Kamis, 18 November 2021

DEMI CINTAKU PADAMU

 


                Panggil saja  bu Nani. Kini dia sudah Sarjana pendidikan. Seorang guru honor SMA  di sebuah kota Kabupaten. Bu Nani adalah anak angkat dari  temanku  yang dulu diadopsi dari Panti asuhan. Bu Nani cantik parasnya,  rajin kerja dan   sopan tutur bahasanya.  Sebagai tetangga  saya begitu  kagum padanya.  Walaupun dia sudah sarjana   tapi tetap  saja dia rajin kerja di rumah hingga tuntas. Dari  masak, sapu, memberi makanan ayam yang ratusan ekor, cari rumput kambing, tanam sayur. Yah!!   semua pekerjaan di rumah dikerjakannya sendiri. Dia begitu disayang Orang tua angkatnya karena dari kecil memang rajin kerja.

                Seiring berjalannya waktu  sampai  dia tidak menyadari bahwa  kini umurnya sudah kepala 4. Hatipun mulai gelisah karena belum juga punya  kekasih hati. Teman mengajar juga tak ada yang punya cemistri padanya. Dua tahun yang  lalu  dia kenalan dengan seorang pria. Orangnya  sederhana dan begitu  hormat padanya. Sang pria menatap lekat ibu Nani dengan penuh  perhatian. Terlihat ada cinta di sanubarinya. Getaran hati bu Nani  berdegup kencang pada pandangan pertama saat itu.  Tiba-tiba kini  dia begitu merindukannya.

                Iseng bu Nani buka nomor HP-nya dan mencoba  chat padanya.  “selamat siang...”, tulisnya dalam chat. “selamat siang ibu guru sayang, bu guru tercinta.....”, Jawab sang pria diluar dugaan. Hati bu Nani serasa tersiram  air Surgawi. Hati melayang.  Pikiran berbunga-bunga. Sejak saat itu, hari-hari  terasa begitu indah membayangkan pesona  sang pria pujaan hatinya itu. Ini adalah pertanda bahwa selama ini sang Pria juga ada kerinduan yang sama. Singkat cerita,  Domi, sang pria itu menembaknya. Dia menyatakan cintanya yang selama ini terpendam dan hanya bisa merindukan saja. Katanya Domi  takut  ditolak karena  tak punya apa-apa. Hanya punya ‘cinta’.  Dengan senyum manis bu Nani menerima dengan tulus cintanya. Ia berjanji menerima apa adanya.  Tidak tunggu waktu lama, akhirnya mereka sepakat untuk menikah.  Nikah sederhana tanpa ada pestaria dengan numpang di rumah teman Domi.  Hanya teman dekat yang datang.  Nikah sah!. Kini mereka resmi jadi suami istri. Mereka bahagia.  Sebagai seorang istri dia harus ikut dimana suami berada. Suami adalah penjual dikerombong pinggir jalan. Dia biasa tidur dikerombong itu, karena memang tak punya rumah.  Mau bagaimana? Kini mereka menikmati hidupnya bersama suami yang sebatang kara dan meninggalkan orang tua angkatnya. Mereka berkomitmen tak mau dibantu siapapun. Tabungan bu Nani sudah ludes untuk urusan sana sini. Begitulah. Oh Cinta, kalau sudah berdua  tai kambing rasa coklat. Sedih sebenarnya karena hidup sengsara, terlunta rumah tak ada. Mau kos tak mungkin.  Kerombong tak bisa ditinggalkan karena jualannya melayani 24 jam. Mereka  bahagia karena mereka saling mencinta. Selamat menempuh hidup baru bu guru dan pak Domi, semoga selalu bahagia.

                                                                                                                Waingapu, 19 November 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...