Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd
Ada
kalanya hidup terasa mudah dan menyenangkan, tetapi kadang juga terasa berat.
Dalam menikmati liku-liku kehidupan ini dibutuhkan rasa sabar, Rasa iklas dan
semangat yang kuat, syukur jika kita hadapi dengan senyuman. Semangat dibutuhkan untuk bisa bangkit dan
tegar. Janganlah berhenti menghadapi tantangan
hidup .
Bapak adalah seorang guru PNS
pengangkatan sekitar tahun 1962. Bapak adalah sosok yang kukagumi. Dia begitu
menyayangi anak-anaknya. Kami empat bersaudara tak pernah dibeda-bedakan.
Setiap habis gajian ‘yang hanya sedikit’ itu
pasti kami langsung diajak berkumpul.
Bapak buka amplopnya kami duduk berkeliling di meja makan. Kami
anak-anak disuruh menulis apa kebutuhan masing-masing. Jika ada yang kurang
cukup bisa disharingkan. Jelas kami punya kebutuhan berbeda.
Saya adalah anak pertama. Saya harus
bersikap dewasa dan siap mengalah. Yang kami ajukan dari uang sekolah,buku,
pena, pengganti sepatu yang sudah jebol dan lain-lain. Kami sudah terlatih
hidup mandiri, sekolah jalan kaki biar 7 km waktu SMP. Apalagi setelah kuliah,
hanya saya yang kuliah keguruan di IKIP, ikatan Dinas pula. Ketiga adikku
Jurusan 2 orang Teknik Sipil dan 1 Teknik
Elektro ( UGM dan Atamajaya Jogya). Kami ber-4 tak pernah komplain atau saling
iri.
Bapak orangnya gigih dan pekerja
keras. Untuk mencukupkan kebutuhan bapak sampai rela mengajar di tiga sekolah.
SPG Van-lith, SMA Pendowo dan STM Pengudi Luhur di kota Muntilan. Pagi-pagi
bapak sudah berangkat sekolah dengan motor tua L2S. Ibu sudah menyiapkan nasi
yang dibungkus untuk bekal mengajar karena bapak selalu pulang sore hari.
Melihat jerih lelah dan susah payahnya
bapak kami salut sekali dengan perjuangan beliau. Bapak tak pernah mengeluh.
Semua tugas dikerjakan dengan hati.
Dengan melihat sosok bapak ‘hanya’
aku yang tertarik jadi guru. Hanya aku yang kuliah guru. Saat itu guru dipandang dengan sebelah
mata. Guru gaji kecil, hidup bersahaja dan terlihat hidup susah. Dengan begitu
maka guru disebut dengan ‘Pahlawan tanpa tanda Jasa’. Tak banyak orang yang
suka punya cita-cita jadi guru saat itu, apalagi jika orang kaya alias berduit.
Wah, Itu
sepertinya susah!!
Di IKIP Sanata Dharma aku mengambil
jurusan matematika. Mengingat masih 3 adikku yang perlu biaya lebih besar aku
mengambil jurusan D3 waktu itu. Berharap supaya cepat selesai dan ada subsidi
juga. Pikirku jika aku ambil jurusan
matematika bisa sambil memberi les privat. Benar sambil kuliah aku sambil
memberi les 2 orang kakak beradik tetangga kos. Saya dibayar Rp 25 ribu/bulan
untuk 2 kali pertemuan per minggu.
Lumayan bagi anak kos, bisa untuk tambah beli kebutuhan hidup harian.
Setelah lulus saya ditempatkan di
Timor Timor. Langsung dapat SK CPNS di
SMA Negeri Maliana Bobonaro. Sebuah kota kecil dan tertinggal. Sebuah
pengalaman berharga jadi guru baru. Gaji pertama saat itu Rp 56.080,- cukuplah untuk seorang bujang.
Sebuah kebahagiaan bisa untuk dikirm ke ibu, adik-adik dan kolekte di gereja.
Karena guru langka saya juga dipercaya mengajar PGSD ( sekolah calon guru SD)
Universitas Terbuka. Menjadi Tutor Buta aksara ( Pemberantasan Buta Huruf).
Dukanya, karena di daerah konflik
jadi seolah pikiran selalu was-was dan tidak tenang. Semua aktifitas terbatas.
Makan seadanya. Seolah kesepian karena tak pernah ada hiburan dan tak bisa
tebar pesona. Di Kota itu selalu ketemu orang yang sama, di pasar, di sekolah
di gereja. Aktifitas hanya itu-itu saja
dan jelas tak bisa berkembang.
Tiga tahun kemudian saya dimutasi ke Dili Kota Provinsi. Suasana
jelas lebih ramai. Anak-anaknya lebih ekstrim. Gesekan-gesekan sering terjadi.
Keributan juga lebih sering terjadi. Sedikit ada masalah sepele akan menyulut
kemarahan hingga perkelaian. Sampai pada pemberontakan. Pembakaran mulai
terjadi dimana-mana. Sampai titik darah penghabisan. Hingga lepas dengan negara
kesatuan Republik Indonesia. Akhirnya Timor-Timur Merdeka!.
Setelah Timor Timur menentukan nasibnya
sendiri alias merdeka berarti penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya
untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status baru.
Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban konflik
bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua
kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta
walaupun kadang mengharu birukan hati.
Dengan modal ‘nol’lagi kami akan mulai menatap masa depan. Dengan semangat membara dan penuh harapan semoga di tempat
yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga
pamer kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang
atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah nyata salah satu perjalanan hidup seorang
abdi negara. Cerita dari hati yang
paling dalam. Sebagai seorang guru
sekaligus seorang istri yang setia. Sebagai seorang istri tentunya punya
kuajiban untuk mengikuti dimana saja
suami bekerja. Tugasnya mengajar, melayani dan menjaga buah kasih, yaitu siswa/i dan anak
kandungnya.
Tempat mengajar yang baru di kota Waingapu. Semboyan
itu “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .
Kira-kira artinya sumber air yang jernih
tanah/padang yang luas membentang
tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah kota kecil yang sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang
teramat sangat kental dengan adat tradisinya. Nama dan derajat masih dijunjung
tinggi. Makan tak makan yang penting
berkumpul. Jadi bagi penduduk asli
seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan
leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak
‘dalam rumah’nya. Budaya itu sampai sekarang
masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran saat pertama saya datang, kami harus hidup
bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus
masak untuk setiap hari.
Sebagai orang baru dan masih
berstatus pendatang plus bekas korban
konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan,
aku ingin menangis tapi kutahan. Aku
ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya
untuk makan gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup. Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat III/b Penata Muda Tk 1 Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami
sampai gali lubang tutup lubang. Motor
astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih
ya.
Selama 3 tahun pertama hidup penuh
keprihatinan. Sebagai pakaian ganti kami
hanya bisa beli baju RB (rombengan). Pakaian KW yang masih layak pakai. Dari
Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat lari mengungsi hanya bawa bekal
dan pakaian seadanya. Setiap hari makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada
nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk
dibeli. Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam
14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah
jalan kaki dengan medan yang lumayan.
Daerahnya berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar
letaknya agak diketinggian jadi harus memanjat dan merayap ditebing untuk lewat
jalan pintas. Jarak tempuh rumah sekolah sekitar 2 km.
Badanku kurus kering. Muka kelihatan
lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak
ada semangat hidup. Tersenyum susah maka
wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas,
dokter Rukmiati bilang berstatus ‘gizi buruk’.
Sungguh sangat berbeda dengan
Marcel anak sulungku yang berada di Jawa
bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala
yang ada.
Cobaan hidup saat itu terasa berat.
Hanya Doa yang bisa kudaraskan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat
tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur
kami ‘sudah ada’ semua. Dari hasil kerja dan tabungan hingga punya rumah, mobil
dan motor. Tapi itu tinggal
kenangan. Itu semua kita tinggal Timtim Kini di tempat baru harus siap
menerima kenyataan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati
yang menemaniku. Kesedihanku tak berani
kutunjukkan kepada suami dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum walau terpaksa. Sebenarnya tak mampu tapi
berusaha kuat. Hati terasa sakit
meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Saya terasa
sebatang kara karena orang jawa.
Cerita di sekolah. Saat pertama kali
saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat
masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka
begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada
yang suka mabuk, arogan dan tak menghormati guru. Profesi guru di Waingapu itu
kujalani dengan penuh tanggungjawab dan setia. Guru matematika yang saat itu
saya sendiri. Pak Tjangkui meninggal 2 tahun kemudian karena sakit. Beliau guru matematika sebelum saya ada.
Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai
42 jam seminggu, padahal ideal guru mengajar 24 Jam. Caranya: masuk 1
kelas, kelas yang lain diberi tugas dan seterusnya. Ada juga ibu Atik yang
membantu mengajar, beliau sebenarnya guru Kimia.
Hari terus berjalan. Kami hidup bersama puluhan orang di rumah. Dengan
terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku
akan ‘lari’ jika kali ini permintaanku
yang pertama dan yang terakhir ‘tak’ dikabulkan. Akhirnya benar, kami
memisahkan diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan
lantai tanah. Sedikit lega. Penduduk rumah terbagi. Sebanyak13 orang yang ikut bersamaku. Biarlah. Selain sekolah
mereka bisa membantu kerja rumah untuk
mewujudkan mimpi membuat rumah yang lebih layak.
Lebih dari 4 tahun saya
beradaptasi. Berjuang dengan kemiskinan
dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada orang bilang rumahku
seperti kandang ayam karena memang semua
jendela kita tutup dengan rangkaian gedek bambu. Atapnya seng taruh-taruh sembarang karena usuknya belum cukup. Tak apalah, kami
menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku. Ada perasaan
bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta. Disitu
baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging. Dalam hati, makan dipesta
ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat aku jadi orang yang tahan banting dan panjang sabar.
Jadi lebih tegar dan menghargai
arti kehidupan berumah tangga
sejati.
Bersyukurlah, akhirnya saya bisa
menyesuaikan keadaan. Sebagai orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’
anak-anak keluarga dari kampung yang ingin sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA/SMA
bahkan ada yang kuliah. Rumahku seperti asrama, tapi gratis. Mereka bukan anak orang yang mampu tapi orang
tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa biaya hidup di
kota itu besar. Saya dan keluarga harus
mencukupkan kebutuhannya. Ingin protes!
Kami juga punya kebutuhan sebenarnya!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!.
Sudahlah!!, kalau mengeluhkan tentang
itu tak akan habis. Dalam doa semoga Tuhan selalu memberkati.
Setiap orang pasti punya pergumulan.
Mereka akan punya cerita masing-masing.
Suka duka selalu mewarnai hidup
setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin akan
terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun.
Doa adalah senjata ampuh untuk jadi
kekuatan hidupku. Iklas berbagi, rela memberi adalah manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu
yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak mengeluh. Berkat pasti akan datang dariNya
kalau kita tulus meyakini.
Tak terasa kini saya sudah 21 tahun
tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui.
Tahun baru 2022 kita sambut dengan penuh harapan dan lebih baik. Bahagia akan mengikuti seiring berjalannya
waktu. Secercah harapan akan semakin ada. Tuhan pasti akan selalu menunjukkan
jalan. Nikmat Tuhan akan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus
sebagai guru. Perjalanannya hidup yang penuh dengan suka dan duka. Dari daerah
konflik di TimorTimur hingga dimutasi di Waingapu , Sumba Timur, NTT yang saat itu masih tertinggal. Daerah padang sabana paling ujung
timur Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran juga
pernah tertulis NTT adalah daerah penyumbang orang miskin nomor one di
Indonesia. Kasihan e. Kualitas kebahagiaan bukan dari harta atau kekayaan. Kami
menikmati kedamaian dan ketenteraman lahir batin.
Semua cerita perjalanan dan liku-liku
kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi
hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun nanti. Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021
tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’
Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI,
Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan
ini akan saya ingat hingga putus nafasku.
PROFIL
PENULIS
Salam ...Saya, Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah. Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun. Seorang ibu 2 putra, sekaligus guru di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog etiastiwi66.blogspot.com HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT. Quotes : Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar