Kepada:
Yth : Bapak
Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Salam hormat,
Selamat
berjumpa Bapak Presiden apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan
baik-baik saja. Trimakasih banyak bapak atas semua
yang sudah bapak lakukan untuk kemajuan Indonesia. Saya
sebagai guru sungguh sangat mengapreasi
semua karya bapak. Sungguh luar biasa dan sangat berarti bagi
rakyat Indonesia. Dari hati yang
paling dalam saya sangat mengagumi karya
bapak untuk Indonesia tercinta.
Bapak saya
orang Jawa tapi tugas di NTT. Kata
orang NTT kepanjangannya Nasib Tak Tentu. Orang -orangnya sebagian masih terbelakang. Masih banyak
orang kampung yang tidak tahu bahasa
Indonesia dan tidak tahu baca. Terkhusus orang-orang tua. Adat masih kental. Dengan
begitu orang bilang NTT adalah penyumbang keluarga miskin terbesar di
Indonesia. Adat dinomorsatukan, urusan sekolah dinomorduakan. Hehe…..Selalu di deret akhir peringkat Nilai Ujian Nasional. Begitulah.
Sedih, prihatin, perih hati ini
kami sebagai warga NTT. Kapan NTT bisa meninggalkan adat mereka? Maka
para pendatanglah yang kaya sedang putra daerah
tak pernah bisa kaya. Orang sumba
tak pernah bisa berubah. Ironisnya
Orang Sumba yang tuan tanah terbalik menjadi pelayan tokonya pendatang .
Ada juga orang sumba yang jadi pembantu rumah tangganya pendatang. Semoga ada
orang luar yang bisa memberikan solusi
demi kesejahteraan anak tanah. Semoga
kami bisa bangkit. Punya percaya
diri. Sadar pendidikan untuk meningkatkan SDM. Akar masalahnya adalah:
Pertama, adat
untuk peminangan perempuan Sumba. Bikin sesak!. Perempuan Sumba sangat
mahal. Hal ini karena melestarikan adat nenek moyang mereka. Harga diri
atau ‘nama’ sangat diagung-agungkan. Demi
‘gengsi’ mereka rela untuk berkorban. Sapi , kerbau, kuda adalah belis andalan
mereka. Tak tanggung-tanggung!. Ada saja perempuan Sumba yang harus dibelis
dengan 50 – 100 ekor hewan! Kalau dihitung
dengan rupiah sudah berapa itu.
Padahal mereka hidup saja sederhana. Untuk
kehidupan sehari-hari kadang susah. Pemanpilan teramat bersahaja. Dengan
pakaian tenun, pakaian adat yang jadi kebanggaannya. Ada juga demi mencukupkan
‘belis’ untuk sang istri, calon suami juga ikut hutang. Karena hutang besar
yang harus ditanggung setelah nikah hingga anak kandung sudah SMA, gajinya
masih dipotong di bank demi membayar belis sang mama dulu yang belum lunas.
Kedua, untuk acara penguburan. Demi
mempertaruhkan ’Nama’ keluarga, Jenazah disimpan lama ( bisa sampai
bertahun-tahun). Keluarga yang
ditinggalkan menabung dulu untuk mempersiapkan penguburan. Mereka mempersiapkan
hewan, Sapi kerbau, kuda dan babi. Tidak lupa beras, sirih pinang dan bumbunya. Jika nanti ada saudara yang
membawa Kerbau misal, ia harus membalas dengan babi. Jika dari keluarga pihak
perempuan (Anakawini) mereka bawa kain
(tenun sumba) harus dibalas dengan
hewan. Jika pembalasannya tak sepadan bisa jadi masalah serius dalam keluarga.
Jadi sebagai warga asli harus taat
dengan adat yang ada.
Ketiga, Hutang adat, teman saya mamanya
sakit. Di ICU hingga 29 hari. Badan
sudah kurus dan sakitnya semakin parah. Sebagai orang tua , sang mama pada
dasarnya tidak ingin merepotkan anak. Saat
sakratul maut, dengan terpaksa
mamanya berterus terang kepada anaknya bahwa
dulu…..dulu saat bapaknya masih hidup, mereka pernah berjanji dengan
adat akan memberikan hewan kepada
‘seseorang’. Seseorang itu sudah meninggal, tapi karena berjanji dengan adat maka mamanya kena hukuman. Berdasarkan
pengakuan/kejujuran mamanya akhirnya anak-anaknya berbesar hati untuk
membayarkan hutang orang tua kala itu.
Harga Kerbau jantan lebih dari 30-an juta.
Benar saja setelah teman saya
membayar hutang adat orang tuanya mamanya ‘langsung’ sembuh. Boleh Percaya atau
boleh tidak itu memang fakta!.Begitulah seterusnya. Kita ini tak pernah punya
uang tunai, jalan satu-satunya ya ‘pinjam’ , entah dikoperasi, di bank atau
dijasa peminjaman lainnya. Dengan begitu kami
hidup di atas hutang, tidur diatas hutang dan bernafas pun selalu ingat
hutang.
Suami saya adalah putra asli Sumba Timur. Biasa disebut dengan ‘anak tanah’.
Jadi keluarga kami masih kental melaksanakan adat ini hingga kini. Baru-baru
ini anak saya, sepupu, Jati Maramba Hau. Dipinang seorang pemuda asal Melolo, sebuah kota
kecamatan di Sumba Timur. Dengan proses adat, berdasarkan kesepakatan antara ‘wunang’ (juru bicara:Red), keluarga
pihak laki-laki harus membayar
belis 50 ekor hewan dibayar tunai. Itu
hasil perdebatan alot antara keluarga laki-laki dana perempuan. Awalnya minta
70 ekor. Wow! ! Hewan berupa sapi, kerbau dan kuda. Kalau dirupiahkan bisa sekitar 200-an juta. Adat selesai. Dengan
begitu resepsi jadi tertunda berhubung
dana sudah terkuras untuk membayar
‘belis’. Selang sekitar setahun kemudian bapak mantu sang
pemuda ( Umbu Oktavianus) meninggal. Sedih!. Ceritanya anak kami berdua belum
resepsi, belum urusan nikah gereja dan Sipil. Yang jelas karena terbentur dana.
Prosesi penguburan Bapak Mantu
sekitar 6 bulan setelah meninggal. Saat
penguburan sekitar 2 ribuan orang yang
datang. Bisa dibayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan pihak keluarga.
Selama jenazah ‘dirumahkan’ setiap
hari harus mete ( jaga) dan banyak tamu
yang datang. Itu berarti keluarga duka harus menyiapkan makan minumnya para
tamu. Saat Penguburan tiba dengan menjamu tamu , berapa hewan yang dipotong untuk prosesi itu? Ala hu
alam……ini hanya curhat bapak. Mengapa orang NTT susah maju.
Saya tahu persis karena saya adalah
anak mantu dari keluarga besar anak tanah. Nota bene keluarga tokoh mayarakat asli Sumba Timur, dimana kami
masih termasuk keluarga ‘bangsawan’ di Sumba Timur dan masih taat dengan adat itu. Sekedar masukan,
semoga ini bisa menjadi masukan.
Inilah salah satu kenapa orang Sumba
Timur khususnya dan NTT pada umumnya itu miskin. Ya! Karena masih setia dengan adat yang
diwariskan dari nenek moyangnya. Jika mereka tidak mengikuti adat yang ada atau ‘salah
adat’ nanti takut dengan dampaknya.
Dari cerita di atas adat jadi merasa
lebih penting dari pada pendidikan. Orang-orang
kampung biar mereka adalah tokoh adat, seorang bangsawan, karena sekolahnya
tidak cukup maka SDM rendah. Orang jadi memandang dengan sebelah mata. Seperti cerita
baru-baru yang viral tentang gubernur kita, Viktor Bung Tilu Laiscodat.
Hukum rimba jadi berlaku. Yang merasa pintar, kaya dan punya kuasa jadi memperdaya orang yang dianggap lemah.
Saya hanya seorang guru, mungkin
ini cerita politik, saya takut koment lebih lanjut. Sebagai istri orang Sumba
hanya turut prihatin saja. Saya
juga bukan siapa-siapa. Maaf jika ada
salah kata. Seorang istri tugas utama urusan belakang dan tak layak banyak
bicara. Takut salah.
Saya juga adalah salah satu
dari korban konflik bencana Timor Timur.
Masuk pertama kali di NTT
tahun 2000. Kota Waingapu Sumba Timur
sungguh masih sunyi, sepi dan terbelakang. Pembangunan belum ada. Orang belum kenal pulau kecil itu. Orang lebih
kenal flores . Keluarga kami
di jawa bilang saya tinggal di flores. Mereka kenal karena orang flores
suka merantau, orang Sumba jarang merantau. Gaungnya tal kelihatan sama sekali.
Apalagi yang golongan tertentu tak mungkin merantau. Jelas tak mungkin.
Sejak pemerintahan Bapak, kini Sumba
sudah banyak sentuhan pembangunan. Artis ibu kota suka datang ke sini. Banyak
film layar lebar yang shotting di sini.
Bahkan Artis Dunia buat iklan di sini. Panorama indah sumba ternyata menarik hati. Pemandangan sabana nan luas menggoda hati. Nuansa pemandangan
yang masih alami begitu memihat dan mempesona. Indahnya dentingan Jungga, musik tradisional nan
eksotik tak kalah mengambil hati wisatawan membuat terpana.
Kami
sangat bangga punya presiden seperti bapak. Orang nomor satu tetapi tetap rendah hati dan sangat
menghargai kami rakyat kecil.
Jujur… setiap kami lihat postingan bapak
di TV, Di Video, di You tube pasti tak terasa
air mata selalu membasasahi pipi.
Baper….kagum, salut, terharu
…. Untuk hal apa saja yang
dilakukan bapak, semua begitu
spektakuler, begitu ‘hebat’
dan begitu mengagumkan.
Kadang hal yang mustahil atau tak masuk akal tapi akhirnya
bisa jadi nyata.
Bapak, Engkau engkau dicintai rakyat
mayoritas, tapi ada saja orang-orang
yang membenci, menghujat dan mencaci maki. Mereka tega mencemooh, merendahkan dan menghina. Ada
juga yang menfitnah, menzolimi. Kok tega ya !!??? Semoga
Bapak selalu sehat, kuat, tabah dan
sabar. Dari hati kami yang paling dalam
kami sungguh percaya Tuhan selalu
dan senantiasa mendampingi,
melindungi memberkati setiap tugas dan kerja bapak. Orang yang tidak suka itu
urusan Tuhan. Hanya Tuhan yang
bisa memberikan pengadilan pada mereka.
Mungkin benar yang pernah saya dengar “ Indonesia
bisa maju jika yang memimpin adalah
satrio piningit”. Maaf mungkin
kalimatnya saja yang tak persis itu.
Intinya dulu pernah ada yang meramalkan bahwa suatu saat
Indonesia akan dipimpin oleh seorang
“Satrio piningit”. Asal-usulnya bapak
adalah orang biasa seperti saya, hehe…. Bukan begitu lahir langsung kaya, karena orang tuanya tajir mlintir. Bapak pernah
merasakan deritanya
kehidupan, susahnya mencari makan, digusar-digusur karena rumah tinggal
di bantaran, dan lain-lain
derita. Dengan begitu bapak
benar-benar merasakan kepedihan hidup.
Bapak punya mimpi, jika suatu saat
diberi Jabatan. Filosofi bapak yang
pernah saya dengar : jabatan adalah
amanah dari Allah. Jadi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Malu sama
Allah bila berkhianat saat melaksanakan
amanah. Benar saja kini
bapak sudah melaksanakan amanah itu. Benar-benar saya pribadi merasakan, bapak adalah
presiden yang terbaik. Saya hidup
sudah merasakan 6 presiden. Dari
pak Harto yang selama 32 tahun
berkuasa. Pak Habibi, Ibu Megawati, Gusdur, Bapak Susilo Bambang Yudoyono dan
yang terakhir bapak Joko Widodo. Presiden ke-7 Indonesia. Kita mempercayai
‘angka 7’ adalah angka baik. Angka mujur. Angka berkah. Langit dilapis
ke-7 adalah simbul bahwa jika kita terus
berbuat baik berarti akan naik ke sorga di lapis ke-7. Bahagia, sejahtera,
Indah….yang penting saking indah dan
nyamannya sulit disampaikan dengan
kata-kata. ‘Mudah dirasa sukar dikata’. Hanya bapak yang ‘Is The Best”.
Saya adalah guru tua, mengajar sudah
31 tahun, lima tahun lagi pensiun. Suami juga mantan guru, kini dia sudah
pensiun. Saya merasa terkadang dilihat
dengan sebelah mata. Itu sepenuhnya kami
sadari, ada saja orang yang tidak suka. Hati tetap iklas dan selalu berfikir
positif saja. Dirumah saya ada belasan anak
sekolah yang tinggal bersama saya. Anak orang kampung yang kurang beruntung.
Hitung-hitung berbagi, itu kami jalani
sejak saya tinggal di NTT sekitar 20 tahun yang
lalu. Ingin rasanya sekedar punya
tempat untuk tampung anak-anak sekolah, buka taman baca dan les gratis. Bisa
ajak teman guru-guru yang berjiwa sosial untuk mengajar gratis. Pasti asyik dan
menyenangkan, bisa beramal dan berbagi
ilmu. Tapi kapan? Ahh!! maaf
pak. Ini hanya sekedar curhat saja.
Betapa bahagianya
jika suatu hari saya bisa
bertemu…berfoto bersama….dan bersalaman kepadanya. Ahhh!!
Ini mimpi. Biarlah
mimpi ini terus akan terpatri di hati. Terus mengenang bapak presiden Jokowi, presiden terbaik Indonesia
yang sangat membumi. Dicintai rakyat
seluruh negeri. Bahkan
masyarakat luar negeri pun mengagumi karisma presiden kami. Semoga bisa
menjadi teladan bagi para generasi. Walau sudah jadi pejabat tertinggi tapi tetap rendah hati. Mau
peduli dan mau mendengar keluh kesah rakyat dengan empati,
Bapak Jokowi yang baik, tidak ada
satupun presiden di dunia yang
punya karisma seperti bapak. Salam hormat kami dari NTT, mohon doanya semoga suatu saat NTT bisa maju seperti di
jawa. Doa kami semoga bapak
dan keluarga selalu diberkati
oleh Tuhan yang Maha Kasih.
“Ledwina
Eti adalah nama facebook dan IG-nya,
nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd.
Lahir di Magelang.Riwayat
pendidikan SDK di kampung Kamal. SMP K
Muntilan. SMAK Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. FPMIPA Matematika. UPJJ UT Kupang. Selain ibu rumah
tangga dari Suami Drs. Adi Christian Muhu dan kedua anakku Marcel Meha dan
Ananto.
Saat
ini tercatat sebagai guru di SMA Negeri 2 Waingapu , Selain sebagai
pendidik juga suka menulis di media masa atau medsos, fb, you tube, beberapa koran juga
majalah. Sudah mempunyai
lebih 30 buku solo dan antologi. Punya pengalaman jadi editor dan kurator buku yang bekerjasama dengan Ibu
Kanjeng (Dra Sri Sugiastuti,M.Pd) dan ibu Lilis ( Dra Lilis H Sutikno, SH). Buku Antologi antara lain: Pelangi Nusantara, Manuai berkah Bertaut
Aksara, Kidung Rindu, refleksi dan Resolusi Saat pandemi, dan beberapa buku inspirasi. Buku Solo adalah Mengungkat Rahasia”Bangga Menjadi Penulis,
Dari Goresan Pena Mengukir Prestasi, Trik Jitu Menjadi penulis Masa Kini. Sekarang ini penulis tingggal di Jl
Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat
email, ledwinaetiwuryani@gmail.com.
Ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id alamat blog. etiastiwi66.blogspot.com No HP / WA 085 230 708
285
Quates : Semoga hidup bisa bermanfaat dan
menginspirasi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar