Senin, 27 September 2021

MENGUKIR SEJARAH #6

 

Oelh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd



 



Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah Engkau hidup selamanya  (Mahadma Gandhi)

            Kata-kata diatas begitu indah dan menarik hatiku. Benarlah belajarlah seolah engkau hidup selamanya. Di rumah kita belajar, disekolah kita belajar di mana saja  itu adalah ‘sekolah’. Belajar tentang kehidupan.  Sebagai penulis pemula  yang  ilmunya  masih seujung kuku. Ingin  terus  konsisten belajar menulis supaya hidup bermakna bagi sesama.  Betapa bangga kelak diakhirat jika karya kita  berguna atau bermanfaat untuk  anak-cucu kita dan dikenang sepanjang masa.

 

Saya belum jadi penulis. Saya juga bukan siapa-siapa di Agupena. Sebuah  kebanggaan jika saya bisa bergabung menulis bersama  para pakar menulis  di AGUPENA pusat. (Agupena= Asosiasi guru penulis Indonesia: red ).  Hal ini akan menjadi kenangan  yang tak akan  terlupa sepanjang nafas masih ada.

 

Hari Kamis, 23 September 2021, di WAG Tim PPP DPP Agupena 21-26 Ibu Sumarni Yusuf, S.Pd. M.Pd Mempost begini di WA group : Usul/Saran, Bagus mungkin kita di bidang Pelatihan,  Penulisan, dan Perbukuan  Agupena Pusat untuk ‘mempersembahkan’  contoh tulisan yg keren dalam bentuk ‘buku Antologi”. Buku itu  khusus tulisan dari tim Pengurus Pusat Agupena Bidang PPP  dan dilouncing juga di saat Pelantikan Agupena pusat.

 Ini  untuk membuktikan bahwa pengurus  Agupena  bukan hanya Jago di teori namun ada karya Nyata yang keren dari Tim Pelatihan, Penulusuraan, dan Perbukuan. Secara halus memperkenalkan  para pengurus Agupena  Pusat dari Tim/Bidang PPP Periode 2021-2026. Buku diharapkan terbit bersama  bukunya siswa peserta pelatihan.

 

Akhirnya  pak Eko (Eko Daryono, S.Kom) pakar IT dan penulis hebat sependapat dengan usul bunda Sumarni supaya ada  bukti nyata  bahwa  tim  Sebagai pengurus  tidak hanya  sekedar memoderasi namun juga punya karya nyata. Jika rekan-rekan yang lain siap, bisa diajukan ISBN-nya bersama dengan buku karya para remaja. Akhirnya bunda Lilis membuat kesepakatan untuk  mengumpulkan naskah paling lambat tgl 27 September dan  kontribusi Rp 200.000,- untuk  2 buah buku. Kumpul naskah bersamaan transfer biaya cetaknya  ke Pak Sahat. Pak Sahat saat ini adaah bendahara sementara kegiatan kita.

 

Nah,  disini masing- masing menuliskan berdasarkan ‘materi pelatihan’ yang dibawakan  saat menjadi narasumber. Bu Aam Nur Hasanah siapkan tulisannya “motivasi Berprestasi. Pak Eko bercerita tentang The Power of Pada Suatu Hari. Bu Ditta bercerita tentang Mental seorang penulis bersama Agupena. Pak Sahat Pak bercerita tentang ‘Hidup Untuk Berkarya’. Kak Nova bercerita tentang  ‘Membuat Blok itu  asyik”  Bu Mulyani ulig tentang pengalaman menjadi editor 2 buku dalam waktu bersamaan.

 

Hehe.... Ibu Ledwina Eti (saya)  bercerita jadi humas Agupena online suka dan dukanya (tunjuk bunda Lilis kepada saya). Ibu Yosefine Klau bercerita tentang mendadak tenar menjadi moderator pada diklat Agupena.  Pak Yolis bercerita tentang Tilong di bawa ke kancah Nasional. Bunda Lilis  sang motivator dan kepaka bidang perbukuan dan pelatihan Agupena  pusat  menulis tentang ‘ Menulis Semudah ceplok Telur”.“Teman-teman  tiem tak usah repot-repot ambil yang ada di bank tabungan naskah seperti yang sudah saya sarankan”,  kata bunda Lilis.  Baik yang punya bank naskah lah kalau tidak ada seperti saya?

 

                Padahal saat ini saya sementara menulis tentang “ Menjawab tantangan  menulis setiap hari”. Callenge ini diadakan oleh sahabat alineaku. Menulis setiap hari menjadi tantangan tersendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya bisa kita tuliskan namun kadang ada rasa ragu, takut, tidak percaya diri untuk menuangkan tulisan saya sendiri. Semoga dengan mengikuti Challenge ini bisa menambah wawasan dan bisa terus belajar menjemput peluang.

 

Untuk menulis harus  latihan komitmen. Mempunyai target. Tidak boleh ada alasan. Hilangkan alasan sibuk,  tak punya waktu, tak percaya diri, tak tahu cara memulai atau yang lainnya. Teruslah menulis, dan menulis. Sungguh tidak ada tulisan yang jelek. Selagi tulisan kita  berisi hal-hal yang positif, apapun kemasannya, tulisan itu tetaplah  tulisan bernilai. Semua perlu proses, tak ada yang instan. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya biarlah tulisanmu menemukan takdirnya.

            Benar, ternyata setelah  rajin mengikuti  komunitas, kita  mendapatkan banyak  ilmu menulis. Dengan ikut komunitas  jadi banyak teman menulis, untuk saling berbagi dan iklas memberi. Saling melengkapi dan saling membutuhkan.

            Sungguh saya tak pernah membayangkan sama sekali tiba-tiba saya didaulat menjadi moderator di event Nasional. Jadi moderator diklat Agupena Pusat, padahal saya tidak pernah punya ilmu khusus. Tak punya latar belakang pendidikan. Hanya ‘modal nekad’ dan motivasi dari seorang teman. Itu adalah sebuah kebanggaan yang luar bisa bagi pribadi saya. Mungkin hal itu sudah sangat bisa bagi orang lain.  

Kadang saya selalu merasa dipandang dengan sebelah mata, dipandang rendah dan tak berharga. Begitulah ada saja orang melihat saya. Kadang saya sering menangis dalam doa. Ya hanya  bisa menangis dalam Doa. Kuatkan hati dan pikiran saya. Tentunya agar saya selalu sabar dan tabah menghadapi hidup. Tuhan yang selalu menuntun saya. Memegang tangan saya dengan erat. Dengan begitu rasa  damai sekali hidup dalam Tuhan.

Hidup adalah tantangan yang harus dilewati, hidup bagai roda yang berjalan. Suatu saat  saya megalami pas di dasar. Berada dititik nadir. Sedih, perih, duka dan nestapa. Saya sadari, semua orang pastilah punya masalah masing-masig. Tak mungkinlah  kalau saya curhat pada orang lain. Mereka juga punya beban hidup. Dengan  direndahkan ternyata membuat hati  menjadi semangat ingin bangkit. Dalam nama Tuhan, aku tidak boleh pasrah, aku tak boleh mengeluh.

            Daripada  aku sia-siakan waktu untuk meratapi hidup dan mengeluh akhirnya  aku mencoba menulis. Menulis apa saja yang ada diotakku. Kalau sedang sedih aku menulis cerita  sedih atau cerpen sedih. Saat aku disakiti kutuliskan berupa cerpen agar bisa dimodifikasi sebagai cerita fiksi. Saat bermasalah tentang  pembelajaran di sekolah kutuangkan isi kepala untuk menulis tentang kegiatan pembelajaran itu. Dan  ternyata ide-ide selalu muncul dari kita sendiri. Dari kegiatan harian kita sendiri. Terlalu banyak yang bisa  kita ceritakan dari bangun tidur sampai tidur lagi.

            Alhasil kini sudah lebih  20 buku Ber-ISBN hasil karyaku. Dari buku solo hingga buku menulis bersama-sama (antologi). Terasa  bahagia sekali. Hidup merasa bermakna, hidup terasa berwarna. Semoga  buku-buku saya bisa menginspirasi banyak orang.  Buku Antologi itu disusun bersama-sama penulis seluruh nusantara. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga pulau Rote. Jadi otomatis tulisan saya sudah beredar keseluruh pelosok Indonesia. Trimaksih Tuhan, Ini adalah sejarah hidup saya. Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati menginggalkan  belang , manusia mati  meninggalkan.......karya.

            Dengan mengikuti tantangan  menulis setiap hari ini juga merupakan penyaluran isi otak. Menorehkan  kisah harian sendiri kedalam tulisan.  Hidup untuk berkarya. Hidup jangan hanya berpangku tangan dan mengeluh. Buatlah hisup untuk menyenangkan Tuha dan sesama. Semoga bisa untuk  belakal di akherat kelak. Jangan malu bertanya, teruslah belajar dan jangan lupa harus tetap rendah hati. Semoga bisa berkarya sampai nafas tak ada lagi. Hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi. Walau sudah tak muda lagi saya berusaha  untuk belajar dan tak malu bertanya. Jika kamu tidak tahan dengan  lelahnya belajar maka  kamu harus  tahan dengan  perinya kebodohan.   (Imam Safii).

#30harimenulis

#30haripunyanaskah

#siapataujadibuku

#alineakuchallenge - 6

#alineakuwriter

 

#alineakuLedwinaEti  

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...