Selasa, 28 September 2021

Kehormatan #7

 


Saya menyadari bahwa saya  bukan orang terkenal.  Bukan juga  seorang penulis hebat. Saya adalah orang biasa, orang kebanyakan bahkan  ada saja yang melihat  saya dengan sebelah mata. Di balik itu  kok ada  seorang   penulis  hebat  beliau juga  narasumber hebat  seorang  founder bahkan orang penting dikalangannya. Bisa-bisanya  beliau meminta saya  untuk  memberikan endors untuk buku yang akan diterbitkan.

Ini adalah sebuah kehormatan, sebuah pengakuan  bahwa saya dipandang punya  ketrampilan menulis, hehe... Wah ini adalah  tantangan bagi saya.  Saya harus bisa,  jangan  membuat kecewa  kepada orang yang  sudah percaya.  Ini saatnya saya belajar untuk bermanfaat buat sesama.  Ini adalah sebuah kenangan keabadian. Artinya  kalau   bukunya sudah diterbitkan  Endors yang saya tulis akan muncul, namaku disebut..... Jadi  pembaca akan mengenal diriku,  Trimakasih bunda Lilis  untuk  kepercayaannya padaku.  Mengukir  ladang amal  dibuku teman. Buku yang berjudul ‘Lelaki tiga Rupa’ dan  Menebar inspirasi di Masa Pandemi”.

 

Endors – Lelaki Tiga Rupa

Sebagai seorang guru, Ibu Lusia  Daga adalah  seorang pendidik sang  pemilik masa  masa depan yaitu siswanya.  Ia berdedikasi  terhadap  dunia  pendidikan. Ia  membuktikan untuk menjadi guru yang  berinovasi. Guru yang  mau berkontribusi menjadi pegiat literasi.    Kini  telah terbukti, buku  hadir ditengah-tengah kita .

Dari buku ini  saya belajar betapa dalamya Cinta dan karakter manusia. Indahnya alam dan dan penghuni serta kisah-kisahnya. Sebuah  karya tak bisa  hanya dimilki  oleh penulisnya. Selalu ada  ruang kreatif  bagi kebebasan para pembacanya untuk  berinteraksi dan berinterpretasi.  Itulah  ruang cinta, ruang  kedekatan  batin antara pembaca dengan  penulisnya.

Saya suka membaca  cerpen , saya  begitu tertarik  karena  dari cerita itu memiliki  kekuatan kata-kata magis yang mampu membuat  siapapun  bisa tersenyum,  terbahak,  terkagum,  terinspirasi bahkan bisa hati berbunga-bunga.  Kitapun bahkan bisa ikut meneteskan airmata  duka karena  larut  menikmati isi  dan alur ceritanya. Ini benar-benar saya rasakan dalam  kumpulan cerpen  indah  dalam bukunya  ibu Lusia Daga.

Di dalam buku yang berjudul  ‘Lelaki Tiga Rupa’  ada 10 kisah cerita pendek yang menyentuh hati dan syarat makna. Ada pula  cerita  lucu, cerita  romantis dan cerita lain yang menarik untuk dibaca.  Saya  membaca lembar demi lembar hingga  lupa tahu-tahu sudah malam dan gelap gulita.  Setelah menyimak buku ini  saya sesama pegiat literasi  merasa bahwa  ibu lusia Daga  bisa turut serta berbagi ilmu, berbagi cerita , meninggalkan jejak berupa karya  yang sedang  anda baca .

Saya sangat mengapresiasi  untuk  terbitnya buku ini. Teruslah berproses  untuk menerbikan buku-buku berikutnya.  Jadikan waktu yang 24 Jam ini bermanfaat tidak membuat kita rugi di dunia maupun di akhirat, ada karya yang kita tinggalkan  untuk  generasi berikutnya. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,  manusia mati  meninggalkan karya.

Semoga  buku ini memenui  takdirnya. Bermanfaat  buat penikmat buku, terutama para guru dan peserta didik di seluruh tanah air. Setelah membaca buku ini ada ilmu yang kita petik dan  sadar betapa pentingnya literasi. Proficiat  guru cantik , ibu Lusia Daga, sukses terus ke depan.

 

Endors - Menebar inspirasi di Masa Pandemi

Sebuah pengalaman itu akan hilang  jika tidak diabadikan. Akan menjadi  suatu kebanggaan tersendiri  jika  tulisan kita bisa abadi selamanya. Maka kita perlu menulis agar  hidup jadi bermakna. Menulis juga menjadikan  hidup kita berwarna maka menulislah hari ini agar kita  akan dikenang esok hari.

Di dalam buku ini   berisi  pengalaman dan kisah  dari 11 orang  penulis hebat. Mereka  berkisah  tentang “ Menebar inspirasi di Masa Pandemi”. Para penulis  bercerita  begitu menginspirasi dan menjadikan  memoar yang bersejarah  bahwa kita pernah  mengalami pandemi covid-19.  Para penulis  mempunyai kisah  inspirasi yang berbeda-beda. Mereka menuangkan  kisahnya begitu apik dan menarik. 

Pandemi  bukanlah hambatan untuk kita tetap berkarya. Pandemi  menguji nyali kita untuk  tetap berkreasi dan berinovasi.  Adanya pandemi kita  selalu bisa mengambil sisi positifnya,  ternyata pandemi membawa berkah.

Saluuttt....dan begitu terkesan saya  membaca  ceritanya.  Adanya Corona tetap punya harapan. Pandemi tidak pernah membuat putus asa.  Banyak berkat  yang bisa kita petik saat corona melanda. Dari korona kita   belajar iklas dan tetap bisa produktif.

Banyak hal baru, dari korona kita mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dalam kehidupan kita. Kehidupan berkeluarga, bermasyarakat. Dengan adanya  pandemi tidak pernah melunturkan kekeluargaan. Kita semakin  mesra, semakin  akrab dan saling menopang.  Kita juga semakin dekat dengan sang pencipta. 

Sebagai sahabat literasi yang bersama-sama  menjadi  pegiat  literasi, saya ucapkan ‘proficiat’ kepada para penulis hebat. Karyanya  membuat pembaca jadi ikut semangat.  Menggugah hati untuk berliterasi dengan giat. Awalnya  tak ada niat membaca jadi berminat.

Ceritanya semua luar bisa, menginsipirasi. Setiap lembarnya mengandung arti.  Jika sudah  mulai membaca lupa berhenti. Anda penasaran?  Milikilah  buku ini,  percayalah  jika memiliki tak akan  rugi. Ayolah beli buku ini, percayalah pasti akan terinspirasi.

Salam literasi. Terus semangat menebarkan ilmu untuk kita semua.

 

                                                                                               

Waingapu,  29 September 2021

Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

Guru SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur,

 blogger.  etiastiwi66.blogspot.com,  penikmat buku

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...