Saya menyadari bahwa saya bukan orang terkenal. Bukan juga
seorang penulis hebat. Saya adalah orang biasa, orang kebanyakan bahkan ada saja yang melihat saya dengan sebelah mata. Di balik itu kok ada seorang penulis
hebat beliau juga narasumber hebat seorang
founder bahkan orang penting dikalangannya. Bisa-bisanya beliau meminta saya untuk
memberikan endors untuk buku yang akan diterbitkan.
Ini adalah sebuah kehormatan, sebuah
pengakuan bahwa saya dipandang
punya ketrampilan menulis, hehe... Wah
ini adalah tantangan bagi saya. Saya harus bisa, jangan
membuat kecewa kepada orang
yang sudah percaya. Ini saatnya saya belajar untuk bermanfaat
buat sesama. Ini adalah sebuah kenangan
keabadian. Artinya kalau bukunya sudah diterbitkan Endors yang saya tulis akan muncul, namaku
disebut..... Jadi pembaca akan mengenal
diriku, Trimakasih bunda Lilis untuk
kepercayaannya padaku. Mengukir ladang amal
dibuku teman. Buku yang berjudul ‘Lelaki tiga Rupa’ dan “Menebar inspirasi di Masa Pandemi”.
Endors – Lelaki Tiga Rupa
Sebagai seorang guru, Ibu Lusia Daga adalah
seorang pendidik sang pemilik
masa masa depan yaitu siswanya. Ia berdedikasi terhadap
dunia pendidikan. Ia membuktikan untuk menjadi guru yang berinovasi. Guru yang mau berkontribusi menjadi pegiat
literasi. Kini telah terbukti, buku hadir ditengah-tengah kita .
Dari buku ini saya belajar
betapa dalamya Cinta dan karakter manusia. Indahnya alam dan dan penghuni serta
kisah-kisahnya. Sebuah karya tak
bisa hanya dimilki oleh penulisnya. Selalu ada ruang kreatif
bagi kebebasan para pembacanya untuk
berinteraksi dan berinterpretasi.
Itulah ruang cinta, ruang kedekatan
batin antara pembaca dengan
penulisnya.
Saya suka membaca cerpen ,
saya begitu tertarik karena
dari cerita itu memiliki kekuatan
kata-kata magis yang mampu membuat
siapapun bisa tersenyum, terbahak,
terkagum, terinspirasi bahkan
bisa hati berbunga-bunga. Kitapun bahkan
bisa ikut meneteskan airmata duka
karena larut menikmati isi
dan alur ceritanya. Ini benar-benar saya rasakan dalam kumpulan cerpen indah
dalam bukunya ibu Lusia Daga.
Di dalam buku yang berjudul ‘Lelaki
Tiga Rupa’ ada 10 kisah cerita
pendek yang menyentuh hati dan syarat makna. Ada pula cerita
lucu, cerita romantis dan cerita
lain yang menarik untuk dibaca.
Saya membaca lembar demi lembar
hingga lupa tahu-tahu sudah malam dan
gelap gulita. Setelah menyimak buku
ini saya sesama pegiat literasi merasa bahwa
ibu lusia Daga bisa turut serta
berbagi ilmu, berbagi cerita , meninggalkan jejak berupa karya yang sedang
anda baca .
Saya sangat mengapresiasi
untuk terbitnya buku ini.
Teruslah berproses untuk menerbikan
buku-buku berikutnya. Jadikan waktu yang
24 Jam ini bermanfaat tidak membuat kita rugi di dunia maupun di akhirat, ada
karya yang kita tinggalkan untuk generasi berikutnya. Gajah mati meninggalkan
gading, harimau mati meninggalkan belang,
manusia mati meninggalkan karya.
Semoga buku ini memenui takdirnya. Bermanfaat buat penikmat buku, terutama para guru dan
peserta didik di seluruh tanah air. Setelah membaca buku ini ada ilmu yang kita
petik dan sadar betapa pentingnya
literasi. Proficiat guru cantik , ibu Lusia
Daga, sukses terus ke depan.
Endors - Menebar
inspirasi di Masa Pandemi
Sebuah pengalaman itu akan hilang
jika tidak diabadikan. Akan menjadi
suatu kebanggaan tersendiri
jika tulisan kita bisa abadi
selamanya. Maka kita perlu menulis agar
hidup jadi bermakna. Menulis juga menjadikan hidup kita berwarna maka menulislah hari ini
agar kita akan dikenang esok hari.
Di dalam buku ini berisi pengalaman dan kisah dari 11 orang
penulis hebat. Mereka berkisah
tentang “ Menebar inspirasi di Masa Pandemi”. Para penulis bercerita
begitu menginspirasi dan menjadikan
memoar yang bersejarah bahwa kita
pernah mengalami pandemi covid-19. Para penulis
mempunyai kisah inspirasi yang
berbeda-beda. Mereka menuangkan kisahnya
begitu apik dan menarik.
Pandemi bukanlah hambatan
untuk kita tetap berkarya. Pandemi menguji
nyali kita untuk tetap berkreasi dan
berinovasi. Adanya pandemi kita selalu bisa mengambil sisi positifnya, ternyata pandemi membawa berkah.
Saluuttt....dan begitu terkesan saya membaca
ceritanya. Adanya Corona tetap
punya harapan. Pandemi tidak pernah membuat putus asa. Banyak berkat
yang bisa kita petik saat corona melanda. Dari korona kita belajar iklas dan tetap bisa produktif.
Banyak hal baru, dari korona kita mendapatkan banyak pelajaran
yang berharga dalam kehidupan kita. Kehidupan berkeluarga, bermasyarakat. Dengan
adanya pandemi tidak pernah melunturkan
kekeluargaan. Kita semakin mesra,
semakin akrab dan saling menopang. Kita juga semakin dekat dengan sang
pencipta.
Sebagai sahabat literasi yang bersama-sama menjadi
pegiat literasi, saya ucapkan ‘proficiat’
kepada para penulis hebat. Karyanya
membuat pembaca jadi ikut semangat.
Menggugah hati untuk berliterasi dengan giat. Awalnya tak ada niat membaca jadi berminat.
Ceritanya semua luar bisa, menginsipirasi. Setiap lembarnya
mengandung arti. Jika sudah mulai membaca lupa berhenti. Anda penasaran? Milikilah
buku ini, percayalah jika memiliki tak akan rugi. Ayolah beli buku ini, percayalah pasti
akan terinspirasi.
Salam literasi. Terus semangat menebarkan ilmu untuk kita semua.
Waingapu, 29 September 2021
Ledwina
Eti Wuryani, S.Pd
Guru SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur,
blogger. etiastiwi66.blogspot.com, penikmat buku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar