Oelh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah Engkau hidup selamanya (Mahadma Gandhi)
Kata-kata diatas begitu
indah dan menarik hatiku. Benarlah belajarlah seolah engkau hidup selamanya. Di
rumah kita belajar, disekolah kita belajar di mana saja itu adalah ‘sekolah’. Belajar tentang
kehidupan. Sebagai penulis pemula yang ilmunya
masih seujung kuku. Ingin terus
konsisten belajar menulis supaya hidup bermakna bagi sesama. Betapa bangga kelak diakhirat jika karya
kita berguna atau bermanfaat untuk anak-cucu kita dan dikenang sepanjang masa.
Saya belum jadi penulis. Saya
juga bukan siapa-siapa di Agupena. Sebuah
kebanggaan jika saya bisa bergabung menulis bersama para pakar menulis di AGUPENA pusat. (Agupena= Asosiasi guru
penulis Indonesia: red ). Hal ini akan
menjadi kenangan yang tak akan terlupa sepanjang nafas masih ada.
Hari Kamis, 23 September 2021,
di WAG Tim PPP DPP Agupena 21-26 Ibu Sumarni Yusuf, S.Pd. M.Pd Mempost begini
di WA group : Usul/Saran, Bagus mungkin kita di bidang Pelatihan, Penulisan, dan Perbukuan Agupena Pusat untuk ‘mempersembahkan’ contoh tulisan yg keren dalam bentuk ‘buku
Antologi”. Buku itu khusus tulisan dari
tim Pengurus Pusat Agupena Bidang PPP dan dilouncing juga di saat Pelantikan Agupena
pusat.
Ini untuk membuktikan bahwa pengurus Agupena bukan hanya Jago di teori namun ada karya
Nyata yang keren dari Tim Pelatihan, Penulusuraan, dan Perbukuan. Secara halus
memperkenalkan para pengurus
Agupena Pusat dari Tim/Bidang PPP
Periode 2021-2026. Buku diharapkan terbit bersama bukunya siswa peserta pelatihan.
Akhirnya pak Eko (Eko Daryono, S.Kom) pakar IT dan
penulis hebat sependapat dengan usul bunda Sumarni supaya ada bukti nyata
bahwa tim Sebagai pengurus tidak hanya
sekedar memoderasi namun juga punya karya nyata. Jika rekan-rekan yang
lain siap, bisa diajukan ISBN-nya bersama dengan buku karya para remaja. Akhirnya
bunda Lilis membuat kesepakatan untuk
mengumpulkan naskah paling lambat tgl 27 September dan kontribusi Rp 200.000,- untuk 2 buah buku. Kumpul naskah bersamaan transfer
biaya cetaknya ke Pak Sahat. Pak Sahat
saat ini adaah bendahara sementara kegiatan kita.
Nah, disini masing- masing menuliskan berdasarkan ‘materi
pelatihan’ yang dibawakan saat menjadi
narasumber. Bu Aam Nur Hasanah siapkan tulisannya “motivasi Berprestasi. Pak
Eko bercerita tentang The Power of Pada Suatu Hari. Bu Ditta bercerita tentang
Mental seorang penulis bersama Agupena. Pak Sahat Pak bercerita tentang ‘Hidup
Untuk Berkarya’. Kak Nova bercerita tentang ‘Membuat Blok itu asyik”
Bu Mulyani ulig tentang pengalaman menjadi editor 2 buku dalam waktu
bersamaan.
Hehe.... Ibu
Ledwina Eti (saya) bercerita jadi humas
Agupena online suka dan dukanya (tunjuk bunda Lilis kepada saya). Ibu Yosefine
Klau bercerita tentang mendadak tenar menjadi moderator pada diklat Agupena. Pak Yolis bercerita tentang Tilong di bawa ke
kancah Nasional. Bunda Lilis sang
motivator dan kepaka bidang perbukuan dan pelatihan Agupena pusat
menulis tentang ‘ Menulis Semudah ceplok Telur”.“Teman-teman tiem tak usah repot-repot ambil yang ada di
bank tabungan naskah seperti yang sudah saya sarankan”, kata bunda Lilis. Baik yang punya bank naskah lah kalau tidak
ada seperti saya?
Padahal saat ini saya sementara menulis
tentang “ Menjawab tantangan menulis
setiap hari”. Callenge ini diadakan oleh sahabat alineaku. Menulis
setiap hari menjadi tantangan tersendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya
bisa kita tuliskan namun kadang ada rasa ragu, takut, tidak percaya diri untuk
menuangkan tulisan saya sendiri. Semoga dengan mengikuti Challenge ini bisa
menambah wawasan dan bisa terus belajar menjemput peluang.
Untuk menulis
harus latihan komitmen. Mempunyai
target. Tidak boleh ada alasan. Hilangkan alasan sibuk, tak punya waktu, tak percaya diri, tak tahu
cara memulai atau yang lainnya. Teruslah menulis, dan menulis. Sungguh tidak
ada tulisan yang jelek. Selagi tulisan kita
berisi hal-hal yang positif, apapun kemasannya, tulisan itu
tetaplah tulisan bernilai. Semua perlu
proses, tak ada yang instan. Ikatlah ilmu
dengan menuliskannya biarlah tulisanmu menemukan takdirnya.
Benar, ternyata setelah
rajin mengikuti komunitas,
kita mendapatkan banyak ilmu menulis. Dengan ikut komunitas jadi banyak teman menulis, untuk saling berbagi
dan iklas memberi. Saling melengkapi dan saling membutuhkan.
Sungguh saya tak pernah membayangkan sama sekali
tiba-tiba saya didaulat menjadi moderator di event Nasional. Jadi moderator
diklat Agupena Pusat, padahal saya tidak pernah punya ilmu khusus. Tak punya
latar belakang pendidikan. Hanya ‘modal nekad’ dan motivasi dari seorang teman.
Itu adalah sebuah kebanggaan yang luar bisa bagi pribadi saya. Mungkin hal itu
sudah sangat bisa bagi orang lain.
Kadang
saya selalu merasa dipandang dengan sebelah mata, dipandang rendah dan tak
berharga. Begitulah ada saja orang melihat saya. Kadang saya sering menangis
dalam doa. Ya hanya bisa menangis dalam
Doa. Kuatkan hati dan pikiran saya. Tentunya agar saya selalu sabar dan tabah
menghadapi hidup. Tuhan yang selalu menuntun saya. Memegang tangan saya dengan
erat. Dengan begitu rasa damai sekali
hidup dalam Tuhan.
Hidup
adalah tantangan yang harus dilewati, hidup bagai roda yang berjalan. Suatu
saat saya megalami pas di dasar. Berada
dititik nadir. Sedih, perih, duka dan nestapa. Saya sadari, semua orang pastilah
punya masalah masing-masig. Tak mungkinlah
kalau saya curhat pada orang lain. Mereka juga punya beban hidup.
Dengan direndahkan ternyata membuat
hati menjadi semangat ingin bangkit.
Dalam nama Tuhan, aku tidak boleh pasrah, aku tak boleh mengeluh.
Daripada aku
sia-siakan waktu untuk meratapi hidup dan mengeluh akhirnya aku mencoba menulis. Menulis apa saja yang
ada diotakku. Kalau sedang sedih aku menulis cerita sedih atau cerpen sedih. Saat aku disakiti
kutuliskan berupa cerpen agar bisa dimodifikasi sebagai cerita fiksi. Saat
bermasalah tentang pembelajaran di
sekolah kutuangkan isi kepala untuk menulis tentang kegiatan pembelajaran itu.
Dan ternyata ide-ide selalu muncul dari kita
sendiri. Dari kegiatan harian kita sendiri. Terlalu banyak yang bisa kita ceritakan dari bangun tidur sampai tidur
lagi.
Alhasil kini sudah lebih
20 buku Ber-ISBN hasil karyaku. Dari buku solo hingga buku menulis
bersama-sama (antologi). Terasa bahagia
sekali. Hidup merasa bermakna, hidup terasa berwarna. Semoga buku-buku saya bisa menginspirasi banyak
orang. Buku Antologi itu disusun bersama-sama
penulis seluruh nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga
pulau Rote. Jadi otomatis tulisan saya sudah beredar keseluruh pelosok
Indonesia. Trimaksih Tuhan, Ini adalah sejarah hidup saya. Gajah mati
meninggalkan gading, Harimau mati menginggalkan
belang , manusia mati meninggalkan.......karya.
Dengan mengikuti tantangan menulis setiap hari ini juga merupakan
penyaluran isi otak. Menorehkan kisah
harian sendiri kedalam tulisan. Hidup
untuk berkarya. Hidup jangan hanya berpangku tangan dan mengeluh. Buatlah hisup
untuk menyenangkan Tuha dan sesama. Semoga bisa untuk belakal di akherat kelak. Jangan malu
bertanya, teruslah belajar dan jangan lupa harus tetap rendah hati. Semoga bisa
berkarya sampai nafas tak ada lagi. Hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi. Walau
sudah tak muda lagi saya berusaha untuk
belajar dan tak malu bertanya. Jika kamu
tidak tahan dengan lelahnya belajar
maka kamu harus tahan dengan
perinya kebodohan. (Imam Safii).
#30harimenulis
#30haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#alineakuchallenge - 6
#alineakuwriter
#alineakuLedwinaEti




Tidak ada komentar:
Posting Komentar