Oleh: Ledwina Eti Wuryani
Biarkan
saja jika melihat anaknya jatuh karena
belajar berjalan. Masalah besar jika
melarang anaknya berhenti belajar berjalan. Dia tidak akan bisa berjalan selamanya. Begitupun hidup. Allah membiarkan kita mengalami berbagai pencobaan
atau
ujian. Allah akan sedih jika melihat umatnya berhenti bertumbuh, kehilangan iman dan harapan kepadaNya.
Waktu
terus berjalan, hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini kita sudah dipenghujung
bulan ke-12. Detik-detik tahun baru sudah semakin dekat. Alunan syahdu
lagu Natal terus berkumandang. Suasana
Natal semakin terasa.
Banyak
cerita, kisah hidup yang kita rasa. Suka cita, Duka cita terus berganti. Bumi
dan langit yang menjadi saksi perjalanan
hidup setiap insani. Semoga kita bisa terus
bersyukur untuk cinta dan berkat yang Tuhan sudah berikan.
KenanganTahun
2021
Apa saja
cerita keluarga?. Tahun penuh kenangan pandemi covid-19 ysng sampai saat ini belum
juga tuntas. Sakarang ada virus baru ‘Unicorn yang sudah masuk Indonesia. Pada
bulan Maret tahun 2021 semua anggota
keluarga terkena dampaknya. Dari 12 orang yang tinggal di rumah hanya 3 yang
negatif. Yang lain terpapar. Tepatnya
bulan april 2021 suami adalah komorbit jantung. Dia sakit paling berat karena
belum vaksin. Setiap mau vaksin tekanan darahnya selalu naik di atas 180. Dia
masuk rumah sakit covid di RSU Umbu Rara Meha. Setelah itu di ICU hingga
seminggu. Keadaanya parah sekali, tubuhnya
lemah tak berdaya. Kami semua panik dibuatnya. Keadaanya sungguh
sangat mengenaskan. Doa didaraskan oleh sanak, saudara, handai tauland. Bapak pastor paroki, pastor dari luar pulau
dan pendetapun tak pernah absen mendoakan. Kami hanya bisa pasrah dan berserah
airmata sudah kering. Teman-teman senasib di ruang Dahlia (tempat pasien covid)
satu persatu tumbang. Tangisan pilu
terdengar hampir setiap hari. Km-8 adalah kuburan baru, sebagai saksi
bisu tempat para korban meninggal akibat ganasnya Covid-19 disemayankam.
Tapi….Berkat
doa dan penguatan dari teman-teman semua suami diberikan kesembuhan. Mujizat Tuhan
memang nyata. Sebagai kenangan saya mengajak teman-teman untuk membuat buku antologi.
Kami menuliskan kisah keluarga ketika
terpapar Covid-19, dibawah naungan bunda Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng).
Penulisnya dari seluruh pelosok negeri, saya yang diberi tanggung jawab menjadi
kuratornya. Itu ada pengalaman pertama dalam hidup saya menjadi kurator. Bangga
dan bahagia bisa punya karya.
Bulan
Agustus tepatnya tanggal 17 ibu Caecilia Sutari, ibu kandungku berulang tahun.
Dua adikku menawarkan sekali-sekali ibu dirayakan di Jakarta tempat adikku
tinggal. Benar. Gayung bersambut, dik Edi dan Dik Ita menjemput ibu dari
Muntilan menuju Jakarta. Ibu Sehat-sehat saja tanpa ada keluhan apapun. Tanpa
sakit apapun. Ulang tahun dirayakan
sangat meriah bersama 4 orang anak kandung, 4 anak mantu dan 8 cucu. Perayaan
ultahnya di Jakarta tapi kita ber-video
call dan dengan zoom. Asyik bisa ikut
bergembira ria.
Ibu
terlihat bahagia tinggal bersama 2
adikku di Jakarta. Aktivitas harian ibu yaitu olah raga, berdoa, jalan-jalan. Happy. Hari terus berjalan, tiba-tiba saja ibu kondisinya lemah. Ibu susah bernafas, semua penghuni rumah panik.
Akhirnya ibu dilarikan di RS Sint Carolus.
Hari demi hari kondisi badannya
semakin lemah diserati sesak nafas, tensi semakin drop saturasi 50-an.
Kami
terus berdoa demi kesembuhan ibu. Tapi Ibu tak kunjung membaik. Akhirnya menurut
informasi jantung dan paru-paru ibu sudah tidak berfungsi. “Ibu tidak bisa
tertolong lagi”, kata dokter. Isak tangis saja yang selalu menemani setiap
hari. Akhirnya…..tepat tanggal 16 Oktober 2021, pukul 02,10 ibu menghembuskan nafas yang terakhir. Selamat
Jalan ibu……, ibu tidak sakit lagi……Tuhan sudah menyiapkan tempat terindah di
Sorga Kekal. Kami semua mencintaimu.
Anto
anak bungsu, dia kuliah di Jogya terpapar covid. Dia berjuang sendiri antara
hidup dan mati. Dari NTT kami keluarga hanya bisa mensupport semoga dikuatkan,
disabarkan. Teman sekampusnya ada yang meninggal, bapak dari teman dekatnya
meninggal. Adik sepupu meninggal, mama dari iparku meninggal. Kabar duka terjadi dimana-mana. Dengan perjuangan, dengan doa, minum obat dan
mentaati prokes akhirnya Tuhan menyembuhkannya. Trimakasih Tuhan untuk
jamahannya,. Anto akhirnya sembuh
seperti sedia kala dan bisa beraktivitas lagi seperti biasa.
Sebagai
guru, saya bukan siapa-siapa, kerja sesuai tugas yang diamanahkan. Saya berusaha mengajar untuk yang terbaik. Terus
dijalani dengan hati yang iklas walau kadang sakit hati. Terus berniat untuk
belajar dan belajar walau kadang hanya sia-sia tapi harus tetap semangat dan rela. Demi anak bangsa
tercinta. Rasa direndahkan sudah biasa. Itu adalah sebuah ujian untuk jadi
orang yang lebih dewasa. Perlu
diingat biar tua tak boleh gaptek. Terus berkarya,
membaca, menulis dan berinovasi. ‘Tak penting’ dihargai atau tidak. Kita selalu
menyadari tak ada tulisan yang disukai
oleh semua orang. Sekalipun penulis hebat. Masukan, cemoohan, kritikan dan koment
yang menyakitkan itu ‘tidak penting’. Yang penting adalah teruslah berkarya.
Saat
Pandemi Kegiatan Belajar Mengajar dilakukan dengan ‘Daring’ (dalam jaringan).
Kita guru dan siswa harus punya
komputer/laptop atau HP yang standart.
Kita harus siap dengan pembelajaran berbasisi IT. Kita membuat group bersama
siswa kita. Buat tugas lewat GCR ( google classroom), Masing-masing kelas punya
Group WA. Soal dan absen dengan aplikasi gogleform. Untuk praktek
siswa membuat video pembelajaran, misal dengan aplikasi kinemaster. Anak-anak
menggambar grafik fungsi boleh melalui Graphing Calc.
tulisan
yang bisa menyenangkan semua orang, walaupun penulis hebat. Jadi saya sebagai penulis pinggiran dan masih
pemula harus banyak belajar. Saya perlu
menyadari dengan sepenuh hati untuk refleksi, terus berlatih. Agar tulisan
lebih berbobot, lebih berisi,
sehingga lebih bermanfaat untuk pembaca.
Sebagai umat
beriman, kita harus menjadi
misioner. Harus rela ‘memberi diri’ untuk gereja dan untuk sesama kita. Harus
rela berbagi iklas memberi. Tentunya agar hidup kita jadi berarti. Jadi orang
jangan menutup diri untuk kepentingan
umum. Sebuah kebanggaan pribadi jika kita bisa membantu orang lain. Kepedulian sangatlah penting. Kepercayaan, kejujuran
juga penting. Kerendahan hati adalah kunci untuk kita hidup lebih damai dan
sejahtera.
Saat
menulis ini masa adven minggu ke-3, tanggal 19 Desember 2021. Saat pertobatan
menantikan kelahiran Sang juru Selamat. Semoga Sang penebus dosa mengampuni
segala dosa yang telah kita perbuat disepanjang Tahun 2021. Semoga saya bisa
menyongsong Hari natal dengan penuh suka
cita.
Apa kontribusi kita sebagai warga Indonesia? Saya adalah orang lemah dan
tak berdaya. Saya bukan siapa-siapa. Saya adalah guru pembelajar. Berusaha belajar
tanpa henti. Long life learning. Belajar
berkarya. Hidup untuk berkarya. Agar karya kita bisa dikenang kelak jika kita
sudah tiasa. Mencoba menulis setiap hari. Aktif membuat antologi bersama para
penulis sampai dipelosok negeri. Dengan begitu tulisan kita jadi beredar samapai pelosok negeri
pula. Pesiar dari sabang sampai merauke,
dari mingas hingga pulau rote. Trimakasih teman-teman. Trimakasih para penulis
hebat. Kita sudah saling berkontribusi
membuat karya. Menyumbang untuk literasi bangsa. Menjadi pegiat literasi
nusantara. Kini tak terasa tulisan sudah lebih 30 buku. Sebuah kebanggaan
pribadi berkarya untuk literasi Indonesia.
Semoga
kita menyadari akan manfaat membaca. Dampak dari menulis, karya kita akan
menemukan takdirnya. Jangan berpikir untung maupun rugi, kerja adalah ibadah.
Rejeki, mati sudah diatur olehnya. Kita
bisa berencana tapi semuanya Tuhan yang menentukan.
Menyambut
Tahun 2022
Tahun
2021 telah berakhir dan sebentar lagi memasuki tahun baru 2022. Trimakasih Tuhan kita masih diberikan nafas dan kehidupan hingga hari ini. Semoga ditahun
yang baru saya lebih bisa memberi makna dalam hidup ini.
Walaupun hanya dalam hal kecil. Saya bisa membuka
lembaran baru di tahun 2022 dengan semangat hidup yang
baru pula.
Semoga
di tahun yang baru ini saya selalu lurus
mengikuti jalan-Mu. Berkati semua orang,
mereka pasti punya rencana masing-masing. Mereka punya pergumulan
masing-masing. Termasuk diri saya. Semoga Tuhan senantiasa mendampingi,
memberkati, melindungi setiap tugas, pekerjaan dan tanggung jawab kami. Kami
akan terus berdoa dan bersyukur dengan apa yang ada. Kami
meyakini Cinta dan berkat Tuhan selalu ada.
Nafas hidup dan harta ini milikmu. Kami hanya menjaganya. Kami menyadari
lemahnya niat kami. Kami percaya Tuhan akan terus menuntun kami dari waktu ke
waktu. Semoga kami mampu menjadi penyalur berkatmu untuk sesama kami.
Setahun
silam pastinya banyak kekurangan yang
perlu diperbaiki. Rencana-rencana yang belum terealisasi. Mimpi yang belum terwujud. Mimpi yang masih sebatas
mimpi dan belum terbukti. Semoga
di tahun baru nanti kita semakin
berarti. Saya bisa mengisi hidup dengan
inovasi agar orang lain bisa
terinspirasi. ‘Semoga’. Sebagai manusia biasa tentunya saya tak luput dari
kesalahan dan dosa, Tuhan
maafkanlah.
Salam ...Nama
penulis Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang
Jawa Tengah dan tinggal di NTT sudah 21
tahun. Seorang ibu 2 putra Marcel dan
Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga
sekaligus guru Matematika
di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal
Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma
Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih 30 buku solo dan antologi ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga
dipercaya jadi editor buku di MBI ( Menulis Buku Inspirasi) NTT yang
diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH,
Mengisi Endors dari beberapa buku dan menjadi kurator buku dibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti,
M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator). Penulis bisa
dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com
, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT. Quotes :
Sebuah kebanggaan Jika hidup bisa
bermanfaat bagi sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar