. Sambal goreng kering kacang dan tempe campur
ikan teri. Kesukaan anakku. Tak lupa ikan asin
1 dos produk Mangili pesanan Anto
anakku yang masih kuliah di Jogya.
Dengan bekal semangat membara,
kesehatan yang cukup, siap untuk berangkat esok pagi dini hari.
Sore
itu.....tiba-tiba kubaca WA dari adikku yang di Jakarta, mengabarkan Anto anakku terpapar corona. Begitu juga Ibu, Dik Rudi adikku yang bungsu, istri dan Evan putra mereka. Ya Tuhan. Hati ingin menjerit. Saat itu saya memang dengar kabar kalau di provinsi
Jawa Tengah orang yang terpapar paling tinggi. Zona merah parah. Orang-orang
tidak boleh keluar, yang meninggal
banyak sekali.
Di
desaku, adikku bilang mereka yang terpapar berjamaah. Kutanya, apa
itu maksudnya. Jadi mereka rame-rame
kena covid. Mas Joko kakak sepupu sakit
parah, badan yang kekar bisa turun
hingga 14 kg dalam seminggu. Dik Anas
adik sepupuku orang yang selalu
optimis dalam hidup, rajin berolah raga istrinya dokter pula, meninggal karena
covid-19. Belum cerita – cerita lain yang mendukakan hati dari para tetangga
yang tak bisa kusebut satu persatu.
Betapa menyedihnya dengar kabar itu. Akhirnya adik iparku, dik Ita dari Jakarta
menyarankan aku ‘tidak boleh’ datang
ke Jawa. Bahaya! Bagaimana aku bisa ke Jawa?. Jika nekat artinya menjerumuskan diri. Serumah 'utuh' ‘ semua
positif. Anakku yang di Jogya juga positif. Apa mungkin aku datang?
Dengan badan terasa lemas aku mengurungkan untuk
mudik. Sedih dengar cerita
anakku, dia kos sendirian, badannya
panas, kesulitan bernafas, nyeri dada atau rasa tertekan di dada, deman tinggi selama
4 hari. Makan tak enak, tidur tidak
bisa. Tenggorokan radang dan sakit sekali katanya. Jika menelan makanan juga
sakit. Rasa makanan semua hambar tak ada
yang enak. Tambah batuk-batuk kering
tapi keluar dahak yang berwarna
coklat. Dia terasa parah karena
belum vaksin. Sebagai mahasiswa di Jogya mungkin belum dapat kesempatan
vaksin.
Mamaa...
dia mengeluh padaku. Sebagai mama
aku hanya bisa menangis, tak sanggup
menerima kenyataan yang ada. Aku
hanya bisa menghibur, berdoa dan terus berdoa, semoga Tuhan sudi mendengakan kami. Apa yang harus kukatakan padanya, aku seperti orang
linglung. Apalagi dengar kabar teman kuliah dari anakku meninggal. Hal itu menambah
kesedihanku. Pagi-pagi dia ke rumah
sakit Bethesda. Dengan badan lemah dia
paksakan diri untuk rapit test dengan
ongkos Rp 900 ribu. Besar sekali, jatah kiriman anak satu bulan. Ternyata benar
dia positif. Tak apalah, kesehatan
jauh lebih penting, kuhibur anakku. Akhirnya Tante Ita yang kirim uang untuk membelikan obat-obatan dan
menyambung hidup berikut. Syukurlah. Trimkasih Tante.
Untung
ada adikku yang begitu perhatian padanya. Dik Rita dan di Ita adik iparku yang
tinggal di Jakarta adalah keluarga yang baik sekali. Merekalah yang selalu mensuport. Mengirimkan obat,
vitamin dan berbagai hal untuk kesembuhan Anto dan keluarga di
Muntilan. Bahkan mereka membelikan obat cina yang mahal untuk semua. Aku hanya
bisa pasrah walau hati selalu merasa kuatir
dan was-was tiada henti. Apalagi kalau dengar berita dan baca di medsos yang meninggal semakin banyak setiap hari.
Corona
menerjang tak pandang bulu. Miskin kaya,
tua muda, apapun profesinya. Sediiih
sekali!!. Tak henti-hentinya saya berdoa
dari NTT untuk keluarga yang di Jawa. Tuhan,
mampukan kami menerima ujian besar ini. Benar-benar kami
tak berdaya. Setiap hari kunyalakan
lilin, kudaraskan doa dengan tangis dan air mata. Di Kos anak saya ‘sendirian’. Merasakan ganasnya
serangan corona . Mau minta tolong siapa?. Badan deman, panas
tinggi, semua dirasakan dan diatasi sendiri. Mau keluar tak berani. Ibu kos tak
boleh tahu. Jika ia lapor
pastinya akan diusir dari kos, jangan sampai nanti menularkan yang lain.
Akhirnya dia menahan sakitnya sendiri tanpa minta bantuan orang-orang di sekitar.
Berbeda cerita yang di rumah ibu. Semua membuatnya sedih, Sedih. Peristiwa
ini benar-benar membuat sesak di dada.
Jantung bagai terlepas dari tempatnya. Belum suamiku tercinta sementara sakit jantung
yang harusnya tak boleh banyak
berpikir. Tak boleh stress. Tambah lagi di Muntilan yang semuanya terpapar harus isolasi mandiri. Mereka berkabung di
rumah. Semuanya badan lemah, panas
tinggi, batuk-batuk dan tak bisa
beraktifitas. Ibu punya riwayat asma, ini yang membuat kami selalu kawatir.
Tapi
beruntung yang di kampung. Penduduk
setempat yang tak terpapar dengan suka
rela mereka mengirimkan makan dan minun setiap hari. Sungguh berhati
malaikat mereka itu. Saat serumah tak
berdaya karena terpapar, Tuhan mengutus
orang baik di sekitar rumah untuk memberi bantuan. Sebagai keluarga, kami dari
jauh hanya bisa mengucapkan terimakasih
yang berlimpah atas kebaikan mereka .
Waktu
terus berjalan. Hari-hari dilalui dengan kelam. Doa selalu didaraskan disetiap kesempatan. Banyak
orang sehat dengan caranya sendiri memberikan bantuannya. Mengadakan menyemprotan. Mengirimkan
disinfektan, memberi mi, telur dan banyak bantuan lain. Trimakasih Tuhan untuk tangan-tangan kasih Tuhan yang rela mengulurkan tangannya bagi yang
menderita.
Lain
lagi cerita adikku di Jakarta. Dik Rita adikku yang kedua, Yang tinggal di Griya Bintara . Dua
anaknya adalah dokter, yang satu baru selesai wisuda S.ked. dan yang satu sudah
praktek di puskesmas Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Dokter Devi, cerita bahwa
dia bersama beberapa rekan kerjanya juga positif. Begitu panik mamanya. Mereka
yang selalu memberi nasehat penguatan, penghiburan kepada orang lain termasuk saudara di Muntilan dan Jogya, sekarang
giliran dia sendiri yang terpapar.
Sedih
dengarnya. Obat Cina yang seperti diberikan Anto anakku, ternyata habis diperedaran. Padahal obat itu yang meyakinkan untuk menyembuhkan. Mamanya
cari-cari diberbagai penawaran online,
semuanya habis stok. Kami semua hanya
bisa memberi penguatan dan doa. Memotivasi supaya jangan terlalu panik. Devi cerita bahwa setiap
hari 5 orang yang meninggal, saya agak takut juga, katanya. Kata dr Devi yang
kelihatan pasrah tak berdaya.
Adikku
nomor 3 yang tinggal di Halim , jl.
Baliraya , mereka juga tak lepas dari serangan ganasnya Corona. Jakarta Zona
merah terus. Kabar lagi mengejutkan, mama dari dik Ita Positif Covid, karena
komorbit beliau sampai tak sadarkan diri akhirnya langsung masuk ICU. Tiga hari
kemudian meninggal. Sedih sekali. Kita semua masing-masing diuji dengan
datangnya pandemi ini. Belum sembuh yang
satu terpapar lagi yang lain. Tak
satupun yang terlewatkan, kita
bukan hanya jadi penonton, tapi
benar-benar kita merasakan sakitnya. Merasakan penderitaannya. Tangisan
dimana-mana , termasuk di dalam rumah saya sendiri.
Tanggal
20 Mei Ibu Mertin , istri dari camat kota meninggal karena covid-19. Ceritanya sedih. Suami yang seorang
pejabat dengan setia selalu menemani
sejak sakit hingga meninggal dunia.
Setelah Istri meninggal mungkin beliau depresi, sakit dan sesak nafas hingga tidak pernah bisa tidur sejak sang istri meninggal (2 bulan). Tak ada
hujan tak ada angin, tiba-tiba juga dengar pak camat sendiri yang
meninggal mendadak. Kami sebagai rakyatnya
turut mendoakan semoga diampuni
segala dosanya sehingga mendapat tempat
yang layak di Sorga. Kini Anaknya Varel dan Vanya jadi yatim piatu.
Sudah
2 minggu Bapak (suami) mengeluh badannya
meriang. Bapak seorang pengawas. Dia sendirian tanpa
ada teman pengawas lain di kabupaten Sumba Timur. Jadi merangkap sebagai koordinator, sekaligus
sebagai anggota. Ditemani 1 orang pak Erik sebagai stafnya. Walau sakit dia nekat saja pergi kantor
setiap hari. Sudah 4 kali bapak batal vaksin karena kondisi yang tidak memugkinkan.
Pertama tensi 180, kedua tensi masih
tinggi ditambah deman, ketiga
badan lemas, vaksin ke-4 saking
lamanya antri di kodim hingga
malam akhirnya batal lagi.
Rencana
mau pergi ke kampung Tanarara ( 60 km ) dari rumah untuk vaksin, tiba-tiba badan drop. Cepat-cepat kami menuju RSU Emanuel. Tahun 2019 bapak operasi jantung ( Bentall Procedural = ganti
katup jantung). Artinya bapak ada
komorbit. Benar saja hasil antigennya positif. Badan lemas tak berdaya, batuk
kering semakin menjadi-jadi. Nafassesak,
nyeri di dada dan hilang kemampuan
berbicara atau bergerak
tambah lagi diare. Tapi
dokter tidak menyarankan bapak opname, akhirnya
kami pulang.
Beruntung
kami banyak saudara yang paramedis dari
dokter hingga perawat, jadi curhat di
grup keluarga semua bisa bantu memantau memberi solusi. Kami beli alat tensi,
ada yang meminjami Oksimeter dan pengukur suhu tubuh. Syukurlah. Begitu banyak
teman-teman peduli pada kami. Ada yang antar
makan , buah, makanan kecil, madu, vitamindan lain-lain, hingga tidak mampu
makan. Kami jadi terharu atas kebaikan
teman-taman. Ingin menangis, ternyata banyak sekali orang yang menyayangi kami.
Banyak
sekali yang mendoakan keluarga kami. Kami tinggal 14 orang, bersama anak-anak
keluarga yang sekolah. Namun bapak kondisi paling parah karena selain belum vaksin ,
komorbit pula.Bapak empat kali gagal vaksin lantaran tensi selalu tinggi,
jadi tertunda terus, alhasil akhirnya terserang ganasnya covid-10. Kami
yang lain sudah vaksin jadi walaupun positif sudah ada anto bodi, kami tetap sehat. Kami termasuk OTG ( orang tanpa gejala).
Banyak masukan-masukan dari mereka, nasehat-nasehat
yang harus saya lakukan selama mengurus
bapak isoman di rumah. 5 hari berjalan lancar. Obat yang dibeli adalah Vit-D3, Vit-B
kompleks, Vit C1000 , Paracetamol,
zinc sulfate Motnohydrate dan Acetylcystelne ( obat batuk). Dan obat
jantung yang diminum seumur hidup juga tak ditinggalkan, yaitu Simarc, Ramipril
, furosemide, Bisoprolol dan
spironolaktone. Saya sampai hafal nama-nama obat karena harus diminum
setiap hari. Ada obat cina yang dikirim
adaik di Jakarta ‘lianhua’ tapi belum berani dinimumkan. Perkembangan keadaan bapak
terus saya catat. Ternyata bapak semakin drop tambah
lagi tak mau makan. Badan terasa panas
tetapi bapak bilang dingin hingga pakai 2 lapis selimut tebal. Saturasi 80,
tensi 85/55 dan suhu tubuh 38,5.
Saat
itu pikiran saya mulai panik. Pikiran
tak karuan, pandangan bapak kosong. Kutelpon anakku, tetanggaku 2 yang perawat,
kusampaikan keadaan bapak. Semua
datang lengkap dengan pakaian APDnya. Bapak mulai
lemah tak berdaya. Tapi bapak bersikeras
tak mau ke rumah sakit. Bapak macam trauma ke rumah sakit umum, entah apa yang dipikirkan. Kutahan menangis walau
sudah sesak didadaku. Semua teman-teman yang datang menguatkanku.
Mereka
mulai berdatangan merayu bapak supaya mau ke rumah sakit umum. Bapak perlu
oksigen, infus dan lain-lain. Dirumah tak ada fasilitasi itu. Sampai anakku
telpon tempat penyewaan oksigen,
tapi itupun kosong. Dengan berbagai cara
kami memohon-mohon supaya bapak mau pergi ke rumah sakit, sampai dokter dari rumah
sakit rela datang ke rumah ikut membujuk bapak! Bapak tetap tidak mau. Dengan tangis dan memohon-mohon
akhirnya bapak menganggukkan
kepala tanda setuju. Puji Tuhan. Sebenarnya
ambulan juga siap untuk menjemput
bapak, tapi syukurlah
bapak bisa dipapah dan akhirnya mau pakai mobil sendiri. Di dalam mobil saya
hanya bisa berdoa. Cemas, was-was,
takut, campur aduk berkecamuk di dada saya. Tuhan
semoga semua dilancarkan. Aku tak tahan
melihat bapak yang tak berdaya,
lesu, kondisinya sangat lemah.
Sampai
di rumah sakit, sudah siap dijemput
dengan kursi roda. Dengan sigap dan
cekatan para perawat menghampiri
kami. Akhirnya kami di bawa ke rung
anggrek. Ya Tuhan, suasananya begitu mencekam. Sebelah ruang persis
ruang adalah kamar jenazah. Saat itu jam 11 malam. Suasana sepi sekali,
menyayat hati. Peraturan yang terpapar tidak boleh ditunggu oleh
keluarga. Berkat alasan bapak jantung dan sangat parah akhirnya
saya diperbolehkan menunggu. Dengan catatan, tidak boleh keluar dari kamar/
ruangan.
Dilemalah
aku. Pada dasarnya aku ini penakut. Berkat
doa dan keyakinan aku niatkan
diriku untuk ‘siap’ menjaga. Apapun yang terjadi, demi suamiku tercinta. Hidup mati di tangan Tuhan. Tuhan kuatkan aku. Yakin. Siap!. Apapun yang
terjadi harus yakin, Tuhan pasti mendampingi
saya setiap saat. Malam pertama aku nginap di rumah sakit, satu kamar
berdua. Aku tidur di lantai. Sungguh
suasana yang menyayat membuat aku tak bisa tidur buku kuduk berdiri.
Gelisah terus rasanya. Kubaca doa Orasi,doa rosario, terus
kudaraskan doa untuk menghibur
diriku. Ketakutan belum juga sirna.
Ku
dengar erangan bapak tua yang sakit di sebelah. Benar-benar mencekam. Seluruh
pasien di runag ini terpapar covid-19.
Dari bayi hingga usia lanjut. Hanya aku saja yang masih kelihatan sehat. Dan
aku sendirian yang menjaga orang sakit. Ngeri. Karena badan panas inggi, bapak terus mengigau. Ujian
malan ini terlalu berat bagiku. Ku
dengar lagi tangisan dan ratapan melewat jalan di depan kamarku. Yakin
itu pasti tangisan duka yang keluarganya meninggal. Untuk menjemput
jenasah. karena keluarga tak diperkenankan masuk ruang, mereka menunggu di
depan pintu ruang. Berulang-ulang kejadian yang sama, suara tangisan yang menyayat hatiku dan tentunya bapak.
Hari
terus berjalan dengan rasa penuh duka
lara, hanya doa yang menguatkan
saya. Sering kuajak bapak untuk bersama-sama berdoa, supaya ada
semangat hidup. Kondisi bapak belum ada perubahan, karena sesak nafas sampai dibantu dengan 2 tabung oksigen. Bapak
terus mengigau. Pikiranku kalut tak bisa
berbuat banyak. Hanya rasa sesak di dada dan tangisan dalam hati yang selalu
ada. Akhirnya bapak di EKG, di rongen juga, tapi aku tak berasi tanya hasilnya
bagainya. Perawat cek gula juga, ternyata gulanya bapak 193, normalnya maksimun 150 katanya. Akhirnya bapak disuntik insulin untuk menstabilkan.
Aku
masih dikuatkan di hari ke-5. Bapak selalu ketakutan dan gelisah. Aku
menjaganya dengan tidur dilantai. Tapi tak pernah bisa tidur, ikut gelisah. Suasana dingin sekali. Dipanggilnya aku dan dipegang
tanganku, aku tak boleh jauh. “Temani aku terus”, katanya. “Mana Marcel”,
tanya-tanya bapak terus. Pandangan bapak
seperti orang asing, kosong. Bapak bilang sakitnya jauh melebihi waktu
operasi jantung, bentall procedural. Deg-degan
terus jantung saya, perasaan mulai tak
nyaman. Ku telpon marcel anakku. Tak nyambung-nyambung ku bel terus terus terus, tak nyambung juga. Akhirnya ku telpon aber
yang di rumah yang berbeda 1 km jaraknya
untuk menjembut marcel anakku dan
segera datang.
Akhirnya aber dan Marcel muncul di jendela. Mereka memang tak boleh masuk,
mereka hanya bisa mengintip lewat
jendela melihat keadaan kami. Kusampaikan semua kejadian malam ini
padanya, kuputuskan supaya Pastur
memberikan sakramen minyak suci atau
sakramen pengurapan orang sakit atas persetujuan bapak.
Sekitar
03.00 dini hari marcel ke pasturan mau
telpon tidak sopan. Dia ketuk pintu pasturan tapi pastinya Pater masih tisur. Akhirnya dia menunggu hingga jam 5, Pater Raffi
membukakan pintu dan mendoakan kami dengan zoom meet. Pater memberikan
semangat, nasehat dan siraman rohani.
Puji Tuhan bapak dikuatkan saat itu. Bapak kelihatan tenang. Syukur puji
Tuhan tak henti-henti kusampaikan
kepadaNya.
Sehari
berlalu dengan tenang bapak mau makan.
Terus tetap kujaga. Kami masing-masing
berdoa dalam hati dan terus berdoa semoga
kuat melewati ujian ini. Chatt teman-teman keluarga, saudara, teman memberi kekuatan. Trimakasih Tuhan,
tak henti aku terus mengucapkan syukur.
Kembali
Pater Lino mendoakan kami juga dengan zoom meet bersama pak Ande guru agama.
Merasa ada pencerahan, walau bapak belum
bisa konsentrasi penuh. Berkat kekuatan doa dan terus berdoa membuat hati tidak
takut menghadapi sakrat maut. Tidak rasa takut jika Tuhan menjemput. Dengan begitu
kami ini rasanya begitu dekat
dengan Tuhan, kami merasa akrab merasa damai dan sejuk di hati jika bersama
Tuhan
Berkat
Doa mujizat datang yang tak pernah terduga.
Hasil PCR 2 kali bapak hasilnya
negatif. Duh Tuhan...rasanya hati seperti disiram air sorgawi. Antara menangis, terharu
bahagia yang tak terkira. Puji Tuhan, namaMu terus kami puji sepanjang hidup
kami. Hasil negatif, artinya bapak sudah tidak
terpapar lagi dan siap untuk meninggalkan
ruangan covid.
Sebenarnya kami ingin sekali pidah rumah sakit yang
berbeda, Di RSUD ini dikhususkan untuk
Rumah sakit covid. Saat dokter Anry memeriksa
bapak akhirnya saya bisa sharing dengan beliau dan saya
menyampaikan isi hati kami untuk pindah
di rumah sakit lain. Menurut dr Anry, Di Rumah sakit Lindimara dokter penyakit dalam satu-satunya sekarang
terpapar covid-19. Di RSU Emanuel peralatan tidak lengkap, bahkan oksigen-pun
tidak ada. Sementara bapak sakit jantung dan peralatan semua ada di RSUD Rara Meha ini. Akhirnya
kami putuskan untuk tetap di rumah sakit ini saja.
Sekitar
jam 21.00 perawat menjemput kami untuk pindah ruangan ICU. Terlihat wajah bapak
yang merasa lega. Termasuk kita semua keluarga yang menemani, bisa 11 orang
yang mengantar bapak pindah. Kini bapak sudah di ruangan baru, ruang ICU yang
sangat luas, nyaman ditemani perawat
yang ramah-ramah. Duh Tuhanku,
trimakasih..... hati mulai lega dan lapang. Selapang luasnya ruangan
ini. Hanya ada 1 pasien juga di ruangan itu.
Kritis
sudah terlewati, kini kami menjalani suasana baru. Di ICU punya peraturan yang
berbeda. Tidak sembarang orang masuk. Setiap masuk harus pakai baju khusus, Tak
boleh lupa cuci tangan sebelum masuk. Masuk harus
satu persatu di jam yang sudah ditentukan. Jadi kami semua menunggu di luar, ada memang ruang tunggu yang sudah disipkan pihak rumah sakit.
Hari
Sabtu, 21 Agustus bapak masuk ICU menurut ibu Lisa, salah seorang kepala bagian
di Rumah sakit memberitahukan bahwa mulai hari Senin, 23082021 sudah ada dokter
spesialis jantung. Tuhan memang baik, Tuhan Maha Baik. Sebenarnya kami ada rencana setelah bapak membaik pergi
ke Sumba barat yang ada dotter jantung, eh ternyata sekarang di Waingapu juga
sudah ada. Padahal anak saya sudah
janjian dengan dokter di sumba barat
kalau dalam waktu dekat akan meluncur kesana. Semua Tuhan sudah atur, trimakasih Tuhan.
Bapak
sudah berangsur membaik. Hari ini mulai latihan jalan. Senyum sudah mulai muncul. Hati mulai tenang, kalau
ingat aku justru jadi menangis. Semuanya berkat Tuhan, berkat doa dan penguatan dari keluarga
dan teman yang masih sehat. Ini Tuhan yang mengingatkan. Hidup ini sementara
saja. Kita tak pernah tahu kapan Tuhan menjemput kita. Setiap saat kita harus
siap. Kita jadi menghargai kesehatan, lebih
dekat dengan Tuhan dan ingat untuk memohon pengampunanNya.
Kumpulkanlah
apa yang menjadi bekalmu dan kekuatanmu saat ini , sehingga ketika Tuhan
datang nanti kita siap menghadapNya. Kumpulkan
kekayaan rohani yang kita miliki, yakni iman,
harapan dan kasih. Yakinlah, jika Tuhan datang menjemput kita sudah siap untuk menyerahkan diri kita
kepada Tuhan. Akhirnya kita akan
berbahagia bersamaNya. Dimasa pandemi ini begitu banyak orang yang meninggal
baik yang terpapar maupun yang tidak.
Semoga dengan bekal kekayaan rohani yang kita miliki kita sudah siap, maka teruslah berjaga-jaga. (
renungan pagi P. Ofan CssR, kamis 26082021)
Kini
kami masih menjalani Isoman. Sedih rasanya. Merasa tak bebas, terisolir. Makan
tak enak, duduk bosan. Tidur pun tak pernah nyenyak. Kerja juga tidak ada
gairah. Campur aduk deh.Ya Tuhan, semoga kami baik-baik saja. Semoga kami
segera disembuhkan, dipulihkan seperti sedia kala. Agar kami bisa menjalani
hidup ceria dan penuh semangat. Kami sudah capek.
Tapi
apapun itu kami tetap bersyukur, masih diberikan nikmat kehidupan. Ini Ujian
yang harus dilalui. Harus bisa lulus. Kami
jalani dengan iklas dan pasrah. Yakinlah, Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi umatnya yang setia. Kami akan
terus berdoa untuk yang ‘terbaik’. Salam
Sehat. Semoga Corona cepat berlalu.
#IMarikitaterustaatiprokes5M
(Memakai masker,menjaga jarak, mencucitangan dengan
air yang mengalir, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas)
“ Salam.....Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG, nama lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Riwayar sekolah SDK kamal, SMP K Muntilan, SMAK Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll . Buku Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia”, “Goresan Pena Mengukir Prestasi”, Aku Bangga Jadi Penulis”, Trik Jitu Jadi Penulis masa Kini” Penulis tinggal di Jl Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT PO BOX 87112 surel, ledwinaetiwuryani@gmail.com. ledwinaastiwi44@gru.sma.belajar.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar