Oleh : Ledwina Eti
Jalani hidup ini dengan
hati penuh ucapan syukur, hadapi dengan senyuman maka kamu akan
merasakan anugerah kehidupan yang luar biasa.
Saya adalah anak
pertama dari empat bersaudara. Nenek bilang aku adalah anak percobaan. Hehe…
jadi dengan begitu saya belum sempurna
katanya. Nenek hanya omong lepas dan bergurau, tapi saya selalu ingat. Akhirnya
saya jadi orang yang tidak percaya diri. Tapi bapak sayang pada kami semua
dan tak pernah membedakan setiap anaknya.
Sejak masih kecil saya
pribadi mengagumi figur profesi bapak sebagai seorang guru. Sejak tahun 1963
– 1990 bapak mengajar di SPG Van-lith. Nama itu untuk mengabadikan pendiri
lembaga SPG itu. Sekolah ber-asrama. Muridnya dari seluruh pelosok Indonesia.
Sekolahnya megah-mewah peninggalan Belanda. Bahkan kepala sekolah pertama adalah
Pastor orang Belanda. Muridnya sopan,
ramah dan begitu menghormati guru. SPG kependekan dari Sekolah guru bawah.
Tentunya di sekolah itu diajarkan tentang pembelajaran pedagogik, ilmu
keguruan. Sebelum saya masuk SD saya
sering diajak bapak ke sekolah. Saya disayang-sayang oleh muridnya bapak.
Diajari menulis, menyanyi, diberi hadiah, dikasih makanan. Yah, layaknya aku
dianggap seorang murid TK/pra-sekolah
yang setia, …wkwk. Begitu kali ya. Ya
pokoknya terkesan deh saat itu.
Bapak pergi
mengajar dengan naik motor L2S butut. Tapi bapak bangga. Pengalaman naik
motor itu tak pernah saya lupakan. Setiap tanggal gajian pasti kami, sekeluarga diajak
makan sate, gule tongseng daging kambing bu Mirah di depan terminal Muntilan. Makanan
favorit keluarga kami. Motor satu dinaiki 5 org, wow!!. Seru!! Coba sudah ada foto seperti sekarang
ini pasti saya dokumentasikan. Itu rutin bapak lakukan setiap bulan habis
gajian. Betapa senangnya, betapa merindukannya kebersamaan seperti saat itu.
Bapak sejak muda
memimpikan semua anaknya sekolah di Jogya. Walaupun bapak tahu dan sadar bapak hanya guru
dan saat itu gaji guru sangat kecil. Bapak berprinsip: Biarlah
hidup prihatin, sederhana dan pinggang diikat kencang yang penting semua
anaknya bisa sarjana. Jika sudah punya ijasah sarjana artinya sudah punya SIM
untuk bekerja. Bisa untuk modal hidup
lebih layak nantinya. Hidup lebih baik dari orang tuanya. Dan yang jelas kelak tak akan
menuntut dan berebut warisan setelah orang tua sudah meninggal dunia.
Benar saja, semua kami anaknya lulusan
Jogya, dari SMA sampai kuliah. SMA
Stella Duce, SMA De Britto dan SMA Gama. Kuliah: Dua orang di UGM, 1 Sanata Dharma dan 1 Atma
Jaya. Akhirnya semua kita, mantu dan cucu
juga almamater ‘Ngayojokarto Hadiningrat’. Dua orang kuliah UGM, 3 orang di Atmajaya, anak
mantu 1 UPN, 2 Sanata Dharma. Biar kami sudah terpencar di NTT dan
Jakarta semua kuliah di Jogya. Ibu dan
bapak yang sudah ‘sepuh’ (tua) jadi senang semua cucunya kumpul dalam menimba ilmu.
Keluarga
besar Bapak mengambil jurusan teknik sipil, arsitek, dokter, ekonomi dan komunikasi. Hanya saya yang jurusan kependidikan, yang berprofesi guru
seperti bapak. Saat itu guru adalah profesi yang sering dihindari karena ‘kesederhanaannya’.
Orang melihat dengan sebelah mata. Teringat
Figur pak ‘Umar Bakri’. Seorang guru
yang naik motor butut dan dengan mencari
penghasilkan tambahan dengan mengojek.
Bapak
adalah guru di SPG Van-lith Muntilan sejak pengangkatan pertama tahun 1963.
Tahun 1990 SPG ( Sekolah Pendidikan Guru)
ditutup diganti dengan SMA ( Sekolah Menengah Atas). Saat itu ketiga
adikku masih kuliah. Jelas gaji tak cukup karena ibu hanyalah seorang petani biasa yang
mengelola sawah warisan dari mbah Kakung. Adik-adik saya bisa saja
terancam DO gara-gara uang kuliah
tak bisa terbayarkan.
Rejeki
memang tak salah alamat. Teman Bapak
waktu masih sekolah di SGA
(Sekolah Guru Atas) di Jogya bernama Bapak
Drs. Margono , M.Si. Beliau Pejabat di Dikmenum ( Pendidikan Menengah
Umum) di Dinas Pendidikan RI. Beliau menawarkan bapak untuk menjadi kepala sekolah di Timor Timur. Provinsi
Indonesia yang terakhir. Saat itu Tim Tim masih membutuhkan Kepala sekolah dan guru.
Saat yang sama, saya lulus kuliah . Bapak mengajukan permohonan untuk saya ditempatkan di Tim Tim
Juga. Benar saja, akhirnya saya diberi SK
di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timor. Bapak sebagai ‘kepala
sekolah’ dan saya sebagai ‘guru bisa’.
Selama tiga tahun kami
bertugas di Maliana, Bapa dimutasi di
SMA Negeri 1 dan saya dimutasi di SMA
Negeri 3 Dili, Timor Timur. Banyak cerita, sedikit suka dan banyak duka
selama mengajar di Tim Tim. Saat itu
Dili adalah daerah konflik. Daerah belum aman, tentara Indonesia masih terus
berjaga setiap saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi hanya
karena masalah kecil atau kesalahpahaman. Sebagai pendatang seperti dibuat
kurang tenang dan tak nyaman menjalani kehidupan. Sering anak siswa buat ulah. Mereka kadang tidak menghargai guru. Gurupun kadang
jadi sasaran kenakalan mereka. Perkelaian sering terjadi antar murid. Situasi dan kondisi membuat hati selalu was was. Situasi sering membuat tegang dan takut. Tapi….namanya ‘abdi negara’ harus tetap setia dengan tugas dan tanggung
jawabnya. Hidup bersama bapak serasa bahagia walau kadang terpaksa. Senyum meringis menghadapi suasana yang sering
genting. Ibu tidak bersama kami di Dili karena itu menjaga adik-adik yang masih sekolah dan kuliah sambil terus
menggarap sawah.
Suamiku
namanya Adi Ch. Muhu, orang NTT. Kuliah se-almamater, cuma jurusan berbeda. Dia
mengambil jurusan PDU ( pendidikan dunia usaha). Setelah nikah dia tes PNS di Timor Timur dan Lulus. Lengkaplah
kami bertiga mengabdi di daerah konflik itu. Berjuang sebagai abdi negara.
Tulus dan iklas untuk turut serta
mencerdaskan anak bangsa. Hingga titik darah penghabisan karena akhirnya Timor
Timur lepas dari Indonesia.
Benar. Tepatnya bulan
September tahun 1999 Tim-tim jajak pendapat. Di Luar dugaan Pro Integrasi/ pro
Indonesia kalah. Para guru, pegawai dan
warga Indonesia berarti harus ‘pulang’ ke tanah asalnya. Bapakku, Heribertus
Sudayat saat itu sedang urus MPP ( Masa Persiapan Pensiun Di Jakarta). Rumah di
Perumahan USINDO Comoro, rumah kos 12 kamar,
di rumah tinggal di Becora. Semuanya
kutinggalkan beserta isinya. Kami
lari menyelamatkan diri. Kami pergi mengungsi. Saat itu Dili jadi lautan api.
Harta benda nanti bisa dicari, yang penting lari, daripada mati! Saya mengungsi saya terpisah dengan suami.
Kuselamatkan surat-surat penting. Ada juga kami mobil taxi, karena tak bisa nyupir ya tinggalkan saja
biar orang yang pakai, hitung-hitung
amal. Pergi hanya dengan baju secukupnya yang bisa ditenteng saat mengungsi.
Beruntung saat itu bapak sudah di jawa
karena mengurus purna bakti, bapak jadi tidak merasakan piruk pikuknya paska
jajak pendapat. Tidak ikut berlari menyelamatkan diri. Tidak merasakan suasana
pembakaran, pemberotakan yang mencekam dan memakan korban ratusan orang. Semua warga
sipil berlarian terbirit-birit cari
tumpangan otto, kapal, truk, fuso ( mobil tentara) untuk keluar dari Tim Tim.
Kami
minta dimutasi di Waingapu, Sumba Timur tempat lahirnya suami. Ke- NTT tak ada
container. Jadi kami hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Beruntung masih ada
surat-surat penting sebagai modal kehidupan selanjutnya. Masih bersyukur Tuhan masih
memberikan nafas dan kehidupan. Masih diselamatkan. Masih bisa melarikan diri ke
zona aman. Terus bersyukur untuk cinta dan berat Tuhan. Semuanya pasti akan
baik-baik saja. Biarlah itu menjadi kenangan dan sejarah hidup. Maka kugoreskan disini dengan tinta emasku, untuk
kenangan anak, cucu, cicit, cecet…… semoga kelak masih mengingat bahwa neneknya adalah bekas korban konflik
bencana.
Sejak
Timtim merdeka, kami semua pulang ke Indonesia. Bapak menikmati pensiun bersama
ibu di Muntilan, Jawa tengah. Saya bersama Suami di Waingapu NTT. Semua adikku
terhitung sudah mapan. Syukurlah. Mereka tinggal di Jakarta dengan kehidupannya
sendiri-sendiri. Waktu terus berjalan.
Kehidupanpun jadi berbeda. Semua berubah
sesuai dengan Orang jawa
punya falsafah hidup “kumpul ra kumpul,
sing penting iso mangan’ artinya biar kita tidak berkumpul dalam satu rumah besar, tapi
masing-masing bisa makan. Mereka punya rejeki dengan cara yang berbeda. Tak
perlu saling mengharapkan orang lain.
Selalu bisa mandiri dan tak perlu saling
merepotkan satu sama lain.
Pada
Suatu hari ibu sedang pergi
kondangan (acara pernikahan) keluarga. Bapak di rumah sendiri. Pada
suatu hari dibulan maret 2007. Bapak sementara
menonton televisi. Tiba-tiba gebyok rumah terlepas dari kunci kaitnya.
Bruakkk!!! Terdengar bunyi sangat keras tentunya. Saking kerasnya hingga
tetangga semua berdatangan. (gebyok :
Dinding papan jati ukuran 3 x 6 m2). Tepat mengenai bapak yang sementara asyik
menonton TV. Bapak kejatuhan benda super berat itu. Posisi ibu tidak ada di rumah. Kejadian yang mengerikan membuat
panik semua. Akhirnya bapak dilarikan ke rumah sakit. Ibu tahu setelah pulang
dari kondangan. Bapak koma, tak sadarkan
diri selama 4 hari. Sejak kejadian itu bapak pikiran terganggu. Mungkin karena benturan yang terlalu keras di kepala, bapak gegar otak. Sedih dan
pilu kami mendengarkan kabar itu. Pikiran
bapak terganggu. Setiap hari bapak hanya
diam sampai bapak meninggal di bulan september 2009.
Selamat jalan bapak, Ibu dan anak-anak sangat mencintai bapak. Kenangan
bersamamu tak kan pernah lupa hingga putus nafasku. Jasamu terukir
indah dihatiku. Nasehatmu akan kuingat selalu. Semua dilaksanakan dengan sepenuh hatiku. Kami terus berdoa untuk bapak semoga
bapak sudah tenang di Sorga. Kini kita
sidah mendiri. Kita siap menghadapi setiap tantangan hidup yang ada. Sebuah permata tidak akan dapat
dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang, Dia tidak akan
menjadi sukses tanpa tantangan
dan perjuangan. Tetaplah
semangat menjalani kehidupan, Tuhan selalu menyertai. Teruslah berkarya ,
semoga bisa bermanfaat bagi sesama.
Waingapu,
21 Desember 2021, 14.23
Salam ...Nama
penulis Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli
Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur 10 Tahun dan di NTT sejak 21
tahun yang lalu. Seorang ibu 2 putra,
Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga sekaligus
guru Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis
alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce Yogyakarta dan IKIP
Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih 30 buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga
dipercaya jadi editor dan penyunting buku
di MBI ( Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller
Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan
menjadi kurator buku dibawah naungan
bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional,
Motivator, penulis dan beberapa jabatan penting termasuk mantan kepala sekolah
SMK). Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT. PO Box. 87112. Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat dan
menginspirasi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar