Sabtu, 20 November 2021

SANG PELIPUR LARA

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Karena persahabatan itu seperti tangan dan mata. Saat tangan terluka mata menangis. Saat menangis tangan  menghapusnya

 

                Hidup bagai roda. Nikmat Tuhan kan selalu ada. Ujianpun tak  akan menolak lupa. Drama kehidupan selalu siap dimainkan oleh  sang pemeran. Liku-liku   kehidupan akan membuat  indahnya suatu cerita. Kisah hidup setiap insan  pasti berbeda. Ada yang menarik,  mengesankan dan ada yang biasa-biasa saja.  Tapi itu tergantung juga  penilaian sang pembaca. Sebagai penulis pemula belajar dan mencoba berteriak lewat  aksara.  Menyampaikan  curahan tanpa suara.  Biar jejak  bisa  dikenang oleh siapa saja. Jika  tak menarik,  bolehlah tak dibaca. Biarkan  saja. Jangan pula terpaksa.  Kecuali penasaran, bolehlah silahkan baca. Cerita  akan bisa  menghibur  dan punya makna saat  sang pembaca  iklas  dan tulus untuk meluangkan waktu ‘walau’ hanya sebentar saja.

Hehe... cerita   ini   adalah kisah baru  seorang  guru dirantau orang.  Curahan hati Sebagai orang pendatang karena terlepas dari korban  konflik  bencana. Tepatnya dari provinsi  termuda Indonesia yang akhirnya memilih ‘merdeka’.  Mereka ingin bebas. Saya dan keluarga adalah  salah satu korbannya. Di tempat baru, saya  harus menyesuaikan diri. Beradaptasi kembali di tempat yang baru. Kata pepatah  dikandang kambing  harus  bisa mengembik, di kandang ayam  juga harus  bisa  berkokok.

            Itulah  amanah yang wajib kujalani sebagai abdi negara. Saat dirantauan dulu  anggap saja saya sudah mapan secara  finansial. Bapak kandung, suami dan saya sempat punya  rumah. Rumah tinggal dan rumah perumnas Usindo di Comoro. Ada pula kos-kosan di Becora.  Ada motor, bahkan punya taxi bisa untuk menambah income  keluarga. Hal ini karena  memang di Timtim saat itu ada tunjangan kemahalan bagi semua PNS. Ada juga tugas tambahan seperti jadi guru inti, penatar di balai penataran guru ( BPG) dan Tutor PGSD yang nota bene, ada honornya.

 Demi menyelamatkan diri  kami tinggal ‘semua’ harta benda yang kami punya. Rumah  lengkap  isinya serta  kunci kami tempelkan di masing-masing pintu. Harapan  kami supaya yang akan menempati nanti tidak usah repot-repot  merusak rumah.  Siap pakai dengan segala fasilitasnya. Enak kan? Kami  lari mengungsi hanya membawa surat penting dan pakaian secukupnya saja.  Cukuplah bisa ditenteng di tas  kecil sekenanya. Saat itu Dili, Timor Timur sudah  jadi lautan api, pembunuhan dan pembakaran dimana-mana.  Semua orang Indonesia harus pulang ke negaranya, termasuk saya.

            Di tempat yang baru saya  memulai kehidupan dari ‘nol’. Merayap dengan penuh keprihatinan. Ada sebenarnya rumah tapi tidak  bisa perbaiki untuk layak huni karena  tidak ada dana. Kami berstatus pengungsi belum ada modal. Akhirnya kami ‘numpang’ tinggal di rumah kakak kandung suami.  Kakak saat itu menjabat kepala desa di Kamanggih (-+ 60 Km) dari kota Waingapu. Ternyata  kami tinggal bersama lebih dari 20-an orang.  Ratapan, kepedihan, derita yang selalu menemani pribadiku.  Hanya doa yang bisa menghibur diriku. Dengan situasi seperti itu saya ‘belum’ sanggup membawa kedua anak kandungku di tempat kerja yang baru. Hidup dan nasib kami belum jelas. Anakku masih tinggal bersama ibu kandungku di Jawa.

            Selama 4 tahun saya ‘numpang’ dirumah kakak. Hati kecilku ingin lari dari rumah. Saya tak tahan hidup dengan banyak sekali orang. Belum terbiasa saja. Berusaha untuk senyum tapi terasa hampa karena terpaksa. Mencoba tertawa  tapi terlihat rekayasa. Apalagi saya seolah jadi tuan rumah. Maafff....., saya hanya curhat sebagai seorang  pendatang baru.  Gaji guru PNS tahun 2004 teramat sangat minim. Untuk makan sekian orang tidaklah cukup. Hanya untuk beli beras saja rasanya beraaat sekali. Kadang sampai  hutang di tetangga  yang baik hati demi sang perut yang sering protes karena laparnya luar biasa.  Ada motor satu-satunya  kami sewakan 30 ribu perhari untuk  mencukupkan makan saat itu. Badanku kurus kering karena kurang gizi. Muka terlihat pucat . Wajah sayu, lusuh dan tak berdaya. Pergi mengajar sekitar  2 km  kadang  jalan kaki. Naik bemo harus menunggu lama dipinggir jalan.  Lebih repot jika harus terputar sampai di Mauliru. Setiap hari tak pernah sarapan pagi padahal pulang sekolah  sekitar jam 14.30 wita.

            Hanya Doa yang membuatku kuat.   Aku hampir mau mengakhiri hidup atau lari menyendiri. Hidup terasa pahit dan sulit.  Aku takut suami  marah kalau aku mengeluh. Cuma kupikir kalau aku lari aku pasti lebih menderita karena aku adalah seorang PNS. Saat itu betul-betul aku ada di titik nadir, tapi  aku berusaha menutupi semuanya. Terasa sesak karena aku memang tidak mungkin bisa curhat dengan siapapun. Saya  orang baru. Orang tak mengenalku.  Aku hanya dikenal teman di sekolah saja. Aku jadi pemurung dan  seperti orang linglung. Hati bingung tapi  hanya bisa tercenung karena murung. Tak satupun tahu  tentang pergumulan hidup pribadiku saat itu.

Mungkin suami  ‘perasaan’ dengan keadaanku. Sebagai orang Jawa pada umumnya istri hanya  mengalah dan diam. Saya tak suka bala-bala apalagi bertengkar mulut.  Apa kata orang luar tentang keluarga kami jika kami bertengkar. Berstatus guru harus  selalu bisa jadi teladan. Digugu dan ditiru. Walau hidup dalam ‘gejolak’ tapi harus  tabah dan tawakal. Bagi orang Sumba Timur, suami tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Menurut tradisi mereka ia masih  termasuk golongan ‘bangsawan’.  Keluarga mereka  masih disegani, apalagi di kampung. Anak-anak ‘dalam rumah’ yang setia masih banyak.

Menimbang, mengingat dan memperhatikan  kondisi keluarga yang terus menerus menyulit  akhirnya kami memutuskan untuk membuat rumah sederhana. Syukurlah pelan-pelan mulai dibangun. Dengan modal nekat dan  mengikat erat ikat pinggang dan berpuasa.  Suami mulia cetak bataco sendiri bersama anak-anak tinggal. Beruntung mama mantu  menjual  kerbau kesayangannya untuk tambah membeli material rumah .

            Rumah sederhana akhirnya berdiri. Walau belum layak huni kami  terpaksa tinggal. Tanah itu hasil barter  dengan rumah sederhana  kami  yang dibangun  waktu masih di Timtim. Hasil honor suami mengajar  di SMA  dan kirimanku saat masih pegawai baru di Timor-Timur. Dengan menempati rumah berbeda tanggungan kami jadi terbagi. Sebagai guru saat itu benar-benar sengsara. Dulu di Tim Tim gaji cukup bahkan ‘lebih’ tapi situasi  selalu genting karena sering terjadi pemberomtakan. Di NTT situasi aman tapi  gaji Indonesia lama  kecil dan tak pernah ada proyek apapun. Maksudnya  penghasilan tambahan ‘nol’. Tapi kami terus berusaha untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada. Kekuatan doa membuatku semakin  sabar dan tabah  menerima tempa’an hidup. Dengan banyak ujian juga menambah hati  selalu dekat  dengan Tuhan sang  menolong.

            Keluarga  suami buanyak sekali, mereka terus berdatangan. Kami harus selalu menyiapkan makan minum  setiap hari. Mereka selalu tinggal lama, mereka  tidak pernah  mengerti kalau  hidupku lagi sulit. Berapa Gaji  PNS saat itu.Saya kadang menangis dalam hati dan menyesali diri. Benar saja teman-teman yang dari jawa ikut ke Jawa, batinku. Tapi menyesal kemudian  tak ada guna.Maaafffff....curhat saja.

            Di dalam ratapan dan kepedihan  rasanya aku bahagia kalau ketemu sesama orang jawa. Saya merasa menemukan saudara yang senasib di perantauan. Begitupun mereka. Semakin lama semakin akrab.  Itulah rasanya setiap  bertemu  orang jawa  energi positif jadi selalu masuk dihati. Ternyata  sabahat benar-benar jadi pelipur lara. Akhirnya kami ber-ide membuat  pertemuan rutin. Dalam pertemuan kami  isi dengan  pembentukan koperasi  dan arisan. Nah dengan begitu akhirnya  hidup terasa bermakna. Hidup jadi berwarna. Senyum kembali  merekah. Kami  menemukan  hal-hal yang selama ini ‘hilang’.  Semakin banyak teman hati semakin  merasa damai tentram. Ternyata  saya jadi terhibur. Hari-hari tidak merasa sendiri lagi, terasa  banyak yang menemani. Tak pernah ada lagi sunyi. Damai sejahtera menyertai.

            Pada dasarnya, saya jelas malu kalau pulang Jawa. Kenapa? Betapa keluarga menyangka seberat apa penderitaanku. Sementara  dulu saat menikah pun  ortu kurang setuju untuk saya ikut  suami ke NTT, eh! sekarang  saya mengeluh. Itu namanya  menjilat kembali ludah yang sudah ditumpahkan. Jika saya pulang Jawa, saya seolah-olah suasananya seperti sejak masih di Timtim, makmur dan suka berbagi. Padahal setelah di NTT untuk makan sendiri saja  kadang masih tidak tercukupi karena harus menanggung makan banyak orang yang tinggal bersama kami. Saya berusaha untuk  menutupi hal sebenarnya supaya keluargaku di Jawa melihat aku ada baik-baik saja.

            Karena sudah banyak teman orang Jawa akhirnya  kami membentuk sebuah perkumpulan yang kami beri nama’Srikandi’. Dengan begitu kami jadi merasa  seperti di Jawa. Bisa ber haha hihi  dengan bahasa Jawa.  Kami saling melengkapi. Saling  mengisi dan saling berbagi. Perkumpulan diadakan setiap bulan. Saat pertemuan  sengaja  membuat menu masakan jawa sekalian bernostalgia. Cerita ngalor, ngidul tapi  membuat hati terhibur.

Saya masih beruntung karena pegawai yang nota bene bisa punya gaji sendiri. Teman-teman lain  ada yang ibu rumah tangga saja. Mereka harus  menunggu suami memberikan uang.  Beruntung  kalau suaminya baik hati dan menafkahi istri. Lah! kalau tidak.  Dia harus banting tulang, kerja, untuk  mencukupkan kebutuhan hidupnya. Dengan begitu saya jadi punya harapan dan optimis. Rejeki dari Tuhan akan selalu ada. Akupun menyakini,  Tuhan akan mencukupkan asal kita  setia dan selalu bersyukur untuk  anugerahnya. Hidup jangan mengeluh. Hadapi dengan senyum. Hadapi dengan iklas, pasti semua akan indah pada waktunya. Percaya penuh Tuhan akan selau memberikan yang ‘terbaik’ untuk kita umatnya. Orang kampung asli yang tak ada penghasilan sama sekali tapi  mereka  bisa hidup.  Saya yang jelas-jelas pegawai  kok  mengeluh. Siap!! harus terus bersyukur..

Saya tak pernah mengharapkan jadi orang kaya, itu menyalahi takdir Tuhan. Biarlah aku hidup sederhana, semoga membuatku tenang, tentram, damai dan  dan bahagia. Kini  akhirnya saya penuh semangat ikut  komunitas-komunitas yang membuatku merasa enjoy. Ada paguyuban Srikandi.  Perkumpulan antari.  Kelompok keluarga ‘Luri Pandulang’. Kelompok Mom Jawa dan beberapa  perkumpulan keluarga yang lain.

Asli, dengan adanya  aktiv dalam perkumpulan jadinya banyak teman. Banyak hiburan  dan saling bisa menyampaikan curahan  hati, merasa ‘aku tidak menderita sendiri’. Banyak teman yang hidupnya lebih sulit dari pada aku, tapi mereka tak pernah mengeluh.  Mereka bisa  menikmati hidup. Kadang kita merasa orang lain ‘lebih’ dari pada kita. Taman  di tetangga lebih subur  dibanding  taman kita. Padahal......tak selamanya taman yang  indah  hidupnya lebih  bahagia dibanding kita. Setiap kita pastinya punya pergumulan masing-masing tergantung bagaimana kita menyikapinnya.

Trimakasih para sahabatku sudah menjadi guruku dalam universitas kehidupan. Sahabatku adalah sang pelipur lara. Sahabat adalah yang mau menghampiri saat aku membutuhkan. Sahabat akan  menemani saat aku dalam kedukaan.Trimakasih Tuhan saya bisa menjalani  hidup ini dengan penuh syukur. Kami sadar  kami manusia yang lemah dan tak berdaya ada Tuhan ada para sahabat  yang membuatku hidup jadi bermakna dan bergairah.

 

 

 Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah  yang tinggal dirantauan sejak tiga puluh tahun yang lalu.  Riwayat sekolah SDK Kamal, SMPK Muntilan, SMAK Tarakanita Stella Duce Jogyakarta.  Saya Lulusan Pendidikan guru IKIP Sanata Dharma  Jogyakarta tahun 1989.  Seorang ibu dengan 2 putra ( Marcel dan Anto), Suami adalah Adi Ch. Muhu, ibu rumah tangga sekaligus  mengajar  matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur, NTT. Sudah  banyak artikel  dibuat penulis yang lolos dibeberapa media masa ,lokal ada juga yang  propinsi NTT. Sudah 30  lebih buku  ber-ISBN solo dan  Antologi  sebagai  karya  inovasi sejak  ada  wabah Pandemi maret 2020. Buku  karya ada cerpen, puisi,  story telling, Cerita tentang Belajar dari rumah ( PJJ)  dll.  Penulis bisa dihubungi melalui email ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com. Moto :  Bahagia  jika  hidup bisa bermakna.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...