Selasa, 28 Desember 2021

AKU HARUS MENINGGALKAN CINTA SEJATIKU

 


Oleh: Ledwina Eti Wuryani

 

 

Panggil  saja aku  Lia.  Lulus  kuliah tahun 1989 jurusan pendidikan Matematika. Sebagai  mahasiswi ikatan dinas harus  iklas dan mau ditempatkan dimana saja, sekalipun di daerah konflik. Setelah mendapatkan SK saya berangkat menuju tempat tugas, yaitu Timor Timur.    SK-ku  di kota kecil di  kabupaten  paling ujung, Yaitu  Maliana Bobonaro.

Sebuah pengalaman baru,  pertama kali naik pesawat terbang dari Denpasar-Kupang. Dari Kupang- Maliana perjalanan darat.  Saat itu musim hujan. Medannya sangat berat.  Dikanan kiri tebing terjal bahkan jurang yang curam.  Jalan licin, aspal sudah rusak dan batu sudah terlepas. Jika  bukan sopir yang  lihai  entah apa yang terjadi.  Bus harus melewati 2 buah sungai besar,  Nunura dan Luis.  Saat  sungai banjir, bus harus berhenti  dan menunggu air turun. Para penumpangpun  menunggu dengan setia hingga  air sungi itu surut.  Kira-kira 3-4 jam setelah  surut  bis surikmas mulai action untuk  menyeberang.  Betapa mengerikan saat itu. Bus terombang-ambing pengaruh derasnya air dan bebatuan. Benar,  perjuangan  antara hidup dan mati saat menyeberang.  Walau hati terus  was was dan  rasa takut  mendera, tapi harus tetap berusaha  tegar dan semangat untuk  terus melanjutkan  perjalanan.

Perjalanan  memakan waktu  setengah hari  penuh, dari pagi hingga petang. Sampailah di kota kecil itu. Suasana masih sunyi senyap.  Penduduknyapun masih langka.  Beruntung  aku lihat di terminal itu ada warung jawa. Betapa bahagianya rasa hati di dada.  Tak menunggu lama  aku bergegas  menuju ke warung itu.  Aku memperkenalkan diri sebagai  seorang pendatang  baru.  Betapa laparnya saat itu, aku makan dengan lahapnya sambil bercerita.  Ibu Siti, nama yang pemilik warung ,  baik  dan ramah sekali orangnya. Selesai makan dia menyuruh anak buahnya  mengantarku ke SMA tempat aku ditugaskan.

Hari pertama aku  lapor diri. Saat apel pagi aku memperkenalkan kepada seluruh  teman-teman guru dan siswa.  Teman  guru berasal dari pelosok negeri,  sumatra, sulawesi, kalimanata,flores dan  dari tempat lain. Ada satu orang  yang rasanya perhatian sekali padaku.  Aku dibuatnya salah  tingkah. Kesan pertama menatapku penuh makna. Karena tatapannya yang dalam membuatku melayang. Aku jadi kepikiran  padanya. Ohhh… betapa pikiranku terganggu karenanya. Hari demi hari kulalui.  Pak Donisius  nama orang itu. Dia selalu mencuri pandang. Aku  pura-pura  cuek saja, walau hati ini selalu deg-degan kalau ketemu dia. Entahlah. Ya Tuhan…. aku bingung. Aku sudah tunangan saat aku akan  pergi ke Timtim.

Saat itu belum ada HP. Hanya surat, itupun  jika bersurat nunggu balasan hingga berbulan-bulan baru sampai.  Mengingat medan dan  tempat tugasku  termasuk daerah pedalaman. Selain itu juga masih merupakan daerah rawan konflik antara  Indonesia dan pro kemerdekaan. Terbukti masih banyak tentara yang selalu memantau  dan berseliweran setiap harinya.

Pada suatu hari… hari itu adalah hari minggu. Biasa  aku sendirian pergi ke gereja.  Saat aku siap berangkat, tiba-tiba Pak Doni sudah menungguku di depan rumah dinas tempat tinggalku. Mau bagaimana lagi…yah akhirnya aku berjalan bersama-sama.  Antara  kikuk, kaku, deg degan campur baur rasa hati ini. Gerejaku  berada di atas tebing yang lumayan tinggi. Jalan pengerasan yang agak terjal. Selama kami  jalan  tak ada sepatah katapun.  Dada sesak, ngos-ngosan karena mendaki  tebing. Tak  sengaja… aooww!!aku tergelincir… aduh!! Mati aku!!.  Seperti  ada disinetron saja.  Dia menangkapku, pengaruh berat badanku dan refleks dia ikut tergelicir.  Kami  bisa terguling sama-sama.  Ya ampuun…. antara  malu, bengong… kami nyengir sama-sama. Jatuh memang tak terlalu sakit, tapi  kalau terlihat banyak orang?!! , malu berat deh rasanya. Hati terasa gerah. Antara menahan sedikit rasa sakit aku pelan-pelan bangun kukebas bajuku!! Baju jadi kotor terkena lumpur dan embunnya rumput.  Batal deh  aku  ke gereja…   kami  turun pelan-pelan… pulang ke rumah.  Tuhan  maafkan kami… saya tak jadi ikut Misa.

Sial benar hari itu!.  Sampai di rumah aku langsung masuk dan tanpa basa basi hanya bilang “aku lanjut ya”, katanya.  Dia juga langsung pulang ke rumahnya. Aku tak berani suruh dia mampir karena aku tinggal di mes guru bersama  pak dan bu Rubi, kepala SMP N 1 Maliana.

Hari terus berjalan, hati ini  serasa tak kuat menahan gejolak hati. Benar, perempuan  hanya bisa merindu saja. Hati tak bisa  bohong, ada getaran cinta yang tak bisa dipungkiri. Tidur tak nyenyak, duduk gelisah. Bayangan wajahnya  tak pernah bisa  kulupakan.. chieee… Suatu hari…. Saat para siswa sudah pulang  aku duduk di ruang guru. Aku masih koreksi ulangan siswak kelas II IPS 2.  Pak Doni datang mendekatiku. Dengan sopan dia menyapaku”  Selamat siang,   ibu guru sedang apa?”

Dengan berusaha tenang aku menjawab” sementara koreksi pak”

Rajin sekali…” pujinya.

Aku hanya  senyum-senyum saja. “Boleh aku ngomong  sesuatu?”  tanyanya.

“Tanya apa pak?”, jawabku. Suasana  hening……serasa  berada di kuburan.

“ hmmmm….”,  terlihat dia takut-takut mau omong.  Aku pura-pura cuek dan  terus memeriksa jawaban  siswa.

“ ehmm… apakah  ibu Lia sudah ada  calon? “, tanyanya padaku. Sejak saya ketemu ibu,  hari-hariku terasa indah, … jujur  ibu, maaf aku mengagumi ibu sejak pertama kali bertemu. “Aku terasa melayang jika ibu disampingku”, katanya lugu. “Aku sering membayangkan ibu saat aku tidur”, lanjutnya tanpa malu-malu. Terasa terbang di atas awan atas sanjungannya.  Aku berusaha tenang dan menjawab “sudah!”. Terlihat dia kecewa berat.

 

Jujur… saya sendiri dilema. Di saat seperti ini saya sebenarnya membutuhkan sosok yang bisa melindungi. Di daerah itu hanya saya  guru  satu-satunya yang perempuan.  Semuanya laki-laki. Saya  adalah orang yang paling berani, nekat menerima tawaran untuk mengajar di daerah konflik itu. Yah!, namanya saja tugas negara, saya harus  profesional. Surat dari kampung tak pernah muncul. Tunangankupun tak bersurat padaku. Dua kali Surat kulayangkan  untuknya tak  dibalasnya. Antara  kesal dan jengkel berpadu menjadi satu.

 

Hati jadi terpecah dan mendua. Perasaan terus berkecamuk.  Bahkan cinta lama jadi nyaris hilang tak tersisa. Boro-boro yang disana perhatian, suratku saja tak dibalas!. Ya Tuhan…. Sungguh aku dilema. Saya sadar, saya berwajah pas-pasan,  penampilan mugkin tak menarik. Tapi ada saja  pak guru ganteng yang mengagumiku….ohh!!!.  Dengan begitu kadang aku merasa minder dengan pribadiku, tapi  aku terus  bersyukur untuk  anugerah yang Tuhan berikan. Aku  bisa kuliah  hingga selesai. Kini aku bisa jadi PNS. Tentunya hidupku tak lagi merepotkan orang tuaku lagi.

 

Hari terus berganti, …  suasana hati selalu dibuat  gelisah, bayangan pak Doni  tak pernah sirna dari pelupuk mataku. Walaupun banyak sekali  cowok yang terang-terangan  menyatakan cinta padaku, hanya  pak Doni yang ada cemistri dihatiku. Di kota kecil itu minim perempuan. Ada sih  putri di daerah itu, yang berkulit hitam dan berambut kariting… dan untuk perempuan yang lulus ‘kuliah’  kan belum ada.  Ada dokter kepala rumah sakit yang masih bujang. Ada kepala statistik,  banyak dokter muda, kepala bank yang menaruh hati padaku….  Paha sapi saja dibilang cantik, apa lagi  saya,  haha… GR nih,  hup!! Maaf.  Sangat  tidak  baik memuji diri.  Tuhan akan marah besar. Boleh ndak aku main  ke mes!!, itu yang selalu kudengar dari mereka para cowok. Beruntung aku tinggal bersama Bapak kepala sekolah, jadi  aku merasa ada alasan jika aku menolak mereka datang. Tapi jangan tanya, ada juga beberapa orang yang cari perhatian hingga memberikan hadiah-hadiah.  Itu yang membuat serba salah.

 

Berdosakah jika aku menerima cintanya???? Tuhan seolah selalu saja mempertemukan aku dengan Pak Doni. Bisa saja!, tanggal lahir  dan bulan kami bersamaan. Beda 2 tahun, dia lebih kakak. Prajabatan  sama-sama. Suatu saat ada bimtek mata pelajaran, terjadwal  sama di provinsi. Menjadi Tutor PGSD di tempat yang sama. Saya jurusan matematika, dia jurusan bahasa Inggris. Karena  kekurangan jam mengajar  akhirnya bapak kepsek memberi tambahan jam  mengajar ‘seni’. Sama-sama lagi.  Melatih Mudika koor di gereja juga sama-sama. Benar-benar  setiap kegiatan  selalu  punya bakat yang sama. aneh!!. Sunggh aneh  bin ajaib. luar biasa!!!! Apakah Tuhan  yang selalu mempertemukan aku dan dia?? Bisakah  kami berjodoh??  Tapi bagaimana dengan dia yang di Jawa??

 

Saya ingin  berusaha menghindar, Aku jadi tersiksa sekali. Cintaku jauh melebihi cinta dengan tunanganku. Tunanganku orangnya tak romantis. Dia kaku, kadang kasar dan mau menang sendiri. Egois dan pelitnya minta ampun. Ahh!!, aku  ngelantur jadinya.

 

 Ini yang namanya  ‘tresno mergo kulino”. Cinta  itu tumbuh karena terbiasa bertemu. Saling curhat, merasa nyaman dan akhirnya  jatuh dalam pelukan. Aku nyaman, damai dan  bahagia bersama pak Doni itu. Semua rinduku terobati. Semua kerjaku selalu dibantu. Dia sering membawakan hadiah atau makanan  untukku.  Kesedihanku juga serasa  selalu dihiburnya. 

 

Kekuatan cinta memang luar biasa. LDR membuat aku tersiksa, tapi aku tidak berdaya. Saat tunangan disaksikan banyak orang. Keluarga besar calonku sudah tahu. Orang tua  sudah merestuinya, walau  sebenarnya  ada  anak gadis lain dari  keluarga yang  disiapkan untuk jadi istrinya.

 

Akhirnya… diam-diam aku minta dimutasikan karena aku akan menikah dengan kak Nico yang di Jawa. Beruntung kepala sekolah menyetujui. Tak menunggu lama SK pindahku terbit. Aku dipindahkan ke SMA Negeri 3  di kota provinsi. Saat yang paling menyedihkan disaat perpisahan. Saat itu aku tak berani memberi tahu dia. Saat ke sekolah dia datang.  Dia  tak pernah membayangkan ada perpisahan  itu untukku. Dadaku sesak. Jantungku berdegup kencang.  Aku tak tahan menahan tangis. Oh Tuhan…. Jahatnya aku!! Maafkan aku. Aku bingung.  Aku benar-benar dilema. Aku  harus ‘kehilangan’ cinta sejatiku.

 

Esoknya aku  ke terminal tujuan  Kupang. Jarak tempuh  sangat  jauh.   Perjalanan bisa memakan waktu seharian. Semalam aku tak bisa tidur. Pikiranku hanya pada pak Doni seorang yang harus kulepaskan dari ingatanku. Aku berdiri di terminal sendirian. Tak  lama bus yang kutunggu akhirnya muncul.  Aku segera naik bus itu. Hati terasa sesak. Tangiskupun tak bisa kutahan. Suara tip lagu di bus memekakkan telinga. Lagu cinta yang membuatka hatiku tambah  sengsara dan menderita. Bus terus… terus berjalan menyusuri  tebing  dan lembah nan curam. Ada juga  jalan  leter S yang membuat perutku mual mau muntah. Mungkin karena terbiasa para penumpangpun banyak yang bisa tidur sono. Hanya aku yang  tak bisa tidar karena hati penuh dengan kegelisahan. Dalam kegalauan dan kuduga,… tiba-tiba pak Doni muncul di depanku. Dia minta  pada orang yang duduk disebelahku bertukar tempat.

 

Dipeluknya erat diriku. Didekaplah kencang tubuhku.. “Kenapa Ibu guru tak pernah memberitahukan kalau mau pulang?” katanya setengah berbisik. Aku tak kuasa melepaskan pelukannya. Aku tak kuasa menahan tangisku. Sungguh sesak hatiku. Jujur, aku sedih sebenarnya berpisah dengannya. Dalam dirinya aku menemukan banyak hal. Dia adalah malaikatku. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Kondisi yang tak memungkinkan. Ampun!.

 

Waktu terasa begitu singkat bersamanya…. Sampailah kami di Bandara Kupang. Kupegang tangannya dengan  erat , aku pamit. Kurebahkan kepalaku kedadanya yang bidang. Sungguh damai  hati ini jika bersamanya. Kulepaskan  genggaman tangannya.  Dengan langkah gontai aku menuju ruang tunggu aku berlari menuju gate 4.  Pandanganku hampa, ingin rasanya aku batal  pulang. Sedih  hati ini berpisah dengannya. Airmata deras terus mengalir dipipiku.

 

Perhatian !! perhatian!!  Penumpang Denpasar untuk segera menuju ke pesawat nomor penerbangan  GT 6010. Akupun berlari menuju pesawat bersama penumpang yang lain.  Selama di pesawat benar-benar  ada rasa sedih  yang amat sangat. 1 jam 20 menit  pesawat sampai di Denpasar Bali. Dengan naik bus malam,  semalam suntuk  pikiranku tak  pernah lepas memikirkan pak Doni.

Seminngu  sudah aku di rumah. Keluarga besarku sudah  mempersiapkan pernikahaku dengan kak  Nico tunanganku. Hatiku  kosong dingin, apa boleh buat. Hari ‘H’ dipelaminanpun  pikiranku  bukan untuk lelaki yang disampingku. Oh Tuhan, Semoga semuanya akan  baik-baik saja, batinku.

 

Waktu terus berjalan. Kini aku tidak sendiri lagi. Aku sudah jadi seorang  istri. Tiga tahun setelah menikah  baru lahir anakku yang pertama. Kuberi dia nama Yance. Aku berusaha untuk menjadi istri yang baik.  Berusaha setia dalam suka maupun  duka.

 

Selesai Nikah kami bersama dengan suami ke Tim Tim, Dia ikut Tes  PNS dan Lulus. Timor Timur adalah daerah konflik. Situasi Dili semakin panas. Pertikaian terjadi dimana-mana. Mulai asa pembakaran dan pembantaian. Kami para pendatang  mulai was was. Terakhir diadakan jajak pendapat ternyata Pro Integrasi  ‘kalah’.  Berartinya  semua kita orang Indonesis harus ‘pulang’ ke daerah asalnya. Demi menyelamatkan nyawa semua ‘harta benda ‘kami tinggal semuanya. Kami lari mengungsi hanya dengan  baju dibadan. Kami  menghibur diri, harta bisa dicari.   

 

Biarlah rumah seisinya, mobil dan  motorku kutinggalkan. Pakailah anak tanah,  jangan hartaku ikut di bakar. Kunci rumah sudah kami masukkan di masing-masing pintul !.  Aku rela. Aku iklas. Selamat menempati rumahku. Silahkan pakai mobil dan  motorku. Aku pergi  dan tak akan kembali lagi ke Timtin. Aku akan pulang ke tanah asalku,. Tanah Indonesia yang damai dan tenang.

 

 

ROFIL PENULIS

Salam ...nama penulis  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur 10 Tahun dan di NTT sejak 21 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  di SMA Negeri 2 Waingapu. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih  30 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor, kurator  dan penyunting buku. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...