Rabu, 25 Agustus 2021

KETIKA UJIAN ITU DATANG 1

 


 

Akhirilah setiap hari dengan pikiran yang positif. Tidak peduli  seberapa beratnya harimu, besok adalah kesempatan  baru yang membuat segalanya lebih baik.

 

Pertengahan juni  hingga tanggal 11 juli 2021 adalah kenaikan kelas TK,SD,SMP dan SLTA  untuk seluruh Indonesia. Para guru dan murid  libur sekolah. Sudah 3 tahun  lebih saya tidak mudik. Orang tua   sisa ibu  saja. Bapak sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Hati begitu rindu  untuk  makan  sayur masakan ibu. Rindu sawahku, rindu  gudeg makanan kesukaanku. Hati ini  begitu  merindu  untuk  sekedar  napak tilas  masa kecilku dulu.

Masa indah  tinggal di kampung halaman  bersama  orang tua, dan adik-adiku. Duluuu....bercanda, saling mengganggu. Rindu untuk ke tempat kubur para leluhur yang kuyakini  dari doa untuk mereka  akan membawa berkah bagiku dan keluargaku.

Untuk menghemat  biaya, aku rencana  naik kapal Egon bersama Marcel anakku yang pertama. Hati sudah berbunga-bunga membayangkan  rumah kelahiranku, tempat aku dibesarkan oleh orang tuaku. Aku  tinggal dirantau sudah lebih dari 30 tahun. Sebagai  guru surat  ijin sudah  kulayangkan kepada atasanku.  Dengan penuh suka  cita  siap  melaju esok hari dengan kapal laut.  Syarat  sudah  terpenuhi, yaitu bukti vaksin  1 dan 2 sudah punya dan bukti PCR sudah siap.

Tas dan pembawaan sudah siap,  bekal  untuk makan  di kapal pun sudah dimasak. Perjalanan untuk 2 hari.  Sambal goreng kering kacang dan tempe campur ikan teri. Kesukaan anakku. Tak lupa ikan asin  1 dos produk Mangili pesanan  Anto anakku yang masih kuliah di Jogya.  Dengan  bekal semangat membara, kesehatan yang cukup, siap untuk berangkat esok pagi dini hari.

Sore itu.....tiba-tiba kubaca WA dari adikku yang di Jakarta, mengabarkan  Anto anakku terpapar corona. Begitu juga  Ibu, Dik Rudi  adikku yang bungsu, istri dan  Evan putra mereka. Ya Tuhan.  Hati ingin menjerit. Saat itu  saya memang dengar kabar kalau di provinsi Jawa Tengah orang yang terpapar paling tinggi. Zona merah parah. Orang-orang tidak  boleh keluar, yang meninggal banyak sekali.

Di desaku,  adikku bilang  mereka yang terpapar berjamaah. Kutanya, apa itu maksudnya. Jadi mereka  rame-rame kena  covid. Mas Joko kakak sepupu sakit parah,  badan yang kekar bisa turun hingga 14 kg dalam seminggu. Dik Anas  adik sepupuku orang yang  selalu optimis dalam hidup, rajin berolah raga istrinya dokter pula, meninggal karena covid-19. Belum cerita – cerita lain yang mendukakan hati dari para tetangga yang tak bisa kusebut satu persatu.

Betapa  menyedihnya dengar kabar itu.  Akhirnya adik iparku, dik Ita  dari Jakarta  menyarankan aku ‘tidak boleh’  datang ke Jawa. Bahaya! Bagaimana aku bisa ke Jawa?. Jika  nekat artinya  menjerumuskan diri. Serumah 'utuh' ‘ semua positif. Anakku yang di Jogya juga positif. Apa mungkin aku datang?

Dengan  badan terasa lemas aku mengurungkan  untuk  mudik. Sedih  dengar cerita anakku,  dia kos sendirian, badannya panas, kesulitan bernafas, nyeri dada atau rasa tertekan di dada, deman tinggi selama 4 hari. Makan tak  enak, tidur tidak bisa. Tenggorokan radang dan sakit sekali katanya. Jika menelan makanan juga sakit. Rasa  makanan semua hambar tak ada yang enak. Tambah  batuk-batuk  kering  tapi keluar dahak yang berwarna  coklat. Dia terasa parah karena  belum vaksin. Sebagai mahasiswa di Jogya mungkin belum dapat kesempatan vaksin.

Mamaa... dia  mengeluh padaku. Sebagai  mama  aku hanya bisa  menangis,  tak sanggup  menerima kenyataan yang ada.  Aku hanya  bisa menghibur, berdoa dan terus  berdoa,  semoga Tuhan sudi mendengakan kami. Apa yang  harus kukatakan padanya, aku seperti orang linglung. Apalagi dengar kabar   teman  kuliah dari anakku meninggal. Hal itu menambah kesedihanku.  Pagi-pagi dia ke rumah sakit Bethesda.  Dengan badan lemah dia paksakan diri untuk  rapit test dengan ongkos Rp 900 ribu.  Besar sekali,  jatah kiriman anak satu bulan. Ternyata benar dia  positif. Tak apalah, kesehatan jauh  lebih penting,  kuhibur anakku.  Akhirnya Tante Ita yang  kirim uang untuk membelikan obat-obatan dan menyambung hidup berikut. Syukurlah. Trimkasih Tante.

Untung ada adikku yang begitu perhatian padanya. Dik Rita dan di Ita adik iparku yang tinggal di Jakarta adalah keluarga yang baik sekali. Merekalah yang  selalu mensuport. Mengirimkan obat, vitamin  dan berbagai hal  untuk kesembuhan Anto dan keluarga di Muntilan. Bahkan mereka membelikan obat cina yang mahal untuk semua. Aku hanya bisa pasrah walau hati selalu  merasa kuatir dan was-was tiada henti. Apalagi kalau dengar  berita dan baca di medsos yang meninggal  semakin banyak setiap hari.

Corona menerjang  tak pandang bulu. Miskin kaya, tua muda,  apapun profesinya. Sediiih sekali!!.  Tak henti-hentinya saya berdoa dari NTT untuk keluarga yang di Jawa. Tuhan,  mampukan  kami  menerima ujian besar ini. Benar-benar  kami  tak berdaya. Setiap hari kunyalakan  lilin, kudaraskan doa dengan tangis dan air mata. Di Kos  anak saya ‘sendirian’. Merasakan ganasnya serangan  corona .  Mau minta tolong siapa?. Badan deman, panas tinggi, semua dirasakan dan diatasi sendiri. Mau keluar tak berani. Ibu kos tak boleh tahu. Jika  ia  lapor  pastinya akan diusir dari kos, jangan sampai nanti menularkan yang lain. Akhirnya dia menahan sakitnya sendiri tanpa minta bantuan  orang-orang di sekitar.

Berbeda  cerita yang di rumah ibu.  Semua membuatnya sedih, Sedih. Peristiwa ini  benar-benar membuat sesak di dada. Jantung bagai  terlepas dari tempatnya.  Belum suamiku tercinta sementara  sakit jantung  yang harusnya tak boleh  banyak berpikir. Tak boleh  stress. Tambah lagi  di Muntilan yang semuanya terpapar  harus isolasi mandiri. Mereka berkabung di rumah. Semuanya badan lemah,  panas tinggi,  batuk-batuk dan tak bisa beraktifitas. Ibu punya riwayat asma, ini yang membuat kami selalu kawatir.

Tapi beruntung yang di kampung.  Penduduk setempat yang tak terpapar  dengan suka rela mereka  mengirimkan  makan dan minun setiap hari. Sungguh berhati malaikat mereka itu. Saat  serumah tak berdaya karena terpapar, Tuhan mengutus  orang baik  di sekitar rumah untuk  memberi bantuan. Sebagai keluarga, kami dari jauh hanya bisa mengucapkan terimakasih  yang berlimpah atas kebaikan mereka .

Waktu terus berjalan. Hari-hari dilalui dengan kelam. Doa  selalu didaraskan disetiap kesempatan. Banyak orang sehat dengan caranya sendiri memberikan bantuannya.  Mengadakan menyemprotan. Mengirimkan disinfektan, memberi mi, telur dan banyak bantuan lain.  Trimakasih Tuhan  untuk tangan-tangan kasih Tuhan  yang rela mengulurkan tangannya bagi yang menderita.

Lain lagi cerita adikku di Jakarta. Dik Rita adikku yang kedua,  Yang tinggal di Griya Bintara . Dua anaknya  adalah dokter, yang satu  baru selesai wisuda S.ked. dan yang satu sudah praktek di puskesmas Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Dokter Devi, cerita bahwa dia bersama beberapa rekan kerjanya juga positif. Begitu panik mamanya. Mereka yang selalu memberi nasehat penguatan, penghiburan kepada orang lain termasuk  saudara di Muntilan dan Jogya, sekarang giliran dia sendiri yang  terpapar.

Sedih  dengarnya. Obat Cina yang  seperti diberikan Anto  anakku, ternyata  habis diperedaran. Padahal obat itu  yang meyakinkan untuk menyembuhkan. Mamanya cari-cari diberbagai  penawaran online, semuanya habis stok. Kami semua hanya  bisa  memberi penguatan dan  doa. Memotivasi supaya  jangan terlalu panik. Devi cerita bahwa setiap hari  5 orang yang meninggal, saya  agak takut juga, katanya. Kata dr Devi  yang  kelihatan pasrah tak berdaya.

Adikku nomor 3  yang tinggal di Halim , jl. Baliraya , mereka  juga tak lepas  dari serangan ganasnya Corona. Jakarta Zona merah terus. Kabar lagi mengejutkan, mama dari dik Ita Positif Covid, karena komorbit beliau sampai tak sadarkan diri akhirnya langsung masuk ICU. Tiga hari kemudian meninggal. Sedih sekali. Kita semua masing-masing diuji dengan datangnya pandemi ini. Belum  sembuh yang satu  terpapar lagi yang  lain. Tak  satupun yang  terlewatkan, kita bukan hanya jadi penonton, tapi  benar-benar kita merasakan sakitnya. Merasakan penderitaannya. Tangisan dimana-mana , termasuk di dalam rumah saya sendiri.

Tanggal 20 Mei Ibu Mertin , istri dari camat kota meninggal  karena covid-19. Ceritanya sedih. Suami yang seorang pejabat dengan setia  selalu menemani sejak  sakit hingga meninggal dunia. Setelah Istri meninggal mungkin beliau depresi, sakit dan  sesak nafas hingga tidak pernah bisa tidur  sejak sang istri meninggal (2 bulan).  Tak ada  hujan tak ada angin, tiba-tiba juga dengar pak camat sendiri yang meninggal mendadak. Kami sebagai rakyatnya   turut  mendoakan semoga diampuni segala dosanya sehingga  mendapat tempat yang layak di Sorga. Kini Anaknya Varel dan Vanya jadi yatim piatu.

Sudah 2 minggu Bapak (suami) mengeluh  badannya  meriang.  Bapak seorang pengawas. Dia sendirian tanpa ada teman pengawas lain di kabupaten Sumba Timur. Jadi  merangkap sebagai koordinator, sekaligus sebagai anggota. Ditemani 1 orang pak Erik sebagai stafnya.  Walau sakit dia nekat saja pergi kantor setiap hari. Sudah  4 kali bapak batal vaksin  karena kondisi yang tidak memugkinkan. Pertama tensi 180, kedua  tensi  masih  tinggi ditambah deman, ketiga  badan lemas, vaksin ke-4 saking  lamanya antri di kodim hingga  malam akhirnya batal lagi.

Rencana mau pergi ke kampung Tanarara ( 60 km ) dari rumah untuk vaksin, tiba-tiba  badan drop. Cepat-cepat  kami menuju RSU Emanuel. Tahun 2019 bapak  operasi jantung ( Bentall Procedural = ganti katup jantung). Artinya bapak  ada komorbit. Benar saja hasil antigennya positif. Badan lemas tak berdaya, batuk kering semakin menjadi-jadi. Nafassesak,  nyeri di dada dan hilang kemampuan  berbicara  atau bergerak tambah  lagi diare.   Tapi dokter tidak menyarankan  bapak opname, akhirnya kami pulang.

Beruntung kami  banyak saudara yang paramedis dari dokter hingga perawat, jadi  curhat di grup keluarga semua bisa bantu memantau memberi solusi. Kami beli alat tensi, ada yang  meminjami Oksimeter  dan  pengukur  suhu tubuh. Syukurlah. Begitu banyak teman-teman peduli pada kami.  Ada yang antar makan , buah, makanan kecil, madu, vitamindan lain-lain, hingga tidak mampu makan. Kami jadi terharu  atas kebaikan teman-taman. Ingin menangis, ternyata banyak sekali orang yang menyayangi kami.

Banyak sekali yang mendoakan keluarga kami. Kami tinggal 14 orang, bersama anak-anak keluarga yang sekolah. Namun bapak kondisi paling parah karena selain belum  vaksin  , komorbit pula.Bapak empat kali gagal vaksin lantaran tensi selalu tinggi, jadi  tertunda terus, alhasil  akhirnya terserang ganasnya covid-10. Kami yang lain sudah vaksin jadi walaupun positif sudah ada anto bodi, kami  tetap sehat. Kami termasuk  OTG ( orang tanpa gejala).

Banyak  masukan-masukan dari mereka, nasehat-nasehat yang harus  saya lakukan selama mengurus bapak isoman di rumah. 5 hari berjalan lancar. Obat yang  dibeli adalah Vit-D3, Vit-B kompleks, Vit C1000  , Paracetamol, zinc sulfate Motnohydrate dan Acetylcystelne ( obat batuk). Dan obat jantung yang diminum seumur hidup juga tak ditinggalkan, yaitu Simarc, Ramipril , furosemide, Bisoprolol dan  spironolaktone. Saya sampai hafal nama-nama obat karena harus diminum setiap hari. Ada obat  cina yang dikirim adaik di Jakarta ‘lianhua’ tapi belum berani dinimumkan. Perkembangan keadaan bapak terus saya catat.  Ternyata  bapak semakin drop  tambah  lagi tak mau makan. Badan  terasa panas tetapi bapak bilang dingin hingga pakai 2 lapis selimut tebal. Saturasi 80, tensi 85/55 dan suhu tubuh 38,5.

Saat itu  pikiran saya mulai panik. Pikiran tak karuan, pandangan bapak kosong. Kutelpon anakku, tetanggaku 2 yang perawat, kusampaikan  keadaan bapak. Semua datang  lengkap dengan pakaian APDnya.  Bapak  mulai lemah tak berdaya. Tapi  bapak bersikeras tak mau ke rumah  sakit. Bapak  macam trauma ke rumah sakit umum, entah  apa yang dipikirkan. Kutahan menangis walau sudah sesak didadaku. Semua teman-teman yang datang menguatkanku.

Mereka mulai berdatangan merayu bapak supaya mau ke rumah sakit umum. Bapak perlu oksigen, infus dan lain-lain. Dirumah tak ada fasilitasi itu. Sampai  anakku  telpon tempat penyewaan  oksigen, tapi itupun kosong.  Dengan berbagai cara kami memohon-mohon supaya bapak mau pergi ke rumah sakit, sampai dokter dari rumah sakit rela datang ke rumah ikut membujuk bapak! Bapak tetap tidak mau. Dengan  tangis dan  memohon-mohon  akhirnya  bapak menganggukkan kepala tanda setuju. Puji Tuhan. Sebenarnya  ambulan juga siap  untuk menjemput bapak,  tapi  syukurlah  bapak  bisa  dipapah dan akhirnya  mau pakai mobil sendiri.  Di dalam mobil  saya  hanya  bisa berdoa. Cemas, was-was, takut, campur aduk berkecamuk di dada saya.  Tuhan  semoga  semua dilancarkan.  Aku tak tahan  melihat bapak yang  tak berdaya, lesu, kondisinya sangat lemah.

Sampai di rumah sakit, sudah siap dijemput  dengan kursi roda. Dengan sigap dan  cekatan para  perawat menghampiri kami. Akhirnya  kami di bawa ke rung anggrek.  Ya Tuhan,  suasananya begitu mencekam. Sebelah ruang persis ruang adalah kamar jenazah. Saat itu jam 11 malam. Suasana sepi sekali, menyayat hati.  Peraturan  yang terpapar tidak boleh ditunggu oleh keluarga. Berkat  alasan  bapak jantung dan sangat parah  akhirnya  saya diperbolehkan menunggu. Dengan catatan, tidak boleh keluar dari kamar/ ruangan.  

Dilemalah aku. Pada dasarnya aku ini penakut. Berkat  doa dan keyakinan  aku niatkan diriku untuk ‘siap’ menjaga. Apapun yang terjadi, demi suamiku tercinta.  Hidup mati di tangan Tuhan. Tuhan  kuatkan aku. Yakin. Siap!. Apapun yang terjadi  harus  yakin, Tuhan pasti   mendampingi  saya setiap saat. Malam pertama aku nginap di rumah sakit, satu kamar berdua. Aku tidur di lantai. Sungguh  suasana  yang menyayat  membuat aku tak bisa tidur buku kuduk berdiri. Gelisah terus rasanya. Kubaca doa Orasi,doa rosario,  terus  kudaraskan doa untuk  menghibur diriku. Ketakutan belum juga sirna.

Ku dengar erangan bapak tua yang sakit di sebelah. Benar-benar mencekam. Seluruh pasien di runag ini  terpapar covid-19. Dari bayi hingga  usia lanjut.  Hanya aku saja yang masih kelihatan sehat. Dan aku sendirian yang menjaga orang sakit. Ngeri. Karena badan  panas inggi, bapak terus mengigau. Ujian malan  ini terlalu berat bagiku. Ku dengar  lagi tangisan dan ratapan  melewat jalan di depan kamarku.  Yakin  itu pasti  tangisan duka  yang keluarganya meninggal. Untuk menjemput jenasah. karena  keluarga tak  diperkenankan masuk ruang, mereka menunggu di depan pintu ruang. Berulang-ulang kejadian yang sama,  suara tangisan  yang menyayat hatiku dan tentunya bapak.

Hari terus berjalan dengan  rasa penuh duka lara, hanya  doa yang menguatkan saya.  Sering kuajak  bapak untuk bersama-sama berdoa, supaya ada semangat hidup. Kondisi bapak belum ada perubahan,  karena sesak nafas  sampai dibantu dengan 2 tabung oksigen. Bapak terus mengigau.  Pikiranku kalut tak bisa berbuat banyak. Hanya rasa sesak di dada dan tangisan dalam hati yang selalu ada. Akhirnya bapak di EKG, di rongen juga, tapi aku tak berasi tanya hasilnya bagainya. Perawat cek  gula juga, ternyata  gulanya bapak 193, normalnya  maksimun 150 katanya.  Akhirnya bapak disuntik insulin untuk menstabilkan.

Aku masih dikuatkan di hari ke-5. Bapak selalu ketakutan dan gelisah. Aku menjaganya dengan tidur dilantai. Tapi tak pernah bisa tidur, ikut gelisah. Suasana  dingin sekali. Dipanggilnya aku dan dipegang tanganku, aku tak boleh jauh. “Temani aku terus”, katanya. “Mana Marcel”, tanya-tanya bapak terus. Pandangan bapak  seperti orang asing, kosong. Bapak bilang sakitnya jauh melebihi waktu operasi jantung, bentall procedural.  Deg-degan terus  jantung saya, perasaan mulai tak nyaman. Ku telpon marcel anakku.  Tak nyambung-nyambung  ku bel terus terus terus,  tak nyambung juga. Akhirnya ku telpon aber yang di rumah yang berbeda 1 km jaraknya  untuk  menjembut marcel anakku dan segera datang.

Akhirnya  aber dan Marcel muncul  di jendela. Mereka memang tak boleh masuk, mereka hanya bisa mengintip  lewat jendela melihat keadaan kami. Kusampaikan semua kejadian malam ini padanya,  kuputuskan supaya Pastur memberikan  sakramen minyak  suci atau  sakramen pengurapan orang sakit atas persetujuan bapak.

Sekitar 03.00  dini hari marcel ke pasturan mau telpon tidak sopan. Dia ketuk pintu pasturan tapi   pastinya Pater masih  tisur. Akhirnya  dia menunggu hingga jam 5, Pater Raffi membukakan pintu dan mendoakan kami dengan zoom meet. Pater memberikan semangat, nasehat  dan siraman rohani. Puji Tuhan bapak dikuatkan saat itu. Bapak kelihatan tenang. Syukur puji Tuhan  tak henti-henti kusampaikan kepadaNya.

Sehari berlalu dengan tenang bapak  mau makan. Terus tetap kujaga.  Kami masing-masing berdoa  dalam hati dan terus  berdoa semoga  kuat melewati ujian ini. Chatt teman-teman keluarga, saudara, teman  memberi kekuatan. Trimakasih  Tuhan,  tak henti aku terus mengucapkan syukur.

Kembali Pater Lino mendoakan kami juga dengan zoom meet bersama pak Ande guru agama. Merasa ada pencerahan,  walau bapak belum bisa konsentrasi penuh. Berkat kekuatan doa dan terus berdoa membuat hati tidak takut menghadapi sakrat maut. Tidak rasa  takut  jika Tuhan menjemput.  Dengan begitu  kami ini rasanya  begitu dekat dengan Tuhan, kami merasa akrab merasa damai dan sejuk di hati jika bersama Tuhan

Berkat Doa mujizat datang yang tak pernah terduga.  Hasil PCR  2 kali bapak hasilnya negatif.  Duh Tuhan...rasanya  hati seperti  disiram air sorgawi. Antara menangis, terharu bahagia yang tak terkira. Puji Tuhan, namaMu terus kami puji sepanjang hidup kami. Hasil negatif, artinya bapak sudah tidak  terpapar lagi dan  siap untuk meninggalkan ruangan covid.

Sebenarnya  kami ingin sekali pidah rumah sakit yang berbeda, Di RSUD ini  dikhususkan untuk Rumah sakit covid. Saat dokter Anry memeriksa  bapak akhirnya  saya  bisa sharing dengan beliau dan saya menyampaikan  isi hati kami untuk pindah di rumah sakit lain. Menurut dr Anry, Di Rumah sakit Lindimara  dokter penyakit dalam satu-satunya sekarang terpapar  covid-19. Di RSU Emanuel  peralatan tidak lengkap, bahkan oksigen-pun tidak ada. Sementara bapak sakit jantung dan peralatan  semua ada di RSUD Rara Meha ini. Akhirnya kami putuskan untuk tetap di rumah sakit ini saja.

Sekitar jam 21.00 perawat menjemput kami untuk pindah ruangan ICU. Terlihat wajah bapak yang merasa lega. Termasuk kita semua keluarga yang menemani, bisa 11 orang yang mengantar bapak pindah. Kini bapak sudah di ruangan baru, ruang ICU yang sangat luas, nyaman ditemani perawat  yang ramah-ramah. Duh Tuhanku,  trimakasih..... hati mulai lega dan lapang. Selapang luasnya ruangan ini. Hanya ada 1 pasien juga di ruangan itu.

Kritis sudah terlewati, kini kami menjalani suasana baru. Di ICU punya peraturan yang berbeda. Tidak sembarang orang masuk. Setiap masuk harus pakai baju khusus, Tak boleh lupa cuci tangan sebelum masuk.  Masuk harus  satu persatu di jam yang sudah ditentukan. Jadi kami semua menunggu  di luar, ada memang ruang tunggu yang  sudah disipkan pihak rumah sakit.

Hari Sabtu, 21 Agustus bapak masuk ICU menurut ibu Lisa, salah seorang kepala bagian di Rumah sakit memberitahukan bahwa mulai hari Senin, 23082021 sudah ada dokter spesialis jantung. Tuhan memang baik, Tuhan Maha Baik. Sebenarnya  kami ada rencana setelah bapak membaik pergi ke Sumba barat yang ada dotter jantung, eh ternyata sekarang di Waingapu juga sudah ada.  Padahal anak saya sudah janjian dengan  dokter di sumba barat kalau dalam waktu dekat akan meluncur kesana. Semua Tuhan  sudah atur, trimakasih Tuhan.

Bapak sudah berangsur membaik. Hari ini mulai latihan jalan. Senyum  sudah mulai muncul. Hati mulai tenang, kalau ingat aku justru jadi menangis. Semuanya  berkat Tuhan, berkat doa dan penguatan dari keluarga dan teman yang masih sehat. Ini Tuhan yang mengingatkan. Hidup ini sementara saja. Kita tak pernah tahu kapan Tuhan menjemput kita. Setiap saat kita harus siap. Kita jadi menghargai kesehatan,  lebih dekat dengan Tuhan dan ingat untuk memohon pengampunanNya.

Kumpulkanlah apa yang  menjadi bekalmu  dan kekuatanmu saat ini , sehingga ketika Tuhan datang nanti  kita siap menghadapNya. Kumpulkan kekayaan rohani yang kita miliki, yakni iman, harapan dan kasih. Yakinlah, jika Tuhan datang menjemput  kita sudah siap untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Akhirnya  kita akan berbahagia bersamaNya. Dimasa pandemi ini begitu banyak orang yang meninggal baik yang  terpapar maupun yang tidak. Semoga dengan bekal kekayaan rohani yang kita miliki  kita sudah siap, maka teruslah berjaga-jaga. ( renungan pagi P. Ofan CssR, kamis 26082021)

Kini kami masih menjalani Isoman. Sedih rasanya. Merasa tak bebas, terisolir. Makan tak enak, duduk bosan. Tidur pun tak pernah nyenyak. Kerja juga tidak ada gairah. Campur aduk deh.Ya Tuhan, semoga kami baik-baik saja. Semoga kami segera disembuhkan, dipulihkan seperti sedia kala. Agar kami bisa menjalani hidup ceria dan penuh semangat. Kami sudah capek.  

Tapi apapun itu kami tetap bersyukur, masih diberikan nikmat kehidupan. Ini Ujian yang harus dilalui. Harus  bisa lulus. Kami jalani dengan iklas dan pasrah. Yakinlah, Pasti Tuhan akan memberikan yang  terbaik bagi umatnya yang setia. Kami akan terus  berdoa untuk yang ‘terbaik’. Salam Sehat. Semoga Corona  cepat berlalu.

 

#IMarikitaterustaatiprokes5M

(Memakai masker,menjaga jarak, mencucitangan dengan air yang mengalir, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas)

 

 

  “ Salam.....Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, pada tanggal 14 April Mengajar di SMA Negeri 2 Waingapu. Riwayar sekolah SDK kamal, SMP K Muntilan, SMAK Tarakanita Stella Duce Yogyakarta.  Buku antologi dan solo ber-ISBN yang sudah terbit  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Menuai Berkah Bertaut Aksara ,Kidung Rindu, Refleksi dan Resolusi Saat Pandemi, Dermaga Hati dll  . Buku Solo, Kumpulan cerpen “Mengungkap Rahasia”, “Goresan Pena Mengukir Prestasi”, Aku Bangga Jadi Penulis”, Trik Jitu Jadi Penulis masa Kini” Penulis tinggal  di  Jl Trikora RT/RW: 010 / 003 Kel. Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT PO BOX 87112 surel, ledwinaetiwuryani@gmail.com. ledwinaastiwi44@gru.sma.belajar.id


etiastiwi66.blogspot.com   No HP / WA 085 230 708 285.


 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...