Minggu, 09 Januari 2022

CERITA GURU DI RANTAU

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

Jadilah pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara. Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu bahagia dan bersyukur serta punya rasa’ kasih sayang’ yang akan membuat kita selalu sehat dan panjang umur.

 

            Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban konflik bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta walaupun kadang mengharu birukan hati.

            Dengan modal ‘nol’  kami akan menatap masa depan.  Dengan semangat  membara dan penuh harapan semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga menjual kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia tentunya punya kuajiban untuk  mengikuti dimana saja suami bekerja. Tugasnya mengajar, melayani dan menjaga  buah kasih, yaitu siswa/i dan anak kandungnya.

            Kami  belum tahu akan nasib di tempat yang baru. Kedua anakku masih balita saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan ibu kandungku di Magelang, tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di Waingapu, Sumba Timur. Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju. Di Dili jauh lebih maju karena kota provinsi.  Walau sering terjadi gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, tentara dan putra daerah yang tak setuju dengan Integrasi, tapi kualitas hidup lebih baik.

            Kota Waingapu yang punya semboyan “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang teramat sangat kental. Nama dan Derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalam rumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  III/b Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya  kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih ya. Hidup penuh keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami beli baju RB (rombengan) yang layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan hehe….

            Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.  Sedikit beruntung  kalau ada ikan kering sesekali. Untuk memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita buat sup, masak dikasih  air banyak-banyak. Kami juga tak makan pagi.  Jadi tidak pernah bisa sarapan pagi. Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan.  Daerahnya berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar letaknya diketinggian jadi harus memanjat dan merayap tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah sekolah kurang lebih 1,5 km.

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua, rumah, mobil, motor.  Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.  Kesedihanku tak berani kutunjukkan kesuami dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa.  Harus selalu siap menerima kenyataan. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang jawa.

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada yang suka mabuk, dansa dan tak menghormati guru. Sebuah kebanggaan seorang guru saat anak-anak itu hormat dan taat kepada gurunya. Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh setia. Karena  kekurangan guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjang (guru matematika) meninggal mungkin karena sakit.  Beliau satu-satunya guru matematika sebelum saya ada. Pak Tjang juga Anggota dewan, wakil kepala sekolah, bendahara sekolah dan jabatan-jabatan lain yang beliau sandang.  Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  42 jam seminggu.

            Hari terus berjalan. Kami  hidup bersama puluhan orang saat itu. Dengan terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku akan ‘lari’  jika kali ini permintaanku yang pertama dan yang terakhir tak dikabulkan. Akhirnya benar, kami memisahkan diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan lantai tanah.  Sedikit  lega. Penduduk rumah  terbagi. Sebanyak13 orang yang  ikut bersamaku. Biarlah. Selain sekolah mereka bisa membantu kerja rumah dan cetak batako untuk mewujudkan mimpi membuat rumah yang lebih layak.

            Lebih dari 4 tahun kami berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada orang bilang rumahku seperti kandang ayam karena memang  semua jendela kita tutup dengan rangkaian gedek bambu.  Atapnya seng taruh-taruh sembarang karena  usuknya belum cukup. Tak apalah, kami menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku. Ada perasaan bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta.  Disitu  baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging. Dalam hati,  makan dipesta  ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat aku jadi  orang yang tahan banting dan panjang sabar. Jadi lebih menghargai  arti  kehidupan berumah tangga sejati.

            Suatu hari saya berpikir saya harus menjemput anakku yang tinggal bersama orangtua di Jawa. Saya sungguh merindukan kebersamaan keluarga yang utuh.  Aku, Suami dan 2 anakku. Saya tinggal bersama banyak anak tapi semua diluar kandungan. Hasil menabung sedikit-demi sedikit akhirnya saya bisa beli tiket kapal Dobon Solo. Dengan penuh suka cita akhirnya saya bisa menjemput anakku. Kedua orangtuaku sebenarnya tak boleh. Marcel adalah cucu pertama dari keluarga Heribertus Sudayat, ayah kandungku. Bapak sudah pensiun dari PNS. Ibu tak ada teman. Jadi Marcel yang jadi hiburan mereka dikala sepi. Tiga adikku di Jakarta dengan keluarga dan kehidupannya. Manalah mungkin boleh diminta anaknya untuk tinggal di kampung?.

Dengan berbagai alasan, rayuan dan permohonan akhirnya Marcel berhasil kubawa ke NTT. Saat itu dia kelas 2 SD. Dengan naik kapal Kelimutu kami menuju NTT. Sangat tak mampu untuk beli tiket pesawat. Babak baru untuk marcel di rumah orang tua kandung, yaitu saya dan Pak Chris bapaknya. Beberapa kali dia lari dari rumah. Ulang-ulang dia menghilang. Dia benar-benar tak mau tinggal di rumah buruk orang tuanya sendiri. Kami jadi kewalahan. Dia kadang ke pasar. Pergi hilang menyusuri sungai Praiwora. Pergi ke swembak tempat sumber air. Suatu saat  saya menemukan dia  sedang  duduk merenung dengan bertopang dagu di pematang sawah. Sedih! Dia tak mau kuajak pulang ke rumah. Saya hanya bisa meneteskan  air mata saat itu. Kucoba menasehati. Aku berusaha mengambil hati setiap hari. Menceritakan sedikit demi sedikit hal yang bisa masuk diotaknya si kecil 7 tahun itu.

Bersyukurlah, akhirnya dia bisa  memahami  arti kemiskinan. Bisa menerima kenyataan dan menyesuaikan keadaan. Sebagai orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’ anak-anak kampung yang ingin sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA/SMA bahkan ada yang kuliah. Mereka bukan orang yang mampu tapi orang tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa biaya hidup di kota itu besar, sementara berapa sih gaji pegawai yang tak punya sawah?? Ingin protes! Kami juga punya kebutuhan!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!. Sudahlah, kalau berdebat  tentang itu tak akan habis, semoga suatu saat akan berubah.

Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang darinya kalau kita tulus meyakini.

Saya Sadar penuh bahwa saya ini adalah ‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena digaji negara. Saya bekerja  sesuai dengan kemampuan yang ada. Jaga nama baik, tetap berusaha sabar dan terus rendah hati. Terus belajar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.  Janganlah banyak berharap. Janganlah  mimpi terlalu tinggi,  sakiitt kalau jatuh. Pernah aku lulus untuk melanjutkan S2  tahun 2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya kementerian ‘alasan’ tidak jelas jadi dibatalkan alias tidak diijinkan 'entah kenapa?'. Biar anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan. Kubur dalam-dalam yang pernah terjadi. ‘Enjoy’  hidup ternyata lebih asyik, pasrah sempurna nikmat penuh.

Tak terasa kini saya sudah 21 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui. Tahun baru 2022 kita sambut mulai hari ini.  Bahagia mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan semakin ada. Tuhan  selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus sebagai guru. Perjalanannya hidup yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu, Sumba Timur, NTT  yang saat itu masih  tertinggal. Daerah paling ujung timur Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia.

Semua cerita perjalanan dan liku-liku kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun lagi.  Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

 

 

PROFIL PENULIS

 


Salam ...aya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  Matematika di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di Media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...