Senin, 30 Agustus 2021

TERIMA KASIH GURUKU

 


Oleh : Ledwina Eti 

Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah  orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian. Mengubah pengecut menjadi  pemberani. Mengubah  penderitaan  menjadi

 Kebahagiaan. Cinta Juga membawa  perubahan-perubahan  bagi siang dan  malam.

-Jallaludin Rumi-

 

Mungkin kisahku ini sangat  biasa dan tidak menarik. Bukan hal  yang heboh  apalagi fantastis. Namun  aku selalu  yakin bahwa setiap kisah perjalanan  hidup manusia ada hikmah yang bisa  diambil.  Atau  mungkin bisa juga menginspirasi. Semua tergantung dari cara  memberi makna atas  peristiwa ini. Dengan menuliskan kisah ini, bisa menjadi  kenangan untuk  generasi  kita. Seperti tertulis “ Tatkala  waktumu  habis tanpa karya  dan pengetahuan , lantas apa makna  umurku ini?”  -KH Wachid Hasyim-

 

Masa kecilku.

Aku empat bersaudara,  ibu dirumah saja dan  bapak adalah seorag guru. Jaman “umar Bakri. Sebagian  besar  yang usianya  seumuran denganku pastilah ingat perjuangan guru ‘seorang Umar Bakri”. Sosok guru hebat dan penuh kesederhanaan.  Gaji guru sangat kecil  tak pernah bisa  mencukupi untuk kebutuhan hidupnya. Akhirnya dia harus cari penghasilan tambahan, sebagai ojek atau pekerjaan lain.

Nah itulah aku  saat itu. Bapak dan ibu adalah ‘guruku’ di rumah. Mereka  orang yang  demokratis  dalam mendidik anak-anaknya. Dengan nasehat-nasehatnya yang  selalu kudengar. Tak pernah ada cerita  marah sepanjang mendidik aku dan adik-adikku. Mereka  halus, tulus dan sayang pada kami. Itu yang membuat kami selalu taat dan menghormati  mereka. Bapak seorang pekerja keras,  untuk mencukupkan hidup  bapak mengajar di beberapa sekolah. Setiap pagi bapak membawa bekal nasi karena biasa pulang sore hari.  Gaji guru saat itu  sangatlah kecil. Ibu  kerja sawah, menanam  padi dan sayur untuk menambah penghasilan. Ibu mengolah tanah sawah sedikit warisan dari kakek yang almarhum. Puji Tuhan kami hidup bahagia penuh cita dan kasih sayang.

 

 



 

Ketika aku Sekolah Dasar ( SD )

Aku kecil  usia 6 tahun  sekolah di sebuah  kampung kecil. Saat  itu tak ada taman kanak-kanak.   Jadi jika tangan kanan direntangkan  keatas sudah bisa pegang telinga  kiri, berarti itu adalah  sudah saatnya masuk kelas 1 SD. SD Kanisuis  Desa Kamal, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang.  Sekolah swasta  katholik  yang  sangat  diminati  para penduduk di situ.  Walaupun kami  minoritas tapi kami begitu merasakan indahnya perbedaan. Tak pernah ada selisih,  semua lancar, aman damai dan tenteram. Hidup rukun saling menghormati.

Jarak dari rumah ke sekolah  sekitar 3 km. Dengan kaki kosong, kami berjalan rame-rame bersama teman-teman. Begitu bahagia  saat itu.  Bahkan pulang sekolah sering mandi dikali besar yang kita lewati setiap hari. Begitu lugunya saat itu. Lucu deh kalau kuingat masa lalu.   Guru-guru begitu perhatian dan sayang pada kami. Mereka  mendidik dengan keras,  tertib  dan disiplin. Siswa  amat sangat ‘takut’  dan menghormati guru.  Jadi tak ada siswa yang nakal, pemalas  apalagi melawan guru. Dari  pada kena strap atau kena pukul, lebih baik  rajin, tekun dan jangan buat masalah. Jika pak guru sudah menunjukkan kepalan tangan, itu sudah ketakutan setengah mati. Puji Tuhan, yang kuingat aku dan adik-adik selalu langganan  untuk pegang ranking di SD itu.

Bapak/ibu guru begitu mengingat  hingga saat ini kalau kami mudik di kampung. Pak Dawud, Pak Rismantoro, Pak Yatno, Pak Supama, Ibu Sri dan Ibu Suryani. Sangat kuhafal hingga detik ini. Mereka  sudah berumur diatas tujuh puhan tahun. Puji Tuhan , semua berumur panjang. Saya merantau di NTT sudah 31 tahun karena suami adalah orang Sumba Timur asli murni, putra daerah, kampung Meuromba ( Kucing hutan: Red). 

Saat kududuk di bangku SMP.

Untuk menuju sekolah saya harus berjalan sekitar 7 km. Melewati  2 sungai dan berjalan menyusuri pematang sawah. Sepatu dipegang.  Setelah  dekat sekolah baru dipakai. Setiap hari  jalan setengah berlari. Sampai di mesjid Kauman Muntilan, kami numpang cuci kaki  barulah pakai sepatu lengkap kaos kaki. Kami sekitar 7 orang  setiap hari  bersama-sama  menuju sekolah. Sebagai kenangan, berkat  setiap  hari berlari kami bisa jadi juara lari mewakili sekolah hingga dapat medali tingkat karesidenan. Itu adalah kenangan yang tak akan lupa hingga kini.

SMP kanisius Muntilan, itu nama sekolahku. Sekolah di depan gereja besar Santo Antonius. Gereja bersejarah karena  pertama kali misionaris Katholik masuk ratusan tahun yang lalu. Kata orang  waktu itu adalah SMP yang favorit. Guru-gurunya terbaik dan hebat. Penuh kasih sayang dan akrab dengan murid. Kami biasa bercanda tawa tanpa jarak pada mereka. Kami merasa baik-baik saja. Seolah  tak ada siswa nakal saat aku sekolah dulu.  Semua manis-manis. Semua berbakti pada guru. Benar saja  bukti dari sekolah, kami  sungguh-sungguh belajar. Akhirnya kini  kita semua  menjadi orang yang bermanfaat.

Hal ini terbukti   kami masih punya WA grup alumni SMP angkatan tahun 82. Dari WAG kami merasa akrab  dan begitu dekat antara kami. Bisa saling  melengkapi, saling memberi, berbagi  bahkan  menyampaikan curahan hati. Biar kami jauh di mata tapi selalu dekat di hati. Kami tak pernah  melewatkan kabar setiap hari. Minimal  haloo.., selamat pagi  rasanya hati jadi damai sejahtera. Kami punya iuran,  untuk ikatan. Punya pertemuan  saat-saat tertentu, walaupun kami menyebar di seluruh Indonesia. Dari sabang sampai Merauke. Dari Miangas  hingga pulau Rote.

Bukti kebersamaan kami, jika ada yang meninggal pasti ada wakil yang  menghadiri. Sumbangan  dari kami pasti selalu ada. Yang sakit, yang meninggal kita jadi tahu. Keluarganya kami  saling mengenalnya. Cerita seru, lucu-lucu  selalu membuat kami rindu. Bahkan baru-baru ada teman yang  rumahnya  rubuh/ hancur  karena diterpa angin  sumbangan dari  teman alumni sampai bisa membangunkan rumah kembali lebih bagus.

Puji Tuhan.  Teman yang jadi pejabat tinggi  mereka rela menyumbang yang  fantastis. Semua punya rasa sosial tinggi. Itu semua berkat didikan guru. Bimbingan guru kami. Trimakasih guru,  jasamu akan kami kenang selalu. Guruku jumlahnya banyak waktu itu, yang masih segar dalam ingatanku adalah Pak Sartiman ( Kepala Sekolah), pak Tamaji guru OR, pak Bianto, pak Ji, Ibu Trini, Ibu Sukanto, Pak Bento,  Ibu Naning, Ibu Trini ( ibu guru matematika cantik dan yang paling baik hati), sehingga aku kuliah ambil fakultas MIPA gegara selalu dapat nilai baik dari beliau. Alumni  kami rutin pertemuan setahun sekali,  sehabis lebaran kami selalu mengundang guru. Kami memberi hadiah pada mereka. Bukan  besaran hadiah yang kami berikan, tapi cinta dan perhatian untuk  guru yang harus kita kedepankan. Semoga Bapak dan ibu  guru diberikan umur yang panjang dan sehat selalu .

 

SMAK Tarakanita Stella Duce Yogyakarta Sekolahku.

Aku asli orang kampung. Dulu bapak cerita punya cita-cita anaknya bisa sekolah di Jogya. Kota pelajar dan sekolah itu yang ditunjuknya. Aku sudah diterima di SMA N 1 Muntilan tapi  disuruh membatalkannya. Padahal sudah bayar uang pangkal dan dapat seragam sekolah dan kaostim.  Aku harus hijrah ke kota propinsi. Sebagai  anak harus patuh pada orang tua. Apa yang diharapkan orang tua jangan dikecewakan. SMA itu  terlalu mewah dimataku. Sebagian besar  siswanya adalah  anak China. Nota bene Orang-orang yang kaya. Murid  seribuan semua perempuan. Sekolah Favorit katanya, hingga kini masih terlihat juga gaungnya.

Dengan menutup mata  aku disuruh bapak  ikut daftar di situ. Modal nekat aku  untuk berani  mencoba ikut tes masuk . Puji Tuhan aku diterima. Nah giliran wawancara tentang biaya. Wow.. jangan tanya. Ini yang namanya pungguk merindukan bulan. Mana kita  orang kampung  seperti saya bis membayar  uang sekolah yang mahal. Berkat  belas kasihan Tuhan  aku dapat keringanan, bapak  adalah guru yang pintar bicara. Dalam Wawancara  bapak menyampaikan curahan hati dan fakta kehidupan nyata kami. Karena iba, Suster kepala mengijinkan dan berbelas kasih padaku. Akhirnya aku sekolah di SMA itu dengan biaya yang jauh lebih murah dari  teman-teman lainnya. Ini yang namanya rejeki itu tak pernah tertukar.

Para gurunya profesional. Berpengalaman dan hebat.  Murid-murid keren-keren, glamor maklumlah asli orang kota dan berada. Aku yang asli kampung ini nyinyir, bernyali kecil bahkan pertama kali masuk aku minder. Ternyata  bayanganku salah. Guru-guru  begitu dekat dengan kami. Kami sangat akrab dengan mereka. Apalagi setelah  saya ikut ekskul pramuka. Sering kegiatan  di alam bebas bersama para guru. Jalan bersama, pernah tidur bersama dan  saling cerita. Asyik lah pokoknya.

Jika kami ada masalah atau ingin curhat  bisa ketemu  suster di BK (Ruang bimbingan konseling). Bisa ke wali kelas yang serasa orang tua. Atau ke guru tertentu yang kami merasa dekat.  Benar, guru adalah sahabat yang baik. Guru adalah orang tua kita di sekolah. Guru yang membimbing, melatih dan mendidik kita. Dari merekalah kita dibentuk. Guru : digugu dan ditiru. Apa yang dilakukan guru akan ditiru oleh peserta didiknya. Trimakasih bapak ibu guru SMA-ku  yang baik hati yang sudah banyak berjasa untukku hingga mengantar  aku sampai ke bangku kuliah. Ibu Suhartini yang centil seksi tapi baik hati. Ibu Kireni guru prakarya yang membuat aku suka jahit sampai hari ini. Pak Simatupang guru bahasa Jerman, Guru matematika ada 2 Suster dan 1 Bruder yang mengajar kami ( Aljabar, geometri, aritmetima). Dan masih banyak guru  yang tak bisa kusebut satu per satu. Kalau ingat aku merasa rinduuu...sekali. Kadang kalau aku  pulang jawa, pasti kusempatkan  napak tilas untuk melihat SMA-ku dulu dan membayangkan  hal indah yang pernah kulakukan saat itu. WA grup juga ada, berkat  Era digital  semuanya bisa menjadi mudah, murah, meriah. Jauh dimata dekat dihati.

 



Di saat Aku Kuliah Di IKIP Sanata Dharma.

Aku anak pertama dari empat bersaudara. Jadi ada 3 orang adikku. Mereka pasti   semua ingin kuliah, sementara bapak gaji pas-pasan.  Mengingat itu, aku akhirnya memutuskan kuliah jurusan matematika yang ikatan dinas ambil pendidikan untuk jadi guru. Dengan alasan kalau guru itu pasti akan laku. Cepat dapat kerja dan tak ada waktu nganggur. Adikku  juga butuh biaya  untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Supaya adik-adikku juga  kebagian jatah dari gaji bapak yang  tak seberapa. Gaji harus bisa mencukupkan semuanya dengan adil merata.

Cerita di tempat kuliah kita semua tahu. Dosen  bukan seperti guru SMA. Mereka mengharapkan mahasiswa mandiri. Mereka  cuek dengan kita,  bahkan mungkin mereka tak ada yang kenal dengan kita. Kecuali kalau kita  punya sesuatu “kelebihan” atau “keanehan”, nah itu  dosen baru kenal kita. Apalagi aku ini bukan siapa-siapa, standar dan tak punya kelebihan apa-apa. He he he.... Yang jelas mereka tetap sosok  guru. Mereka berjasa  mewujudkan cita-cita kita. Kita tak  boleh melupakan jasa mereka. Pak Tutoyo, M.Sc Rektorku saat itu.  Trimakasih bapak ibu  dosen, Trimakasih aku sudah lulus kuliah. Aku akan menjemput masa depanku. Begitulah doaku saat itu.



Akhirnya,  tak terasa habislah ceritaku. Cerita sederhana, semoga bermanfaat.  Semoga bisa dikenang anak cucu saat  penulisnya sudah tiada. Mereka akan mengenang  perjuangan  nenek moyangnya. Tak perlu menjadi Unicorn,  cukuplah menjadi diri sendiri.  Semua kita  pasti punya kisah  yang berbeda.  Menarik atau tidak itu  bukan tujuannya. Yang terpenting  kita bisa menorehkan kisah kita lewat goresan pena. Tentunya agar terekam jejak kita dalam tulisan agar dikenang selama-lamanya. Salam Literasi! Terus semangat untuk menulis dan berkarya.

Pandemi bukan hambatan untuk kita terus berkarya. Tulisan ini dibuat  saat corona sedang menggoncang dunia. Saya juga ikut  terpapar karena diterjang ganasnya corona. Dalam sakit aku menulis,  semoga ingat!. Trima kasih  kini sudah bisa  beraktifitas kembali walau terbatas. Semoga jangan  bertambah lagi korbannya. Tetap ingat prokes dan taati 5M  (mencuci tangan dengan air yang mengalir, memakai masker, menjaga jarak,  kurangi mobilitas dan mengurangi kerumunan). Semoga Pandemi cepat berlalu.

 

 

 

 



Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Suamiku Adi Ch. Muhu dan  anakku Marcel dan Anto.  Guru matematika SMA Negeri 2 Waingapu  Sumba Timur NTT. Selain sebagai pendidik  juga  suka  menulis di media  masa, fb, you tube, koran juga majalah. Sudah punya belasan  Buku Antologi yang sudah terbit ber-ISBN  adalah Untaian Pelangi Nusantara, Resolusi Saat Pandemi,  Kidung Rindu,Menuai Berkah Aksara, Dermaga hati dan lain-lain.  Buku Solo : Kumpulan cerpen berjudul ‘Mengungkap Rahasia”, “Trik Jitu Menjadi Penulis Masa Kini”, “ Dari Goresan Pena mengukir Prestasi” dan “Aku Bangga Menjadi Seorang penulis” Sekarang ini saya tingggal  di  Jl. Trikora No: 11 Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Dan ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id.  No HP / WA 085 230 708 285. Fb dan Instagram : Ledwina Eti. Blog : etiastiwi66.blogspot.com. Motto: Terus belajar dan bisa bermanfaat untuk sesama.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...