Oleh: Ledwina Eti Wuryani
Panggil saja aku
Lia. Lulus kuliah tahun 1989 jurusan pendidikan
Matematika. Sebagai mahasiswi ikatan
dinas harus iklas dan mau ditempatkan
dimana saja, sekalipun di daerah konflik. Setelah mendapatkan SK saya berangkat
menuju tempat tugas, yaitu Timor Timur. SK-ku
di kota kecil di kabupaten paling ujung, Yaitu Maliana Bobonaro.
Sebuah
pengalaman baru, pertama kali naik
pesawat terbang dari Denpasar-Kupang. Dari Kupang- Maliana perjalanan
darat. Saat itu musim hujan. Medannya sangat
berat. Dikanan kiri tebing terjal bahkan
jurang yang curam. Jalan licin, aspal
sudah rusak dan batu sudah terlepas. Jika
bukan sopir yang lihai entah apa yang terjadi. Bus harus melewati 2 buah sungai besar, Nunura dan Luis. Saat
sungai banjir, bus harus berhenti dan menunggu air turun. Para penumpangpun menunggu dengan setia hingga air sungi itu surut. Kira-kira 3-4 jam setelah surut
bis surikmas mulai action untuk
menyeberang. Betapa mengerikan
saat itu. Bus terombang-ambing pengaruh derasnya air dan bebatuan. Benar, perjuangan
antara hidup dan mati saat menyeberang. Walau hati terus was was dan
rasa takut mendera, tapi harus
tetap berusaha tegar dan semangat untuk terus melanjutkan perjalanan.
Perjalanan memakan waktu
setengah hari penuh, dari pagi
hingga petang. Sampailah di kota kecil itu. Suasana masih sunyi senyap. Penduduknyapun masih langka. Beruntung
aku lihat di terminal itu ada warung jawa. Betapa bahagianya rasa hati
di dada. Tak menunggu lama aku bergegas
menuju ke warung itu. Aku
memperkenalkan diri sebagai seorang
pendatang baru. Betapa laparnya saat itu, aku makan dengan lahapnya
sambil bercerita. Ibu Siti, nama yang
pemilik warung , baik dan ramah sekali orangnya. Selesai makan dia
menyuruh anak buahnya mengantarku ke SMA
tempat aku ditugaskan.
Hari
pertama aku lapor diri. Saat apel pagi aku
memperkenalkan kepada seluruh teman-teman
guru dan siswa. Teman guru berasal dari pelosok negeri, sumatra, sulawesi, kalimanata,flores dan dari tempat lain. Ada satu orang yang rasanya perhatian sekali padaku. Aku dibuatnya salah tingkah. Kesan pertama menatapku penuh makna.
Karena tatapannya yang dalam membuatku melayang. Aku jadi kepikiran padanya. Ohhh… betapa pikiranku terganggu
karenanya. Hari demi hari kulalui. Pak
Donisius nama orang itu. Dia selalu
mencuri pandang. Aku pura-pura cuek saja, walau hati ini selalu deg-degan
kalau ketemu dia. Entahlah. Ya Tuhan…. aku bingung. Aku sudah tunangan saat aku
akan pergi ke Timtim.
Saat
itu belum ada HP. Hanya surat, itupun jika
bersurat nunggu balasan hingga berbulan-bulan baru sampai. Mengingat medan dan tempat tugasku termasuk daerah pedalaman. Selain itu juga
masih merupakan daerah rawan konflik antara
Indonesia dan pro kemerdekaan. Terbukti masih banyak tentara yang selalu
memantau dan berseliweran setiap
harinya.
Pada
suatu hari… hari itu adalah hari minggu. Biasa
aku sendirian pergi ke gereja.
Saat aku siap berangkat, tiba-tiba Pak Doni sudah menungguku di depan
rumah dinas tempat tinggalku. Mau bagaimana lagi…yah akhirnya aku berjalan
bersama-sama. Antara kikuk, kaku, deg degan campur baur rasa hati
ini. Gerejaku berada di atas tebing yang
lumayan tinggi. Jalan pengerasan yang agak terjal. Selama kami jalan tak ada sepatah katapun. Dada sesak, ngos-ngosan karena mendaki tebing. Tak
sengaja… aooww!!aku tergelincir… aduh!! Mati aku!!. Seperti
ada disinetron saja. Dia menangkapku,
pengaruh berat badanku dan refleks dia ikut tergelicir. Kami
bisa terguling sama-sama. Ya ampuun….
antara malu, bengong… kami nyengir
sama-sama. Jatuh memang tak terlalu sakit, tapi
kalau terlihat banyak orang?!! , malu berat deh rasanya. Hati terasa
gerah. Antara menahan sedikit rasa sakit aku pelan-pelan bangun kukebas bajuku!!
Baju jadi kotor terkena lumpur dan embunnya rumput. Batal deh aku ke
gereja… kami turun pelan-pelan… pulang ke rumah. Tuhan
maafkan kami… saya tak jadi ikut Misa.
Sial
benar hari itu!. Sampai di rumah aku
langsung masuk dan tanpa basa basi hanya bilang “aku lanjut ya”, katanya. Dia juga langsung pulang ke rumahnya. Aku tak berani
suruh dia mampir karena aku tinggal di mes guru bersama pak dan bu Rubi, kepala SMP N 1 Maliana.
Hari
terus berjalan, hati ini serasa tak kuat
menahan gejolak hati. Benar, perempuan
hanya bisa merindu saja. Hati tak bisa
bohong, ada getaran cinta yang tak bisa dipungkiri. Tidur tak nyenyak,
duduk gelisah. Bayangan wajahnya tak
pernah bisa kulupakan.. chieee… Suatu
hari…. Saat para siswa sudah pulang aku duduk
di ruang guru. Aku masih koreksi ulangan siswak kelas II IPS 2. Pak Doni datang mendekatiku. Dengan sopan dia
menyapaku” Selamat siang, ibu guru sedang apa?”
Dengan
berusaha tenang aku menjawab” sementara koreksi pak”
Rajin
sekali…” pujinya.
Aku
hanya senyum-senyum saja. “Boleh aku
ngomong sesuatu?” tanyanya.
“Tanya
apa pak?”, jawabku. Suasana
hening……serasa berada di kuburan.
“
hmmmm….”, terlihat dia takut-takut mau
omong. Aku pura-pura cuek dan terus memeriksa jawaban siswa.
“
ehmm… apakah ibu Lia sudah ada calon? “, tanyanya padaku. Sejak saya ketemu
ibu, hari-hariku terasa indah, …
jujur ibu, maaf aku mengagumi ibu sejak
pertama kali bertemu. “Aku terasa melayang jika ibu disampingku”, katanya lugu.
“Aku sering membayangkan ibu saat aku tidur”, lanjutnya tanpa malu-malu. Terasa
terbang di atas awan atas sanjungannya. Aku
berusaha tenang dan menjawab “sudah!”. Terlihat dia kecewa berat.
Jujur…
saya sendiri dilema. Di saat seperti ini saya sebenarnya membutuhkan sosok yang
bisa melindungi. Di daerah itu hanya saya
guru satu-satunya yang perempuan.
Semuanya laki-laki. Saya adalah orang yang paling berani, nekat
menerima tawaran untuk mengajar di daerah konflik itu. Yah!, namanya saja tugas
negara, saya harus profesional. Surat
dari kampung tak pernah muncul. Tunangankupun tak bersurat padaku. Dua kali Surat
kulayangkan untuknya tak dibalasnya. Antara kesal dan jengkel berpadu menjadi satu.
Hati
jadi terpecah dan mendua. Perasaan terus berkecamuk. Bahkan cinta lama jadi nyaris hilang tak
tersisa. Boro-boro yang disana perhatian, suratku saja tak dibalas!. Ya Tuhan….
Sungguh aku dilema. Saya sadar, saya berwajah pas-pasan, penampilan mugkin tak menarik. Tapi ada
saja pak guru ganteng yang
mengagumiku….ohh!!!. Dengan begitu kadang
aku merasa minder dengan pribadiku, tapi
aku terus bersyukur untuk anugerah yang Tuhan berikan. Aku bisa kuliah
hingga selesai. Kini aku bisa jadi PNS. Tentunya hidupku tak lagi
merepotkan orang tuaku lagi.
Hari
terus berganti, … suasana hati selalu
dibuat gelisah, bayangan pak Doni tak pernah sirna dari pelupuk mataku.
Walaupun banyak sekali cowok yang
terang-terangan menyatakan cinta padaku,
hanya pak Doni yang ada cemistri
dihatiku. Di kota kecil itu minim perempuan. Ada sih putri di daerah itu, yang berkulit hitam dan
berambut kariting… dan untuk perempuan yang lulus ‘kuliah’ kan belum ada.
Ada dokter kepala rumah sakit yang masih bujang. Ada kepala statistik, banyak dokter muda, kepala bank yang menaruh
hati padaku…. Paha sapi saja dibilang
cantik, apa lagi saya, haha… GR nih,
hup!! Maaf. Sangat tidak
baik memuji diri. Tuhan akan
marah besar. Boleh ndak aku main ke
mes!!, itu yang selalu kudengar dari mereka para cowok. Beruntung aku tinggal
bersama Bapak kepala sekolah, jadi aku
merasa ada alasan jika aku menolak mereka datang. Tapi jangan tanya, ada juga
beberapa orang yang cari perhatian hingga memberikan hadiah-hadiah. Itu yang membuat serba salah.
Berdosakah
jika aku menerima cintanya???? Tuhan seolah selalu saja mempertemukan aku
dengan Pak Doni. Bisa saja!, tanggal lahir dan bulan kami bersamaan. Beda 2 tahun, dia
lebih kakak. Prajabatan sama-sama. Suatu
saat ada bimtek mata pelajaran, terjadwal
sama di provinsi. Menjadi Tutor PGSD di tempat yang sama. Saya jurusan
matematika, dia jurusan bahasa Inggris. Karena
kekurangan jam mengajar akhirnya
bapak kepsek memberi tambahan jam mengajar ‘seni’. Sama-sama lagi. Melatih Mudika koor di gereja juga sama-sama.
Benar-benar setiap kegiatan selalu
punya bakat yang sama. aneh!!. Sunggh aneh bin ajaib. luar biasa!!!! Apakah Tuhan yang selalu mempertemukan aku dan dia??
Bisakah kami berjodoh?? Tapi bagaimana dengan dia yang di Jawa??
Saya
ingin berusaha menghindar, Aku jadi tersiksa
sekali. Cintaku jauh melebihi cinta dengan tunanganku. Tunanganku orangnya tak
romantis. Dia kaku, kadang kasar dan mau menang sendiri. Egois dan pelitnya
minta ampun. Ahh!!, aku ngelantur
jadinya.
Ini yang namanya ‘tresno mergo kulino”. Cinta itu tumbuh karena terbiasa bertemu. Saling
curhat, merasa nyaman dan akhirnya jatuh
dalam pelukan. Aku nyaman, damai dan
bahagia bersama pak Doni itu. Semua rinduku terobati. Semua kerjaku
selalu dibantu. Dia sering membawakan hadiah atau makanan untukku. Kesedihanku juga serasa selalu dihiburnya.
Kekuatan
cinta memang luar biasa. LDR membuat aku tersiksa, tapi aku tidak berdaya. Saat
tunangan disaksikan banyak orang. Keluarga besar calonku sudah tahu. Orang
tua sudah merestuinya, walau sebenarnya
ada anak gadis lain dari keluarga yang
disiapkan untuk jadi istrinya.
Akhirnya…
diam-diam aku minta dimutasikan karena aku akan menikah dengan kak Nico yang di
Jawa. Beruntung kepala sekolah menyetujui. Tak menunggu lama SK pindahku
terbit. Aku dipindahkan ke SMA Negeri 3 di kota provinsi. Saat yang paling menyedihkan
disaat perpisahan. Saat itu aku tak berani memberi tahu dia. Saat ke sekolah dia
datang. Dia tak pernah membayangkan ada perpisahan itu untukku. Dadaku sesak. Jantungku berdegup
kencang. Aku tak tahan menahan tangis.
Oh Tuhan…. Jahatnya aku!! Maafkan aku. Aku bingung. Aku benar-benar dilema. Aku harus ‘kehilangan’ cinta sejatiku.
Esoknya
aku ke terminal tujuan Kupang. Jarak tempuh sangat jauh. Perjalanan
bisa memakan waktu seharian. Semalam aku tak bisa tidur. Pikiranku hanya pada
pak Doni seorang yang harus kulepaskan dari ingatanku. Aku berdiri di terminal
sendirian. Tak lama bus yang kutunggu
akhirnya muncul. Aku segera naik bus
itu. Hati terasa sesak. Tangiskupun tak bisa kutahan. Suara tip lagu di bus
memekakkan telinga. Lagu cinta yang membuatka hatiku tambah sengsara dan menderita. Bus terus… terus
berjalan menyusuri tebing dan lembah nan curam. Ada juga jalan
leter S yang membuat perutku mual mau muntah. Mungkin karena terbiasa
para penumpangpun banyak yang bisa tidur sono. Hanya aku yang tak bisa tidar karena hati penuh dengan
kegelisahan. Dalam kegalauan dan kuduga,… tiba-tiba pak Doni muncul di depanku.
Dia minta pada orang yang duduk disebelahku
bertukar tempat.
Dipeluknya
erat diriku. Didekaplah kencang tubuhku.. “Kenapa Ibu guru tak pernah
memberitahukan kalau mau pulang?” katanya setengah berbisik. Aku tak kuasa
melepaskan pelukannya. Aku tak kuasa menahan tangisku. Sungguh sesak hatiku. Jujur,
aku sedih sebenarnya berpisah dengannya. Dalam dirinya aku menemukan banyak
hal. Dia adalah malaikatku. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Kondisi yang
tak memungkinkan. Ampun!.
Waktu
terasa begitu singkat bersamanya…. Sampailah kami di Bandara Kupang. Kupegang
tangannya dengan erat , aku pamit.
Kurebahkan kepalaku kedadanya yang bidang. Sungguh damai hati ini jika bersamanya. Kulepaskan genggaman tangannya. Dengan langkah gontai aku menuju ruang tunggu
aku berlari menuju gate 4. Pandanganku
hampa, ingin rasanya aku batal pulang.
Sedih hati ini berpisah dengannya.
Airmata deras terus mengalir dipipiku.
Perhatian
!! perhatian!! Penumpang Denpasar untuk segera
menuju ke pesawat nomor penerbangan GT
6010. Akupun berlari menuju pesawat bersama penumpang yang lain. Selama di pesawat benar-benar ada rasa sedih yang amat sangat. 1 jam 20 menit pesawat sampai di Denpasar Bali. Dengan naik
bus malam, semalam suntuk pikiranku tak
pernah lepas memikirkan pak Doni.
Seminngu sudah aku di rumah. Keluarga besarku
sudah mempersiapkan pernikahaku dengan
kak Nico tunanganku. Hatiku kosong dingin, apa boleh buat. Hari ‘H’
dipelaminanpun pikiranku bukan untuk lelaki yang disampingku. Oh
Tuhan, Semoga semuanya akan baik-baik
saja, batinku.
Waktu
terus berjalan. Kini aku tidak sendiri lagi. Aku sudah jadi seorang istri. Tiga tahun setelah menikah baru lahir anakku yang pertama. Kuberi dia
nama Yance. Aku berusaha untuk menjadi istri yang baik. Berusaha setia dalam suka maupun duka.
Selesai
Nikah kami bersama dengan suami ke Tim Tim, Dia ikut Tes PNS dan Lulus. Timor Timur adalah daerah
konflik. Situasi Dili semakin panas. Pertikaian terjadi dimana-mana. Mulai asa
pembakaran dan pembantaian. Kami para pendatang
mulai was was. Terakhir diadakan jajak pendapat ternyata Pro Integrasi ‘kalah’.
Berartinya semua kita orang
Indonesis harus ‘pulang’ ke daerah asalnya. Demi menyelamatkan nyawa semua ‘harta
benda ‘kami tinggal semuanya. Kami lari mengungsi hanya dengan baju dibadan. Kami menghibur diri, harta bisa dicari.
Biarlah
rumah seisinya, mobil dan motorku
kutinggalkan. Pakailah anak tanah, jangan
hartaku ikut di bakar. Kunci rumah sudah kami masukkan di masing-masing pintul
!. Aku rela. Aku iklas. Selamat
menempati rumahku. Silahkan pakai mobil dan
motorku. Aku pergi dan tak akan
kembali lagi ke Timtin. Aku akan pulang ke tanah asalku,. Tanah Indonesia yang
damai dan tenang.
ROFIL PENULIS
Salam ...nama penulis Ledwina
Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur 10 Tahun
dan di NTT sejak 21 tahun yang lalu.
Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah
tangga sekaligus guru
di SMA Negeri 2 Waingapu. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK
Muntilan, SMAK Stella Duce Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta.
Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku.
Sudah lebih 30 buku solo dan
antologi ber-ISBN yang sudah terbit.
Penulis juga dipercaya jadi editor, kurator
dan penyunting buku. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT. PO Box. 87112. Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar