Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Jadilah
pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara.
Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu
bahagia dan bersyukur serta punya rasa’ kasih sayang’ yang akan membuat kita
selalu sehat dan panjang umur.
Setelah Timor Timur menentukan
nasibnya sendiri alias merdeka
berarti penduduk yang asal Indonesia wajib
hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status
baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban
konflik bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua
kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta walaupun
kadang mengharu birukan hati.
Dengan modal ‘nol’ kami akan menatap masa depan. Dengan semangat membara dan penuh harapan semoga di tempat
yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga
menjual kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang
atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah nyata salah satu perjalanan hidup seorang
abdi negara. Cerita dari hati yang
paling dalam. Sebagai seorang guru
sekaligus seorang istri yang setia tentunya punya kuajiban untuk mengikuti dimana saja suami bekerja. Tugasnya
mengajar, melayani dan menjaga buah
kasih, yaitu siswa/i dan anak kandungnya.
Kami
belum tahu akan nasib di tempat yang baru. Kedua anakku masih balita
saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan ibu kandungku di Magelang,
tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di Waingapu, Sumba Timur.
Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju. Di Dili jauh lebih maju karena
kota provinsi. Walau sering terjadi
gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, tentara dan putra daerah yang tak
setuju dengan Integrasi, tapi kualitas hidup lebih baik.
Kota Waingapu yang punya semboyan “ Matawai
Amahu Pada Njara Hamu” . Kira-kira
artinya sumber air yang jernih
tanah/padang yang luas membentang
tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah kota kecil yang sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang
teramat sangat kental. Nama dan Derajat masih dijunjung tinggi. Makan tak makan yang penting berkumpul.
Jadi bagi penduduk asli seperti suami
harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya
kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalam rumah’nya. Budaya itu
sampai sekarang masih sangat dihormati
dan dipatuhi. Jadi tak heran saat
pertama saya datang, kami harus hidup bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa
dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.
Sebagai orang baru dan masih
berstatus pendatang plus bekas korban
konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan,
aku ingin menangis tapi kutahan. Aku
ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya
untuk makan gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup. Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat III/b Penata Muda Tk 1 Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami
sampai gali lubang tutup lubang. Motor
astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih
ya. Hidup penuh keprihatinan. Sebagai pakaian ganti kami beli baju RB (rombengan) yang layak
pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya
bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan hehe….
Setiap hari makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada
nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk
dibeli. Sedikit beruntung kalau ada ikan kering sesekali. Untuk
memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita
buat sup, masak dikasih air banyak-banyak.
Kami juga tak makan pagi. Jadi tidak
pernah bisa sarapan pagi. Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA
dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan
kaki dengan medan yang lumayan. Daerahnya
berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar letaknya diketinggian
jadi harus memanjat dan merayap tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh
rumah sekolah kurang lebih 1,5 km.
Badanku kurus kering. Muka kelihatan
lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak
ada semangat hidup. Tersenyum susah maka
wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas,
dokter bilang berstatus ‘gizi buruk’.
Sungguh sangat berbeda dengan
Marcel anak sulungku yang berada di Jawa
bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala
yang ada.
Cobaan hidup saat itu terasa berat.
Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat
tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur
kami ‘sudah ada’ semua, rumah, mobil, motor. Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan.
Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku. Kesedihanku tak berani kutunjukkan kesuami
dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum walau terpaksa. Harus selalu siap menerima kenyataan.
Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk
mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang jawa.
Cerita di sekolah. Saat pertama kali
saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat
masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka
begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada
yang suka mabuk, dansa dan tak menghormati guru. Sebuah kebanggaan seorang guru
saat anak-anak itu hormat dan taat kepada gurunya. Profesi guru di Waingapu itu
kujalani dengan penuh setia. Karena
kekurangan guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjang (guru
matematika) meninggal mungkin karena sakit. Beliau satu-satunya guru matematika sebelum
saya ada. Pak Tjang juga Anggota dewan, wakil kepala sekolah, bendahara sekolah
dan jabatan-jabatan lain yang beliau sandang. Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai 42 jam seminggu.
Hari terus berjalan. Kami hidup bersama puluhan orang saat itu. Dengan
terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku
akan ‘lari’ jika kali ini permintaanku
yang pertama dan yang terakhir tak dikabulkan. Akhirnya benar, kami memisahkan
diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan lantai tanah. Sedikit
lega. Penduduk rumah terbagi. Sebanyak13
orang yang ikut bersamaku. Biarlah. Selain
sekolah mereka bisa membantu kerja rumah dan cetak batako untuk mewujudkan
mimpi membuat rumah yang lebih layak.
Lebih dari 4 tahun kami berjuang
dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada
orang bilang rumahku seperti kandang ayam karena memang semua jendela kita tutup dengan rangkaian gedek
bambu. Atapnya seng taruh-taruh
sembarang karena usuknya belum cukup.
Tak apalah, kami menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku.
Ada perasaan bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta. Disitu baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging.
Dalam hati, makan dipesta ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat
aku jadi orang yang tahan banting dan
panjang sabar. Jadi lebih menghargai arti
kehidupan berumah tangga sejati.
Suatu hari saya berpikir saya harus
menjemput anakku yang tinggal bersama orangtua di Jawa. Saya sungguh merindukan
kebersamaan keluarga yang utuh. Aku,
Suami dan 2 anakku. Saya tinggal bersama banyak anak tapi semua diluar
kandungan. Hasil menabung sedikit-demi sedikit akhirnya saya bisa beli tiket
kapal Dobon Solo. Dengan penuh suka cita akhirnya saya bisa menjemput anakku. Kedua
orangtuaku sebenarnya tak boleh. Marcel adalah cucu pertama dari keluarga
Heribertus Sudayat, ayah kandungku. Bapak sudah pensiun dari PNS. Ibu tak ada
teman. Jadi Marcel yang jadi hiburan mereka dikala sepi. Tiga adikku di Jakarta
dengan keluarga dan kehidupannya. Manalah mungkin boleh diminta anaknya untuk
tinggal di kampung?.
Dengan berbagai alasan, rayuan dan
permohonan akhirnya Marcel berhasil kubawa ke NTT. Saat itu dia kelas 2 SD.
Dengan naik kapal Kelimutu kami menuju NTT. Sangat tak mampu untuk beli tiket
pesawat. Babak baru untuk marcel di rumah orang tua kandung, yaitu saya dan Pak
Chris bapaknya. Beberapa kali dia lari dari rumah. Ulang-ulang dia menghilang.
Dia benar-benar tak mau tinggal di rumah buruk orang tuanya sendiri. Kami jadi
kewalahan. Dia kadang ke pasar. Pergi hilang menyusuri sungai Praiwora. Pergi ke
swembak tempat sumber air. Suatu saat
saya menemukan dia sedang duduk merenung dengan bertopang dagu di
pematang sawah. Sedih! Dia tak mau kuajak pulang ke rumah. Saya hanya bisa
meneteskan air mata saat itu. Kucoba
menasehati. Aku berusaha mengambil hati setiap hari. Menceritakan sedikit demi
sedikit hal yang bisa masuk diotaknya si kecil 7 tahun itu.
Bersyukurlah, akhirnya dia bisa memahami
arti kemiskinan. Bisa menerima kenyataan dan menyesuaikan keadaan. Sebagai
orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’ anak-anak kampung yang ingin sekolah.
Ada yang SD, SMP, SMA/SMA bahkan ada yang kuliah. Mereka bukan orang yang mampu
tapi orang tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa
biaya hidup di kota itu besar, sementara berapa sih gaji pegawai yang tak punya
sawah?? Ingin protes! Kami juga punya kebutuhan!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!.
Sudahlah, kalau berdebat tentang itu tak
akan habis, semoga suatu saat akan berubah.
Setiap orang pasti punya pergumulan.
Mereka akan punya cerita masing-masing.
Suka duka selalu mewarnai hidup
setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin akan
terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun.
Doa adalah senjata ampuh untuk jadi
kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela memberi adalah manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu
yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak mengeluh. Berkat pasti akan datang darinya
kalau kita tulus meyakini.
Saya Sadar penuh bahwa saya ini adalah
‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena digaji negara. Saya bekerja sesuai dengan kemampuan yang ada. Jaga nama
baik, tetap berusaha sabar dan terus rendah hati. Terus belajar, semoga bisa
bermanfaat bagi orang lain. Janganlah
banyak berharap. Janganlah mimpi terlalu
tinggi, sakiitt kalau jatuh. Pernah aku
lulus untuk melanjutkan S2 tahun
2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya kementerian ‘alasan’ tidak jelas jadi
dibatalkan alias tidak diijinkan 'entah kenapa?'. Biar anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan. Kubur
dalam-dalam yang pernah terjadi. ‘Enjoy’
hidup ternyata lebih asyik, pasrah sempurna nikmat penuh.
Tak terasa kini saya sudah 21 tahun
tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui.
Tahun baru 2022 kita sambut mulai hari ini.
Bahagia mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan semakin
ada. Tuhan selalu menunjukkan jalan. Nikmat
Tuhan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus sebagai guru. Perjalanannya
hidup yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu,
Sumba Timur, NTT yang saat itu masih tertinggal. Daerah paling ujung timur
Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah
tertulis NTT adalah daerah penyumbang
orang miskin nomor one di Indonesia.
Semua cerita perjalanan dan liku-liku
kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi
hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun lagi. Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021
tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’
Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI,
Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan
ini akan saya ingat hingga putus nafasku.
PROFIL
PENULIS
Salam ...aya, Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah. Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun. Seorang ibu 2 putra, sekaligus guru Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di Media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog etiastiwi66.blogspot.com HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT. Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar