Rabu, 25 Agustus 2021

Puisi Telelet Antologi



  

KRITIS DITERJANG CORONA

Oleh : Ledwina Eti

 

Kusimpan goresan ini

Mengukir sebuah karya seni

Di sebuah puisi telelet terkini.

 

Kita tak pernah tahu dari yang Esa

Aku tak tahu pula umur kita tersisa

Hanya bisa pasrah pada yang kuasa

PadaNya saja kita  ungkapkan rasa.

 

Sedih, perih,  kini suamiku terpapar

Aku, anak-anakku juga terkapar

Mencekam pandangan nanar

Anggota badan terasa onar

Wajah  layu tak bersinar.

 

Sedih,sakitnya luar biasa

Badan letih rasa tersiksa

Harapan sirna,  putus asa

Ingin marah tapi tak kuasa

Oh TuhanKU   aku harus bisa

Semangat  kuat dan sentosa.

 

Derita ini membuat aku menangis

Apalagi saat badan lunglai dan kritis

Gelisah, susah tidur hanya meringis

Menahan sakit hingga hati terkikis

Sesak nafasnya hampir habis.

 

Ujian,  diterimalah dengan rela

Iklas hati jangan buat tercela

Dunia menghadapi pratala

Sanggupkan menolak bala.

 

Refleksi dari hati terdalam

Agar tak rasa dalam kelam

Ungkapan syukur dan salam.

 

 

Waingapu, 23  Agustus 2021

 

 


 

 

 

 

 

HIDUP DITANGAN TUHAN

OLEH : Ledwina Eti

 

Saat  hati terasa  tak tenang

 Tuhan terasa jauh di awang-awang

Damai  tak ada, apalagi kasih sayang.

 

Hati  seolah terasa kering kerontang

Pikiran  tak nyaman terasa melayang

Tak tentu arah yang jelas jadi tegang

Roh jahat selalu terbayang-bayang.

 

Terasa hidup hampa tak bermakna

Hidup percuma dan  tak ada guna

Cita-cita, harapan semua sirna

Hidup seolah tak berwarna

Hambar tak ada pesona.

 

Aku mencoba  kuat

Menatap  penuh semangat

Menjadi orang beriman dan taat

Bersujud kepada Tuhan agar selamat

Berdoa, berpengharapan  sebagai umat

Untuk hidup kekal, bekal menuju akhirat.

 

Bahagia jika  hidup dalam Kasih Tuhan

Hati sukacita  dan  rasanya selalu nyaman

Sejahtera, bahagia dan  penuh kedamaian

Penuh syukur,  tenang dalam pengharapan

Hanya kepadaMU yang selalu kurindukan.

 

Saat kudengar sangkakala menggema

Suara kecapi turut berbunyi bersama

Dengan kedua tangan sujud kuterima

Tak pandang  kita semua sama.

 

Trimakasih bisa hidup dalam Dia

Damai sejahtera membuatku bahagia

Senyum penuh syukur dan hati  selalu ceria.

 

 

 

 


Waingapu, 24  Agustus 2021

 

 

 

 

 

IBUKU

Oleh  : Ledwina Eti

 

Ibu  lahir ke dunia  tanggal  tujuh belas

Bulan Agustus 45  saat Indonesia terbebas

Saat pahlawan lega tugasnya tuntas.

 

Lahir bayi kecil mungil yang tangguh

 Rasa merdeka membuat hati teguh

Gembira membuat bugar tubuh

Lahir  selamat tak mengeluh.

 

Panjang umur diberkati

Terus bersyukur dihati

Tersenyum dengan pasti

Saudara menaruh simpati

Kepadamu ibu aku kan berbakti.

 

Kini hatimu dipenuhi dengan cinta

Tak  lupa memberi nasehat dan cerita

Membuat kita semua ada suka cita

Rasa damai sejahtera setiap kita

Terpancar aura terlihat nyata

Hati sejuk teduh dan tertata.

 

Ibu mengajariku  berbagi

Mandiri  dan jangan grogi

Rendah hati tapi bersinergi

Agar bisa hidup smart berenergi

Tak boleh sombong apalagi unjuk gigi.

 

Keluarga kami dibuatnya selalu ceria

Saling melengkapi dan saling setia

Hingga  terwujud keluarga bahagia

Sebagai warga negara Indonesia.

 

Merdeka!!  Kusampaikan Selamat

Ibuku dan ibu pertiwi agar  tetap  Sehat

Untuk Indonesia maju dan  penuh semangat.

 

 


 

 

Waingapu, 17  Agustus 2021




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...