Rabu, 29 Desember 2021

GORESAN PENA UNTUK IBUKU TERCINTA

 


Oelah : Ledwina Eti Wuryan 

Biarkan saja jika melihat anaknya  jatuh karena  belajar  berjalan.   Masalah  besar jika melarang anaknya  berhenti belajar berjalan.  Dia tidak akan bisa berjalan selamanya. Begitupun hidup.  Allah  membiarkan kita mengalami  berbagai pencobaan atau ujian.  Allah akan sedih jika melihat umatnya berhenti bertumbuh, kehilangan iman dan harapan kepadaNya.

Sosok Ibuku

Ibuku  lahir di Solo, tepatnya di  Ketandan, Klaten. Putri pasangan  Bapak RM Sastro Soehardjo dan Ibu Maria Kusnah.  Ibu adalah Putri ke-5 dari  10 bersaudara. Ibu Lahir tanggal 17 Agustus 1945, saat Indonesia Merdeka.  Nenek bilang saat ibu  lahir pagi dimana-mana terdengar teriakan “Merdeka!! Merdeka!!, bunyi itu dari radio, dari jalan, suara orang-orang yang merasakan  suka cita karena merdeka.

Ibu saat kecil tinggal bersama orangtua  yang saat itu menjabat kepala Desa. Setelah  tamat SMP pada tahun  1962 ibu tinggal bersama kakak pertama, bapak Soerhardi dan istri (Ibu Harini). Saya menyebut  mereka pakde  dan bude. Pakde Hardi  menjabat Kepala SMAN 1  dan Bude Harini adalah Kepala SMPN di Pekalongan. Ibu sekolah di SMEA Pekalongan.

Kata teman-temannya ibu adalah putri Solo, cantik pula. Nah, saat itu  Pak Sudayat adalah guru baru di sekolah itu. Mungkin karena  saling ada cemistri akhirnya mereka berjodoh. Menurut cerita temannya,  jika akan ada ulangan sejarah yang diajarkan oleh Pak Dayat, teman-temannya selalu membongkar tas Tari (panggilan nama ibu). Mereka curiga jangan sampai ada soal yang diberikan oleh pak guru.  Lulus SMEA ibu tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Ibu kursus rias pengantin Jawa. Dua tahun setelah ibu lulus SMEA keluarga besar dari   Pak Dayat melamar ibu. Akhirnya Sang Guru menikah dengan muridnya.

Bapak adalah  anak bungsu dari 3 bersaudara. Orang bilang Kakek dari bapak adalah pedagang tembakau yang sukses, sawahnya banyak.  Jadi saat pernikahan Bapak Sudayat dan Ibu Sutari pestanya 3 hari 3 malam. Pestanya sangat meriah. Apalagi orang kampung cerita ibu dikenal putri solo, hehe…, Pastinya membuat  orang-orang  ‘penasaran’.  Benar saja, tebukti hingga saat ini jika saya dan adik-adik  berkunjung ke tetangga  saat lebaran di kampung foto kuno pengantin Bapak dan ibu  masih dipajang di rumah mereka.  Saya sampai terharu dan terkagum-kagum. Begitu mereka  menghargai  Bapak dan Ibu saya dulu. Saking terharunya saya sampai menitikkan air mata. Maka kami berusaha tak pernah absen untuk  bersilaturahmi  saat lebaran kepada mereka saat pulang.

Ibu adalah Wanita perkasa

Bapak adalah guru di SPG van-lith Muntilan. Ibu adalah ibu rumah tangga. Tapi ibu berprofesi perias pengantin.  Penghasilan ibu bisa dibilang lebih besar dibanding bapak saat itu. Ibu orang yang gigih dan ulet.  Jika merias pengantin  sampai ditempat yang jauh. Bahkan sampai di lereng gunung merapi. Ibu tak pernah menentukan tarif, terserah mereka mau memberi berapapun. Untuk keluarga kurang mampu ibu  tak mau dibayar. Saya dulu sering diajak merias jadi saya tahu. Saya juga ikut kursus merias pengantin Jawa saat masih kuliah, tapi sia-sia karena saya di NTT.  Ibu juga masih jadi petani,  menggarap sawah  warisan dari almarhum Mbah kakung ( mertua dari ibu ). Namanya Padmoredjo.

Kami biasa mengerjakan pekerjaan sendiri. Ibu Selalu bangun paling pagi. Kami semua diajari hidup sederhana, prihatin dan ‘mandiri’. Kami juga diajari ‘usaha’ agar bisa  tahu menghargai ‘uang. Kami juga punya kios kecil, saat pagi ibu yang jaga dan  setelah pulang sekolah  kami anak-anak yang jaga. Saat SMP kami jalan kaki 7 km setiap hari.  Pulang sekolah harus belanja untuk kebutuhan kios. Bahkan kami seumuran SMP dikasih tanggungjawab jadi agen minyak tanah, setiap  belanja per tangki (12 drum).  Hingga pernah adik saya opname di rumah sakit  gara-gara nyedot minyak tanah karena batuk-batuk parah. Kami  tetap menikmati  pekerjaan itu. Tidak pernah kapok. Kesibukan itu kami nikmati dan tidak pernah mengganggu  sekolah kami. Kami tetap berusaha rajin belajar, terbukti saat SD Kami selalu  jadi juara di kelas.

 

Anak-anak Harus Berpendidikan.

Bahagia rasanya  bisa membanggakan orang tua. Benar kata  bijak dari  pak Iman Safii : “ Jika kamu tidak mampu menahan lelahnya  belajar, berarti kamu harus mampu menahan perihnya kebodohan”. Mau pintar ya belajar. Tidak ada orang yang pintar tanpa belajar. IQ satu % kerja keras yang 99%.  Punya IQ tinggi  tidak pernah belajar akan dikalahkan oleh orang yang  Iq-nya rendah tapi rajin belajar. Ibarat pisau tumpul kalau diasah terus akan  tajam.

Setelah lulus SMP  Orang tua bermimpi semua anaknya sekolah di Jogyakarta. Kota provinsi, kota pelajar yang jarak tempuhnya  bisa 40-an km. Kami harus kos. Betapa besarnya biaya untuk 4 orang. Orang tua menyewakan  rumah kontrakan sederhana di Pak Windi. Rumah itu kita sulap menjadi warung makan. Menunya  ala anak sekolah, nasi campur, soto dan bakso. Lokasi kontrakan itu di depan  tempat sekolahnya Edi (adik no-3) SMA De Britto. Tetangga bernama yu Tinuk dan mbak Sri yang jadi andalan tukang masak. Kami piket untuk  membantu menjaga saat  tidak kuliah atau pulang sekolah. Bapak dan ibu di kampung. Mereka bertugas mensuplai dana jika ada yang kurang. Kami berharap dari hasil warung bisa  membantu  biaya pendidikan.  Kami ber-4 yang fokus mengelola. Bersyukur akhirnya kami bisa menyelesaikan pendidikan SMA hingga lulus kuliah di Jogyakarta. Saya dan dik Rita (adik nomor 2) Almamater SMA Stella Duce. Adik laki-laki  Edi dan Rudi Almamater SMA De Britto da Gama.  Setelah kuliah saya di IKIP  Sanata Dharma, adik no 2 dan 3 Di UGM dan   bungsu Universitas Atmajaya. Doa bapak dan ibu terkabul, puji Tuhan.

 

Pesan Ibu untuk anak-anak

Dimanapun kita harus bisa membawa diri.  Ingatlah untuk terus rendah hari. Jangan lupa berdoa dan terus  bersyukur dengan apa yang ada. Jaga mulutmu agar tak menyakitkan  hati orang lain.  Jika kami punya  rumah  tak perlu pagar tinggi.  Bukalah terus pintu agar  sesamamu bisa selalu datang.  Harus punya rasa  iklas memberi dan rela berbagi. Biarkanlah orang mengatakan  apapun tentang kamu. Jangan  pernah mau menang sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, mengalah itu indah. Jika perlu doakan dan maafkanlah jika ada orang yang menyakitimu. Bantulah orang-orang  yang sedang kesusahan semampumu. Tuhan  memberikan cuma-cuma maka berikan dengan cuma-cuma.  Trimakasih ibu,  nasehatmu akan  selalu kuingat, semoga  kami bisa menjalankan amanahmu.

 

Selamat Jalan Ibu

Ditinggalkan oleh orang yang paling kita sayangi  pasti  sedih. Apalagi  ibu kandung kita. Ini merupakan peristiwa Iman. Setiap orang pasti akan merasakan. Meski demikian akan ada pelajaran yang bisa kita ambil. Kita perlu butuh waktu untuk  menyembuhkan luka hati kita. Tetap sabar dan  tawakal.

 

Saat itu Ibu dalam keadaan sehat. Ibu punya penyakit asma, jadi  di rumah  sedia  nebulizer  lengkap dengan  tabung oksigennya ( asma itu baru sekitar setahun yang lalu). Sebagai orang tua ingin juga sesekali tinggal bersama anak kandung yang lain. Gayung bersambut. Beruntung ibu sudah 2 kali vaksin. Kebetulan 2 adik kandung saya sudah berkeluarga dan tinggal di Jakarta.  Dengan senang hati adikku (suami istri)  menjemput ibu ke kampung dengan mobilnya. Sekitar 10 jam sampailah di Jakarta. Terpatnya di Jalan Bali Raya no 20, Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Seminggu di jakarta,  tepat  tanggal 17 Agustus  adikku merayakan Ulang tahun Ibu.  Acaranya   sangat meriah. Ibupun  kelihatan sangat  berbahagia.  Waktupun berjalan, ibu terlihat krasan tinggal di Jakarta. Kami sering ber-video call, sekedar ber hello say.  Ibu  selalu rutin olah raga ringan mengikuti senam, mengikuti siraman rohani dan kegiatan-kegiatan yang lain di rumah adik. Setiap kegiatan ibu selalu diinfokan ke WA-group keluarga.

 

Tanggal 6 Oktober 2021 tiba-tiba ibu drop. Badannya  lemah lunglai tak berdaya.  Dibantu  degan alat pernapasan tapi tidak  ada perubahan. Tensi semakin lemah. Akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit St. Carolus. Ibu harus  dirawat inap supaya mendapat perawatan intensif.  Di rumah sakit  cek fungsi  ginjal, jantung dan paru. Ternyata kondisi jantung ibu  tidak stabil.  Kondisi badan juga semakin lemah. Beberapa hari ibu tidak ada perubahan.  Akhirnya ibu diberikan sakramen pengurapan orang sakit (minyak suci). Puji Tuhan setelah mendapat berkat pengurapan orang sakit  ada kemajuan. Kakinya yang bengkak jadi kempes dan pulih seperti sebelumnya. Semoga ini pertanda bagus.

 

Dua hari kemudian dr Devi menyampaikan info  tentang kondisi jantung dan ginjal ternyata bermasalah. Tim dokter yang jadi Kapten Dr Harjo jantung dengan data fungsi jantung 16% saja. Sekarang kondisi ginjal urgen rusak, dari dr Peny (ahli penyakit dalam) berencana melakukan tindakan cuci darah. Meski beresiko, terpaksa ditempuh. Semoga tindakan ini membawa hasil. Semoga mukjizat Tuhan juga terjadi pada ibu.

 

Berhubung  ibu semakin kritis mulai ada tindakan cuci darah pertama, sambil dipantau hasil urine creatinnya. Semoga semua berjalan baik. Sejauh ini ibu nyaman tidur...tapi, hari demi hari kondisi ibu semakin lemah . Kesedihan menyelimuti keluarga kami. Deraian air mata  mengisi  cerita setiap hari. Pendonor darah siap untuk mentranfusikan darah ke ibu. Tapi  badan sudah menolak. Ibuku muntah darah.

 

Di Ruang rawat ibu hanya boleh dijaga oleh satu orang saja. Adikku nomor 3 yang  terus menerus menjaga dan menemani ibu dengan doa. Kudaraskan doa kami untuk ibu dari NTT. Seluruh keluarga besar turut mendoakan. Ternyata Tuhan lebih sayang, Tuhan memanggilnya untuk Pulang. Di hari Sabtu, 16 Oktober  2021 pukul 02.20 WIB, Di usia 76 tahun. Tuhan sudah menyiapkan tempat terindah untuknya. Ibu meninggalkan kami semua. Kini penderitaan ibu di dunia sudah berakhir. Ibu telah mengakhiri pertandingan yang baik. Dia  telah mencapai garis akhir dan  telah memelihara Iman.

Selamat jalan Ibu  Caecilia Sutari .

Ibu yang terbaik. Jasamu kan kuingat Selalu. Doaku selalu menyertaimu.

Kami yang mengasihimu :#Anak : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd,  Ir. Rita Eli Wuryandari, Ir. Laurentius  Edy Wuryanto, Albertus Rudy Wurdiyanto, ST. #Menantu :  Drs. Adi Christian Muhu, Ir.Wachid Hamidhi, Dra. Yunita Ekasari, Margaretha Rini Dwi Lestari, SE . #Cucu: Marcel A.N Hunga Meha, S.Ars, Dwi Ananto Tehu Manja, ST, dr. Devina Hapsari, dr.Yoga Wikandaru, Yasinta Maharani, Vincencia Laura Padmanaba, Marcelline Calya padmarini,B. Evan Aji Prasetyo

Kitapun pasti akan menghadapNya. Cuma kapan tak tahu Tuhan memanggil. Hidup ini sangat singkat tak perlu berlarut-larut  bersedih. Kami Iklas, kami meyakini ibu sudah tenang diperistirahatan yang terakhir. Bapak juga sudah meninggal duluan di bulan September 2009.  Kiranya mereka sudah berbahagia bersamanya di Sorga.

 

 

Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah  yang tinggal di NTT sudah 21 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di media masa, majalah dan buku. Sudah 40-an buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Tanggal 15 Desember 2021 baru-baru ini penulis menerima tanda penghormatan Satya Lencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden Joko Widodo. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...