Sabtu, 18 Desember 2021

Surat Cinta Guru kepada Pak Pressiden

 

 

 

Kepada:

Yth :  Bapak  Joko Widodo

            Presiden Republik Indonesia

 

Salam  hormat,

 

 Selamat  berjumpa Bapak Presiden apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik-baik  saja. Trimakasih  banyak bapak atas  semua  yang   sudah  bapak  lakukan untuk kemajuan Indonesia.  Saya  sebagai guru sungguh  sangat  mengapreasi  semua  karya  bapak. Sungguh   luar biasa dan sangat  berarti bagi  rakyat  Indonesia. Dari hati yang paling dalam saya sangat  mengagumi   karya  bapak untuk Indonesia tercinta. 

            Bapak  saya  orang Jawa tapi tugas di NTT. Kata  orang  NTT kepanjangannya  Nasib Tak Tentu. Orang -orangnya  sebagian masih terbelakang. Masih banyak orang kampung  yang tidak tahu bahasa Indonesia dan tidak tahu baca. Terkhusus orang-orang tua. Adat masih kental. Dengan begitu orang bilang NTT adalah  penyumbang keluarga miskin terbesar di Indonesia. Adat dinomorsatukan, urusan sekolah dinomorduakan. Hehe…..Selalu  di deret akhir  peringkat Nilai Ujian Nasional. Begitulah. Sedih, prihatin, perih  hati  ini  kami sebagai warga NTT. Kapan NTT bisa meninggalkan adat mereka? Maka para pendatanglah yang kaya sedang putra daerah  tak pernah bisa kaya. Orang sumba  tak pernah bisa berubah. Ironisnya  Orang Sumba yang tuan tanah terbalik menjadi pelayan tokonya pendatang . Ada juga orang sumba yang jadi pembantu rumah tangganya pendatang. Semoga ada orang luar yang  bisa memberikan solusi demi kesejahteraan anak tanah. Semoga   kami bisa   bangkit.  Punya percaya  diri. Sadar pendidikan untuk meningkatkan SDM.  Akar masalahnya adalah:

Pertama,          adat untuk peminangan perempuan Sumba. Bikin sesak!. Perempuan Sumba  sangat  mahal. Hal ini karena melestarikan adat nenek moyang mereka. Harga diri atau ‘nama’  sangat diagung-agungkan. Demi ‘gengsi’ mereka rela untuk berkorban. Sapi , kerbau, kuda adalah belis andalan mereka. Tak tanggung-tanggung!. Ada saja perempuan Sumba yang harus dibelis dengan 50 – 100 ekor hewan! Kalau dihitung  dengan rupiah  sudah berapa itu. Padahal mereka  hidup saja sederhana. Untuk kehidupan sehari-hari kadang susah. Pemanpilan teramat bersahaja. Dengan pakaian tenun, pakaian adat yang jadi kebanggaannya. Ada juga demi mencukupkan ‘belis’ untuk sang istri, calon suami juga ikut hutang. Karena hutang besar yang harus ditanggung setelah nikah hingga anak kandung sudah SMA, gajinya masih dipotong di bank demi membayar belis sang mama dulu yang belum lunas.

            Kedua, untuk acara penguburan. Demi mempertaruhkan ’Nama’ keluarga, Jenazah disimpan lama ( bisa sampai bertahun-tahun).  Keluarga yang ditinggalkan menabung dulu untuk mempersiapkan penguburan. Mereka mempersiapkan hewan, Sapi kerbau, kuda dan babi. Tidak lupa beras, sirih pinang  dan bumbunya. Jika nanti ada saudara yang membawa Kerbau  misal, ia harus membalas  dengan babi. Jika dari keluarga pihak perempuan (Anakawini) mereka bawa  kain (tenun sumba)  harus dibalas dengan hewan. Jika pembalasannya tak sepadan bisa jadi masalah serius dalam keluarga. Jadi sebagai warga  asli harus taat dengan adat yang ada.

Ketiga, Hutang adat, teman saya mamanya sakit. Di ICU hingga 29 hari.  Badan sudah kurus dan sakitnya semakin parah. Sebagai orang tua , sang mama pada dasarnya tidak ingin merepotkan anak. Saat  sakratul maut,  dengan terpaksa mamanya berterus terang kepada anaknya bahwa  dulu…..dulu saat bapaknya masih hidup, mereka pernah berjanji dengan adat akan memberikan hewan kepada  ‘seseorang’. Seseorang itu sudah meninggal, tapi karena  berjanji dengan adat maka  mamanya kena hukuman. Berdasarkan pengakuan/kejujuran mamanya akhirnya anak-anaknya berbesar hati untuk membayarkan hutang  orang tua kala itu. Harga Kerbau jantan lebih dari 30-an juta.  Benar saja setelah  teman saya membayar hutang adat orang tuanya mamanya ‘langsung’ sembuh. Boleh Percaya atau boleh tidak itu memang fakta!.Begitulah seterusnya. Kita ini tak pernah punya uang tunai, jalan satu-satunya ya ‘pinjam’ , entah dikoperasi, di bank atau dijasa peminjaman lainnya. Dengan begitu kami  hidup di atas hutang, tidur diatas hutang dan bernafas pun selalu ingat hutang.

Suami saya adalah putra  asli  Sumba Timur. Biasa disebut dengan ‘anak tanah’. Jadi keluarga kami  masih kental  melaksanakan adat ini hingga kini. Baru-baru ini anak saya, sepupu, Jati Maramba Hau. Dipinang  seorang pemuda asal Melolo, sebuah kota kecamatan di Sumba Timur. Dengan proses adat, berdasarkan kesepakatan  antara ‘wunang’ (juru bicara:Red), keluarga pihak laki-laki  harus membayar belis  50 ekor hewan dibayar tunai. Itu hasil perdebatan alot antara keluarga laki-laki dana perempuan. Awalnya minta 70 ekor. Wow! ! Hewan berupa sapi, kerbau dan kuda. Kalau dirupiahkan  bisa sekitar 200-an juta. Adat selesai. Dengan begitu  resepsi jadi tertunda berhubung dana  sudah terkuras untuk membayar ‘belis’.  Selang    sekitar setahun kemudian bapak mantu sang pemuda ( Umbu Oktavianus) meninggal.  Sedih!. Ceritanya anak kami berdua belum resepsi, belum urusan nikah gereja dan Sipil. Yang jelas karena terbentur dana.

            Prosesi penguburan Bapak Mantu sekitar 6 bulan setelah  meninggal. Saat penguburan  sekitar 2 ribuan orang yang datang. Bisa dibayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan pihak keluarga. Selama  jenazah ‘dirumahkan’ setiap hari  harus mete ( jaga) dan banyak tamu yang datang. Itu berarti keluarga duka harus menyiapkan makan minumnya para tamu. Saat Penguburan tiba dengan menjamu tamu , berapa  hewan yang dipotong untuk prosesi itu? Ala hu alam……ini  hanya  curhat bapak. Mengapa orang NTT susah maju.

            Saya tahu persis karena saya adalah anak mantu dari keluarga besar anak tanah. Nota bene keluarga  tokoh mayarakat asli Sumba Timur, dimana kami masih termasuk keluarga ‘bangsawan’ di Sumba Timur dan  masih taat dengan adat itu. Sekedar masukan, semoga ini  bisa menjadi masukan. Inilah  salah satu kenapa orang Sumba Timur khususnya dan NTT pada umumnya itu miskin. Ya!  Karena masih setia dengan adat yang diwariskan dari nenek moyangnya. Jika mereka tidak  mengikuti adat yang ada atau ‘salah adat’  nanti takut dengan dampaknya.

            Dari cerita di atas adat jadi merasa lebih penting dari pada  pendidikan. Orang-orang kampung biar mereka adalah tokoh adat, seorang bangsawan, karena sekolahnya tidak cukup  maka SDM rendah. Orang jadi  memandang dengan sebelah mata. Seperti cerita baru-baru yang viral tentang gubernur kita, Viktor Bung Tilu  Laiscodat.  Hukum rimba jadi berlaku. Yang merasa pintar, kaya dan punya kuasa  jadi memperdaya orang yang dianggap lemah. Saya  hanya seorang guru, mungkin ini  cerita politik, saya takut  koment lebih lanjut. Sebagai istri orang Sumba hanya  turut prihatin saja. Saya juga  bukan siapa-siapa. Maaf jika ada salah kata. Seorang istri tugas utama urusan belakang dan tak layak banyak bicara. Takut salah.

            Saya juga adalah salah satu dari  korban konflik bencana Timor Timur. Masuk  pertama kali  di NTT  tahun 2000. Kota Waingapu Sumba Timur  sungguh  masih sunyi, sepi  dan terbelakang. Pembangunan   belum ada. Orang  belum kenal pulau kecil itu. Orang lebih kenal flores .  Keluarga  kami  di jawa bilang saya  tinggal  di flores. Mereka kenal karena orang flores suka merantau, orang Sumba jarang merantau. Gaungnya tal kelihatan sama sekali. Apalagi yang golongan tertentu tak mungkin merantau. Jelas tak mungkin.

            Sejak pemerintahan Bapak, kini Sumba sudah banyak sentuhan pembangunan. Artis ibu kota suka datang ke sini. Banyak film layar lebar yang  shotting di sini. Bahkan Artis Dunia buat iklan di sini. Panorama indah  sumba ternyata menarik hati. Pemandangan  sabana nan luas menggoda hati. Nuansa pemandangan yang masih alami begitu memihat dan mempesona. Indahnya  dentingan Jungga, musik tradisional nan eksotik tak kalah mengambil hati wisatawan membuat terpana.

 Kami sangat  bangga  punya presiden seperti bapak. Orang  nomor satu tetapi  tetap rendah hati  dan sangat  menghargai kami  rakyat kecil. Jujur… setiap  kami  lihat postingan  bapak  di TV, Di Video, di You tube  pasti  tak terasa  air mata  selalu membasasahi pipi. Baper….kagum,  salut,  terharu  …. Untuk hal apa  saja yang dilakukan  bapak, semua  begitu  spektakuler,  begitu ‘hebat’ dan  begitu  mengagumkan.  Kadang hal  yang  mustahil atau tak masuk akal  tapi akhirnya  bisa jadi nyata.

            Bapak, Engkau engkau dicintai rakyat mayoritas, tapi ada saja  orang-orang yang membenci, menghujat dan mencaci maki. Mereka  tega mencemooh, merendahkan dan menghina. Ada juga yang menfitnah, menzolimi. Kok tega ya !!???  Semoga  Bapak selalu sehat, kuat, tabah dan  sabar. Dari hati kami yang paling dalam  kami  sungguh percaya  Tuhan selalu  dan senantiasa  mendampingi, melindungi memberkati  setiap  tugas dan kerja bapak. Orang  yang tidak suka  itu  urusan Tuhan. Hanya Tuhan yang  bisa memberikan pengadilan pada mereka.

            Mungkin  benar yang pernah saya dengar “ Indonesia bisa maju jika yang memimpin adalah  satrio piningit”. Maaf  mungkin kalimatnya saja  yang tak persis itu. Intinya  dulu  pernah ada yang meramalkan bahwa suatu saat Indonesia akan  dipimpin oleh seorang “Satrio piningit”.  Asal-usulnya bapak adalah orang  biasa  seperti saya, hehe….  Bukan begitu lahir langsung kaya,  karena orang tuanya  tajir mlintir. Bapak  pernah  merasakan  deritanya kehidupan,  susahnya  mencari makan,  digusar-digusur karena  rumah tinggal  di bantaran, dan lain-lain  derita. Dengan  begitu bapak benar-benar  merasakan kepedihan hidup.

            Bapak punya mimpi, jika suatu saat diberi Jabatan.  Filosofi bapak yang pernah saya dengar :  jabatan adalah amanah  dari Allah. Jadi harus  dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Malu sama Allah bila berkhianat saat  melaksanakan amanah. Benar  saja  kini  bapak sudah melaksanakan amanah itu. Benar-benar  saya pribadi merasakan, bapak adalah presiden  yang terbaik. Saya  hidup  sudah merasakan 6 presiden. Dari  pak Harto yang  selama 32 tahun berkuasa. Pak Habibi, Ibu Megawati, Gusdur, Bapak Susilo Bambang Yudoyono dan yang terakhir bapak Joko Widodo. Presiden ke-7 Indonesia. Kita  mempercayai  ‘angka 7’ adalah angka baik. Angka mujur. Angka berkah. Langit dilapis ke-7 adalah  simbul bahwa jika kita terus berbuat baik berarti akan naik ke sorga di lapis ke-7. Bahagia, sejahtera, Indah….yang penting  saking indah dan nyamannya  sulit disampaikan dengan kata-kata. ‘Mudah dirasa sukar dikata’. Hanya bapak yang ‘Is The Best”.

            Saya adalah guru tua, mengajar sudah 31 tahun, lima tahun lagi pensiun. Suami juga mantan guru, kini dia sudah pensiun.  Saya merasa terkadang dilihat dengan sebelah mata. Itu  sepenuhnya kami sadari, ada saja orang yang tidak suka. Hati tetap iklas dan selalu berfikir positif saja. Dirumah saya ada belasan  anak sekolah yang tinggal bersama saya. Anak orang kampung yang kurang beruntung. Hitung-hitung  berbagi, itu kami jalani sejak saya tinggal di NTT sekitar 20 tahun yang  lalu.  Ingin rasanya sekedar punya tempat untuk tampung anak-anak sekolah, buka taman baca dan les gratis. Bisa ajak teman guru-guru yang berjiwa sosial untuk mengajar gratis. Pasti asyik dan menyenangkan, bisa  beramal dan berbagi ilmu. Tapi kapan?  Ahh!!  maaf  pak. Ini hanya sekedar  curhat saja.

            Betapa  bahagianya  jika suatu hari saya  bisa bertemu…berfoto bersama….dan bersalaman kepadanya.  Ahhh!!  Ini  mimpi.  Biarlah  mimpi ini terus akan terpatri di hati. Terus mengenang  bapak presiden Jokowi, presiden terbaik Indonesia yang sangat membumi. Dicintai rakyat  seluruh negeri. Bahkan  masyarakat  luar negeri pun  mengagumi karisma presiden kami. Semoga bisa menjadi teladan  bagi para  generasi. Walau sudah jadi  pejabat tertinggi tapi tetap rendah hati. Mau peduli dan mau mendengar keluh kesah rakyat dengan empati,

Bapak Jokowi yang baik, tidak  ada  satupun  presiden di dunia yang punya karisma seperti bapak. Salam hormat kami dari NTT, mohon doanya  semoga suatu saat NTT bisa maju seperti di jawa. Doa kami  semoga  bapak  dan keluarga selalu diberkati  oleh Tuhan yang Maha Kasih.

 



 “Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG-nya,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani Budi Astiwi, SPd. Lahir di Magelang.Riwayat pendidikan SDK di kampung Kamal. SMP K Muntilan. SMAK Tarakanita Stella Duce Yogyakarta. IKIP Sanata Dharma Jogyakarta.  FPMIPA Matematika. UPJJ UT Kupang. Selain ibu rumah tangga dari Suami Drs. Adi Christian Muhu dan kedua anakku Marcel Meha dan Ananto. Saat ini  tercatat sebagai guru  di SMA Negeri 2 Waingapu , Selain sebagai pendidik   juga  suka menulis di media  masa atau medsos, fb, you tube, beberapa koran juga majalah. Sudah mempunyai lebih 30 buku solo dan antologi. Punya pengalaman jadi editor  dan kurator buku yang bekerjasama dengan Ibu Kanjeng (Dra Sri Sugiastuti,M.Pd) dan ibu Lilis ( Dra Lilis H Sutikno, SH).  Buku Antologi antara lain:  Pelangi Nusantara, Manuai berkah Bertaut Aksara, Kidung Rindu, refleksi dan Resolusi Saat pandemi, dan beberapa  buku inspirasi. Buku Solo adalah    Mengungkat Rahasia”Bangga Menjadi Penulis, Dari Goresan Pena Mengukir Prestasi, Trik Jitu Menjadi penulis Masa Kini.   Sekarang ini penulis tingggal  di  Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. Ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id alamat blog. etiastiwi66.blogspot.com   No HP / WA 085 230 708 285

            Quates : Semoga hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi sesama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...