Panggil saja bu Nani. Kini dia sudah Sarjana pendidikan.
Seorang guru honor SMA di sebuah kota Kabupaten.
Bu Nani adalah anak angkat dari temanku yang dulu diadopsi dari Panti asuhan. Bu Nani cantik
parasnya, rajin kerja dan sopan tutur bahasanya. Sebagai tetangga saya begitu
kagum padanya. Walaupun dia sudah
sarjana tapi tetap
saja dia rajin kerja di rumah hingga tuntas. Dari masak, sapu, memberi makanan ayam yang ratusan
ekor, cari rumput kambing, tanam sayur. Yah!! semua
pekerjaan di rumah dikerjakannya sendiri. Dia begitu disayang Orang tua
angkatnya karena dari kecil memang rajin kerja.
Seiring berjalannya waktu sampai
dia tidak menyadari bahwa kini
umurnya sudah kepala 4. Hatipun mulai gelisah karena belum juga punya kekasih hati. Teman mengajar juga tak ada
yang punya cemistri padanya. Dua tahun yang
lalu dia kenalan dengan seorang
pria. Orangnya sederhana dan begitu hormat padanya. Sang pria menatap lekat ibu
Nani dengan penuh perhatian. Terlihat
ada cinta di sanubarinya. Getaran hati bu Nani
berdegup kencang pada pandangan pertama saat itu. Tiba-tiba kini dia begitu merindukannya.
Iseng bu Nani buka nomor HP-nya
dan mencoba chat padanya. “selamat siang...”, tulisnya dalam chat.
“selamat siang ibu guru sayang, bu guru tercinta.....”, Jawab sang pria diluar
dugaan. Hati bu Nani serasa tersiram air
Surgawi. Hati melayang. Pikiran
berbunga-bunga. Sejak saat itu, hari-hari
terasa begitu indah membayangkan pesona
sang pria pujaan hatinya itu. Ini adalah pertanda bahwa selama ini sang
Pria juga ada kerinduan yang sama. Singkat cerita, Domi, sang pria itu menembaknya. Dia
menyatakan cintanya yang selama ini terpendam dan hanya bisa merindukan saja. Katanya
Domi takut ditolak karena tak punya apa-apa. Hanya punya ‘cinta’. Dengan senyum manis bu Nani menerima dengan
tulus cintanya. Ia berjanji menerima apa adanya. Tidak tunggu waktu lama, akhirnya mereka sepakat
untuk menikah. Nikah sederhana tanpa ada
pestaria dengan numpang di rumah teman Domi.
Hanya teman dekat yang datang. Nikah
sah!. Kini mereka resmi jadi suami istri. Mereka bahagia. Sebagai seorang istri dia harus ikut dimana
suami berada. Suami adalah penjual dikerombong pinggir jalan. Dia biasa tidur
dikerombong itu, karena memang tak punya rumah. Mau bagaimana? Kini mereka menikmati hidupnya
bersama suami yang sebatang kara dan meninggalkan orang tua angkatnya. Mereka
berkomitmen tak mau dibantu siapapun. Tabungan bu Nani sudah ludes untuk urusan
sana sini. Begitulah. Oh Cinta, kalau sudah berdua tai kambing rasa coklat. Sedih sebenarnya
karena hidup sengsara, terlunta rumah tak ada. Mau kos tak mungkin. Kerombong tak bisa ditinggalkan karena
jualannya melayani 24 jam. Mereka bahagia karena mereka saling mencinta. Selamat
menempuh hidup baru bu guru dan pak Domi, semoga selalu bahagia.
Waingapu,
19 November 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar